13/07/2026
Lembah di pinggiran Kirigakure itu biasanya sunyi, namun siang itu, tanahnya basah oleh warna merah yang pekat. Di tengah lingkaran simbol Jashin yang digambar dengan darah, Hidan berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Wajahnya penuh coretan ritual, dan sabit bermata tiganya tertancap di dada shinobi terakhir yang berani menantangnya.
Bagi Hidan, rasa sakit adalah ekstasi. Dan pembantaian ini? Hanyalah ibadah harian yang menyenangkan.
"Ahahaha! Jashin-sama, apakah kau melihat persembahan ini?!" serunya ke langit gray.
"Bising sekali. Kau membuatku ingin membunuhmu dan menguangkan kepalamu, Bocah."
Sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan. Hidan berhenti tertawa, matanya berkedip kesal. Dari balik kabut tipis, dua sosok berjalan mendekat. Mereka mengenakan jubah hitam panjang dengan motif awan merah yang kontras. Salah satunya bertubuh raksasa dengan masker yang menutupi seluruh wajahnya—Kakuzu. Di sebelahnya, seorang wanita dengan rambut biru dan bunga kertas di kepalanya—Konan—berdiri dengan tatapan tenang namun mematikan.
Hidan meludahi tanah, menatap jubah mereka dengan jijik. "Siapa kalian? Mengganggu ritual suci adalah dosa besar. Jashin-sama menuntut darah kalian sebagai penebusan!"
"Kami adalah Akatsuki," ucap Konan tenang, selembar kertas melayang di sekitar jemarinya. "Kami mendengar tentang seorang shinobi abadi dari Yugakure yang hobi membantai. Kami datang untuk menawarkani tempat yang cocok bagi kegilaanmu."
"Akatsuki? Persetan dengan organisasi kalian!" Hidan mencabut sabitnya dari mayat, mengayunkannya dengan kecepatan tinggi hingga membelah udara. "Aku tidak tertarik pada uang, politik, atau kedamaian palsu kalian. Aku hanya peduli pada pembantaian demi Jashin-sama!"
Kakuzu melangkah maju, tangannya sedikit merenggang, memperlihatkan benang-benang hitam yang menjalar di bawah kulitnya. "Aku sudah bilang, Konan. Bocah fanatik ini tidak bisa diajak bicara. Biar kuhabisi saja dia."
"Coba saja, Kakek Tua!" Hidan melesat maju, menyerang Kakuzu dengan membabi buta.
Pertarungan itu brutal namun singkat. Hidan bertarung tanpa memedulikan pertahanan—karena dia tahu dia tidak bisa mati. Namun, Kakuzu bukanlah shinobi biasa; pengalaman ratusan tahun membuatnya dengan mudah menghindari tebasan Hidan dan membalas dengan kombinasi elemen yang menghancurkan tubuh Hidan hingga terhempas ke tanah.
Hidan terbatuk, darah segar mengalir dari mulutnya, namun bukannya mengerang kesakitan, wajahnya justru memerah karena gembira. Ia bangkit berdiri, memutar lehernya yang hampir patah kembali ke posisi semula. "Rasa sakit yang luar biasa! Luar biasa! Kau hebat juga, Kakek!"
Kakuzu menyipitkan mata. "Dia benar-benar tidak bisa mati," gumamnya dalam hati. Biasanya, targetnya sudah menjadi mayat setelah menerima serangan seperti itu.
Konan melangkah di antara mereka, menghentikan pertarungan sebelum semakin larut. "Hidan. Di Akatsuki, kau akan mendapatkan panggung yang lebih besar. Target kami adalah seluruh dunia. Bayangkan berapa banyak jiwa yang bisa kau persembahkan untuk Dewa Jashin-mu jika kau ikut dengan kami."
Hidan terdiam. Kata-kata Konan mulai merasuki kepalanya. Seluruh dunia? Persembahan tanpa akhir? Ide itu terdengar sangat menggoda.
"Dan satu hal lagi," tambah Konan, melirik ke arah Kakuzu. "Kau membutuhkan rekan yang tidak bisa kau bunuh dengan mudah. Kakuzu memiliki lima jantung. Kalian berdua adalah kombinasi yang sempurna."
Hidan memandang Kakuzu, lalu melihat jubah awan merah yang disodorkan Konan kepadanya. Sebuah senyuman sadis kembali terkembang di wajahnya. Ia mengambil jubah itu dan melemparkannya ke bahu.
"Baiklah, aku ikut," cetus Hidan sambil menyeringai lebar ke arah Kakuzu. "Tapi ingat ini, Kakek Tua... jika kau lengah sedikit saja, jantung-jantungmu itu akan menjadi milik Jashin-sama."
Kakuzu hanya mendengus dingin, berbalik dan mulai berjalan pergi. "Lakukan sesukamu, Bocah. Asalkan kau tidak mengganggu pendapatanku."
Hari itu, di bawah langit yang mendung, Zombie Combo yang ditakuti dunia shinobi resmi lahir. Akatsuki baru saja mendapatkan kepingan paling gila dalam rencana mereka.
~NaruPiece