Ayu Nuha

Ayu Nuha Catatan perjalanan Sarjana Iseng, bertemu dengan anak-anak kampung, orang baru, tempat baru, kota Imajiner, dan semua hal yang menurutnya bisa berkedip.

Ayu Nuha's cover photo
03/02/2020

Ayu Nuha's cover photo

Ayu Nuha
03/02/2020

Ayu Nuha

Komposisi : - air mineral Cleo- lembaran daun mint (lupa ngitung 😊)- Waktu biar mereka  berkolaborasi- Harapan untuk set...
03/02/2020

Komposisi : - air mineral Cleo
- lembaran daun mint (lupa ngitung 😊)
- Waktu biar mereka berkolaborasi
- Harapan untuk seterusnya bisa hidup sehat
- dan Rindu yang masih menyisip 😆😊

Komposisi : - air mineral Cleo- lembaran daun mint (lupa ngitung 😊)- Waktu biar mereka  berkolaborasi- Harapan untuk set...
03/02/2020

Komposisi : - air mineral Cleo
- lembaran daun mint (lupa ngitung 😊)
- Waktu biar mereka berkolaborasi
- Harapan untuk seterusnya bisa hidup sehat
- dan Rindu yang masih menyisip 😆😊

Timeline Photos
03/02/2020

Timeline Photos

Ayu Nuha's cover photo
25/08/2017

Ayu Nuha's cover photo

Timeline Photos
22/08/2017

Timeline Photos

Timeline Photos
22/08/2017

Timeline Photos

Selamat pagi perasa..tetaplah peka.. =p
22/08/2017

Selamat pagi perasa..tetaplah peka.. =p

Timeline Photos
21/08/2017

Timeline Photos

Timeline Photos
21/08/2017

Timeline Photos

Timeline Photos
21/08/2017

Timeline Photos

Timeline Photos
20/08/2017

Timeline Photos

Ayu Nuha
01/08/2017

Ayu Nuha

13/06/2017

Ini tentang meja, kursi, vas bunga, jendela, juga jam dinding, lampu, korden, dan semangkuk kecil manisan berlabel beserta tutupnya.

Ini tentang kaki-kaki meja, lengan-lengan kursi, tangkai-tangkai bunga, warna dan perpaduan korden serta mangkuk kecil yang perutnya penuh dengan manisan dan tutup diatasnya yang membuat ia seperti memakai topi.

Ini tentang adik manisku yang selalu asyik dengan dunia digitalnya, suara-suara manis dari telepon genggamnya.

Ini tentang perjuangan jemarinya menghidupkan dunia visual dalam sebuah games miliknya. Tentang jaringan yang tiba-tiba musnah disaat aplikasi telepon genggamnya menuntut pembaharuan. Haha lucu mendengar ia kesal.

Ini tentang emakku yang senang sekali duduk sambil mendengarkan bapak mengaji, kemudian berpindah sekedar menengok apa yang sedang dilakukan kedua belahan jiwanya yang lain. Entah kagum, takjub, marah, kesal apapun jenis emosi itu, aku selalu gagal memahami yang sebenarnya, ia mendesis namun lebih mirip suara orang yang sedang menahan tawa. Medapati kami berdua sibuk dengan telepon genggam masing-masing.

Ini bukan tentang apa-apa..bukan juga tentang cerita galau nestapa, meski hati dan cerita cinta masih entah siapa. Namun bukan lagi tentang itu semua. Kadang memang betul ada yang kurang, ada penyesalan kenapa menyerah, dan lainnya. Mengada-ada seolah semua bisa kembali seperti semula, dan itulah bagian dari manusia.

Tentang semangkuk besar Srikaya yang kaya betul sudah isinya, degan, buah siwalan, jelly chocolate, banana milk, sari kelapa, sebaris daun pandan dan beberapa sisir roti tawar sebagai selimutnya.

Selamat datang sayangku, sambut dan salam hangat dariku. Samar-samar dibalik pertanyaan siapa kamu? Kapan kita bertemu? Bagaimana cara berjuang untukmu?

Ramadhan dan 2017

Ayu Nuha
17/08/2016

Ayu Nuha

28/07/2016

Halo teman-teman yang budiman =D

Saya perlu 8 orang yang beralamatkan di INDONESIA dan bisa mengirim buku Novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, biografi, komputer, hukum, agama, Islam, pendidikan, parenting, motivasi, bisnis, ke alamat lain di Indonesia.

Peraturannya gampang banget, kamu cukup kirim SATU BUKU (baru / bekas tapi masih dalam kondisi bagus) ke satu orang saja.

Nanti saya akan inbox nama, umur dan alamatnya. Dan kamu akan menerima bisa sampai 36 buku dari teman-teman yang tidak kami kenal yang juga ikutan program ini.

Komen di status saya kalau kamu mau. Ikutaann yaa.. =D di tunggu partisipasinya, untuk INDONESIA MEMBACA.

28/07/2016

Ini bukan dongeng, cuma cerita anak-anak kampung, kehidupan mereka sehari-hari.
Bersama sungai, berburu angin, menangkap layang-layang, atau lari bersama ikan.

Ini bukan dongeng, cuma cerita lima anak kampung di salah satu desa kecil kabupaten Gresik Jawa timur. Ada sekolahan yang ditinggali kumbang-kumbang. Kayu tua diatapnya penuh lubang.

Ini bukan dongeng, cuma cerita bocah kampung yang sedang mendengarkan petuah dari gurunya dengan seksama. Tentang hidup, tentang cita mereka yang kadang terlalu muluk, dan tentang harian seorang bu guru baik dan terbaik sepanjang sejarah mereka menjadi anak-anak. Sepanjang mereka dewasa dan kembali kesekolah kumbang mengantar anak-anak mereka masing-masing.

Ini bukan dongeng, cuma sekedar cerita bocah kampung yang rindu tempat kelahirannya, yang sempat pergi jauh mengurai makna hidup mengejar asa dan citanya. Ini hari dimana mereka siap kembali, memeluk kampung pertiwi, bersujud pada kasih sosok guru yang membuat kami bermimpi.

Ayunuha episode : cerita bocah kampung.

05/07/2016

Segenap crew fanspage Ayu Nuha mengucapkan Minal Aidzin Wal Faizin Mohon maaf lahir dan batin.

^_^

28/06/2016

PURNAMA tanpa BULAN

*prm)
Kurasa senyummu telah tumpah pada saus makananku, meskipun piringku belum pernah berada pada meja yang kamu siapkan.

Gerakanmu saat mengelap meja, menata piring dan gelas-gelas itu, cara berjalanmu, sikap ramahmu, bahkan kursi yang kamu geser dengan satu tangan pun ikut bercahaya.

*Lk-lk)
Kurasa caramu mengancingkan baju itu telah menahan hatiku, meskipun aku belum pernah mencoba baju di tokomu.

Gayamu yang sederhana, cara bicaramu yang ramah, dan setiap kali ku dapati anak-anak selalu senang setelah bertemu denganmu, bahkan rak-rak baju yang kamu rapikan berkerlip seperti ada bintangnya.

*penulis)
Seperti tidak ada pergantian siang dan malam, belum lagi sempat bertemu panas ataupun hujan, tidak ada musim yang menyaksikan, juga mungkin tidak seperti cuaca yang sekarang entah kenapa cepat berubah.

Hanya suhu dingin, yang terkadang lebih dingin dari putaran kenyataan yang berlapis. Berkelasnya pakaian yang dikenakan seolah bisa berbicara, menentukan antrian, menentukan kadar sikap, membeli harga kesopanan, juga senyum keseganan.

Berbeda dengan aku dan kamu, yang tidak memerlukan semua itu. Dari sini semua pemandangan terlihat berbeda, lampu yang terang benderang, keramaian, musik yang tiada henti mengalun memenuhi segala penjuru, segalanya yang nampak bagus, rapi, berkelas. Dari sini semua pemandangan itu menjadi samar namun terang, hadir sebagai perbedaan yang sebenarnya.

Seperti itu juga kesamaran dimensi kita, Seperti hari minggu kamu pergi ke suatu tempat. Sedang aku setiap 2, 3 kali waktu harus keluar dari sini. Seperti caramu bertemu juga berbeda denganku yang hanya butuh sepercik air, sedang kamu mungkin perlu setelan jas dan kemeja rapi.

Seperti warna mata dan kulit kita juga berbeda, sebeda ruang dan waktu yang kita jalani bersama namun tidak pernah tersentuh. Biarlah aku menyukai saus yang tumpah pada makananku, meskipun entah kapan piringku bisa berpindah dimeja yang kamu siapkan. Sedangkan kamu teruslah bermimpi mengenakan setelan dari rak-rak baju di toko ku, meskipun tidak ada ukuran seusiamu di toko baju anak-anak ini.

Ayu Nuha's cover photo
10/06/2016

Ayu Nuha's cover photo

18/01/2016

Fajar adalah rahim Ibu, Kekasih.
Ia melahirkanmu kembali hidup setelah pilihanmu mati semalam.

Fajar adalah kertas putih, Kekasih.
Ia Keputusanmu mengganti lembaran lama,
atau meneruskan karangan meski sedikit penuh kekurangan.

Fajar adalah engkau, kekasih.
Ia membentuk dirimu,
melewati sungai kecil berdo'a,
mengecup kening bumi.

#Ayunuha, Episode : Fajar dan Kekasih.

17/01/2016

semua yang terjadi hari ini adalah permintaan dan do'a kita dihari sebelum- sebelumnya, yang bahkan boleh jadi kita sudah lupa pernah memintanya.

~ yang bahkan, boleh jadi kita tidak menyadari karena kita sendiri yang enggan belajar melihatnya ~

#Ayunuha, Episode : Kisah Puteri Sulaiman.

05/01/2016

Cerita Bocah Kampung, Episode selanjutnya menceritakan kesederhanaan tempat belajar anak-anak yang sangat sederhana, rutinitas mereka yang seru karena harus berbagi kelas dengan Koloni kumbang hitam yang membuat sarang didalam kelas.

kelucuan demi kelucuan terjadi ketika jam pelajaran berlangsung dan kumbang besar yang mereka sebut dengan ''tembalo'' tiba-tiba buang air dan kotoran dimeja-meja juga di baju mereka. gelak tawa mereka satu sama lain bersahutan. hhehehehehe

Ditunggu yaa,,, >_

04/01/2016

Terimakasih atas dukungan teman-teman yang sudah mw Like fanspage ini, terimakasih buat teman-teman yang sudah like postingan, respond, ngasih masukan dan juga share.. =)

04/01/2016

Cinta tanpa kata

Episode : Surabaya, gadis angkuh yang menawan.

Aku melihat ia tersenyum, malu dan bahagia. rona pipinya ranum, kedua matanya sembab, sungguh ia terlihat begitu cantik malam itu. malam terakhir aku bersamanya, malam yang tidak pernah terbesit menjadi malam perpisahanku dengannya. gadis yang sangat ku cintai. gadis yang dengannya aku ingin memulai kembali, seorang gadis yang namanya terpatri dihatiku. sebagai teman sebagai sahabat...dan.. juga..sebagai..kekasih. yang terkasih.

Ini malam minggu, Jalanan penuh orang-orang berlalu. kota Surabaya anggun dengan keramainnya, kharismatik dengan segala pernik kemacetannya, walaupun banyak yang mengenal orang-orangnya kasar dengan budaya '' Jancuk'' nya. kota Surabaya tetap memiliki banyak sekali wibawa dengan sejarah kepahlawanannya.

Di kota ini aku datang merantau, berjuang dan belajar menjadi manusia yang sejati. setidaknya seseorang telah membantu diriku menemukan diriku yang sekarang. gadis malang yang amat ku cintai itu. Di kampus Islam ini, aku dan dia dipertemukan. pertemuan dengannya selalu membekas di ingatanku, sikap keras kepalanya yang tidak pernah ku sukai, sikap kekanan-kanakannya yang sangat menyebalkan, juga naifnya yang tidak karuan. sejujurnya aku membenci gadis seperti itu! bikin repot! dan susah sekali dikalahkan.

Aku berjalan sendirian malam ini, melewati senyap yang mengusung kehampaan menuju dadaku, nafasku penuh. Udara malam mengepul bersama asap-asap rokok dan kopi manisku. masih panas, tentu saja semua kenangan itu masih panas dan hangat terasa. ah, aku benci menjadi sentimentil seperti ini!.

Sebagai Laki-laki aku memiliki harga diri yang sangat tinggi, harga diri harga mati ini aku perjuangkan hingga meraih impian, aku telah berjanji tidak akan pulang dari perantauan, biarlah aku bermimpi menjadi orang besar dan selamanya di perantauan, dari pada pulang kalah dalam perjuangan. akan aku buktikan aku pantas dan layak di sebut sebagai pemenang. bukankah kehidupan mirip dan memang sebuah perantauan??, perantauan panjang yang justru berporos pada ketiadaan.

Buku-buku tebal ini harus ku lahap dalam tiga hari. meskipun demikian aku juga harus cepat menyalesaikan tulisanku. kalau tidak gadis itu akan memarahiku. hhmm sebenarnya aku diam-diam mengaguminya, kalau duduk manis dan tenang, ia nampak mempesona, otentik. semua bayangan dan hayalan manis itu lenyap tanpa bekas ketika aku berhadapan dengannya, gadis dihadapanku ini nampak begitu beda, ia seperti bisa menelusuri jiwa dan ragaku, membaca setiap gerak-gerik ku melanggar privasiku, sulit untuk mengakui bahwa aku harus terjatuh pada keangkuhannya.tapi sebagai lelaki sejati, aku tetap tahu ia juga wanita. dan mengalah padanya sebagai lelaki adalah hal yang lumrah.

Dua bulan mengikuti pelatihan ini membuatku belajar banyak hal, mengerti banyak hal, sekaligus juga mengenalnya lebih jauh. andai dunia dan dia membuka saja sedikit celah dihatinya yang rapuh, berulang kali suatu hari nanti aku ingin dia yang menjadi istriku. namun sayangnya pelatihan ini harus selesai beberapa minggu lagi. dan setiap babak perdebatanku dengannya menjelma menjadi cara persahabatan kami, kurasa memang seperti itulah bentuk pertemanan kami.

Perpisahan tidak bisa dielakkan, seharusnya aku harus lebih berani mengatakan sepatah dua kata yang lebih lembut lagi padanya. gadis itu memilih bersayap dua dan tidak ada lagi yang bisa menahannya. ia terbang pergi tanpa sepatah kata. sekali dua kali bertemu dengannya di ujung kampus hanya menguap sebagai sapaan kosong belaka. hhmm dunia yang cepat sekali berubah.

Empat tahun berlalu, kenangan, perjuangan dan cinta telah mengisi hari-hariku di kota Surabaya ini. aku sungguh menikmatinya, meraih apa yang memang pantas aku raih, belajar rendah hati sebagai kewajiban ilmu yang harus selalu bisa diamalkan. Aku telah menemukan pujaan hatiku yang lain, gadis yang sangat kusukai saat ini, ia lepas, ceria, dan bersamanya aku tidak perlu menjadi tinggi. ia membantuku berpijak dan menyusuri diriku sendiri. gadis biasa-biasa yang justru hatiku penuh tertambat padanya. gadis lain..lain dari pada yang lain..tidak angkuh dan membuatku bahagia.

Aku jatuh cinta dan tidak merasa jatuh dipelukannya. ia memenangkan hatiku dengan sederhana. aku tahu aku tidak akan pernah sanggup hidup tanpa nya. namun entah kenapa nuraniku mengatakan aku harus melepaskannya kali ini. melepaskan agar ia kembali pada kekasihnya. ya, itulah kenyataanya. kenyataan sentimentil yang mendewasakanku.

Dalam cinta aku belajar tentang banyak kekurangan, dalam cinta aku belajar banyak tentang kebencian, tentang keangkuhan, juga tentang kehilangan. Impian terkadang bisa merenggut kita menjadi manusia yang tidak pandai mengatakan kepedulian pada orang lain. cinta juga terkadang membuat kita lemah, membuat diri kita terlihat tidak pantas dan memilih pergi mengira ia telah bahagia dengan orang lain. mendo'akan ia bahagia dengan orang yang kita kira lebih pantas dari pada diri kita sama sekali.

Impian mengajarkanku untuk terjatuh, untuk tidak dibuai, untuk membuka mata bahwa segalanya bisa saja hilang seketika tanpa seseorang yang berarti dihati kita. Cinta memberikan kepastiannya padaku, agar menjadi harmoni dalam kehidupan, dan menjadi harmoni dalam kehidupan hanya bisa ketika kita berani menjadi manusia. menjadi diri sendiri, menerima kesalahan kita, menerima teguran tuhan. bahwa terkadang sebagai manusia kita sering berlebihan.

Kini biarkan aku pergi, seperti engkau melepaskan kebahagiaan cintamu bukan untuk dirimu. seperti engkau yang akhirnya memilih nurani dan membiarkan poros mimpimu pergi. seperti aku yang dikirim tuhan kembali padamu, kembali dalam diam. kembali samar-samar untuk menguatkanmu. anggap saja hadiah dari tuhan atas kesabaranmu. sayup pelan sebelumnya tuhan menuntun bayanganmu menyusupi ruang mimpiku tanpa perlu izin dariku. melihat kenyataan ketiadaan yang sungguh seindah itu. aku kembali padamu dalam benak aneh, fluktuasi ganjil dari hubungan kita yang tidak pernah ramah.

Malam ini adalah malam terakhir gadis angkuhmu melawanmu, melebur bersama pemahaman cintanya yang baru, memilih leleh bersama mimpinya yang tidak ketemu. Malam ini adalah malam terakhir, semoga bisa menjadi malam terakhir kebisuan kita, malam terakhir kengkuhan mengguruiku untuk memaafkanmu. jika tidak mungkin secepat itu, setidaknya biarlah gadis angkuh ini melebur bersama pemahamannya yang baru. yang lebih jujur, yang terbuka, yang telah memaafkan dirinya sendiri dimasalalu.

Tidak perlu terburu-buru, dalam cinta harmoni tidak pernah ada batasan waktu.

03/01/2016

#Cerpung (Cerita tentang bocah kampung)

Episode : Lubang tidak kentara di hati kampung kami

Aku dan lima kawanku mengerumuni tubuh besarnya yang mengkilat, bola mata kami mengerjab-ngerjab. duduk bersila diatas batu lepeng yang besar sekali, batu yang sudah berada disana semenjak aku dan kawan-kawan masih menjadi arwah disyurga, begitu kata Emak waktu kami bertanya, dimana kami sebelum datang dan terlahir sebagai anak kampung sini?. mungkin roda besi dihadapan kami adalah perwujudan arwah lain, yang terlahir dari rahim kemajuan, proyek pembangunan agar kota-kota besar menjadi semakin besar. agar gedung-gedung tinggi kamarnya bisa disusun seperti pagoda menjulang menggelitiki langit.

"tapi disini tidak ada kota, mana perlu menyusun ruangan tinggi-tinggi'', Sergap Uka memotong spekulasiku tentang roda raksasa.

''mungkin sebentar lagi akan ada kota diseberang kali'', ungkap Hendro memanggut-manggut dengan kening serius berkerut.

Aku, Ennis dan Noor kali ini memilih diam, enggan terlibat pembicaraan anak laki-laki yang kami semua tahu tidak akan pernah ada yang menang dan yang kalah diantara mereka berdua.

Segerombolan laki-laki berseragam mentereng, mengenakan peci atom berwarna kunyit, sepatu tebal dari karet berdecit, melenggang melewati kami, tidak menggubris lima lalat berkaus gombal yang dua diantaranya nampak ribut sendiri.

Kemudian sosok kurus tegap yang kami kenali muncul dibelakangnya, wajahnya lusuh, pucat akibat kelelahan, namun tatapan matanya tidak akan pernah seorangpun ada yang berani meremehkan. itu Palek Bakir seorang warga kampung sini yang merantau ke kota, ia berseragam seperti lainnya. kata emak Palek Bakir bekerja dikota, menghidupi anak istrinya sebagai Sopir Kendaraan. Namun apa yang ia lakukan disini? bukankah seharusnya ia berada dikota memimpin truk-truk dijalan raya.

Palek Bakir melihat kami berlima, seyumnya ramah namun terdengar khawatir terlempar diantara sela-sela langkahnya menuju kami. Jelas itu ciri khas penduduk kampung disini, yang ramah, yang sopan, yang menganggap kami bukan seperti lima lalat kecil berdesing dan pengganggu. meskipun demikian Emak-emak kami sendiri menganggap kelakuan kami sehari-harinya. kelakuan kami berlima bertualang menyebut diri kami sebagai penguasa kampung. Sawah, Telaga, Angin, Sungai beserta kerajaan ikan sepat, wader, hingga koloni Udang, Burung dan tupai dipohon kedondong, atau kucing kampung sekalipun tunduk kepada kami.

''Palek Bakir sedang apa disini?", tanya Enis begitu wak Bakir tiba dihadapan kami.
Namun sebelum pertanyaan itu dicernanya buru-buru Wak Bakir menyuruh kami pulang ke rumah.

''tapi kami masih mau menunggu mesin itu bergerak'', bagaimana mungkin kami bisa pulang dengan tenang kalau belum mendengar bagaimana mesin itu berteriak Wak...?'', kami hampir memohon beramai-ramai.

''Mesin itu tidak menyala hari ini, mau sampai kapan kalian menunggu?"

dengan separuh nyawa akhirnya kami melenggang pulang ke kampung, sepanjang perjalanan pulang kami semua memilih diam, mengobati kecewa kami dengan berbicara dalam diam, kami semua tak enak melawan Palek Bakir, ia kelihatan serius dan lelah. biasanya orang dewasa dan anak-anak setiap harinya senanh bercengkrama, akrab satu sama lain, bahkan tak jarang dari kami saling memberi julukan satu sama lain. bahkan Paklek sebenarnya adalah panggilan untuk keluarga seperti paman, namun dikampung sini semua orang sudah seperti keluarga sendiri, karena itu orangtua kami mengajari kami untuk memanggil Lek atau Palek untuk laki-laki yang sudah menikah dan berkeluarga, kalo sudah beranjak lebih tua lagi biasanya dipanggil pakde, dan kalo sudah kakek-kakek boleh dipanggil Mbah atau yai.

urutan siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih mudah terkadang tidak dilihat berdasarkan usia saja, namun ada urut-urutannya berdasarkan silsilah tepung keluarga atau kampung sini menyebutnya dengan ''Pernahe'', seperti aku yang harus memanggil cak atau kakak kepada sepupuku yang lebih mudah setahun dariku. dan memanggil adek kepada sepupuku lainnya yang usianya 5 bahkan 7 tahun lebih tua dariku, atau Hendro yang di panggil Pakde diusia kanak-kanak oleh saudara jauhnya yang masih sekampung, bahkan diurutan selanjutnya temanku Hendro yang malang harus dipanggil Mbah diusia kanak-kanaknya seperti ini.aku dan kawan-kawan selalu menertawainya jika mendengar ia dipanggil seperti itu.

Keesokan harinya disekolah ramai membicarakan petugas-petugas berseragam itu. ada yang bilang mereka mencari sumber minyak di tengah-tengah kampung, sawah aliran sungai, mereka adalah pemburu minyak dimanapun. kabar ini mengaung disusul berhari-hari berikutnya terpaksa kami harus berbagi daerah kekuasaan kami. petugas-petugas itu berjalan mondar-mandir tiada henti, mengukur, melangkah, dan mengebor tanah dalam-dalam, kasihan bumi kampungku harus berlubang-lubang seperti orang jerawatan.

berhari-hari berikutnya orang-orang berseragam berhasil menemukan sumber gas besar, mereka semua sumringah ramah entah pada siapa, aku dan kawan-kawanku tidak lagi melihat Palek Bakir, hal tersebut membuat misi penyusupan kami lebih mudah. kami tahu orang-orang dari kota meremehkan kemampuan kami menyusup, menjalankan missi, dan segudang akal kami akibat menjabat penguasa kampung bertahun-tahun selama 9 tahun kami hidup didunia ini. Hari ini Aku, Hendro, Noor, Ennis dan Uka sepakat mendatangi tanah sangar diseberang jalan.

Sebuah lahan tak terurus karena memang banyak bebatuan yang ada disana, termasuk lempeng batu tempat kami menyusup beberapa minggu lalu. lahan sangar luas sekali, katanya ada jalan setapak menuju gunung kapur desa sebrang yang belum pernah berani kami jajahi. diseberang lahan luas itu, mesi beroda besar, berton-ton berarak datang dan parkir disana kemari, dab betul ketika mesin itu menyala. suaranya menggelegar, memecah kampung, mematikan ulu hati kami yang terlalu berani datang sedekat itu.

Pekerjaan mesin dan berton-ton katrol tiada henti siang dan malam, bisingnya memaksa kami mengerti, menerima kelakuan mereka menghentikan kegiatan petualangan kami hari-hari berikutnya, Emak memarahiku dan melarangku bermain terlalu jauh. apalagi mendekati proyek-proyek itu. Emak tidak pernah ahu kalau aku dan kawan-kawanku sudah cukup sering datang kesana. dan aku juga tidak mau mengundang bencana jika harus menceritakan semuanya pada emak menceritakan pertemuanku dengan Palek Bakir, tentang lahan sangar yang digali lebar-lebar, luaaass, dalaaamm, hingga ngeri begidik jika Aku dan kawan-kawan ku bercanda dan tidak sengaja cemplung disana, tentang lubang-lubang besar yang sekian jumlahnya, tentang mesin bor besar penusuk perut bumi dan lain sebagainya.

Hingga suatu malam, kami sekampung dibangunkan oleh cahaya benderang. seketika semua orang kampung mengira mereka karipan (kesiangan), melihat bumi kampung kami tersinari cahaya api. disusul bunyi dentuman, Bboooomm. kepulan hitam padat itu masih terlihat gagah meskipun hari telah pekat. dan kami warga kampung turut menyaksikan pemandangan tak terhindarkan. orang-orang itu berhasil

Hari -hari berikutnya tidak ada yang berubah dari kami semua, selain luka pada bumi yang tidak pernah berhenti menganga. Aku dan Kawan-kawanku kembali kesekolah, menyusuri hari-hari seperti biasa, Buguru enggan lagi bercerita tentang penambang-penambang itu, digantikan banyak pelajaran yang harus kami susul. kampung kami menjadi hening dari pada biasanya, bertanya dalam diam, apa yang terjadi esok nanti? Lubang-lubang yang tidak kentara, sedikitpun tidak menyenggol kami, hanya beberapa warga saja yang ditawari sekian harga tinggi untuk menjual sawah dan tanah mereka, namun lubang-lubang yang tidak kentara itu tetap membekas di hati kampung kami, yang entah suatu hari nanti akan berpengaruh kepada masa depan kami, atau hanya berpengaruh pada tempat tinggal kami.

Address

Gresik

Telephone

081252034507

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ayu Nuha posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Ayu Nuha:

Category

Nearby media companies