18/09/2026
AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR, ANAKKU MAKAN ROTI SISA DI LANTAI, SEMENTARA ISTRIKU SIBUK DENGAN PRIA YANG KUBIAYAI
BAGIAN 1
“Rafi makan roti yang sudah jatuh di lantai, sementara kamu malah sibuk begini sama laki-laki lain?”
Suaraku membuat Maya langsung berdiri dari sofa.
Reno yang duduk terlalu dekat dengannya ikut bangkit. Wajahnya berubah.
“Rak, santai dulu.”
Aku menatapnya.
“Jangan panggil nama gue seolah kita masih teman.”
Reno mengangkat kedua tangannya.
“Lo salah paham. Gue ke sini bahas kafe.”
Aku melihat dua gelas di meja.
Satu botol minuman.
Tas Maya tergeletak dekat kaki Reno.
Kunci mobil yang kubelikan untuk Maya berada di samping ponselnya.
Aku tidak perlu bertanya terlalu banyak.
Tiga puluh menit sebelumnya aku menemukan Rafi duduk dekat dapur belakang bersama Bi Sari.
Anakku memegang sepotong roti yang bagian pinggirnya sudah kotor.
Bi Sari sampai gemetar saat menjelaskan.
Katanya sejak pagi Maya mengunci dapur utama karena sedang menerima tamu.
Rafi menangis karena lapar.
Bi Sari sudah mencoba mengambil makanan dari kulkas, tetapi Maya marah.
Aku masih berharap ada penjelasan yang masuk akal.
Sampai aku berjalan masuk ke ruang keluarga.
Dan melihat Reno.
Teman lama yang selama enam bulan terakhir selalu diceritakan Maya sebagai “partner bisnis”.
Aku menatapnya.
“Bisnis kafe?”
Reno mengangguk cepat.
“Iya. Kita lagi bahas cabang baru.”
“Pakai uang siapa?”
Dia diam.
Aku beralih kepada Maya.
“Jawab.”
Maya melipat tangan di dada.
“Kamu jangan bikin keributan di rumah.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Rumah?”
Aku menunjuk ke arah belakang.
“Anak kita tadi makan roti yang sudah jatuh karena dia lapar.”
Maya memalingkan wajah.
“Itu berlebihan. Rafi memang s**a ambil makanan sembarangan.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Aku ingin sekali percaya.
Masalahnya, aku baru saja mendengar langsung dari Bi Sari.
Rafi juga mengatakan hal yang sama.
Aku merogoh ponsel.
Maya langsung memperhatikanku.
“Kamu mau apa?”
Aku menelepon layanan bank prioritas yang biasa menangani rekeningku.
Begitu tersambung, aku menyalakan pengeras suara.
“Selamat siang. Saya ingin menonaktifkan seluruh kartu tambahan yang terhubung dengan rekening utama saya.”
Wajah Maya langsung berubah.
“Mas.”
Aku melanjutkan.
“Termasuk kartu atas nama Maya Pradipta. Tolong hentikan juga fasilitas tambahan yang masih memakai limit rekening utama saya.”
Petugas memverifikasi beberapa data.
Maya mendekat.
“Mas Raka, jangan keterlaluan.”
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sentuh ponselku.”
Reno mulai gelisah.
Maya menatapnya.
“Ren, kamu ngomong dong.”
Reno mengusap wajah.
“Ini masalah kalian.”
Maya tidak percaya dengan jawabannya.
“Masalah kami?”
Suaranya meninggi.
“Cabang Bali gimana?”
Reno langsung melihatku.
Aku menangkap kalimat itu.
“Cabang Bali?”
Maya terlambat menutup mulut.
Aku bertanya pelan.
“Berapa?”
Tidak ada yang menjawab.
“Berapa uang yang kalian rencanakan?”
Reno akhirnya berkata,
“Gue sebenarnya nggak tahu semuanya.”
Maya langsung menatap tajam.
“Jangan bohong.”
Reno mundur.
“Ra, gue pulang dulu.”
Aku menunjuk meja.
“Kunci mobil.”
Dia berhenti.
“Apa?”
“Kunci mobil yang kamu bawa.”
“Itu Maya yang kasih.”
“Mobilnya tercatat sebagai aset perusahaan yang aku bayar.”
Aku melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
“Jam itu juga.”
Reno menelan ludah.
Maya langsung menyela.
“Mas, jangan mempermalukan orang.”
Aku memandangnya.
“Jam tangan itu kamu beli pakai kartu tambahan.”
Dia terdiam.
Aku masih ingat transaksinya.
Empat puluh dua juta.
Saat kutanya waktu itu, Maya bilang membeli perlengkapan untuk acara ulang tahun Rafi.
Aku tidak bertanya lagi.
Aku percaya.
Reno melepaskan jam tangan.
Menaruhnya di meja.
Lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku.
“Gue nggak mau ikut urusan keluarga kalian.”
Maya mengejarnya dua langkah.
“Ren.”
Reno bahkan tidak menoleh.
Pintu depan tertutup.
Maya berdiri membeku.
Aku memandang perempuan yang sudah hampir tujuh tahun hidup bersamaku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak mengenalnya.
Beberapa detik kemudian Maya duduk di lantai.
“Mas.”
Aku tidak bergerak.
“Dengar aku dulu.”
“Aku sudah dengar cukup banyak.”
“Reno yang memanfaatkan aku.”
Aku menatapnya.
“Dia memanfaatkan kamu sampai kamu membelikan jam empat puluh dua juta?”
Maya menangis.
“Dia bilang bisnis ini buat masa depan kita.”
“Kita?”
Aku menunjuk pintu yang baru dilewati Reno.
“Dia tadi hampir lari begitu tahu kartumu diblokir.”
Maya menutup wajahnya.
“Mas, aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi jangan usir aku.”
Dia mulai mendekat.
Aku mundur.
“Jangan pakai Rafi untuk membela diri.”
Maya mengangguk cepat.
“Aku mamanya.”
“Itu sebabnya aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah selama aku sering keluar kota.”
“Aku rawat dia.”
Aku masih diam.
Maya semakin panik.
“Aku memang sering sibuk. Tapi aku tetap ibunya.”
Saat itu pintu depan terbuka.
Bi Sari masuk.
Tangannya menggandeng Rafi.
Di tangan anakku ada satu bungkus nasi yang baru dibeli.
Rafi langsung berhenti begitu melihat Maya.
Maya seperti menemukan kesempatan.
“Rafi.”
Anakku tidak menjawab.
Maya berdiri perlahan.
“Sayang, sini sama Mama.”
Rafi justru mendekat ke Bi Sari.
Maya mencoba tersenyum.
“Kok takut begitu?”
Rafi menyembunyikan tubuhnya di belakang Bi Sari.
Aku melihatnya dan dadaku terasa berat.
Aku berjongkok.
“Rafi.”
Dia menoleh.
“Ayah di sini.”
Rafi langsung berjalan kepadaku lalu memeluk leherku.
Tubuhnya ringan.
Terlalu ringan untuk anak yang setiap bulan kukirimkan biaya rumah tangga lebih dari cukup.
Aku mengusap punggungnya.
“Ayah mau tanya sesuatu.”
Maya langsung menyela.
“Mas, jangan libatkan anak.”
Aku menatapnya.
“Justru sejak tadi masalahnya adalah anak kita.”
Maya kehilangan kata-kata.
Aku kembali melihat Rafi.
“Selama Ayah pergi kerja, siapa yang paling sering kasih Rafi makan?”
Rafi menunjuk Bi Sari.
Maya buru-buru berkata,
“Karena Mama ada urusan bisnis.”
Aku mengangkat tangan.
“Biarkan dia jawab.”
Rafi memelukku lebih erat.
Aku bertanya lagi.
“Mama sering temani Rafi?”
Dia menggeleng.
“Kenapa?”
Rafi melihat Maya.
Ekspresi wajahnya membuatku semakin tidak nyaman.
Maya berbisik,
“Rafi, Mama sayang sama kamu.”
Rafi akhirnya bicara.
“Mama bohong.”
Ruangan langsung sepi.
Maya memucat.
Rafi melanjutkan dengan suara kecil.
“Tadi pagi Mama bilang Rafi bikin susah.”
Aku menahan napas.
“Terus?”
Rafi menunduk.
“Mama bilang makanan enak buat Om Reno.”
Maya langsung maju.
“Rafi, itu bukan begitu maksud Mama.”
Anakku mundur.
Lalu kalimat berikutnya keluar begitu saja.
“Mama juga bilang kalau Ayah pulang, Rafi jangan cerita soal Om Reno.”
Aku menatap Maya.
Dia membeku.
Aku pikir itu sudah cukup.
Ternyata belum.
Rafi menambahkan,
“Kalau Rafi cerita, Mama bilang Ayah nanti nggak pulang lagi.”
Tanganku yang memeluknya langsung mengencang.
Aku tidak marah.
Anehnya, justru kepalaku terasa sangat tenang.
Terlalu tenang.
Aku berdiri sambil menggendong Rafi.
“Maya.”
Dia menangis semakin keras.
“Mas, aku bisa jelasin.”
“Besok pagi pengacaraku datang.”
Maya menatapku.
“Pengacara?”
“Iya.”
“Aku istrimu.”
“Makanya kita selesaikan semuanya secara resmi.”
Wajahnya langsung berubah.
Dia tidak lagi terlihat sedih.
Dia terlihat takut.
Dan itu membuatku sadar satu hal.
Maya bukan hanya takut kehilangan pernikahan ini.
Dia takut sesuatu yang lain akan terbuka.
Karena detik berikutnya, dia buru-buru mengambil ponselnya dan mencoba menghapus sesuatu.
Aku langsung meraih pergelangan tangannya sebelum layar itu terkunci.
Di layar masih terbuka percakapan dengan Reno.
Pesan terakhir dikirim dua menit sebelum aku masuk rumah.
“Kalau Raka sampai tahu soal rekening kedua dan surat itu, kita habis.”
Aku menatap Maya.
“Apa yang ada di rekening kedua?”
Tidak ada jawaban.
“Surat apa?”
Wajah Maya benar-benar kehilangan warna.
Dan saat itu aku tahu, perselingkuhan bukan masalah terbesar yang baru saja kutemukan.
BERSAMBUNG...
👉 Baca kelanjutan kisah lengkapnya di kolom komentar!