Nella

Nella Menerima Jasprom novel hrga 30 sampai bab 10 jika mau Jasprom 20bab hrga 50k pos boleh byr nanti yg pnting amanah โ˜˜๏ธ๐ŸŒปhttps://collshp.com/fene.shop
(1)

๐—œ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ-๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ ๐—ต๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐˜.Itu bukan karena kemewahan yang ia miliki,melainkan karena ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜๐—ฒ...
25/01/2026

๐—œ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ-๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ ๐—ต๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐˜.
Itu bukan karena kemewahan yang ia miliki,
melainkan karena ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜.

Adapun ciri-ciri istri yang hebat antara lain:

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ: ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ.
Bukan karena hidupnya selalu cukup, tapi karena ia menolak mempermalukan suaminya.
Di depan anak-anaknya ia tetap tersenyum, di hadapan orang lain ia tetap tampak berkecukupan.
Ia mengencangkan ikat pinggangnya sendiri, mengalah pada keinginannya, demi memastikan suaminya tetap merasa โ€œmampuโ€.
Ia tidak sibuk mengeluh, tidak mengumbar kekurangan, karena baginya harga diri suami
lebih mahal daripada kenyamanan dirinya sendiri.

๐—ž๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ: ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ.
Bukan karena rumahnya tanpa luka, tapi karena ia menjaga kehormatan keluarga.
Ia tidak menjadikan aib suami sebagai bahan cerita,
tidak menumpahkan air mata di sembarang tempat.
Ia memilih diam, berdoa, dan bertahan, agar rumah tangganya tetap terlihat utuh.
Padahal di dalam hatinya, ada lelah yang tak pernah selesai, ada kecewa yang dipeluk sendirian.

๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ: ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐˜‚๐—ธ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ.
Ia terlihat sebagai wanita paling bahagia, padahal setiap hari ia sedang berjuang.
Ia tertawa saat hatinya ingin menangis, ia menguatkan orang lain saat dirinya sendiri hampir runtuh.
Ia tidak ingin dunia tahu betapa sering ia jatuh dalam sujudnya, meminta Allah menggantikan lelahnya dengan kekuatan.

Istri seperti ini ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’ƒ๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’–๐’๐’•๐’–๐’•
, tapi ๐’ƒ๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’๐’“๐’ƒ๐’‚๐’๐’Œ๐’‚๐’.
Tidak ribut di lisan, tapi penuh pergolakan di dalam dada.

Maka berhati-hatilahโ€ฆ
jangan sampai kesabaran mereka dianggap sebagai kelemahan.
Karena jika seorang istri yang kuat hatinya sudah lelah dan memilih diam sepenuhnya, yang hilang bukan suaranyaโ€”
melainkan ๐—ฐ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ.

Dan ingatlah---
Allah Maha Melihat air mata yang disembunyikan,
Maha Mendengar doa yang tak diucapkan,
dan Maha Adil dalam membalas setiap luka yang ditahan, demi menjaga sebuah rumah tangga.

15/01/2026

Orang Indonesia emang ya
Hebat

MASAK DI RUMAH MERTUA"Ini sayur asem?""Iya Bu.""Aduh, mana asemnya?""Tapi tadi udah saya kasih kok Bu.""Berapa banyak?""...
15/01/2026

MASAK DI RUMAH MERTUA

"Ini sayur asem?"

"Iya Bu."

"Aduh, mana asemnya?"

"Tapi tadi udah saya kasih kok Bu."

"Berapa banyak?"

"Satu bungkus."

"Kamu itu ga pernah masak sayur asem ya? sayur asem kok asemnya cuma satu bungkus, nih ibu kasih sepuluh bungkus asemnya!"

"Ga kebanyakan asemnya Bu?"

"Sayur asem ya memang harus asem! bagaimana sih kamu!" Ucap Wiwit ketus pada Jamilah, menantunya.

Sorenya.

"Ampuuuuuun ini sayur apa? asem banget!" Bagas kerutkan dahi.

"Itu masakan istri kamu, udah ga usah protes! kan kamu yang milih istri."

"Tapi kan..." Jamilah mencoba membantah mertuanya namun ia melirik Bagas suaminya, ada perasaan tak enak dalam hatinya.

"Besok-besok biar ibu saja yang masak sayang, biar kita bisa makan, kalau seperti inikan jadi mubazir makannya." Bagas usap pundak istrinya.

Pagi hari.

"Eh Bu Wiwit, pagi-pagi udah ke pasar, enak sekarang mah ya, udah ada mantu jadi ada temennya." Sapa Bu Inggit tetangga sebelah rumah.

"Aaah, nambah kerjaan malah, pagi-pagi harus nganter ke pasar segala, belanja sayur buat masak aja belom tau, apa lagi masaknya, kemaren aja masak sayur asem ga ada yang makan sampe kebuang, ampun saya mah dah." celetuk Wiwit tanpa memperdulikan Jamilah yang berada di sebelahnya.

Siangnya.

"Ampun ini kok kangkungnya banyak yang dibuang?"

"Itu akarnya Bu."

"Aduuuuh mubazir itu, ayo masukin semua, akar kangkung itu bagus untuk kesehatan loh! ayo masukin semua!"

"Masa sih Bu? saya kok baru tau masak kangkung sama akarnya."

"Udah nurut aja apa kata orangtua! ga usah ngeyel!" Wiwit mendelik.

Sorenya.

"Ini sayur kangkung kok alot gini? ini akarnya juga dimasak?" Bagas keluarkan sepotong akar kangkung dari mulutnya.

"Ya namanya juga baru belajar masak, kamu ga usah protes kan itu masakan istri kamu!" Ucap Wiwit dengan tenang.

Malamnya.

Jamilah diam-diam menuju dapur, berlahan ia mengambil pisau, lalu menuju kulkas.

Jamilah lalu sibuk memasak di dapur.

"Ada apa sih ini malam-malam kok berisik amat!" Wiwit yang terbangun mendekati Jamilah.

"Ini masakan saya Bu, coba lah." Jamilah berikan apa yang ia masak barusan.

"Apa ini?"

"Ikan asin cucut sambal balado, ayo coba Bu." Jamilah tersenyum dengan tatapan bangga.

"Wah enak banget ini, pasti ini ikan asin cucutnya beli di bang Ahmad Mustopa yang sekilonya empat puluh ribu kan? udah pasti enak itu mah, ibu juga sering pesan ikan asin sama dia, orangnya baik, murah senyum, ga sombong dan pandai menabung, dia kalau ada pesanan garcep langsung ditanggapin, pokoknya ga rugi belanja sama dia mah." Ucap Wiwit panjang-lebar.

"Bodo amat lah Bu, saya yang masak kenapa jadi Bang Mus yang dipuji sih? Maaaaas! besok pindah atau aku di kamar aja seharian ga mau keluar!" Jamilah kembali menuju kamar dengan wajah sangat kesal.

Tamat.

AKU BISA LEBIH CANTIK DARI ISTRI BARUMU, MAS! Part 8"Aku tidak mau pakai gaun pengantin ini, Bu. Jelek sekali!" Ucap Okt...
15/01/2026

AKU BISA LEBIH CANTIK DARI ISTRI BARUMU, MAS!

Part 8

"Aku tidak mau pakai gaun pengantin ini, Bu. Jelek sekali!" Ucap Okta sambil membuang gaun pengantin tadi di tangannya.

Gaun itu sudah ku cuci tadi siang, sengaja agar ibu tidak murka, karena malam ini aku akan menjalankan misi penting.

Aku berdiri di balik tembok pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu, mendengarkan obrolan mereka.

"Tidak apa-apa, Okta. Gaun pengantin ini turun-temurun warisan keluarga besar kami, setiap siapapun yang akan menikah harus memakai gaun pengantin ini," Sanggah ibu memungut kembali gaun pengantin di atas lantai.

Okta terdiam sejenak, ia tampak sedikit berpikir, detik berikutnya raut wajahnya seketika berubah.

"Artinya, Mbak Rindu juga pernah memakai gaun pengantin ini?" Tanyanya.

"Iya, makanya sekarang Ibu suruh kamu yang pakai untuk acara pernikahanmu dengan Prama nanti,"

Okta bangkit dari sofa. "Tidak, Bu. Aku tak sudi memakai gaun pengantin bekas istri pertama suamiku!" Bentaknya lantang.

"Okta," Ibu terkejut melihat sikapnya.

Okta berlalu meninggalkan ibu begitu saja, mas Prama berusaha untuk mengejarnya. Namun, Okta lebih dulu masuk ke dalam kamar tamu kemudian mengunci pintu dari dalam.

"Kenapa sih calon istrimu itu, susah banget diatur! Beda sama Rindu, walaupun dia kampungan dan tidak berpendidikan dia mau nurut apa kata ibu!" Sungut ibu mulai kesal.

"Ya bedalah, Bu. Okta dan Rindu itu beda jauh, Rindu itu pendidiknnya rendah, kampungan jadi tidak tahu tentang fashion. Beda sama Okta, calon istriku itu pintar, cantik dan berpendidikan tinggi, bayangkan saja apa kata tamu-tamunya nanti saat melihat dia memakai gaun seperti itu, Ibu juga nggak mau, kan, Prama sebagai suami ikut malu?" Kata-kata mas Prama barusan seperti anak panah yang menusuk hatiku, sakit sekali rasanya dia merendahkanku dan memuji istri barunya itu.

Ibu menghela napas berat. "Ya sudahlah, terserah kalian saja mau pakai gaun pengantin apa." Ucap Ibu pasrah.

Mas Prama tersenyum, kemudian nengelus punggung tangan ibu.

***

Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 01.00, sudah sangat larut malam. Aku keluar dari kamar, berjalan pelan menuju ruang tengah. Suasananya gelap dan sunyi, lampu-lampu rumah memang selalu di padamkan saat malam hari.

Setelah memastikan semuanya aman, aku kembali berjalan menuju dapur, kemudian membuka pintu dapur dengan sangat hati-hati.

Setelah menutup kembali pintu dapur, aku berlari menuju pintu pagar belakang rumah. Kemudian mengambil ponselku menghubungi nomer mbak Dewi.

"Hallo, Rin, Mbak tunggu kamu di tempat yang kamu janjikan tadi." Ucap mbak Dewi saat telepon kami terhubung.

"Baik, Mbak. Aku sebentar lagi sampai, hati-hati jangan sampai ada yang tahu!" Ucapku pelan lalu setelah itu menutup kembali sambungan telepon.

Aku sedikit berlari menyusui jalanan yang sedikit gelap. Dari ujung persimpangan aku melihat sebuah mobil disana, itu pasti mobil mbak Dewi.

Aku melirik kanan dan kiri, lagi-lagi sepi dan sunyi, sepertinya benar-benar tidak ada orang.

Tanpa pikir panjang, aku menghampiri mobil mbak Dewi, lalu mengetuk nya pelan. Mbak Dewi bergegas membuka pintu mobilnya, kemudian aku masuk ke dalam mobilnya.

"Hufhh ...." Nafasku ngos-ngosan, karena sejak tadi berlari kecil.

"Minum dulu, Rin," Ucap mbak Dewi memberiku sebotol air mineral, yang ku teguk hingga habis separo.

"Kenapa harus tengah malem begini sih ketemunya, Rin. Kan bisa besok pagi, atau Mbak anter ke rumah kamu!" Ucap mbak Dewi merasa keheranan.

Mengantar barang-barang ini ke rumah? Ngantar nyawa itu namanya.

"Ceritanya panjang, Mbak. Tapi terimakasih sudah mau di repotkan seperti ini, tapi aku mohon untuk jaga rahasia ini," Ucapku memohon.

Mbak Demi tersenyum, kemudian mengangguk. "Kamun tenang saja, Rin. Semuanya aman, oh ya, Rin. Denger-denger suamimu mau menikah ya dengan wanita lain?"

"Iya, Mbak."

"Yang sabar ya, Rin." Dia mengusap bahuku. Aku hanya membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman.

"Gimana, Mbak. Barangnya ada semua, kan?"

"Tenang, ada semua,"

Dia mengeluarkan sebuah kotak berisi tas berwana hitam, benar-benar sangat mirip dengan tas seserahan milik Okta kemarin, bukan hanya itu saja, sepatu, baju, bahkan perhiasan berlian yang harganya puluhan juta itu juga terlihat sangat mirip dengan milik Okta.

"Bagus benget, Mbak. Benar-benar sangat mirip dengan barang aslinya, oh ya Mbak, soal pembayaran nanti aku transfer ya terimakasih banyak sudah mau membantuku, tapi aku butuh bantuan Mbak sekali lagi, boleh?"

"Tentu saja. Apa yang bisa Mbak bantu?"

"Bantu aku untuk menjual semua barang-barang seperti ini yang asli,"

Mbak Dewi tampak terkejut. Seperti tak percaya, tapi akhirnya dia mengangguk juga.

"Mbak nggak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi saat ini, Rin. Tapi Mbak harap semoga masalahmu cepat selesai, Mbak pasti akan bantu kamu!" Ucap mbak Dewi.

"Aku benar-benar sangat berterimakasih padamu, Mbak."

Setelah itu, aku pulang membawa semua barang-barang yang kubeli dengan mabk Dewi tadi. Walaupun harga barang KW nya tidak bisa di katakan murah, tapi aku cukup puas karena Okta tidak akan bisa mendapatkan barang branded yang asli.

***

Aku membuka pintu belakang dengan sangat hati-hati, takut kalau ada yang bangun. Kembali kuamati sekitar rumah, masih seperti tadi sepi dan sunyi, pintu-pintu kamar mereka semuanya terkunci.

"Aman terkendali!" Gumamku pelan.

Dadaku berdebar hebat, ada rasa takut di dalam hatiku. Tapi, demi semua hakku itu aku harus berani.

Aku berjalan pelan melewati kamar ibu, mbak Laura dan mbak Aurin. Barang-barang tadi ku masukkan kedalam karung. Cukup berat juga membawanya.

Setelah itu, aku menapaki anak tangga dengan sangat hati-hati, sambil sesekali melirik ke belakang, takutnya ibu atau yang lainnya tiba-tiba terbangun.

Aku mengusap peluh di dahi, jantungku kian berdegup kencang rasanya saat sudah bediri di atas tangga paling atas. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian melanjutkan langkah dengan penuh ke hati-hatian.

Senyumku mengembang, saat aku sudah sampai di depan pintu kamarku dulu, kamar yang di dalamnya berisi seserahan Okta tadi.

Mas Prama tidak ada di rumah ini, dia sedang ke luar kota karena ada urusan penting, sementara Okta sudah pulang ke rumahnya sejak sore tadi.

Aku memutar gagang pintu, namun gagal pintunya terkunci. Namun hal ini sama sekali tak membuatku panik, karena aku memegang satu kunci cadangan pintu kamar ini.

Ku keluarkan kunci itu dari dalam saku dasterku, kemudian membuka pintu, tak membutuhkan waktu lama pintu akhirnya berhasil terbuka.

Sekali lagi untuk kesekian kalinya aku kembali menelisik sekitar. Aman, tidak ada orang.

Aku bergegas masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu dari dalam. Kunyalakan sakelar lampu hingga dalam hitungan detik kamar ini sudah kembali terang benderang.

Aku tersenyum miring menatap kotak-kotak kaca berisi barang-barang branded yang akan di berikan oleh mas Prama pada Okta itu.

10 tahun menikah denganku, sekalipun tak pernah dia membelikan aku barang-barang branded. Tapi sekarang dia mau memberi barang-barang itu pada Okta, aku tidak akan membiarkan pelakor itu menikmati hakku selama ini.

Tak ingin membuang banyak waktu, aku bergegas mengeluarkan satu persatu isi dalam kotak itu kemudian menggantinya dengan barang-barang KW ini.

Dadaku semakin berdebar kencang, kala mengeluarkan tas branded berwarna hitam itu dari dalam kotak kaca ini, kemudian menggantinya dengan tas KW yang aku beli dengan mbak Dewi tadi.

Dan yang terakhir. Dengan sangat hati-hati, aku mengeluarkan kalung berlian dari dalam tempatnya, kemudian menutupnya kembali setelah menggantinya dengan kalung berlian KW.

"Hufhh ...." Aku menghembuskan napas panjang setelah menyelesaikan semuanya.

Tanpa ingin membuang waktu lagi, gegas aku memasukkan barang branded tadi ke dalam karung, aku harus segera pergi dari sini.

Saat hendak beranjak ke pintu, jantungku berdegup kencang saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamar ini. Suaranya seperti sedang menapaki anak tangga.

Tubuhku gemetar hebat, keringat dingin bercucuran membasahi dahiku, suara itu semakin dekat. Dan kini, suaranya sudah hampir sampai pada anak tangga terakhir.

Suara itu, seperti suara sepatu mas Prama. Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia sedang ke luar kota?

Aku semakin panik saat suara langkah kakinya sudah sampai di depan pintu kamar, kemudian terdengar seperti suara kunci yang berdenting, sepertinya kunci itu terjatuh di tangan mas Prama.

Ya Tuhan, akun benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Padahal tinggal satu langkah lagi semua rencanaku berhasil, lalu kenapa mas Prama tiba-tiba pulang?

Bagaimana ini?

Sudah tamat di KBM App

Penulis : Putripmg69

Bukan hanya istri yang durhaka kepada suami namun suamipun bisa menjadi durhaka kepada istrinya, Durhaka dalam konteks i...
13/01/2026

Bukan hanya istri yang durhaka kepada suami namun suamipun bisa menjadi durhaka kepada istrinya, Durhaka dalam konteks ini bukanlah istilah khusus yang ada dalam nash, tapi suami yang mendzalimi istrinya dan lalai dari kewajiban-kewajibannya

Diantaranya:

1. Lalai memberi nafkah : lupa bahwa nafkah kepada istri adalah kewajiban, bukanlah sebuah pilihan yang bisa ditelantarkan begitu saja

2. Mengabaikan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin (Qawwam), sibuk terhadap dunia hingga lupa membimbing istri dalam hal agama.

3. Menyakiti istri dengan lisan dan perbuatan : apalagi secara sengaja, menghina, menjelek-jelekkan istri, bahkan mengumpat kepada istri ketika ada masalah.

4. Tidak menunaikan hak-hak istri, menganggap istri hanya sebagai pelengkap bukan amanah, hak-haknya diabaikan, hak-haknya sering disepelekan.

5. Mendahulukan orang lain dari pada anak dan istrinya (keluarganya sendiri) padahal keluarganyalah yang pertama kali akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.

Allah Berfirman : "Dan pergaulah mereka (para istri) dengan cara yang Ma'ruf" (QS- Annisa : 19).

Jagalah hak-hak istri, karena keridhaan Allah ada pada ketakwaan seorang suami yang bertanggung jawab dalam menjalankan amanahnya bukan mendzalimi istrinya

10/01/2026

Apa lghi kalau terang lampu nya

Spoiler Bab 11 Maaf, Ibu Cuma BebanKarena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau kelua...
10/01/2026

Spoiler Bab 11 Maaf, Ibu Cuma Beban
Karena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau keluar biaya merawat ibuku, siapa sangka ternyata warisan dari ibuku jumlahnya tr iliunan....

*

Kanaya mengumpulkan makanan secepat mungkin. Ia mengambil mangkuk dari tangan anak kecil, merebut piring dari bapak-bapak, bahkan menumpuk semuanya seperti pedagang keliling.

โ€œIni semua bisa dijual lagi. Tidak boleh rugi,โ€ katanya sambil mengipas wajah sendiri.

Warga saling berbisik dan mulai merekam dengan ponsel. Sorakan kecil terdengar dari beberapa sudut halaman.

โ€œMas Tama gagal. Padahal udah keliling kampung bilang lolos CPNS.โ€

โ€œPantasan Kanaya panik. Banyak uang keluar.โ€

Begitulah salah satu bisikan dari tetangganya.

Sementara semua itu terjadi, Tama tergeletak di kursi reot ruang tamunya. Nafasnya tidak stabil. Dua tetangga laki-laki berdiri di pintu menunggu ia sadar.

Yu Tatik mengintip. โ€œMas Tama sudah bangun belum?*

Tama membuka mata perlahan. Atap rumah terlihat berputar. Suara sorak warga menembus telinganya seperti pisau tumpul.

โ€œAduh aku belum cek pengumuman CPNS. Mana handphone ku?" tanya Tama dengan suara parau. Mencari-cari ponsel di atas meja.

Pak Burhan maju. โ€œTenang, Mas. Minum dulu. "

Segelas air diterima Tama. Barulah ia menemukan ponselnya di atas meja. Ia cari ulang ke website pengumuman.

Tama mencoba duduk, namun tubuhnya goyah. Ia lihat lagi pengumuman itu. Tak ada yang berubah.

โ€œJadi saya gak lulus CPNS?" Ia menatap tajam layar ponsel.

Pak Burhan mengangguk. โ€œTidak , Mas.โ€

Tama menelan ludah. Dadanya terasa kosong. Tetapi sekaligus terasa penuh.

โ€œMustahil. Nilai saya bagus. Saya sudah yakin.โ€

Yu Tatik meraba bahunya pelan. โ€œMas, banyak yang nilainya bagus tapi tetap tidak lolos.โ€

Tama memegang kepalanya. Ia ingin percaya ada kesalahan data, server error, atau hal lain yang bisa ia salahkan. Namun gambar di layar tadi terlalu jelas.

โ€œKenapa?โ€ kata Tama. โ€œKenapa aku gak lolos?โ€

Ia memejamkan mata, wajahnya meringis.

Tama menutup telinganya dengan kedua tangan. โ€œKenapa semuanya jadi begini.โ€

Kanaya tiba-tiba masuk, wajahnya merah dan napasnya terburu-buru. โ€œMas. Mas kenapa masih aja duduk? Bangun. Kita harus selamatkan makanan. Aku gak mau rugi.โ€

*
Lanjut baca di KBM
Judul: Maaf, Ibu Cuma Beban
Penulis: Vira Safila

Note : Saya akan tetap upload bab 4-10 ya. Cuma karena akun si Asep Suhendra mencuri gambar saya, jadi saya dulukan bab spoiilernya di sini. Bantu laporkan akunnya ya, dia mencuri naskah dan gambar orang.

Meninggalkan Faiz yang masih tidur pulas karena pengaruh obat, Rasti pergi ke gang belakang rumahnya. Di sanalah, Wita, ...
10/01/2026

Meninggalkan Faiz yang masih tidur pulas karena pengaruh obat, Rasti pergi ke gang belakang rumahnya. Di sanalah, Wita, adik iparnya tinggal di kontrakan petakan.

"Mbak, tumben. Ada apa?" tanya Wita yang juga baru pulang dari bekerja. Dianterkejut melihat Rasti datang tergopoh-gopoh dengan mata yang sembab.

Dengan sedikit menekan suaranya, Rasti mencoba menjelaskan semuanya pada Wita. Tentu saja, adik kandung Wandi itu merasa geram dengan perilaku kakaknya.

Wita, sudah hampir dua tahun tinggal di sini. Dia bekerja di pabrik sabun yang sama dengan Wandi, meski beda bagian.

Dulu, sewaktu ibunya meninggal dunia dan ayahnya menikah lagi, Wita sempat tinggal serumah dengan Wandi dan Rasti. Seiring berjalannya waktu, dia lebih memilih tinggal di kontrakan dan hidup mandiri.

"Mbak kenapa nggak cerita kalau Mas Wandi masih perhitungan begitu?" sesal Wita sambil menatap iba kakak iparnya.

"Walau bagaimanapun, dia tetap suami Mbak. Dan nggak seharusnya masalah rumah tangga diceritakan pada siapapun."

Hening.
Keduanya terdiam dengan tangan saling menggenggam.

"Tapi apa Mas Wandi sudah menjatuhkan talak?"

"Mbak nggak tahu. Yang jelas, Mas sudah meminta Mbak dan Faiz meninggalkan rumah. Dia juga bilang, akan mengurus semua secepatnya."

"Ya Allah, Mbak ...," sesal Wita lirih. Dia tidak menyangka rumah tangga kakaknya akan berakhir seperti ini.

"Apa di sini ada kontrakan kosong, Wit?"

"Buat apa?"

"Buat Mbak sama Faiz."

"Kenapa nggak tinggal di sini saja?'

"Mbak takut ganggu kamu. Khawatir juga Mas-mu nggak s**a nantinya."

"Ganggu apanya? Justru kalau Mbak tinggal di sini, tetangga nggak akan kepo. Namanya juga tinggal sama ipar sendiri. Soal Mas, biar aku yang bicara nanti, Mbak."

Lega. Itulah yang dirasakan Rasti saat mendengar iparnya berbaik hati menawarkan tempat tinggal. Setidaknya, sampai dia memiliki uang untuk menyewa kontrakan sendiri.

Rasti juga berpikir, benar apa yang dikatakan oleh Wita. Kalau bisa, memang perpisahannya dengan Wandi lebih baik disembunyikan dulu.

"Kalau begitu, Mbak ambil Faiz dulu ya. Kasihan, takut dia nyariin." Rasti berdiri dari tempat duduknya. Sejak tadi dia terus kepikiran Faiz

"Aku ikut, Mbak. Siapa tahu butuh bantuan untuk bawa sesuatu." Wita menawarkan bantuan.

"Kamu nggak perlu marah sama Mas-mu!" Rasti mengingatkan sebelum pergi.

"Iya, Mbak."

Setibanya di sana, Wandi masih berada di dalam kamarnya. Buru-buru Rasti mengambil baju-baju Faiz dan memas**annya ke dalam kantong kresek.

Meski sudah banyak baju yang kekecilan, tapi hanya itulah yang dipunya. Bukan tidak mau membelikannya, tapi jatah membeli pakaian baru hanya diberikan Wandi setahun sekali, setiap kali menjelang lebaran.

Padahal, Faiz sedang dalam masa pertumbuhan. Baju-bajunya hanya pas dipakai beberapa bulan saja.

Tak lupa, Rasti juga memasukkan daster-daster lusuhnya yang hanya ada beberapa lembar itu ke dalam kresek lainnya. Sementara Wita, tanpa dikomando gadis itu mengangkat tubuh mungil Faiz dari kasurnya.

Si kecil sempat terkejut, tapi setelah matanya menangkap sosok Rasti, bocah itu kembali tidur dalam gendongan tantenya.

Namun, begitu mereka akan keluar dari kamar, Wandi menghadang di ambang pintu dan menatap aktivitas mereka sambil meledek.

"Aku belum dapat tempat tinggal. Jadi untuk sementara kami tinggal sama Wita dulu."

"Terserah. Aku sudah nggak peduli kamu mau tinggal di mana. Asal jangan kamu pengaruhi Wita untuk membenciku."

"Mas!" Wita menyentak kakaknya sendiri.

"Wit, ingat, aku ini Mas-mu."

"Aku nggak peduli! Walaupun Mas kakakku, kalau salah ya tetap saja salah. Ayo, Mbak, emosi lama-lama aku di sini!" ajak Wita dengan pandangan sinis ke arah Wandi yang terus memelototi mereka sambil berkacak pinggang.

Dengan langkah yang terayun berat, Rasti meninggalkan rumah dengan dua kantong kresek di tangannya. Disempatkannya untuk menoleh ke belakang dan melihat situasi rumah mereka untuk yang terakhir kali. Bagaimanapun juga, rumah ini sudah membersamainya lebih dari enam tahun.

***

"Ibu, kok kita di sini?" tanya Faiz yang terbangun saat Wita meletakkan tubuh mungil itu di atas kasurnya.

"Sementara kita tinggal sama Tante dulu ya!"

"Nanti Bapak sendirian."

"Faiz nggak seneng temenin Tante?" potong Wita cepat. Tante di sini, kan, sendirian?"

"Senang, sih ... gimana ini, Ibu?" Faiz malah melemparkan pertanyaan pada Rasti dengan wajah polosnya.

"Kita di sini dulu, ya. Kalau Bapak, kan, laki-laki. Sendirian juga nggak apa-apa."

Faiz mengangguk, lalu kembali merebahkan tubuhnya.

"Mbak, kupikir Mas Wandi itu sudah berubah. Kok bisa sih, Mbak tahan hidup berlama-lama sama Mas?" Wita memulai setelah memastikan Faiz sudah tidur lagi.

"Jangan begitu, Wit. Itu Mas-mu satu-satunya!"

"Kalau bisa ditukar, udah aku tukar kali, Mbak."

Rasti tertawa pelan mendengar jawaban Wita yang terlihat geregetan.

"Ngomong-ngomong, insya Allah nanti Mbak bantuin kamu buat bayar kontrakan."

"Nggak perlu, Mbak. Gajiku lebih dari cukup untuk kita hidup bertiga. Mbak Rasti itu udah aku anggap kakak sekaligus pengganti orangtua."

"Tapi Mbak kerja, Wit. Jadi Insya Allah bisa bantu dikit-dikit."

"Kerja? Kerja di mana?" Wita penasaran.

"Bantu-bantu di warung sembako pinggir jalan itu, lho!"

"Oh, Toko Berkah? Yang jagainnya dua bersaudara itu?"

"Bukan ngejagain, tapi itu warung punya mereka. Kerjasama berdua. Mereka juga bukan saudara sebenarnya. Teman di kampung."

"Oh, jadi temen sekampung? Aku pikir saudara."

Rasti mengangguk. Dia lalu beralih pada kantong kresek berisi baju Faiz yang dibawanya tadi. Mengeluarkannya dari dalam dan melipatnya satu persatu.

"Hebat, ya mereka!"

"Iya. Mereka juga orang-orang baik."

"Aku titip salam, ya, Mbak!" pesan Wita semringah.

"Buat siapa? Bang Ahmad?"

"Bukan. Kalau Bang Ahmad, sih, aku sering ngobrol. Itu temennya lho, Mbak. Yang agak kurusan. Orangnya dingin kaya kanebo kering. Siapa namanya, ya?"

Rasti mengangkat wajahnya sambil berhenti melipat.

"Ma-maksud kamu, Bang Arfan?"

"Oh, jadi namanya Arfan? Aku hanya sering dengar Bang Ahmad nyebut 'fan'. Aku sempet pikir namanya Fandi, ternyata Arfan. Nama yang bagus!" Wita terus berceloteh dengan mata menerawang.

"Iya."

"Beneran, lho Mbak, disalamin! Aku udah lama mau kenalan, tapi orangnya cuek banget sama cewek. Nggak seperti Bang Ahmad." Kali ini Wita merengek manja, seperti bocah yang menginginkan sesuatu.

"Insya Allah Mbak sampaikan salam dari kamu. Tapi ... masa sih, Bang Arfan cuek dan dingin seperti yang kamu bilang?"

------

Penulis Momy alkay

Judul BERAS LIMA RIBU
Baca selengkapnya di KBM app

BIARKAN AKU MEMILIH MUNDUR"Selamat ya, Nak, akhirnya impianmu untuk menikah dengan pria yang kamu cintai akan segera ter...
10/01/2026

BIARKAN AKU MEMILIH MUNDUR

"Selamat ya, Nak, akhirnya impianmu untuk menikah dengan pria yang kamu cintai akan segera terwujud. Ibu hanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia," ucap ibuku dengan mata berkaca-kaca, menatapku penuh haru.

Aku tersenyum, menggenggam tangan ibu erat. "Terima kasih, Bu. Doa Ibu yang paling aku butuhkan."

Malam ini adalah malam yang kutunggu-tunggu sejak sebulan lalu. Keluarga kami sedang menanti kedatangan Vino dan keluarganya untuk acara lamaran. Aku sudah berdandan rapi dengan kebaya berwarna peach lembut yang dipilih ibu sendiri. Di depan cermin, aku sempat mengamati pantulan dirikuโ€”wajah yang berbinar penuh harapan, mata yang berbinar karena kebahagiaan yang sebentar lagi akan semakin nyata.

Aku dan Vino bukan orang asing. Kami berteman sejak SMA, lalu berpisah karena menempuh kuliah di universitas yang berbeda. Hidup berjalan, membawa kami ke jalan masing-masing, namun siapa sangka takdir mempertemukan kami kembali sepuluh tahun kemudian dalam keadaan yang jauh berbeda. Aku kini seorang guru PNS, sementara Vino adalah seorang manajer di sebuah perusahaan ternama di kota. Banyak yang berkata, jika sudah jodoh, maka tidak akan ke mana. Kalimat itu semakin terasa nyata bagiku ketika Vino menyatakan perasaannya.

"Aku nggak mau main-main, Na. Jika kamu terima cintaku, maka aku akan melamarmu untuk dijadikan istri. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi," ucapnya dengan suara serak sebulan yang lalu. Aku ingat betul tatapan matanya saat ituโ€”penuh harapan dan ketulusan. Tangannya terulur di atas meja dan menggenggam tanganku dengan hangat.

Hatiku bergetar. Aku yang juga pernah memiliki rasa padanya tentu tidak mungkin menolak. Dengan keyakinan penuh, aku menerima tawarannya.

Kini, aku duduk di ruang tamu dengan jantung yang berdebar, menunggu momen bersejarah itu. Senyumku mengembang saat membayangkan masa depan bersama Vino. Membayangkan hari-hari di mana aku akan terbangun dan melihatnya di sisiku. Ah, kebahagiaan itu terasa begitu dekat.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari luar. Aku menoleh ke arah pintu. Vino dan keluarganya telah datang.

Acara lamaran berjalan dengan hangat dan sederhana. Kedua keluarga saling bercengkerama, membahas masa depan kami dengan penuh kebahagiaan. Aku bisa melihat ayah dan ibu sesekali menatapku dengan senyum bangga. Betapa bahagianya mereka melihat putri mereka akan segera menikah dengan pria yang ia cintai.

Namun, ketika acara lamaran selesai, Vino menarikku ke sudut ruangan. Tatapannya serius, berbeda dari sebelumnya.

"Isna, sebelum kita menikah, aku punya permintaan," ucapnya pelan.

Aku mengerutkan dahi. "Apa?"

Vino menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Setelah menikah nanti, aku ingin kamu mengundurkan diri dari pekerjaanmu sebagai guru."

Aku terdiam. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku.

"A-apa? Kau memintaku mengundurkan diri sebagai guru?" Aku mengulang pertanyaannya, berharap aku hanya salah dengar.

Vino mengangguk. "Iya. Bisa, kan?"

Aku menggigit bibir bawah. "Vin, kamu tahu kan kalau menjadi guru adalah impianku sejak kecil? Aku sudah berjuang bertahun-tahun untuk sampai di titik ini. Aku menghabiskan lima tahun menjadi honorer sebelum akhirnya mendapatkan status PNS ini. Masa iya harus kulepas begitu saja?"

Vino menatapku dengan pandangan yang tak bisa kumengerti. "Kenapa? Setelah menjadi istriku nanti, aku yang akan membiayai hidupmu. Kamu nggak perlu kerja. Kamu tinggal di rumah, mengurus rumah tangga. Gajiku cukup besar, Na. Bahkan bisa lima kali lipat dari gajimu. Mau, ya? Berhenti jadi guru dan jadi istri yang nurut sama suami?"

Aku memejamkan mata. Memikirkan semua yang telah kulalui demi meraih impianku. Memikirkan bagaimana ayah dan ibu bangga ketika aku akhirnya menjadi seorang PNS. Haruskah aku mengorbankan semua itu demi Vino?

Aku melirik ayah dan ibu yang duduk di dekatku. "Ayah, Ibu, bagaimana ini?"

Ayah menarik napas dalam. "Ayah menyerahkan semua keputusan di tanganmu, Nak," katanya, suaranya bergetar. Aku melihat matanya yang berkaca-kaca, mengingat bagaimana ia begitu bangga ketika aku mendapat SK PNS. Dan kini, ada seseorang yang meminta aku untuk melepaskan itu semua.

Aku kembali menatap Vino, menimbang segalanya dalam benakku. Aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya. Tapi aku juga mencintai pekerjaanku. Aku tidak bisa memilih salah satu dan kehilangan yang lainnya.

"Maaf, Vin, aku nggak bisa. Aku tetap akan mempertahankan pekerjaanku ini," jawabku mantap, meskipun suaraku sedikit bergetar.

Vino menatapku, raut wajahnya berubah. "Tapi aku nggak mau punya istri seorang PNS yang harus berangkat pagi dan pulang sore. Siapa nanti yang akan ngurus rumah? Siapa yang akan merawat mama yang sudah sakit-sakitan?"

Aku tersentak. "Jadi, kamu mau menikahiku hanya untuk merawat ibumu?"

"Bukan begitu, Sayang," Vino buru-buru menjelaskan. "Aku hanya ingin punya istri yang selalu di rumah."

Aku menatapnya lama. Hatiku terasa perih.

"Maaf, Vin. Aku nggak bisa."

Vino menghembuskan napas kasar. "Terus maumu apa? Aku juga nggak bisa punya istri yang lebih banyak di luar daripada di rumah."

Aku tersenyum tipis, meskipun hatiku terluka. "Kalau begitu kita batalkan saja rencana pernikahan kita."

Mata Vino membulat. "Apa? Jadi, kau memilih kariermu sebagai PNS yang gajinya nggak seberapa itu dibandingkan aku yang bisa memberimu nafkah tiga sampai empat kali lipat dari gajimu sendiri?"

Aku menatapnya, lalu tersenyum. "Gajiku memang tidak sebanyak gajimu, Vin. Tapi aku bangga bisa punya penghasilan sendiri."

Dari sudut mata, aku melihat ayah dan ibu mengacungkan jempol dengan bangga. Aku tahu mereka mendukung keputusanku.

Vino menghela napas, lalu menambahkan, "Aku bisa memberimu uang lima belas juta sebulan. Enak loh jadi istriku."

Aku menggeleng. "Maaf, Vin. Aku nggak tertarik."

Tatapan Vino penuh kekecewaan saat ia akhirnya berpamitan. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia berbalik menatapku tajam. "Dengar ya, Isna, kamu pasti menyesal lebih memilih kariermu daripada aku. Dan aku bersumpah, kamu akan menjadi perawan tua, Na."

Aku hanya diam, menatap mobil hitam itu melaju menjauh. Aku merasa kehilangan, tapi aku tahu aku sudah mengambil keputusan yang benar.

Aku menoleh ke arah ayah dan ibu. "Keputusanku ini sudah benar, kan?"

Ayah tersenyum, lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Yang kamu lakukan itu sudah benar, Nak. Jangan pernah lepaskan pekerjaanmu lalu hanya mengharapkan uang suami. Karena istri yang tidak punya penghasilan itu tidak ada harga dirinya."

Aku menutup mata, membiarkan air mataku mengalir. Ini bukan keputusan yang mudah, tapi aku tahu, aku tidak akan menyesalinya.

Baca selengkapnya di aplikasi K-BM APP

Penulis: Siti Aisyah

Address

Ds Ujungaris Blok Gejleg Rt02 Rw04
Indramayu
45271

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nella posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Nella:

Share