24/03/2026
"Aku gak ridho kamu makan dari hasil jerih payahku, Rum! Ngerti kamu!"
Kata-kata menyakitkan itu meluncur dari mulut suamiku sendiri—Mas Amran. Lelaki yang sudah belasan tahun menjadi imam dalam rumah tanggaku.
Aku yang saat itu sedang makan dan baru memasukkan satu suapan nasi berlauk-kan sepotong tempe goreng ke dalam mulut, seketika berhenti dan memilih langsung menyimpan kembali piringku di atas meja makan. Bahkan, nasi yang masih berada di mulutku kini terasa sangat sulit untuk bisa kutelan saking perihnya hati ini mendengar ucapan me nu suk dari suamiku itu.
"Kenapa? Kenapa makannya berhenti? Sadar diri kamu? Kerjamu itu, dari dulu cuma bisanya nyusahin aku sama menghabiskan ua ngku aja, Rum! Dasar istri be na lu!" ben taknya lagi sambil berlalu dan menen dang kursi yang ada di dekatku.
'Astaghfirullah. Ya Allah.'
Jujur, aku lelah dengan s*kapnya yang semakin hari semakin ka sar dan perhitungan. Dulu, dia tak seperti ini. Tapi, sekarang?
Semua pertengkaran ini memang sejak dulu sering terjadi ketika aku meminta ua ng untuk memenuhi kebutuhan ana k-an ak yang tak pernah dia pikirkan.
Rasanya aku lelah. Apa aku harus menyerah?
Aku masih ingat beberapa hari yang lalu, ia juga memben takku.
"Mas, ua ng sekolah Raina belum diba yar. Dia juga butuh beli sepatu sama seragam baru. Yang lama udah pada usang," ucapku pada Mas Amran saat dia akan berangkat kerja.
"Bukannya kemarin minggu aku baru kasih kamu ua ng? Memangnya itu gak cukup?" jawabnya sedikit ketus.
"Kamu cuma kasih aku ua ng 200 ri bu, Mas. Buat makan sama kebutuhan sehari-hari aja udah abis. Malah itu juga gak cukup."
"Gak cukup kamu bilang? Kok, bisa gak cukup? Kamu pake buat apa aja emangnya?"
"Mas, buat bekal sekolah anak-anak aja udah 15 ri bu sehari, belum beli beras sama lauknya gak cukup 20ribu. Ua ng 50 ribu itu gak cukup sehari. Apalagi kalau gas sama listrik habis, Mas. Dua hari juga habis, sedangkan kamu cuma kasih aku segitu buat makan seminggu. Biasanya kamu yang beli bahan pokok, Mas."
An akku berjumlah tiga orang. Yang pertama laki-laki sudah kelas tiga SMA, yang kedua perempuan kelas dua SMP, dan yang terakhir baru saja akan masuk TK.
"Alaaaahh. Alesan aja kamu! Kamunya aja kali yang bo ros. Mentang-mentang suami naik jabatan, kamu jadi banyak maunya! Dulu juga cukup ua ng segitu. Sekarang kenapa tiba-tiba bilang gak cukup? Mau ko rup si kamu sama suami sendiri?" Sorot mata Mas Amran terlihat ta jam. Ia bahkan dengan tega menu duhku seperti itu.
"Dulu, 15 tahun yang lalu ua ng segitu emang cukup, Mas. Sekarang an ak kita aja udah tiga. Tapi kamu malah makin seme na-me na! Kenapa semenjak naik jabatan, kamu malah jadi seperti ini, Mas?" Akhirnya ama rah yang kutahan begitu lama, berani kukeluarkan juga.
"Jadi kamu mau itung-itungan sama aku, hah? Di sini aku yang kerja, aku yang cari ua ng buat idupin kamu sama an ak-a nakmu. Sedangkan kamu? Di rumah kamu ngapain aja, sih? Paling ongkang-ongkang kaki doang. Kamu itu bisanya cuma jadi beban buatku!
Kamu pikir cari ua ng itu gampang, hah? Kamu jadi istri harus pinter ngatur du it, Rum. Jangan bisanya mintaaaaaa aja. Ngeluuuuhhhh aja! Gak bersyukur banget jadi istri! Udahlah aku mau berangkat kerja! Makanya kamu juga cari kerja sana. Jangan bisanya ngandelin suami terus! Bikin pus ing, aja!"
Bruk!
Pintu ditutup dengan begitu kencangnya, tak lama suara deru mesin mobil menjauh dan menyisakan sesak dalam da da.
Suamiku baru setahun ini di angkat jadi supervisor pabrik setelah sekian tahun lamanya ia hanya jadi bu ruh. Tapi, semenjak itu p**a s*kapnya jadi berubah dan menganggapku juga an ak-an ak adalah be na lu baginya.
Dulu, saat ga jinya sedikit, jatahku memang 200ri bu, tapi kebutuhan sehari-hari dia yang belikan. Jadi aku hanya tinggal mengolahnya tanpa memikirkan membeli bahan pokok. Tapi sekarang? Entahlah aku tak paham dengan jalan pikirannya.
"Ibu gapapa?" Si sulung tiba-tiba menghampiri. Aku lupa kalau tadi dia tengah berada di kamarnya karena. Pasti dia mendengar pertengkaranku dengan sang ayah.
"Ibu gak apa-apa, Kak. Kamu mau makan?" tanyaku meski faktanya di rumah hanya ada sepiring nasi sisa semalam yang kuhangatkan. Biarlah nanti aku belikan ia telur jika memang ia mau makan, pikirku.
Raka menggeleng setelah melihat meja makan yang kosong melompong. "Bu ... Ini, Raka punya ua ng ta bu ngan. Ibu pakai aja buat beli seragam sama sepatu Raina. Sisanya pakai buat beli beras," ucapnya sambil menyerahkan sebuah sebuah gulungan ua ng lima ri bu dan dua ri buan ke dalam genggamanku.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang menggenang, aku melihat ua ng yang sudah disatukan masing-masing berjumlah sepuluh ri buan itu. Kuperkirakan jumlahnya lebih dari tiga ratus ri bu.
"Kamu dapat ua ng ini dari mana, Kak?"
"Raka udah bilang sama Ibu, kan. Itu ua ng ta b**gan Raka. Enam bulan ini Raka gak pernah jajan. Raka ta b**g ua ngnya buat jaga-jaga kalau Ayah marahin Ibu lagi gara-gara minta ua ng."
Air mataku langsung luruh seketika mendengar ucapan an ak sulungku itu. Kemudian aku mendekapnya dengan erat. Ternyata selama ini diam-diam dia selalu memperhatikan pertengkaran kami.
"Ya Allah, Kak. Kamu simpan aja ua ngnya, ya. Sebentar lagi kamu lulus sekolah, ijazahnya kamu harus di te bus. Takutnya nanti ayahmu—" Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku dan malah makin tergugu.
"Gak apa-apa, Bu. Nanti setelah lulus sekolah, Raka bakal cari kerja secepatnya. Masalah ijazah bisa di tebus nanti. Raka bisa minta copyannya aja buat lamar kerja. Nanti kalo Raka gajian, gaji Raka buat Ibu semua, jadi Ibu gak usah nge mis-nge mis lagi sama Ayah. Kita juga bisa pergi dari rumah ini, Bu."
"Raka! Jangan gitu, Nak! Biar bagaimana pun dia itu ayahmu. Kamu gak boleh be nci sama ayahmu sendiri."
"Maaf, Bu. Tapi bagi Raka, Ayah bukanlah Ayah Raka lagi semenjak dia terus-terusan nyakitin Ibu. Dan Raka akan buktikan sama dia kalo Raka bisa hidupin Ibu sama adik-adik meskipun tanpa dia!"
"Raka! Ibu belum selesai ngomong! Raka!"
An ak sulungku itu berlalu begitu saja setelah mengungkapkan perasaannya dan meninggalkan ua ng ta b**gannya di tanganku.
Rasa se sak menyeruak mendengar betapa selama ini ternyata an akku itu memikirkan perasaanku yang selalu di s*k sa batin oleh ayahnya.
"Ya Allah, Nak. Ibu akan selalu mendoakan kamu agar menjadi an ak yang sukses dunia akhirat. Aamiin."
****
Malam itu, suasana rumah kembali tegang saat Mas Amran p**ang kerja. Bau ro kok yang menyengat langsung menyebar ke seluruh ruangan begitu dia masuk. Aku yang sedang mencuci piring di dapur mendengar langkah beratnya menuju ruang tengah.
"Raka!" suaranya memben tak, membuatku refleks berhenti menggosok piring. Aku tahu nada itu, nada yang selalu membawa badai di rumah ini. Bergegas aku tergopoh menghampiri mereka.
Raka yang sedang membantu Raina dan Si b**gsu mengerjakan PR di meja ruang tamu menoleh perlahan. "Ada apa, Yah?" tanyanya pelan.
"Kamu ngapain kasih ua ng ta bu nganmu ke ibumu? Emangnya aku gak bisa kasih kalian makan, hah?"
"Mas, itu ua ng Raka sendiri. Dia cuma ingin bantu adik-adiknya. Jangan salah paham dulu," ucapku dengan nada hati-hati.
Salahku. Ini salahku. Tadi siang aku mengirim pesan pada suamiku untuk pergi ke pasar dan berkata jujur tentang ua ng pemberian Raka.
Ya, aku akhirnya memakai ua ng Raka untuk membeli seragam. Sisanya rencana akan kuba yarkan untuk SPP yang sudah menung gak berbulan-bulan. Meski sebenarnya aku tak tega menyusahkan an akku itu, tapi baju seragam Raina sudah koy ak.
Selain itu, biar bagaimana pun, aku harus ijin jika ingin pergi ke luar. Jika ketahuan tidak ijin, Mas Amran pasti marah.
Mendengar aku melerai mereka, Mas Amran tak menggubris. Dia melangkah mendekati Raka, sorot matanya penuh amarah. "Jadi kamu sekarang sok jadi pahlawan, ya? Mau bantuin ibumu biar aku kelihatan gak berguna, gitu? Hah, dasar an ak kurang a jar!"
"Ayah salah! Raka cuma mau bantu Ibu karena Ayah gak peduli sama Ibu dan kami!" Raka akhirnya bersuara dengan nada tegas, sesuatu yang jarang dia lakukan.
Mas Amran terlihat terpancing dengan ucapan an aknya. "Kurang aj ar kamu, Raka!" Dia melayangkan tangannya, siap menam par Raka.
Aku langsung berdiri di antara mereka, menghadang dengan tubuhku. "Mas, jangan! Dia an ak kita, Mas!" teriakku, mencoba menghentikannya.
Namun, tangan Mas Amran terhenti di udara bukan karena kata-kataku, melainkan karena suara tangisan Raina dan si Bungsu yang tiba-tiba pecah. "Ayah jangan pvkul Kakak!" Tangisnya menggema di seluruh ruangan, membuat semuanya terdiam sejenak.
Raka menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Silakan pu kul aku, Yah. Tapi, setelah itu, lihat siapa yang benar-benar jadi beban di rumah ini."
Kalimat Raka menggantung di udara. Aku bisa melihat raut wajah Mas Amran berubah, tapi bukan menjadi lebih lembut. Justru amar ahnya tampak semakin membara. Aku hanya bisa berusaha menyembunyikan Raka di punggungku, berharap badai ini segera berlalu.
"Dasar an ak kurang aj ar!" Lagi dia menyebut Raka seperti itu.
Kulihat kilat am a rah memuncak di wajah lelaki itu.
"Jangan, Mas. Jangan sakiti a nak kita! Kumohon. Kalau Mas mau marah, marahlah padaku," ucapku sambil terisak.
Tiba-tiba Mas Amran kembali mengangkat tangannya sekali lagi, tetapi kali ini bukan ke arah Raka, melainkan mengarah padaku.
Plak!
"Ajari an ak itu baik-baik! Dan kalau kamu memang lebih pilih an akmu itu daripada aku, Harum. Baiklah, kita lihat siapa yang lebih kuat bertahan di rumah ini!"
Bersamb**g
Judul: DENDAMKU UNTUK AYAH
Hima_Runa
Selengkapnya baca di KBM app