GRESIKSUMPEK.ID

GRESIKSUMPEK.ID Cerminan Kehidupan, Sumber Informasi GRESIKSUMPEK.ID adalah media sosial yang menyajikan informasi terkini berbagai topik, termasuk :

1. Kebijakan Komentar
a.

Berita lokal dan nasional
2. Hiburan dan Lifestyle
3. Materi postingan (foto/video) milik pengunggah. Kami akan menggunakannya untuk pemberitaan dengan menyebutkan kredit akun pengunggah. Pastikan materi tersebut hasil karya Anda sendiri.
4. Perhatian: Kami tidak bertanggung jawab atas klaim hak cipta atau tuntutan hukum dari pihak ketiga terkait materi foto/video yang didistribusikan ulang.
5. Pe

rhatian keamanan
- Jangan membagikan informasi pribadi di beranda.
- Untuk informasi lengkap, hubungi 0851-7113-2286.
- Komplain harus disertai bukti dan konfirmasi yang sah.
6. GRESIKSUMPEK.ID bukan Redaksi jadi tidak bisa memfollow up berita anda, tapi akan di linkkan ke media penyebaran dan pengumpul berita.
7. Jaga kesantunan dan ketertiban. b. Tidak boleh SARA, provokatif, atau pencemaran nama baik. c. Tidak boleh berkata kasar/jorok. d. Tidak boleh membagikan konten pornografi. f. Hormati perbedaan pendapat.

Video kericuhan yang melibatkan sejumlah oknum anggota TNI dan warga sipil di Desa Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Lam...
07/06/2026

Video kericuhan yang melibatkan sejumlah oknum anggota TNI dan warga sipil di Desa Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Lampung Utara, viral di media sosial, facebook, Kamis (4/6/2026).

Dalam rekaman berdurasi 33 detik itu, terlihat aksi saling dorong hingga pengejaran dan membuat warga panik.

Keributan terjadi di area terbuka yang diduga berada di kawasan wisata sekitar Bendungan Way Rarem.

Suasana yang semula ramai mendadak berubah tegang ketika cekcok antara kedua kelompok berkembang menjadi kontak fisik.

Dalam video yang beredar, beberapa pria berseragam loreng tampak terlibat adu fisik dengan sejumlah pemuda. Situasi semakin ricuh ketika aksi saling pukul dan tendang terjadi di tengah kerumunan warga.

Kericuhan kemudian bergeser ke area parkir kendaraan. Sejumlah warga terlihat berlarian menghindari kejaran, sementara teriakan histeris dari warga, terutama perempuan, terdengar jelas dalam rekaman tersebut.

Menanggapi video yang viral, Kepala Penerangan Kodam XXI/Radin Inten, Letkol Inf Ranoviandy Chairul, menjelaskan insiden itu bermula dari teguran anggota Brigif TP 45/SB terhadap sekelompok remaja yang menggeber-geber sepeda motor saat melintas di kawasan Gerbang Way Rarem menuju Kuwali Bendungan Way Rarem.

"Berawal dari upaya salah satu anggota Brigif TP 45/SB untuk mengingatkan sekelompok remaja yang mengendarai sepeda motor dengan cara menggeber-geber kendaraan agar lebih berhati-hati dan menjaga ketertiban," kata Ranoviandy, Jumat (5/6/2026).

Menurut dia, teguran tersebut tidak diterima dengan baik sehingga memicu adu argumentasi antara kedua pihak. Untuk mencegah situasi berkembang, anggota yang berada di lokasi memilih melaporkan kejadian tersebut kepada prajurit yang lebih senior.

"Namun, imbauan tersebut tidak diterima dengan baik sehingga terjadi adu argumentasi antara kedua belah pihak," ujarnya.

🔷 Kesalahpahaman Berujung Keributan

Ranoviandy mengatakan, kelompok remaja itu kemudian kembali melintas dari arah Bendungan Way Rarem dengan cara yang sama. Teguran kembali diberikan hingga akhirnya terjadi kesalahpahaman yang berujung keributan.

"Saat rombongan remaja tersebut kembali melintas dari arah Kuwali Bendungan Way Rarem, tetap dengan cara menggeber-geber kendaraan dan kembali diingatkan oleh anggota Brigif TP 45/SB," jelasnya.

Ia menegaskan insiden tersebut tidak mencerminkan hubungan antara Brigif TP 45/SB dengan masyarakat Desa Pekurun yang selama ini berjalan baik.

"Perlu ditegaskan bahwa kejadian ini merupakan bentuk kesalahpahaman yang terjadi di lapangan dan tidak mewakili hubungan baik yang selama ini terjalin antara Brigif TP 45/SB dengan masyarakat Desa Pekurun," tegasnya.

Pasca-insiden, berbagai pihak mulai dari unsur TNI, pemerintah daerah, kepolisian, tokoh masyarakat hingga keluarga para remaja telah melakukan mediasi. Dalam pertemuan itu, perwakilan keluarga menyatakan tidak ingin memperdebatkan pihak yang benar maupun. (kompas)

Tiga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Surabaya berakhir ditembak polisi setelah berusaha melawan dan ka...
06/06/2026

Tiga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Surabaya berakhir ditembak polisi setelah berusaha melawan dan kabur saat digerebek Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Ketiga tersangka masing-masing berinisial HR (40), AE (33), dan AS (36). Mereka ditangkap di sebuah kos kawasan Margomulyo, Tandes, setelah sebelumnya menjadi target pengintaian polisi selama empat hari.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan tindakan tegas terpaksa dilakukan karena para pelaku tidak kooperatif saat hendak diamankan.

Dari hasil pemeriksaan, komplotan ini mengaku telah beraksi di sedikitnya lima lokasi berbeda di Surabaya, di antaranya wilayah Wiyung, Sukomanunggal, Lakarsantri hingga Dukuh Pakis.

Salah satu tersangka diketahui merupakan residivis kasus narkoba. Polisi kini masih memburu penadah kendaraan hasil curian sekaligus berupaya mengembalikan motor-motor yang berhasil diamankan kepada para pemiliknya.

Menurut kalian, apakah hukuman bagi pelaku curanmor saat ini sudah cukup memberi efek jera?

Oknum anggota kepolisian di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, berinisial TS akhirnya melayangkan permohonan maaf secara terbu...
06/06/2026

Oknum anggota kepolisian di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, berinisial TS akhirnya melayangkan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat luas, khususnya kepada seorang penghibur jalanan atau badut berinisial K, asal Rembang, Jawa Tengah, yang telah menjadi korban kekerasan fisiknya.

Anggota Unit Penegakan Disiplin dan Pengamanan (Unit Propam) Polres Tuban tersebut mengakui secara jantan bahwa dirinya telah melakukan tindakan tidak terpuji yang sama sekali tidak mencerminkan sikap serta nilai-nilai luhur yang wajib dijunjung tinggi oleh setiap anggota Korps Bhayangkara.

TS kini telah bertemu langsung dengan korban K untuk meminta maaf secara pribadi. Pertemuan tersebut difasilitasi langsung oleh pihak kepolisian setempat dan berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan.

"Saya mengakui kesalahan saya dan menyesali perbuatan yang telah menimbulkan keresahan serta mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri," kata TS usai menjalani proses mediasi, Sabtu (6/6/2026).

Selain kepada korban, TS juga menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada pimpinan serta seluruh keluarga besar Polri karena tindakannya tersebut telah membawa dampak negatif yang mencoreng nama baik institusi.

Di hadapan media, TS juga menegaskan bahwa dirinya menyatakan siap untuk menjalani seluruh proses pemeriksaan internal di kepolisian dan menerima segala bentuk pembinaan maupun sanksi tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

"Saya siap menerima segala bentuk proses pemeriksaan dan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ucap TS.

🔷 Korban Terima Permintaan Maaf

Sementara itu, korban berinisial K menyampaikan bahwa dirinya menerima dengan tangan terbuka permohonan maaf serta itikad baik yang telah ditunjukkan oleh TS.

K menyebutkan bahwa keputusan untuk berdamai ini diambil atas kemauan dirinya sendiri secara s**arela, tanpa adanya intervensi, tekanan, maupun paksaan dari pihak mana pun. Ia juga memastikan tidak akan membawa dan menempuh jalur hukum atas kejadian yang menimpanya tersebut.

"Kami sepakat menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang permasalahan yang terjadi," ujar K saat memberikan keterangan di markas Polsek Kota Tuban, Sabtu (6/6/2026).

🔷 Proses Disiplin Internal Tetap Berjalan

Dengan adanya kesepakatan damai di antara kedua belah pihak, kasus yang sempat menghebohkan ini diharapkan dapat diselesaikan secara adem dan menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh pihak ke depan.

Kendati kedua belah pihak sudah memutuskan untuk menempuh jalan kekeluargaan, pihak Polres Tuban memastikan bahwa Seksi Propam tetap melakukan pemeriksaan intensif terhadap TS. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses penegakan disiplin dan kode etik profesi yang berlaku ketat di lingkungan internal kepolisian. (kompas)

Bagi pengendara motor maupun mobil, mulai sekarang sebaiknya cek kembali kelengkapan kendaraan dan surat-surat Anda.Korl...
06/06/2026

Bagi pengendara motor maupun mobil, mulai sekarang sebaiknya cek kembali kelengkapan kendaraan dan surat-surat Anda.

Korlantas Polri akan menggelar Operasi Patuh 2026 secara serentak di seluruh Indonesia mulai 8 hingga 21 Juni 2026. Selama 14 hari, petugas bakal melakukan pengawasan dan penindakan terhadap berbagai pelanggaran lalu lintas yang dianggap membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Salah satu yang menjadi sasaran utama adalah kendaraan yang tidak menggunakan pelat nomor atau sengaja menutup pelat nomor untuk menghindari kamera ETLE.

Tak hanya itu, pengendara yang melawan arus, menggunakan ponsel saat berkendara, tidak memakai helm SNI, tidak mengenakan sabuk pengaman, hingga pengendara di bawah umur juga akan menjadi target penindakan.

Berbeda dengan sebelumnya, operasi kali ini tidak hanya mengandalkan ETLE. Polisi juga akan menerapkan tilang manual melalui patroli hunting system di sejumlah ruas jalan yang rawan pelanggaran.

Jadi, sebelum terkena razia, pastikan kendaraan dan kelengkapan berkendara Anda sudah sesuai aturan.

Menurut Anda, pelanggaran apa yang paling sering ditemui di jalan raya saat ini?

Pihak keluarga santri yang diduga dibakar temannya di salah satu pondok pesantren (ponpes) Lombok Tengah, Nusa Tenggara ...
06/06/2026

Pihak keluarga santri yang diduga dibakar temannya di salah satu pondok pesantren (ponpes) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengungkap awal mula insiden yang terjadi pada November 2025 ini terungkap.

Adapun salah satu dari tiga santri yang diduga menjadi korban pembakaran oleh temannya ialah SAH (13). Di mana ia mengalami luka bakar 80 persen dan hingga kini masih belum bisa berjalan.

Sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar lebih parah. Bahkan satu korban di antaranya meninggal dunia pada bulan Ramadhan 2026.

Baca selengkapnya: https://regional.kompas.com/read/2026/06/05/071940178/3-santri-di-lombok-diduga-dibakar-teman-awalnya-ponpes-sebut-kecelakaan

Polres Tuban memastikan proses hukum internal terhadap oknum polisi berinisial TS tetap berjalan. Meski kasus senggolan ...
06/06/2026

Polres Tuban memastikan proses hukum internal terhadap oknum polisi berinisial TS tetap berjalan. Meski kasus senggolan hukum antara oknum anggota tersebut dengan seorang badut pengamen telah berakhir damai lewat mediasi, Seksi Profesi dan Pengamanan (Si Propam) tetap melakukan pemeriksaan intensif.

Kasi Propam Polres Tuban Iptu Latief menegaskan bahwa pihaknya telah memanggil dan meminta keterangan dari TS pada Jumat (5/6) malam. Langkah ini diambil sebagai bentuk ketegasan institusi terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh anggota.

"Sudah kami mulai periksa semalam. Dan hasilnya nanti akan kami serahkan kepada pimpinan. Kami tunggu nanti petunjuk selanjutnya dari atasan," tegas Latief saat dikonfirmasi detikJatim, Sabtu (6/6/2026).

Latief menambahkan, adanya kesepakatan damai di antara kedua belah pihak tidak serta-merta menghapus dugaan pelanggaran kode etik atau disiplin yang dilakukan oleh oknum bintara tersebut.

Dia memastikan bahwa penegakan aturan internal Polri dipastikan akan tetap berjalan sesuai prosedur yang berlaku.

"Ya meski kedua belah pihak telah berdamai antara oknum TS dan badut pengamen. Tetap kita lakukan pemeriksaan untuk sanksi internal," imbuh Latief.

Lebih lanjut, Latief menyatakan bahwa Polres Tuban tidak akan tebang pilih dalam menindak setiap personel yang diduga melakukan pelanggaran di lapangan.

Dia tegaskanya, siapa pun anggota Polri yang berbuat kesalahan pasti akan diproses dan dimintai pertanggungjawaban. (detikjatim)

Kepergian TJK (19), remaja Surabaya yang meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan, menyisakan duka mendalam b...
06/06/2026

Kepergian TJK (19), remaja Surabaya yang meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.

Di balik kasus yang kini masih ditangani kepolisian, tersimpan kisah pilu tentang seorang anak yatim piatu yang baru saja lulus SMA.

Remaja tersebut tengah menyiapkan langkah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, impian tersebut harus berakhir tragis setelah Thomas mengembuskan napas terakhir pada Kamis (4/6/2026) usai menjalani perawatan intensif selama lima hari di RSUD dr Soetomo Surabaya.

🔷 Diasuh Tante Sejak Kecil

Thomas diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.

Sejak kecil, ia telah kehilangan kedua orang tuanya dan kemudian diasuh oleh tante serta kakek-neneknya hingga tumbuh dewasa.

Meski hidup tanpa ayah dan ibu, Thomas dikenal sebagai pribadi yang baik dan tidak pernah membuat masalah di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Manukan, Surabaya.

Tetangga korban, Nia Sanjaya, mengaku terkejut sekaligus terpukul mendengar kabar meninggalnya Thomas.

"Setahu saya korban itu enggak pernah bikin masalah yang bagaimana sewajarnya anak-anak remaja gitu. Tapi bagi saya korban pribadi yang baik. Pendiam," kata Nia, dikutip dari Surya.co.id, Kamis (4/6/2026).

Kesaksian serupa disampaikan Ketua RT 01 RW 01 Manukan Kulon, Wijayanto Raharjo.

Menurut dia, Thomas tetap bergaul seperti remaja pada umumnya dan tidak dikenal sebagai anak yang sering terlibat persoalan di lingkungan sekitar.

"Iya kayak anak-anak itu lah, iya masih wajar, gumbul-gumbul atau nyangkruk-nyangkruk gitu," kenang Wijayanto.

🔷 Baru Lulus SMA dan Bersiap Kuliah

Kepergian Thomas terasa semakin menyayat hati karena terjadi ketika ia baru saja menyelesaikan pendidikan SMA.

Menurut keluarga dan kerabat, Thomas sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa yang difasilitasi sekolahnya.

Namun, rencana tersebut belum sempat terwujud.

Ia bahkan belum sempat mengambil ijazah kelulusannya maupun melakukan pendaftaran kuliah.

"Jadi enggak sempat, belum sempat untuk pendaftaran kuliah, belum sempat ngambil ijazah. Dari pihak keluarga juga menyayangkan sampai terjadi peristiwa seperti ini," tutur Nia.

Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Thomas juga aktif mencari informasi mengenai proses pendaftaran kuliah kepada kakak-kakaknya.

Ia berusaha mempersiapkan berbagai kebutuhan administrasi untuk melanjutkan pendidikan.

🔷 Pasfoto untuk Kuliah Berakhir di Rumah Duka

Salah satu kisah yang paling membekas bagi keluarga adalah ketika Thomas meminta dibuatkan pasfoto untuk keperluan pendaftaran kuliah.

Saat itu, ia mengenakan kemeja putih dan berencana menggunakan foto tersebut untuk mengurus berbagai dokumen pendidikan.

Tak ada yang menyangka foto yang dipersiapkan untuk masa depan itu justru berakhir digunakan dalam suasana duka.

"Dia tanya-tanya ke kakak-kakaknya itu bagaimana cara pengurusannya. Setelah itu korban kan minta foto. Minta foto pakai kemeja warna putih, katanya untuk persiapan untuk pendaftaran kuliah. Setelah foto dicetak, ternyata fotonya malah untuk yang di peti," kata Nia seraya menahan tangis.

Cerita tersebut menjadi simbol mimpi besar Thomas yang terhenti sebelum sempat diwujudkan.

🔷 Dikenal Introvert tetapi Dis**ai Banyak Orang

Kakak sulung korban, Hana Novia Kristiani (32), menggambarkan adiknya sebagai sosok introvert yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman dekatnya.

Meski pendiam, Thomas dikenal mudah diterima dalam pergaulan dan dis**ai banyak orang.

Menurut Hana, tidak sedikit orangtua teman-temannya yang merasa nyaman ketika Thomas bermain atau menginap di rumah mereka. "

Jadi sekalipun dia introvert, tapi dia ini banyak dis**ai sama orang-orang. Bahkan orang tua teman-temannya itu biasanya itu s**a kalau misalnya dia itu main atau tidur di rumah temannya," jelas Hana.

Keluarga kini berharap proses hukum atas kasus yang menimpa Thomas dapat berjalan secara adil dan tuntas.

🔷 Polisi Amankan Sejumlah Terduga Pelaku

Di tengah duka yang menyelimuti keluarga, proses hukum atas kasus pengeroyokan yang menewaskan Thomas masih terus berjalan.

Ketua RT 01 RW 01 Manukan Kulon, Wijayanto Raharjo, mengatakan polisi telah mengamankan sejumlah orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.

Menurut informasi yang diterimanya, terdapat empat orang yang diamankan terkait kasus itu. Sebagian di antaranya disebut merupakan teman sekolah korban.

"Benar 4 orang. Iya benar diamankan empat orang. Iya tadi pagi semuanya. 3 orang. Ini 1 ada yang satu sekolah ada yang tidak. Ya itu menurut info yang saya terima," ujar Wijayanto.

Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Raditya Herlambang juga membenarkan bahwa penyidik telah mengamankan beberapa orang terduga pelaku.

Namun hingga kini mereka masih menjalani pemeriksaan untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut.

"Ini masih proses pemeriksaan. Perkembangan mohon waktu kami infokan," kata Raditya.

Sebelumnya, keluarga korban telah menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut ke Polrestabes Surabaya pada Rabu (3/6/2026), sehari sebelum Thomas meninggal dunia.

"Saya berharapnya kasus ini bisa terselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku," tegas Hana. (kompas)

Seorang polisi lalu lintas meminta diisikan saldo kartu e-toll kepada pengemudi mobil di jalan tol, viral di media sosia...
06/06/2026

Seorang polisi lalu lintas meminta diisikan saldo kartu e-toll kepada pengemudi mobil di jalan tol, viral di media sosial. Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Radjo Alriadi Harahap mengatakan saat ini anggota polisi lalu lintas itu sedang dalam pemeriksaan Propam.

“Sudah kami tangani. Sedang didalami oleh Paminal (Pengamanan Internal) Bidang Propam untuk diproses pelanggarannya sampai sidang nantinya,” kata Radjo saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (5/6/2026).

Namun dia tidak menyebutkan di mana lokasi kejadian tersebut, dan identitas anggota polantas saat ditanya awak media.

Adapun video ini diunggah oleh akun Instagram pada Rabu (3/6/2026) lalu.

Pada unggahan lainnya akun Instagram .idn, disebutkan bahwa video pertama kali diunggah oleh akun bernama .rahayu.

Kompas.com sempat mencoba mengonfirmasi video ini pada Rose, tetapi tidak lama setelahnya akun tersebut hilang tanpa ada jawaban.

Pada video disebutkan bahwa perekam video mengatakan bahwa dia dihentikan polisi tersebut karena melanggar aturan lalu lintas. Kemudian, dia justru diminta isikan saldo kartu elektronik oleh polisi tersebut minimal Rp 250.000.

Namun, pengemudi itu terus meyakinkan polisi agar mereka sepakat dengan nilai Rp 100.000.

“Cepek bisa?” tanya pengemudi

“Enggak bisa, separuhnya, minimal dua setengah,” balas polisi.

Berulang kali perdebatan itu diulang, sambil polisi bertanya tempat tinggal pengemudi.

“Rumahnya di mana? Tangerang? BSD?” tanya polisi.

“Rumahnya di… iya BSD,” jawab pengemudi.

Pengemudi akhirnya tetap mengisikan saldo kartu tersebut sebesar Rp 100.000.

Setelah ditunjukkan, total akhir saldo kartu polisi tersebut senilai Rp 300.000.

Kemudian, polisi tersebut mengembalikan SIM dan STNK pengemudi sambil berterima kasih, sebelum meninggalkan mobil itu.

“Ini SIM STNK-nya ya. Maaf ganggu jalan,” kata polisi. (kompas)

Sebuah video yang memperlihatkan arogansi seorang pengendara motor terhadap seorang badut pengamen di Kota Tuban beredar...
06/06/2026

Sebuah video yang memperlihatkan arogansi seorang pengendara motor terhadap seorang badut pengamen di Kota Tuban beredar viral di media sosial. Belakangan diketahui pelaku adalah oknum polisi setempat.

Berikut 6 Fakta Insiden Polisi Hajar Badut Pengamen:

1. Bermula saat badut pengamen menyeberang di jalan raya

Dari video yang beredar, insiden bermula saat pengamen badut tersebut hendak menyeberang jalan dari arah selatan. Ketika posisi badut sudah berada di tengah jalan, sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang pria yang membonceng keluarganya melaju dengan kencang.

Akibatnya, badut pengamen yang berada di tengah jalan saat menyeberang tersenggol. Tampak ember yang dibawa sang badut untuk menampung dan isinya uang receh berserakan di jalanan.

2. Pelaku penabrak malah tak terima dan hajar korban

Bukannya menyelesaikan masalah dengan tenang, pengendara motor tersebut justru berputar balik dengan emosi meluap-luap memarahi bahkan menampar badut pengamen itu.

Tak hanya itu, pelaku juga sempat menampar dan menoyor kepala badut berkali-kali. Pengendara motor tersebut bahkan memaksa sang badut untuk bersujud minta maaf di hadapannya.

Karena merasa takut, badut pengamen itu akhirnya terduduk di pinggir trotoar sambil terus-menerus meminta maaf dan menyatakan bahwa insiden tersebut hanya kesalahpahaman. Namun, amarah pelaku tetap tidak kunjung padam.

3. Warga sempat melerai

Sejumlah warga dan pengguna jalan yang menyaksikan kejadian itu sempat berteriak memperingatkan pelaku agar menghentikan aksinya. Bukannya mereda, pria tersebut justru makin kesal karena merasa malu ditonton banyak orang.

Situasi akhirnya berhasil dilerai setelah massa yang iba melihat kondisi korban beramai-ramai mengintervensi aksi pelaku. Video insiden ini pun langsung memicu sorotan tajam dan kecaman dari warganet di media sosial sebelum akhirnya berakhir di meja mediasi kepolisian.

4. Polres Tuban benarkan Kejadian

Kasi Humas Polres Tuban, Iptu Siswanto saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa yang viral itu. Ia menyebut insiden itu terjadi di Jalan Sunan Kalijaga, Kota Tuban, Rabu (3/6) malam.

"Iya benar, Rabu malam kemarin," kata Siswanto kepada detikJatim, Sabtu (6/6/2026).

Siswanto juga membenarkan bahwa pelaku oknum anggota kepolisian. Ia menyebut pelaku berinisial TS (32). Sedangkan korban atau badut yang jadi korban kekerasan berinisial K (37) asal Rembang, Jawa Tengah.

"Terlapor berinisial TS merupakan tindakan individu," kata Siswanto.

5. Pelaku dan korban dimediasi di polsek

Menurut Siswanto, korban setelah insiden dan viral di media sosial tidak membuat laporan, namun pihaknya gerak cepat dan telah memanggil kedua belah pihak baik korban maupun pelaku.

"Iya, ini kedua belah pihak telah dimediasi oleh unit Reskrim polsek kota karena terkait kejadian yang dilakukan," ujar Siswanto.

Pelaku, lanjut Siswanto, kemudian mengakui salah dan meminta maaf, sebaliknya korban telah memaafkan tindakan berlebihan oknum polisi tersebut. "Kedua belah pihak saling memaafkan dan tidak ada rasa dendam atau benci," kata Siswanto.

6. Badut diberi konpensasi Rp 150 ribu

Siswanto menambahkan, selain meminta maaf, pelaku juga memberi konpensasi uang untuk biaya pengobatan. Hal itu dilakukan atas kesadaran pelaku tanpa ada paksaan.

"Pihak kedua (pelaku) sanggup mengganti biaya pengobatan pada pihak pertama (korban) sebesar Rp 150 ribu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun," ujar Siswanto. (detikjatim)

Puluhan ton beras Bantuan Pangan (Banpang) dari Bulog ditolak oleh puluhan desa di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bang...
06/06/2026

Puluhan ton beras Bantuan Pangan (Banpang) dari Bulog ditolak oleh puluhan desa di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Kepala desa menilai, beras tersebut memiliki kualitas buruk sehingga tidak layak dikonsumsi oleh penerima bantuan.

Perwakilan Kepala Desa di Kecamatan Tanah Merah, Zaiqulhak Alfarisi, mengatakan bahwa sejak dua hari yang lalu desanya mendapatkan distribusi bantuan beras untuk masyarakat kurang mampu. Namun, dari kemasan beras berbeda dari sebelumnya.

"Kemasan sebelumnya bening, sehingga kualitas beras bisa terlihat. Sedangkan yang kami terima kemarin itu kemasannya putih jadi harus dibuka dulu," ujar pria yang menjabat sebagai Kepala Desa Pangeleyan itu, Jumat (5/6/2026).

Alfarisi mengatakan, setelah karung beras dibuka, dia terkejut melihat kualitas beras yang berwarna kuning cenderung coklat. Bahkan, beras tersebut berbau tak sedap.

"Ini betul-betul tidak layak dikonsumsi. Saya langsung menolak dan dikembalikan lagi ke truk Bulog yang antar," ungkapnya.

Dia mengatakan, meski telah mendapat penolakan dari desanya, namun beras yang sama masih dikirimkan kembali ke desa lain di Kecamatan Tanah Merah.

"Ini barusan di Desa Pettong juga ditolak. Jadi diangkut lagi dikembalikan," katanya.

Alfarisi juga menyayangkan tindakan petugas Bulog yang tidak memerhatikan kualitas beras tersebut. Apalagi, beras yang dikemas dalam karung seberat 10 kilogram itu akan digunakan sebagai bantuan sosial ke masyarakat.

"Kita minta agar ini diganti dengan yang layak. Kita tidak bisa terima, masa warga kami mau diberi beras yang jelek. Ini tidak layak konsumsi. Ini sudah seperti pakan ternak," ungkapnya.

Dia mengatakan, penolakan itu terjadi di 23 desa di Kecamatan Tanah Merah. Total bantuan yang disalurkan oleh Bulog diperkirakan sebanyak sekitar 80 ton beras.

Sementara itu, salah satu perwakilan Bulog Madura, Purwono Fitriadi Rahman tidak memberikan respons saat dihubungi Kompas.com, untuk dimintai konfirmasi. (kompas)

Address

Gresik

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GRESIKSUMPEK.ID posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to GRESIKSUMPEK.ID:

Share