07/06/2026
Video kericuhan yang melibatkan sejumlah oknum anggota TNI dan warga sipil di Desa Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Lampung Utara, viral di media sosial, facebook, Kamis (4/6/2026).
Dalam rekaman berdurasi 33 detik itu, terlihat aksi saling dorong hingga pengejaran dan membuat warga panik.
Keributan terjadi di area terbuka yang diduga berada di kawasan wisata sekitar Bendungan Way Rarem.
Suasana yang semula ramai mendadak berubah tegang ketika cekcok antara kedua kelompok berkembang menjadi kontak fisik.
Dalam video yang beredar, beberapa pria berseragam loreng tampak terlibat adu fisik dengan sejumlah pemuda. Situasi semakin ricuh ketika aksi saling pukul dan tendang terjadi di tengah kerumunan warga.
Kericuhan kemudian bergeser ke area parkir kendaraan. Sejumlah warga terlihat berlarian menghindari kejaran, sementara teriakan histeris dari warga, terutama perempuan, terdengar jelas dalam rekaman tersebut.
Menanggapi video yang viral, Kepala Penerangan Kodam XXI/Radin Inten, Letkol Inf Ranoviandy Chairul, menjelaskan insiden itu bermula dari teguran anggota Brigif TP 45/SB terhadap sekelompok remaja yang menggeber-geber sepeda motor saat melintas di kawasan Gerbang Way Rarem menuju Kuwali Bendungan Way Rarem.
"Berawal dari upaya salah satu anggota Brigif TP 45/SB untuk mengingatkan sekelompok remaja yang mengendarai sepeda motor dengan cara menggeber-geber kendaraan agar lebih berhati-hati dan menjaga ketertiban," kata Ranoviandy, Jumat (5/6/2026).
Menurut dia, teguran tersebut tidak diterima dengan baik sehingga memicu adu argumentasi antara kedua pihak. Untuk mencegah situasi berkembang, anggota yang berada di lokasi memilih melaporkan kejadian tersebut kepada prajurit yang lebih senior.
"Namun, imbauan tersebut tidak diterima dengan baik sehingga terjadi adu argumentasi antara kedua belah pihak," ujarnya.
🔷 Kesalahpahaman Berujung Keributan
Ranoviandy mengatakan, kelompok remaja itu kemudian kembali melintas dari arah Bendungan Way Rarem dengan cara yang sama. Teguran kembali diberikan hingga akhirnya terjadi kesalahpahaman yang berujung keributan.
"Saat rombongan remaja tersebut kembali melintas dari arah Kuwali Bendungan Way Rarem, tetap dengan cara menggeber-geber kendaraan dan kembali diingatkan oleh anggota Brigif TP 45/SB," jelasnya.
Ia menegaskan insiden tersebut tidak mencerminkan hubungan antara Brigif TP 45/SB dengan masyarakat Desa Pekurun yang selama ini berjalan baik.
"Perlu ditegaskan bahwa kejadian ini merupakan bentuk kesalahpahaman yang terjadi di lapangan dan tidak mewakili hubungan baik yang selama ini terjalin antara Brigif TP 45/SB dengan masyarakat Desa Pekurun," tegasnya.
Pasca-insiden, berbagai pihak mulai dari unsur TNI, pemerintah daerah, kepolisian, tokoh masyarakat hingga keluarga para remaja telah melakukan mediasi. Dalam pertemuan itu, perwakilan keluarga menyatakan tidak ingin memperdebatkan pihak yang benar maupun. (kompas)