Barokah Domba Garut

Barokah Domba Garut Hewan qurban dan aqikah

28/11/2023
24/10/2023

Gedebog w usum qiyeu mh wkwk

21/02/2023

Kambing pemanjat pohon

BISNIS TIDAK PERLU BAKATModal utama adalah keberanian. Keberanian meng-eksekusi gagasan.Secara umum, keberhasilan berbis...
21/02/2023

BISNIS TIDAK PERLU BAKAT

Modal utama adalah keberanian. Keberanian meng-eksekusi gagasan.

Secara umum, keberhasilan berbisnis dipengaruhi oleh :
1. Ilmu wirausaha 10%.
2. Mentoring 20%.
3. Eksekusi gagasan atau istilah kerennya eksekusi bisnis plan 70% sesuai selera pribadi.

Kata P. Bob Sadino, bisnis plan yang baik bukan yang ditanyakan terus, dibnding-bandingkan dan dihitung-hitung terus. Bisnis plan yang baik adalah yang segera dijalankan.

Maka dari ketiganya akan mendapat ilmu hikmah, baik dari kegagalan atau pun dari kesuksesan.

Sekian banyak orang mencoba menerjuni dunia bisnis. Tapi alih-alih menjadi ahli dalam bisnis atau menjadi kaya melalui bisnis, tapi yang bersangkutan justru malah hidupnya berantakan nggak karuan karena bisnisnya bangkrut, lalu tutup (misal cerita pebisnis sok kaya yang kawin lagi). Kemudian setelah itu kadang tidak sadar menjadi provokator dengan mengatakan bahwa, karena tidak berbakat bisnis, maka bisnisnya bangkrut.

Sama dengan bicara soal kaya dan sejahtera, bisnis itu tidak memerlukan bakat. Karena kenyataannya walaupun seseorang hidup di lingkungan keluarga bisnis dan ketika sekolah paling menyukai pelajaran matematika atau soal perhitungan perhitungan. Tapi lantaran itu semua tidak langsung memunculkan yang disebut "bakat".

Bisnis itu bukan soal berbakat atau tidak berbakat. Tapi bisnis itu adalah semata-mata SEBUAH RENCANA YANG DI-EKSEKUSI.

Ketika berpikir melihat orang kaya melalui bisnis, jangan harap jika kita ikut-ikutan melakukannya juga akan langsung ikut kaya apabila TANPA PERENCANAAN YANG DIEKSEKUSI. Kata yang ditulis kapital semua ini SATU KESATUAN loh ya.

Karena, saya banyak menemui lulusan ekonomi (jurusan sejuta umat) yang bikin rencana bisnis dengan sangat detail. Tapi setelah 5 tahun, ternyata belum satu pun bisnis yang dijalankan, lalu datang ke saya minta diajarin bikin BUSINESS PLAN. Ini penyakitnya pada soal KEBERANIAN MENG-EKSEKUSI GAGASAN. Setelah mengetahui bahwa bisnis ada resiko ini dan itu, dengan gaya ekonom tingkat dewa, akhirnya berhenti pada perencanaan dan tidak ditindak-lanjuti, karena memastikan bahwa bisnisnya tidak akan jalan. Gubraaaak. Ambyaaaaar.

Kemungkinan besar, perencanaan yang dibuat juga banyak kelemahan, karena hanya berdasarkan teori dari buku, bukan dari praktisi bisnis. Mungkin ini yang menyebabkan terhentinya langkah memulai bisnis.

Hal lain yang sering terjadi adalah, ketika memulai bisnis dan sudah ada pembeli, lalu tiba-tiba pembelinya mulai jarang dan bisnis sepi. Lalu berhenti. Kemudian, jeda selama 5 kali lipat waktu setelah mulai start bisnis itu tidak menjalankan bisnis apa-apa lagi. Nah, ini juga masalah di perencanaan. Eksekusinya berapi-api di depan, begitu orderan sepi mulai loyo dan tutup, lalu pilih kembali pada zona aman, jadi buruh. Muncul lagi kata-kata bahwa, tidak ada bakat dalam berbisnis.

Yo wes lah, sak karep mu, nek nggak mau belajar bikin EXECUTABLE BUSINESS PLAN (dari praktisi), maka 5 tahun ke depan juga masih akan sama saja nasibnya, jadi buruh (lebur ora weruh).

Semoga tidak lantas menyalahkan pemerintah atau pengelola negara.

BANTING SETIR

Menjadi Pengusaha atau Karyawan?

Kata Bob Sadino : "Setinggi apa pun pangkat dan jabatan mu, kamu tetap lah pegawai (buruh). Sebaliknya, sekecil apa pun bisnis mu, kamu adalah juragan".

Saat memutuskan ingin berwirausaha, apakah Anda sudah berpikir dan bertindak layaknya seorang pengusaha? Atau jangan-jangan hanya tampilan luar saja yang ingin terlihat sebagai seorang pengusaha tapi cara berpikir dan bertindak Anda masih seperti seorang karyawan?

Pertama, perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa menjadi pengusaha atau karyawan itu sama baiknya. Ini adalah sebuah pilihan dan tidak ada yang lebih baik di antara keduanya, karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu tidak semua orang cocok menjadi pengusaha dan begitu juga tidak semua orang cocok menjadi karyawan.

Ada orang-orang yang senang dengan ketidakpastian, s**a mencoba sesuatu hal yang baru dan bersemangat bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Tipe seperti ini cocok menjadi pengusaha. Ada juga mereka yang senang dengan kepastian, melakukan pekerjaan sesuai aturan perusahaan dan lebih senang berada di belakang layar. Tipe seperti ini cocok menjadi karyawan.

Lalu mana yang lebih baik? Bagi penulis pribadi dua-duanya baik, karena setiap orang bisa menjadi pengusaha sukses atau menjadi karyawan teladan.

Menjadi pengusaha itu tidak semudah seperti apa yang terlihat. Jangan pernah berpikir bahwa pengusaha itu hidupnya pasti enak terus. Salah besar! Seorang pengusaha harus mempunyai visi dan misi yang brilian, ide dan gagasan yang cemerlang, kemampuan manajemen yang baik, siap mengorbankan waktu bersama keluarga dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap para karyawan.

Anggapan bahwa pengusaha itu selalu hidup enak terjadi karena biasanya di seminar-seminar kewirausahaan, para pembicara sering menampilkan tokoh-tokoh pengusaha sukses yang bergaya hidup mewah dan bergelimangan harta. Namun apakah Anda tahu bagaimana awal mula mereka merintis bisnis? Apakah Anda tahu apa saja yang sudah mereka korbankan untuk mencapai kesuksesan itu?

Semua pencapaian yang telah diraih oleh para pengusaha sukses pastinya tidak mudah. Banyak orang hanya melihat dari apa yang telah diraih oleh para pengusaha tersebut : sukses, terkenal dan memiliki uang berlimpah. Tapi di belakang itu, sesungguhnya kerja keras, keringat dan air mata mewarnai perjalanan hidupnya.

Media pun lebih tertarik menampilkan sosok-sosok inspiratif yang sudah sukses dan akhirnya masyarakat pun banyak yang menilai salah tentang hal tersebut. Seolah-olah menjadi pengusaha itu pasti berhasil, kaya raya dan hidup bergelimang harta. Nyatanya, tidak demikian adanya.

Demikianlah adanya, bahwa perjuangan menuju kesuksesan itu tidak mudah dan penuh jalan terjal. Di balik 10 pengusaha sukses negeri ini, ada 100 pengusaha lain yang tidak pernah berhasil dalam menjalankan usahanya. Di belakang mereka, ada lagi 100 pengusaha yang belum mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya. Di belakang mereka ada lagi 100 pengusaha lainnya dengan proposal bisnis yang belum selesai dan tertutup debu di laci. Dan di balik setiap dari mereka ada 100 orang yang bermimpi suatu hari dapat menjadi seorang pengusaha.

Hal-hal seperti inilah yang salah dipahami oleh kebanyakan mereka yang ingin terjun dan mulai berwirausaha. Para calon pengusaha merasa bahwa kesuksesan itu pasti sudah ada di depan mata dengan ilmu dan ketrampilan yang seadanya. Ini ibarat berlayar menuju samudra tanpa membawa bekal yang cukup. Modal yang terlalu nekat.

Menjadi seorang pengusaha itu harus selalu siap untuk mengelola risiko, kapanpun dan di manapun. Dalam kondisi sesulit apapun, Anda harus mampu bertahan. Jangan sampai baru gagal sekali sudah menyerah, baru jatuh sekali sudah kapok. Karena itu, jangan pernah bermimpi menjadi seorang pengusaha sukses jika tidak siap dengan segala risikonya.

Siapkah Anda bekerja keras siang dan malam? Siapkah Anda mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarga? Siapkah Anda menghadapi resiko yang mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya? Siapkah Anda untuk mengencangkan ikat pinggang dalam proses membangun kerajaan bisnis? Siapkah Anda meninggalkan "comfort zone" (zona nyaman) dan berjuang untuk mengejar mimpi?

Pada prinsipnya, berani saja tidak cukup. Kunci utama adalah tetap bertahan dalam situasi sesulit apapun sambil terus berusaha hingga kesempatan tiba.

Hidup adalah pilihan.
1. Kalau memilih jadi pengusaha, jadi lah pengusaha yang baik.

2. Kalau memilih jadi karyawan, jadi lah karyawan yang baik.

Tidak ada orang yang benar-benar sukses yang berdiri di atas "dua perahu". Jadi karyawan dan sekaligus penguasa sukses.

Bila kurang percaya, silakan tanya kepada Bapak Tantri Abeng dan Prof. Renald Kasali.

Itu cerita ku.
Copas

18/02/2023

Domba Garut

Address

Garut

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Barokah Domba Garut posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Barokah Domba Garut:

Share

Category