26/06/2026
# Janji di Ujung Sesal
Gerimis sore itu terasa lebih dingin di kulit Amanda, sekaku sikap suaminya, Syarif, dalam beberapa bulan terakhir. Sudah tujuh tahun mereka menikah, dikaruniai seorang putri kecil bernama Bella yang bermata bulat jenaka. Selama itu p**a, Amanda dengan ikhlas tinggal di kampung, merawat Ibu Sukma—ibu mertuanya yang sakit-sakitan—sementara Syarif mengadu nasib di Jakarta.
Biasanya, Syarif p**ang setiap akhir pekan. Namun belakangan, kep**angannya terkikis menjadi sebulan sekali. Teleponnya dingin, beralasan sibuk dan lelah mencari nafkah. Ada sesuatu yang berbisik di lubuk hati Amanda, sebuah firasat buruk yang tak mampu ia jinakkan.
"Ibu, liburan sekolah ini kita ke Jakarta, ya? Beri kejutan untuk Ayah," bisik Amanda suatu hari pada Ibu Sukma. Sang mertua yang lembut hanya mengangguk setuju.
Namun, kejutan itu justru berbalik menguliti hati Amanda. Ketika ia dan Bella berdiri di ambang pintu rumah Syarif di Jakarta, tidak ada pelukan rindu. Wajah Syarif pias, matanya menyiratkan kepanikan yang hebat. Dan kebenaran itu akhirnya runtuh menimpanya ketika seorang wanita anggun bernama Lidia keluar dari kamar utama.
"Dia istri pertama saya, Amanda. Kami menikah siri," ucap Syarif dingin, tanpa menyadari kata-katanya seperti belati. "Aku menikahimu hanya agar ada yang merawat ibuku di kampung."
Dunia Amanda rasa runtuh.
Luka itu begitu perih, ibarat garam yang ditaburkan di atas daging yang menganga. Bella yang polos kebingungan melihat ibunya menahan tangis. Demi Bella, dan demi cinta yang terlanjur mengakar, Amanda menolak surut. Ia memilih bertahan, bahkan memboyong Ibu Sukma untuk tinggal di Jakarta agar rumah tangga mereka tetap menyatu, tanpa membiarkan wanita tua itu tahu kelakuan bejat anaknya.
Tinggal sekota membuat tensi semakin panas. Lidia yang merasa posisinya terancam terus mencari cara untuk mendepak Amanda kembali ke kampung. Namun takdir punya alurnya sendiri. Suatu hari, Syarif mengalami kecelakaan dan terluka. Di saat Lidia enggan direpotkan, Amandalah yang dengan telaten mengganti perban, menyuapi, dan mendoakan kesembuhannya.
Ketulusan yang murni itu perlahan-lahan merubuhkan dinding keangkuhan Syarif. Benih cinta yang nyata mulai tumbuh di hati pria itu untuk Amanda. Puncaknya, di hari ulang tahun Amanda, Syarif membawanya makan malam romantis bersama Bella dan ibunya, bahkan memberinya sebuah kalung indah.
Melihat kemesraan itu dari kejauhan, Lidia terbakar cemburu. Keesokan harinya, saat Amanda sedang mengantar Bella sekolah, Lidia menyusup ke rumah. Dengan penuh kebencian, ia melabrak Ibu Sukma dan melemparkan foto-foto pernikahannya dengan Syarif.
"Lihat! Anak kebanggaanmu itu sudah lama menikahiku! Amanda itu cuma pembantu yang merawatmu!" pekik Lidia kejam.
Ibu Sukma memegang dadanya yang tiba-tiba terasa dihantam batu besar. Napasnya memburu, wajahnya membiru menahan serangan jantung akibat syok berat. Melihat Ibu Sukma ambruk tak sadarkan diri, Lidia panik. Bukannya menolong, ia justru melarikan diri, membiarkan wanita tua itu meregang nyawa dalam sepi.
Ketika Amanda kembali, mertuanya sudah tak bernyawa. Di tengah isak tangis yang belum reda, Lidia datang memutarbalikkan fakta. Ia menghasut Syarif, menuduh Amanda egois memindahkan ibunya ke kota hingga menyebabkannya stres dan meninggal. Syarif yang kalap oleh duka langsung menunjuk pintu rumah.
"Pergi kamu, Amanda! Kamu yang membunuh ibuku!" talak Syarif membabi buta. Amanda terusir, p**ang ke kampung halaman membawa kepingan hati yang hancur bersama Bella.
Namun, sepandai-pandainya bangkai disimpan, baunya akan tercium juga. Seorang tetangga di Jakarta memberi tahu Syarif bahwa ia mendengar keributan seorang wanita sebelum Ibu Sukma ditemukan meninggal. Dengan tangan gemetar, Syarif membuka rekaman CCTV tersembunyi di sudut ruang tamu yang selama ini terlupakan.
Di layar digital itu, ia melihat dengan jelas bagaimana Lidia memaki ibunya, membiarkannya sekarat, lalu melangkah pergi tanpa sepeser pun rasa bersalah.
Syarif rasa dipalut penyesalan yang membakar dada. Hari itu juga, ia menjatuhkan talak kepada Lidia dan mengusirnya dari hidupnya.
Seminggu kemudian, di teras rumah kampung yang asri, Amanda sedang melamun menatap langit sore. Tiba-tiba, Bella berlari kencang ke arah gerbang. "Ayah!" teriak bocah itu gembira.
Syarif berdiri di sana, penampilannya kusut, matanya sembap. Pria itu langsung berlutut di hadapan Amanda, menggenggam jemari istrinya dengan air mata yang luruh.
"Maafkan aku, Amanda... Aku buta. Lidia yang melakukan semuanya. Tolong beri aku kesempatan kedua. Aku janji, demi Ibu dan demi Bella, kamu akan menjadi satu-satunya wanita di sisa hidupku," ratap Syarif.
Amanda menatap wajah suaminya, lalu beralih pada Bella yang memeluk kaki ayahnya dengan mata berbinar penuh harap. Luka di hatinya mungkin menyisakan bekas yang dalam, namun demi senyum putri kecilnya, Amanda menarik napas panjang dan mengangguk perlahan. Ia memilih menyembuhkan luka itu bersama-sama.
Lanjut? Cek komentar ya kak🥰👇👇