26/05/2026
̲𝗧̲𝗮̲𝗻̲𝗮̲𝗵̲ ̲𝗗̲𝗶̲𝗿̲𝗮̲𝗺̲𝗽̲𝗮̲𝘀̲!̲ ̲𝗔̲𝗻̲𝗮̲𝗸̲ ̲𝗖̲𝘂̲𝗰̲𝘂̲ ̲𝗣̲𝗲̲𝗿̲𝗶̲𝗻̲𝘁̲𝗶̲𝘀̲,̲ ̲𝗗̲𝗶̲ ̲𝗠̲𝗮̲𝗻̲𝗮̲𝗸̲𝗮̲𝗵̲ ̲𝗞̲𝗶̲𝘁̲𝗮̲?
Hari ini tanah Papua perlahan dirampas atas nama pembangunan dan investasi. Hutan dibuka, laut dieksploitasi, tanah adat diambil, sementara masyarakat adat dipaksa melihat ruang hidupnya hilang sedikit demi sedikit.
Ketika mereka bersuara mempertahankan tanah leluhur, mereka sering dianggap penghambat. Padahal yang mereka perjuangkan hanyalah hak untuk tetap hidup di atas tanah warisan nenek moyangnya sendiri.
Lalu pertanyaannya, di manakah kita hari ini sebagai Anak Cucu Perintis Papua?
Bukankah leluhur kita dahulu DIDATANGKAN ke tanah ini untuk melayani? Mereka hadir membangun pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial bersama orang Papua. Mereka hidup, makan, dan bertumbuh bersama masyarakat Papua.
Kalau hari ini masyarakat adat sedang menangis karena tanahnya hilang, apakah kita hanya akan diam?
Kita punya beban moral untuk berdiri bersama mereka. Karena membela masyarakat adat bukan berarti melawan negara. Membela tanah adat berarti menjaga keadilan, kemanusiaan, dan masa depan Papua.
Papua bukan tanah kosong. Papua adalah rumah. Papua adalah identitas. Papua adalah warisan leluhur yang harus dijaga bersama.
Jangan sampai suatu hari nanti anak-anak Papua hanya menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.
Anak Cucu Perintis Papua, sudah saatnya kita bersuara.