Hima Runa Stories

Hima Runa Stories Akun utama Hima Runa
Akun KBM Hima_Runa
Tiktok

31/03/2026

Mesin cuci ajaib

24/03/2026

"Aku gak ridho kamu makan dari hasil jerih payahku, Rum! Ngerti kamu!"

Kata-kata menyakitkan itu meluncur dari mulut suamiku sendiri—Mas Amran. Lelaki yang sudah belasan tahun menjadi imam dalam rumah tanggaku.

Aku yang saat itu sedang makan dan baru memasukkan satu suapan nasi berlauk-kan sepotong tempe goreng ke dalam mulut, seketika berhenti dan memilih langsung menyimpan kembali piringku di atas meja makan. Bahkan, nasi yang masih berada di mulutku kini terasa sangat sulit untuk bisa kutelan saking perihnya hati ini mendengar ucapan me nu suk dari suamiku itu.

"Kenapa? Kenapa makannya berhenti? Sadar diri kamu? Kerjamu itu, dari dulu cuma bisanya nyusahin aku sama menghabiskan ua ngku aja, Rum! Dasar istri be na lu!" ben taknya lagi sambil berlalu dan menen dang kursi yang ada di dekatku.

'Astaghfirullah. Ya Allah.'

Jujur, aku lelah dengan s*kapnya yang semakin hari semakin ka sar dan perhitungan. Dulu, dia tak seperti ini. Tapi, sekarang?

Semua pertengkaran ini memang sejak dulu sering terjadi ketika aku meminta ua ng untuk memenuhi kebutuhan ana k-an ak yang tak pernah dia pikirkan.

Rasanya aku lelah. Apa aku harus menyerah?

Aku masih ingat beberapa hari yang lalu, ia juga memben takku.

"Mas, ua ng sekolah Raina belum diba yar. Dia juga butuh beli sepatu sama seragam baru. Yang lama udah pada usang," ucapku pada Mas Amran saat dia akan berangkat kerja.

"Bukannya kemarin minggu aku baru kasih kamu ua ng? Memangnya itu gak cukup?" jawabnya sedikit ketus.

"Kamu cuma kasih aku ua ng 200 ri bu, Mas. Buat makan sama kebutuhan sehari-hari aja udah abis. Malah itu juga gak cukup."

"Gak cukup kamu bilang? Kok, bisa gak cukup? Kamu pake buat apa aja emangnya?"

"Mas, buat bekal sekolah anak-anak aja udah 15 ri bu sehari, belum beli beras sama lauknya gak cukup 20ribu. Ua ng 50 ribu itu gak cukup sehari. Apalagi kalau gas sama listrik habis, Mas. Dua hari juga habis, sedangkan kamu cuma kasih aku segitu buat makan seminggu. Biasanya kamu yang beli bahan pokok, Mas."

An akku berjumlah tiga orang. Yang pertama laki-laki sudah kelas tiga SMA, yang kedua perempuan kelas dua SMP, dan yang terakhir baru saja akan masuk TK.

"Alaaaahh. Alesan aja kamu! Kamunya aja kali yang bo ros. Mentang-mentang suami naik jabatan, kamu jadi banyak maunya! Dulu juga cukup ua ng segitu. Sekarang kenapa tiba-tiba bilang gak cukup? Mau ko rup si kamu sama suami sendiri?" Sorot mata Mas Amran terlihat ta jam. Ia bahkan dengan tega menu duhku seperti itu.

"Dulu, 15 tahun yang lalu ua ng segitu emang cukup, Mas. Sekarang an ak kita aja udah tiga. Tapi kamu malah makin seme na-me na! Kenapa semenjak naik jabatan, kamu malah jadi seperti ini, Mas?" Akhirnya ama rah yang kutahan begitu lama, berani kukeluarkan juga.

"Jadi kamu mau itung-itungan sama aku, hah? Di sini aku yang kerja, aku yang cari ua ng buat idupin kamu sama an ak-a nakmu. Sedangkan kamu? Di rumah kamu ngapain aja, sih? Paling ongkang-ongkang kaki doang. Kamu itu bisanya cuma jadi beban buatku!

Kamu pikir cari ua ng itu gampang, hah? Kamu jadi istri harus pinter ngatur du it, Rum. Jangan bisanya mintaaaaaa aja. Ngeluuuuhhhh aja! Gak bersyukur banget jadi istri! Udahlah aku mau berangkat kerja! Makanya kamu juga cari kerja sana. Jangan bisanya ngandelin suami terus! Bikin pus ing, aja!"

Bruk!

Pintu ditutup dengan begitu kencangnya, tak lama suara deru mesin mobil menjauh dan menyisakan sesak dalam da da.

Suamiku baru setahun ini di angkat jadi supervisor pabrik setelah sekian tahun lamanya ia hanya jadi bu ruh. Tapi, semenjak itu p**a s*kapnya jadi berubah dan menganggapku juga an ak-an ak adalah be na lu baginya.

Dulu, saat ga jinya sedikit, jatahku memang 200ri bu, tapi kebutuhan sehari-hari dia yang belikan. Jadi aku hanya tinggal mengolahnya tanpa memikirkan membeli bahan pokok. Tapi sekarang? Entahlah aku tak paham dengan jalan pikirannya.

"Ibu gapapa?" Si sulung tiba-tiba menghampiri. Aku lupa kalau tadi dia tengah berada di kamarnya karena. Pasti dia mendengar pertengkaranku dengan sang ayah.

"Ibu gak apa-apa, Kak. Kamu mau makan?" tanyaku meski faktanya di rumah hanya ada sepiring nasi sisa semalam yang kuhangatkan. Biarlah nanti aku belikan ia telur jika memang ia mau makan, pikirku.

Raka menggeleng setelah melihat meja makan yang kosong melompong. "Bu ... Ini, Raka punya ua ng ta bu ngan. Ibu pakai aja buat beli seragam sama sepatu Raina. Sisanya pakai buat beli beras," ucapnya sambil menyerahkan sebuah sebuah gulungan ua ng lima ri bu dan dua ri buan ke dalam genggamanku.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang menggenang, aku melihat ua ng yang sudah disatukan masing-masing berjumlah sepuluh ri buan itu. Kuperkirakan jumlahnya lebih dari tiga ratus ri bu.

"Kamu dapat ua ng ini dari mana, Kak?"

"Raka udah bilang sama Ibu, kan. Itu ua ng ta b**gan Raka. Enam bulan ini Raka gak pernah jajan. Raka ta b**g ua ngnya buat jaga-jaga kalau Ayah marahin Ibu lagi gara-gara minta ua ng."

Air mataku langsung luruh seketika mendengar ucapan an ak sulungku itu. Kemudian aku mendekapnya dengan erat. Ternyata selama ini diam-diam dia selalu memperhatikan pertengkaran kami.

"Ya Allah, Kak. Kamu simpan aja ua ngnya, ya. Sebentar lagi kamu lulus sekolah, ijazahnya kamu harus di te bus. Takutnya nanti ayahmu—" Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku dan malah makin tergugu.

"Gak apa-apa, Bu. Nanti setelah lulus sekolah, Raka bakal cari kerja secepatnya. Masalah ijazah bisa di tebus nanti. Raka bisa minta copyannya aja buat lamar kerja. Nanti kalo Raka gajian, gaji Raka buat Ibu semua, jadi Ibu gak usah nge mis-nge mis lagi sama Ayah. Kita juga bisa pergi dari rumah ini, Bu."

"Raka! Jangan gitu, Nak! Biar bagaimana pun dia itu ayahmu. Kamu gak boleh be nci sama ayahmu sendiri."

"Maaf, Bu. Tapi bagi Raka, Ayah bukanlah Ayah Raka lagi semenjak dia terus-terusan nyakitin Ibu. Dan Raka akan buktikan sama dia kalo Raka bisa hidupin Ibu sama adik-adik meskipun tanpa dia!"

"Raka! Ibu belum selesai ngomong! Raka!"

An ak sulungku itu berlalu begitu saja setelah mengungkapkan perasaannya dan meninggalkan ua ng ta b**gannya di tanganku.

Rasa se sak menyeruak mendengar betapa selama ini ternyata an akku itu memikirkan perasaanku yang selalu di s*k sa batin oleh ayahnya.

"Ya Allah, Nak. Ibu akan selalu mendoakan kamu agar menjadi an ak yang sukses dunia akhirat. Aamiin."

****

Malam itu, suasana rumah kembali tegang saat Mas Amran p**ang kerja. Bau ro kok yang menyengat langsung menyebar ke seluruh ruangan begitu dia masuk. Aku yang sedang mencuci piring di dapur mendengar langkah beratnya menuju ruang tengah.

"Raka!" suaranya memben tak, membuatku refleks berhenti menggosok piring. Aku tahu nada itu, nada yang selalu membawa badai di rumah ini. Bergegas aku tergopoh menghampiri mereka.

Raka yang sedang membantu Raina dan Si b**gsu mengerjakan PR di meja ruang tamu menoleh perlahan. "Ada apa, Yah?" tanyanya pelan.

"Kamu ngapain kasih ua ng ta bu nganmu ke ibumu? Emangnya aku gak bisa kasih kalian makan, hah?"

"Mas, itu ua ng Raka sendiri. Dia cuma ingin bantu adik-adiknya. Jangan salah paham dulu," ucapku dengan nada hati-hati.

Salahku. Ini salahku. Tadi siang aku mengirim pesan pada suamiku untuk pergi ke pasar dan berkata jujur tentang ua ng pemberian Raka.

Ya, aku akhirnya memakai ua ng Raka untuk membeli seragam. Sisanya rencana akan kuba yarkan untuk SPP yang sudah menung gak berbulan-bulan. Meski sebenarnya aku tak tega menyusahkan an akku itu, tapi baju seragam Raina sudah koy ak.

Selain itu, biar bagaimana pun, aku harus ijin jika ingin pergi ke luar. Jika ketahuan tidak ijin, Mas Amran pasti marah.

Mendengar aku melerai mereka, Mas Amran tak menggubris. Dia melangkah mendekati Raka, sorot matanya penuh amarah. "Jadi kamu sekarang sok jadi pahlawan, ya? Mau bantuin ibumu biar aku kelihatan gak berguna, gitu? Hah, dasar an ak kurang a jar!"

"Ayah salah! Raka cuma mau bantu Ibu karena Ayah gak peduli sama Ibu dan kami!" Raka akhirnya bersuara dengan nada tegas, sesuatu yang jarang dia lakukan.

Mas Amran terlihat terpancing dengan ucapan an aknya. "Kurang aj ar kamu, Raka!" Dia melayangkan tangannya, siap menam par Raka.

Aku langsung berdiri di antara mereka, menghadang dengan tubuhku. "Mas, jangan! Dia an ak kita, Mas!" teriakku, mencoba menghentikannya.

Namun, tangan Mas Amran terhenti di udara bukan karena kata-kataku, melainkan karena suara tangisan Raina dan si Bungsu yang tiba-tiba pecah. "Ayah jangan pvkul Kakak!" Tangisnya menggema di seluruh ruangan, membuat semuanya terdiam sejenak.

Raka menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Silakan pu kul aku, Yah. Tapi, setelah itu, lihat siapa yang benar-benar jadi beban di rumah ini."

Kalimat Raka menggantung di udara. Aku bisa melihat raut wajah Mas Amran berubah, tapi bukan menjadi lebih lembut. Justru amar ahnya tampak semakin membara. Aku hanya bisa berusaha menyembunyikan Raka di punggungku, berharap badai ini segera berlalu.

"Dasar an ak kurang aj ar!" Lagi dia menyebut Raka seperti itu.

Kulihat kilat am a rah memuncak di wajah lelaki itu.

"Jangan, Mas. Jangan sakiti a nak kita! Kumohon. Kalau Mas mau marah, marahlah padaku," ucapku sambil terisak.

Tiba-tiba Mas Amran kembali mengangkat tangannya sekali lagi, tetapi kali ini bukan ke arah Raka, melainkan mengarah padaku.

Plak!

"Ajari an ak itu baik-baik! Dan kalau kamu memang lebih pilih an akmu itu daripada aku, Harum. Baiklah, kita lihat siapa yang lebih kuat bertahan di rumah ini!"
Bersamb**g

Judul: DENDAMKU UNTUK AYAH

Hima_Runa

Selengkapnya baca di KBM app

"Kenapa Ibu masih tahan dengan laki-laki seperti itu?" tanya Raka saat pagi tiba.Semalam, perteng karan itu berakhir den...
24/03/2026

"Kenapa Ibu masih tahan dengan laki-laki seperti itu?" tanya Raka saat pagi tiba.

Semalam, perteng karan itu berakhir dengan Mas Amran yang pergi entah kemana, karena hingga pagi menjelang, ia tak kunjung kembali.

Hanya Raka yang meme lukku dan menenangkanku. Ana k laki-lakiku itu juga yang mengom pres p**iku yang beng kak bekas tam paran ayahnya.

Semalam, hampir saja Raka ikut terulut e mosi saat Mas Amran mela yangkan tangannya padaku. Tapi, aku menahannya dan memohon agar ia tak melaw an ayahnya sendiri.

Kini, dia kembali melaya ngkan protes atas ketidakberda yaanku melawan kedzali man ayahnya.

Aku mengangkat nasi dari atas kompor sehabis di hangatkan dan mengipasinya. Aku hanya menatap wajah Raka sekilas sebelum berucap, "Biar bagaimanapun, dia itu ayahmu, Nak. Gak akan ada kamu kalau gak ada ayah," ucapku mencoba memberi pengertian pada an ak itu.

Aku paham jiwa an ak muda seperti dirinya pasti sedang tak ingin diban tah.

"Tapi Raka gak minta punya Ayah kayak dia." Raka sedikit menaikkan intonasi bicaranya.

Aku menghela napas. Jujur, tak pernah terbersit di pikiranku kalau an ak sulungku akan sema rah ini dengan ayahnya.

Kupikir selama ini aku sudah rapat menyembunyikan perteng karan kami. Nyatanya, Raka yang memang sudah mulai beranjak dewasa, kini ia pasti sudah paham apa yang terjadi setiap hari antara aku dan ayahnya.

Tapi, aku tak pernah berharap a nak-an akku memben ci ayahnya, biar bagaimanapun Mas Amran harus tetap di hormati sebagai seorang ayah oleh an ak-an aknya.

"Raka, kamu bisa sebesar ini atas jerih payah siapa? Ayahmu, kan? Ibu harap, kamu jangan ben ci sama ayahmu sendiri. Doakan saja semoga ayahmu di lembutkan hatinya oleh Allah biar berubah seperti dulu lagi."

"Aku rasa, Ayah gak bakalan berubah, Bu. Apalagi dia semakin jaya. Dia akan semakin lupa dengan tanggung jawabnya. Buktinya dia udah gak peduli lagi dengan keadaan kita, Bu. Pokoknya setelah lulus sekolah, Raka bakalan kerja dengan giat biar bisa bawa Ibu pergi dari rumah ini."

Brak!

Pintu dapur tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Mas Amran dengan raut wajahnya yang penuh ama rah.

"Apa kamu bilang?" Telun juknya mengarah pada Raka. Aku langsung berdiri menengahi mereka berdua. "Jadi sekarang kamu udah berniat ngela wan sama Ayahmu ini? Udah bisa apa kamu, hah? Baru lulus sekolah saja udah berlagak mau bawa ibumu ka bur? Dasar an ak durha ka!" Teriakan Mas Amran menggema di penjuru dapur. Aku semakin erat memegang tangan Raka yang berada di belakangku.

"Yah, udah."

"Kalo emang iya, kenapa? Daripada Ibu di sini ters*k sa terus sama kelakuan Ayah, mending aku bawa Ibu pergi!"

Aku tersen tak dan menoleh ke belakang saat mendengar ucapan berani dari Raka. Entah mendapatkan keberanian dari mana an ak sulungku ini. Setahuku selama ini, Raka adalah an ak yang paling penurut dan pendiam. Tak pernah dia mela wan pada orang tua.

"Sudah merasa paling bisa an akmu itu, Rum. Kita liat aja, apa an ak ini bisa berdiri di kakinya sendiri tanpa bantuan dariku?! Aku ingin lihat sejauh mana dia bisa besar kepala seperti itu. Lagaknya dia seperti udah bisa cari u ang banyak saja! Paling-paling kamu cuma jadi pela yan toko!"

"Yah!" Aku menyela.

Aku merasakan otot tangan Raka yang kugenggam menge ras. Aku yakin dia sangat ma rah saat ini. Tapi aku berusaha menghentikan ucapan suamiku itu. Jangan sampai ucapannya itu menjadi kenyataan. Biar bagaimanapun, aku selalu mendoakan an ak-an akku sukses. Tak pernah aku berdoa yang bu ruk untuk keluargaku. Apalagi itu ana k-an akku sendiri.

"Apa? Sudahlah. Cepat siapkan makanan untukku. Aku la par!"

Mas Amran meraih kursi di dekat meja makan dan mendudukinya. Aku mengedipkan mata menyuruh Raka masuk ke dalam. Meski sepertinya a nak sulungku itu enggan masuk, tapi akhirnya dia mau menurut juga.

"Punya a nak, makin gede bukannya makin nurut, malah makin durha ka sama orang tua. Kamu itu gak be cus kali ngurus an ak. Bisa-bisanya punya niat ka bur. Gak inget dia bisa sebesar sekarang itu pake ua ng siapa?" Mas Amran masih terus saja menggerutu.

Aku yang mendengar ocehannya hanya bisa berusaha diam menahan ama rah sambil menyiapkan sarapan di depan suamiku itu.

Sepiring nasi hangat dengan lauk tahu goreng dan sambal terasi kuhidangkan di hadapannya.

"Makanan apaan ini, Rum? Kamu gak bisa masak makanan lain, hah? Apa kamu gak bosen tiap hari makan tempe tahu terus? Aku bosen, Harum! Emangnya kamu gak bisa masak ayam atau ikan, hah?" ben tak Mas Amran sambil sedikit melem parkan piring berisi nasi di hadapannya ke tengah meja hingga tum pah. Padahal itu nasi terakhir yang aku punya.

'Astaghfirullah ....' Kuusap da daku perlahan saat mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Amran. Setelah itu, kuhela napas dalam demi meredakan em osi.

"Ua ng belanjanya gak cukup, Mas."

Mas Amran langsung menggeb rak meja. "Gak cukup, gak cukup terus yang kamu bilang! Kapan cukupnya, hah? Oke, ini!"

Mas Amran berdiri dan merogoh dom pet dari saku ce lananya kemudian mengambil lembaran ua ng merah dari sana entah berapa lembar, kemudian aksi berikutnya membuat aku benar-benar dibuat terpaku dengan hati teri ris. Bagaimana tidak? Mas Amran tiba-tiba dia melem parkan ua ng-ua ng itu tepat ke arah waj ahku dengan ka sar.

"Ambil! Ambil ua ng itu, Rum! Kamu ingin ua ng, kan? Ambil sana! Dasar istri gak bisa bersyukur. Bisanya cuman ngeluh dan ngeluh terus! Cih! Perempuan sera kah! Cepat ambil semua ua ng itu? Aku gak mau tau, besok-besok jangan sampai kau memasakkanku tahu dan tempe lagi! Aku sudah mu ak! Aarrggghhh? Dasar istri bena lu! Menyusahkan saja bisanya!"

Setelah mengatakan hal menya kitkan itu, dia langsung berbalik pergi dan menutup pintu dengan begitu ken cang.

Kakiku perlahan mele mas bagai jelly hingga aku akhirnya am bruk terduduk di lantai dengan air mata yang perlahan menganak sungai di p**i.

"Ya Allah ... Astaghfirullah ...." Berulang kali aku mengucap istighfar dengan da da yang terasa se sak.

"Kenapa kamu jadi berubah seperti ini, Mas? Apa salahku padamu?" isakku lirih.

"Setelah semua ini, apa ibu masih mau bertahan dengan pria ka sar seperti itu, Bu?" Suara Raka membuatku mendongak. Dia sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan ra hang yang mengeras.

Buru-buru aku mengusap p**iku yang masih basah. Kuambil semua ua ng yang berserakan di lantai dan berdiri menghadap putraku yang kini masih terlihat menahan kesal.

"Ibu gak apa-apa, Nak. Seenggaknya ayahmu memberi Ibu ua ng lebih, jadi seminggu ke depan kita gak kekurangan makanan lagi." Aku mengucapkan itu dengan hati yang teri ris mengingat bagaimana Mas Amran tadi melem parkan ua ng-ua ng ini tepat mengenai wa jahku dengan wajah ma rahnya. Aku jadi teringat, dia kemarin berkata bahwa dia tak ridho atas apa yang aku makan dari ua ngnya.

Baiklah, mulai saat ini, aku takkan makan dari apa yang dia berikan. Tapi, setidaknya ua ng ini bisa kupergunakan untuk membeli bahan makanan untuk an ak-an akku.

"Ibu tau?" ucap Raka terhenti.

Aku mendongak menunggu ia melanjutkan ucapannya.

"Ibu terlihat sangat menye dihkan jika menerima ua ng itu, Bu," ucapnya sambil berbalik pergi.

Bersamb**g

Judul: DEN DAMKU UNTUK AYAH

Penulis: Hima_Runa

Selengkapnya baca di KBM app

"Aku gak ridho kamu makan dari hasil jerih payahku, Rum! Ngerti kamu!"Kata-kata menyakitkan itu meluncur dari mulut suam...
17/03/2026

"Aku gak ridho kamu makan dari hasil jerih payahku, Rum! Ngerti kamu!"

Kata-kata menyakitkan itu meluncur dari mulut suamiku sendiri—Mas Amran. Lelaki yang sudah belasan tahun menjadi imam dalam rumah tanggaku.

Aku yang saat itu sedang makan dan baru memasukkan satu suapan nasi berlauk-kan sepotong tempe goreng ke dalam mulut, seketika berhenti dan memilih langsung menyimpan kembali piringku di atas meja makan. Bahkan, nasi yang masih berada di mulutku kini terasa sangat sulit untuk bisa kutelan saking perihnya hati ini mendengar ucapan me nu suk dari suamiku itu.

"Kenapa? Kenapa makannya berhenti? Sadar diri kamu? Kerjamu itu, dari dulu cuma bisanya nyusahin aku sama menghabiskan ua ngku aja, Rum! Dasar istri be na lu!" ben taknya lagi sambil berlalu dan menen dang kursi yang ada di dekatku.

'Astaghfirullah. Ya Allah.'

Jujur, aku lelah dengan s*kapnya yang semakin hari semakin ka sar dan perhitungan. Dulu, dia tak seperti ini. Tapi, sekarang?

Semua pertengkaran ini memang sejak dulu sering terjadi ketika aku meminta ua ng untuk memenuhi kebutuhan ana k-an ak yang tak pernah dia pikirkan.

Rasanya aku lelah. Apa aku harus menyerah?

Aku masih ingat beberapa hari yang lalu, ia juga memben takku.

"Mas, ua ng sekolah Raina belum diba yar. Dia juga butuh beli sepatu sama seragam baru. Yang lama udah pada usang," ucapku pada Mas Amran saat dia akan berangkat kerja.

"Bukannya kemarin minggu aku baru kasih kamu ua ng? Memangnya itu gak cukup?" jawabnya sedikit ketus.

"Kamu cuma kasih aku ua ng 200 ri bu, Mas. Buat makan sama kebutuhan sehari-hari aja udah abis. Malah itu juga gak cukup."

"Gak cukup kamu bilang? Kok, bisa gak cukup? Kamu pake buat apa aja emangnya?"

"Mas, buat bekal sekolah anak-anak aja udah 15 ri bu sehari, belum beli beras sama lauknya gak cukup 20ribu. Ua ng 50 ribu itu gak cukup sehari. Apalagi kalau gas sama listrik habis, Mas. Dua hari juga habis, sedangkan kamu cuma kasih aku segitu buat makan seminggu. Biasanya kamu yang beli bahan pokok, Mas."

An akku berjumlah tiga orang. Yang pertama laki-laki sudah kelas tiga SMA, yang kedua perempuan kelas dua SMP, dan yang terakhir baru saja akan masuk TK.

"Alaaaahh. Alesan aja kamu! Kamunya aja kali yang bo ros. Mentang-mentang suami naik jabatan, kamu jadi banyak maunya! Dulu juga cukup ua ng segitu. Sekarang kenapa tiba-tiba bilang gak cukup? Mau ko rup si kamu sama suami sendiri?" Sorot mata Mas Amran terlihat ta jam. Ia bahkan dengan tega menu duhku seperti itu.

"Dulu, 15 tahun yang lalu ua ng segitu emang cukup, Mas. Sekarang an ak kita aja udah tiga. Tapi kamu malah makin seme na-me na! Kenapa semenjak naik jabatan, kamu malah jadi seperti ini, Mas?" Akhirnya ama rah yang kutahan begitu lama, berani kukeluarkan juga.

"Jadi kamu mau itung-itungan sama aku, hah? Di sini aku yang kerja, aku yang cari ua ng buat idupin kamu sama an ak-a nakmu. Sedangkan kamu? Di rumah kamu ngapain aja, sih? Paling ongkang-ongkang kaki doang. Kamu itu bisanya cuma jadi beban buatku!

Kamu pikir cari ua ng itu gampang, hah? Kamu jadi istri harus pinter ngatur du it, Rum. Jangan bisanya mintaaaaaa aja. Ngeluuuuhhhh aja! Gak bersyukur banget jadi istri! Udahlah aku mau berangkat kerja! Makanya kamu juga cari kerja sana. Jangan bisanya ngandelin suami terus! Bikin pus ing, aja!"

Bruk!

Pintu ditutup dengan begitu kencangnya, tak lama suara deru mesin mobil menjauh dan menyisakan sesak dalam da da.

Suamiku baru setahun ini di angkat jadi supervisor pabrik setelah sekian tahun lamanya ia hanya jadi bu ruh. Tapi, semenjak itu p**a s*kapnya jadi berubah dan menganggapku juga an ak-an ak adalah be na lu baginya.

Dulu, saat ga jinya sedikit, jatahku memang 200ri bu, tapi kebutuhan sehari-hari dia yang belikan. Jadi aku hanya tinggal mengolahnya tanpa memikirkan membeli bahan pokok. Tapi sekarang? Entahlah aku tak paham dengan jalan pikirannya.

"Ibu gapapa?" Si sulung tiba-tiba menghampiri. Aku lupa kalau tadi dia tengah berada di kamarnya karena. Pasti dia mendengar pertengkaranku dengan sang ayah.

"Ibu gak apa-apa, Kak. Kamu mau makan?" tanyaku meski faktanya di rumah hanya ada sepiring nasi sisa semalam yang kuhangatkan. Biarlah nanti aku belikan ia telur jika memang ia mau makan, pikirku.

Raka menggeleng setelah melihat meja makan yang kosong melompong. "Bu ... Ini, Raka punya ua ng ta bu ngan. Ibu pakai aja buat beli seragam sama sepatu Raina. Sisanya pakai buat beli beras," ucapnya sambil menyerahkan sebuah sebuah gulungan ua ng lima ri bu dan dua ri buan ke dalam genggamanku.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang menggenang, aku melihat ua ng yang sudah disatukan masing-masing berjumlah sepuluh ri buan itu. Kuperkirakan jumlahnya lebih dari tiga ratus ri bu.

"Kamu dapat ua ng ini dari mana, Kak?"

"Raka udah bilang sama Ibu, kan. Itu ua ng ta b**gan Raka. Enam bulan ini Raka gak pernah jajan. Raka ta b**g ua ngnya buat jaga-jaga kalau Ayah marahin Ibu lagi gara-gara minta ua ng."

Air mataku langsung luruh seketika mendengar ucapan an ak sulungku itu. Kemudian aku mendekapnya dengan erat. Ternyata selama ini diam-diam dia selalu memperhatikan pertengkaran kami.

"Ya Allah, Kak. Kamu simpan aja ua ngnya, ya. Sebentar lagi kamu lulus sekolah, ijazahnya kamu harus di te bus. Takutnya nanti ayahmu—" Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku dan malah makin tergugu.

"Gak apa-apa, Bu. Nanti setelah lulus sekolah, Raka bakal cari kerja secepatnya. Masalah ijazah bisa di tebus nanti. Raka bisa minta copyannya aja buat lamar kerja. Nanti kalo Raka gajian, gaji Raka buat Ibu semua, jadi Ibu gak usah nge mis-nge mis lagi sama Ayah. Kita juga bisa pergi dari rumah ini, Bu."

"Raka! Jangan gitu, Nak! Biar bagaimana pun dia itu ayahmu. Kamu gak boleh be nci sama ayahmu sendiri."

"Maaf, Bu. Tapi bagi Raka, Ayah bukanlah Ayah Raka lagi semenjak dia terus-terusan nyakitin Ibu. Dan Raka akan buktikan sama dia kalo Raka bisa hidupin Ibu sama adik-adik meskipun tanpa dia!"

"Raka! Ibu belum selesai ngomong! Raka!"

An ak sulungku itu berlalu begitu saja setelah mengungkapkan perasaannya dan meninggalkan ua ng ta b**gannya di tanganku.

Rasa se sak menyeruak mendengar betapa selama ini ternyata an akku itu memikirkan perasaanku yang selalu di s*k sa batin oleh ayahnya.

"Ya Allah, Nak. Ibu akan selalu mendoakan kamu agar menjadi an ak yang sukses dunia akhirat. Aamiin."

****

Malam itu, suasana rumah kembali tegang saat Mas Amran p**ang kerja. Bau ro kok yang menyengat langsung menyebar ke seluruh ruangan begitu dia masuk. Aku yang sedang mencuci piring di dapur mendengar langkah beratnya menuju ruang tengah.

"Raka!" suaranya memben tak, membuatku refleks berhenti menggosok piring. Aku tahu nada itu, nada yang selalu membawa badai di rumah ini. Bergegas aku tergopoh menghampiri mereka.

Raka yang sedang membantu Raina dan Si b**gsu mengerjakan PR di meja ruang tamu menoleh perlahan. "Ada apa, Yah?" tanyanya pelan.

"Kamu ngapain kasih ua ng ta bu nganmu ke ibumu? Emangnya aku gak bisa kasih kalian makan, hah?"

"Mas, itu ua ng Raka sendiri. Dia cuma ingin bantu adik-adiknya. Jangan salah paham dulu," ucapku dengan nada hati-hati.

Salahku. Ini salahku. Tadi siang aku mengirim pesan pada suamiku untuk pergi ke pasar dan berkata jujur tentang ua ng pemberian Raka.

Ya, aku akhirnya memakai ua ng Raka untuk membeli seragam. Sisanya rencana akan kuba yarkan untuk SPP yang sudah menung gak berbulan-bulan. Meski sebenarnya aku tak tega menyusahkan an akku itu, tapi baju seragam Raina sudah koy ak.

Selain itu, biar bagaimana pun, aku harus ijin jika ingin pergi ke luar. Jika ketahuan tidak ijin, Mas Amran pasti marah.

Mendengar aku melerai mereka, Mas Amran tak menggubris. Dia melangkah mendekati Raka, sorot matanya penuh amarah. "Jadi kamu sekarang sok jadi pahlawan, ya? Mau bantuin ibumu biar aku kelihatan gak berguna, gitu? Hah, dasar an ak kurang a jar!"

"Ayah salah! Raka cuma mau bantu Ibu karena Ayah gak peduli sama Ibu dan kami!" Raka akhirnya bersuara dengan nada tegas, sesuatu yang jarang dia lakukan.

Mas Amran terlihat terpancing dengan ucapan an aknya. "Kurang aj ar kamu, Raka!" Dia melayangkan tangannya, siap menam par Raka.

Aku langsung berdiri di antara mereka, menghadang dengan tubuhku. "Mas, jangan! Dia an ak kita, Mas!" teriakku, mencoba menghentikannya.

Namun, tangan Mas Amran terhenti di udara bukan karena kata-kataku, melainkan karena suara tangisan Raina dan si Bungsu yang tiba-tiba pecah. "Ayah jangan pvkul Kakak!" Tangisnya menggema di seluruh ruangan, membuat semuanya terdiam sejenak.

Raka menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Silakan pu kul aku, Yah. Tapi, setelah itu, lihat siapa yang benar-benar jadi beban di rumah ini."

Kalimat Raka menggantung di udara. Aku bisa melihat raut wajah Mas Amran berubah, tapi bukan menjadi lebih lembut. Justru amar ahnya tampak semakin membara. Aku hanya bisa berusaha menyembunyikan Raka di punggungku, berharap badai ini segera berlalu.

"Dasar an ak kurang aj ar!" Lagi dia menyebut Raka seperti itu.

Kulihat kilat am a rah memuncak di wajah lelaki itu.

"Jangan, Mas. Jangan sakiti a nak kita! Kumohon. Kalau Mas mau marah, marahlah padaku," ucapku sambil terisak.

Tiba-tiba Mas Amran kembali mengangkat tangannya sekali lagi, tetapi kali ini bukan ke arah Raka, melainkan mengarah padaku.

Plak!

"Ajari an ak itu baik-baik! Dan kalau kamu memang lebih pilih an akmu itu daripada aku, Harum. Baiklah, kita lihat siapa yang lebih kuat bertahan di rumah ini!"
Bersamb**g

Judul: DEN. DAMKU UNTUK AYAH

Penulis: Hima_Runa

Selengkapnya baca di KBM app

Ini kayaknya bukan gen Z tp gen milenial deh. 🤣Chittiey eeaankclaluwchaiiankKamoeh
21/09/2025

Ini kayaknya bukan gen Z tp gen milenial deh. 🤣

Chittiey eeaankclaluwchaiiankKamoeh



AKU BARU MENGETAHUI FAKTA BAHWA SUAMIKU BERKHIA NAT SETELAH DUA TAHUN MENIKAH. DARIPADA MARAH, AKU LEBIH MEMILIH UNTUK M...
18/09/2025

AKU BARU MENGETAHUI FAKTA BAHWA SUAMIKU BERKHIA NAT SETELAH DUA TAHUN MENIKAH. DARIPADA MARAH, AKU LEBIH MEMILIH UNTUK MEMBA LAS KAN DEN DAM DENGAN CARA YANG ELEGAN. AKU AKAN RAMPAS SEMUA YANG DIA PUNYA, DAN MEMBUAT DIA KEMBALI KE SETTINGAN AWAL

•••

[Sayang, aku ha mil]

Notifikasi pesan yang muncul di layar ponsel Dika membuat da hiku berkerut. Pesan dari siapa itu? Kenapa nama kontaknya hanya muncul sebagai huruf S?

Belum sempat aku mengambil benda p**ih di atas sofa itu, Dika sudah kembali sambil membawa secangkir cokelat panas dan memberikannya kepadaku. Ponselnya pun dia masukkan ke dalam saku celana.

"Aku sudah nonton film Forrest Gump ini hampir sepuluh kali, tapi aku selalu s**a dengan kalimat Forrest yang bilang kalau hidup itu ibarat sebatang cokelat. Kita nggak bakalan tau dengan apa yang akan kita dapatkan. Menurut kamu gimana, Sayang?" tanyanya tiba-tiba mengomentari film yang sedang kami tonton.

Dika menyeruput cokelatnya satu kali, sebelum meletakkannya di atas meja. Aku berusaha sekuat hati untuk mengontrol emosi dari rasa penasaranku tadi, dan mencoba untuk bers*kap biasa saja. Kufokuskan kembali pandangan ke arah televisi, menonton adegan Forrest yang sedang berlari dari rumahnya menuju pantai.

"Menurutku, dia ingin bilang kalau hidup itu penuh kejutan, Mas. Penuh misteri. Jadi kita nggak bakalan bisa nebak apa yang bakal terjadi kedepannya."

"He em, bener. Yang penting kita jalani aja hidup kita dengan santai. Apa yang akan terjadi besok tetep aja jadi misteri."

"Iya, Mas. Tapi ngomong-ngomong soal misteri, kira-kira ada nggak yang kamu sembunyiin dari aku, Mas?'

Aku sengaja tak memalingkan wajah dari Dika Aku ingin melihat ekspresinya ketika mendengar pertanyaanku. Ketimbang terkejut, ternyata Dika justru terlihat lebih santai.

"Apaan sih? Maksud kamu apa? Memangnya kamu curiga sama aku?"

"Ya, siapa tau ada sesuatu yang belum kamu ceritain sama aku, Mas. Jadi mendingan cerita dulu, biar nanti aku nggak terlalu terkejut."

Dika tampak tertawa mendengar jawabanku, kemudian dia mencu bit sebelah p**iku sebelum akhirnya mengecu pnya.

"Apa yang harus aku sembunyiin dari kamu, Sayang? Dunia beserta isinya bahkan siap aku berikan sama kamu, kalau aku bisa."

Biasanya aku akan tertawa lepas ketika mendengar semua gombalan dan kata romantisnya. Tapi kini tidak demikian.

"Bener ya, Mas. Jangan sampai nanti aku tau sendiri kalau bener kamu punya rahasia."

"Rahasia apa coba?" sangkalnya sambil tertawa.

Tak berapa lama kemudian, kembali terdengar sebuah notifikasi pesan di ponsel Dika. Kali ini dia mengambilnya dengan segera. Saat membaca isinya, raut wajahnya terlihat panik dan terkejut.

"Kenapa, Mas?" Aku bertanya sambil menyesap kembali cokelat panasku.

"Ha? Eh, ini, eengg ...."

"Kenapa? Kok kamu jadi gugup gitu? Pesan dari siapa?" Aku sengaja mencondongkan tu buhku ke arah Dika, ingin mengintip layar ponselnya, tapi sayangnya pria itu dengan sigap menyimpan kembali ponsel sebelum aku bisa melihat.

"Oh, eng ... dari kantor, Sayang. Sepertinya aku harus ke kantor sekarang. Ada sedikit masalah di kantor."

"Masalah apa malem-malem gini, Mas?'

Kulihat Dika seperti orang linglung yang sedang kebingungan. Kentara sekali dia sedang berbohong, namun aku sengaja diam untuk melihat jawabannya.

"Emm ... ini, Sayang. Tiba-tiba Sintia kirim pesan, katanya ada beberapa klien yang datang ke kantor dan komplin tentang penipuan tiket. Aku nggak tau sih detailnya kayak apaan, jadi aku harus cek ke sana langsung kayaknya."

Tanpa menunggu jawabanku, Dika berlari ke lantai dua, menuju ka mar kami dan kembali turun tak lama kemudian. Kali ini dia sudah mengganti piyama yang tadi dia kenakan, dengan jeans biru serta jaket hitam. Dika menghampiri aku, mengec up pelan dahiku, sebelum keluar.

"Nanti pintunya kunci aja ya, Sayang. Kamu nggak usah nungguin aku. Mungkin aku p**ang larut malam."

Lagi-lagi tanpa menunggu jawabanku, Dika langsung pergi dan mengendarai mobilnya dengan terburu-buru. Setelah yakin dia sudah keluar, dengan cepat aku juga menyambar kunci mobilku yang tergantung di atas meja. Aku berniat untuk mengikuti suamiku itu. Sudah sangat jelas dia pasti akan menemui si pengirim pesan yang mengaku hamil tadi.

Kuinjak pedal gas dengan cepat, jangan sampai aku kehilangan jejak Dika. Dari komplek perumahan ini menuju jalan raya cukup jauh, jadi aku yakin aku bisa mengejar kalau aku masih sempat mengejarnya. Benar saja, mobilnya baru akan keluar lorong dan menuju alun-alun kota. Aku mengikutinya dengan menjaga jarak tetap aman, meski da daku terasa bergemuruh. Andaikan terbukti Dika bermain api di belakang aku, apa yang harus aku lakukan?

Mobil Lexus LM yang dikendarai Dika masuk ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari alun-alun kota. Aku masih ingat, mobil me wah itu adalah hadiah dari Papa saat kami menikah dua tahun yang lalu. Mobil itu lebih sering digunakan Dika ketika bekerja, sementara aku justru sudah lama tidak menaikinya.

Aku sengaja membiarkan Dika masuk terlebih dahulu. Tanpa melepaskan pengawasan, aku mengambil tas besar berisi pakaian yang ada di jok belakang. Kesibukanku sebagai Agent Property yang terkadang juga diundang untuk mengisi acara beberapa majalah bisnis, membuatku harus selalu sedia pakaian ekstra di dalam mobil.

Kulapisi piyama yang aku kenakan dengan sebuah dress anggun hitam panjang. Kukenakan hijab dan kacamata hitam. Aku menyisir seluruh keadaan kafe yang ramai, sambil berusaha menemukan Dika, dan betapa terkejutnya aku saat mendapati suamiku sedang memeluk seorang wanita yang sangat aku kenal.

"Indah sekali kejutan yang kamu berikan malam ini, Mas. Tapi lihat saja, aku akan memberikan kejutan yang lebih indah untuk kalian berdua, dan aku pastikan akan lebih seru dari pada ini semua."

•••

Judul : Ketika Istriku Balas Den dam
Penulis : Dianadee
Platform : K B M app

Address

Limbangan
Garut
44186

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hima Runa Stories posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share