15/01/2026
AKU BISA LEBIH CANTIK DARI ISTRI BARUMU, MAS!
Part 8
"Aku tidak mau pakai gaun pengantin ini, Bu. Jelek sekali!" Ucap Okta sambil membuang gaun pengantin tadi di tangannya.
Gaun itu sudah ku cuci tadi siang, sengaja agar ibu tidak murka, karena malam ini aku akan menjalankan misi penting.
Aku berdiri di balik tembok pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu, mendengarkan obrolan mereka.
"Tidak apa-apa, Okta. Gaun pengantin ini turun-temurun warisan keluarga besar kami, setiap siapapun yang akan menikah harus memakai gaun pengantin ini," Sanggah ibu memungut kembali gaun pengantin di atas lantai.
Okta terdiam sejenak, ia tampak sedikit berpikir, detik berikutnya raut wajahnya seketika berubah.
"Artinya, Mbak Rindu juga pernah memakai gaun pengantin ini?" Tanyanya.
"Iya, makanya sekarang Ibu suruh kamu yang pakai untuk acara pernikahanmu dengan Prama nanti,"
Okta bangkit dari sofa. "Tidak, Bu. Aku tak sudi memakai gaun pengantin bekas istri pertama suamiku!" Bentaknya lantang.
"Okta," Ibu terkejut melihat sikapnya.
Okta berlalu meninggalkan ibu begitu saja, mas Prama berusaha untuk mengejarnya. Namun, Okta lebih dulu masuk ke dalam kamar tamu kemudian mengunci pintu dari dalam.
"Kenapa sih calon istrimu itu, susah banget diatur! Beda sama Rindu, walaupun dia kampungan dan tidak berpendidikan dia mau nurut apa kata ibu!" Sungut ibu mulai kesal.
"Ya bedalah, Bu. Okta dan Rindu itu beda jauh, Rindu itu pendidiknnya rendah, kampungan jadi tidak tahu tentang fashion. Beda sama Okta, calon istriku itu pintar, cantik dan berpendidikan tinggi, bayangkan saja apa kata tamu-tamunya nanti saat melihat dia memakai gaun seperti itu, Ibu juga nggak mau, kan, Prama sebagai suami ikut malu?" Kata-kata mas Prama barusan seperti anak panah yang menusuk hatiku, sakit sekali rasanya dia merendahkanku dan memuji istri barunya itu.
Ibu menghela napas berat. "Ya sudahlah, terserah kalian saja mau pakai gaun pengantin apa." Ucap Ibu pasrah.
Mas Prama tersenyum, kemudian nengelus punggung tangan ibu.
***
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 01.00, sudah sangat larut malam. Aku keluar dari kamar, berjalan pelan menuju ruang tengah. Suasananya gelap dan sunyi, lampu-lampu rumah memang selalu di padamkan saat malam hari.
Setelah memastikan semuanya aman, aku kembali berjalan menuju dapur, kemudian membuka pintu dapur dengan sangat hati-hati.
Setelah menutup kembali pintu dapur, aku berlari menuju pintu pagar belakang rumah. Kemudian mengambil ponselku menghubungi nomer mbak Dewi.
"Hallo, Rin, Mbak tunggu kamu di tempat yang kamu janjikan tadi." Ucap mbak Dewi saat telepon kami terhubung.
"Baik, Mbak. Aku sebentar lagi sampai, hati-hati jangan sampai ada yang tahu!" Ucapku pelan lalu setelah itu menutup kembali sambungan telepon.
Aku sedikit berlari menyusui jalanan yang sedikit gelap. Dari ujung persimpangan aku melihat sebuah mobil disana, itu pasti mobil mbak Dewi.
Aku melirik kanan dan kiri, lagi-lagi sepi dan sunyi, sepertinya benar-benar tidak ada orang.
Tanpa pikir panjang, aku menghampiri mobil mbak Dewi, lalu mengetuk nya pelan. Mbak Dewi bergegas membuka pintu mobilnya, kemudian aku masuk ke dalam mobilnya.
"Hufhh ...." Nafasku ngos-ngosan, karena sejak tadi berlari kecil.
"Minum dulu, Rin," Ucap mbak Dewi memberiku sebotol air mineral, yang ku teguk hingga habis separo.
"Kenapa harus tengah malem begini sih ketemunya, Rin. Kan bisa besok pagi, atau Mbak anter ke rumah kamu!" Ucap mbak Dewi merasa keheranan.
Mengantar barang-barang ini ke rumah? Ngantar nyawa itu namanya.
"Ceritanya panjang, Mbak. Tapi terimakasih sudah mau di repotkan seperti ini, tapi aku mohon untuk jaga rahasia ini," Ucapku memohon.
Mbak Demi tersenyum, kemudian mengangguk. "Kamun tenang saja, Rin. Semuanya aman, oh ya, Rin. Denger-denger suamimu mau menikah ya dengan wanita lain?"
"Iya, Mbak."
"Yang sabar ya, Rin." Dia mengusap bahuku. Aku hanya membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman.
"Gimana, Mbak. Barangnya ada semua, kan?"
"Tenang, ada semua,"
Dia mengeluarkan sebuah kotak berisi tas berwana hitam, benar-benar sangat mirip dengan tas seserahan milik Okta kemarin, bukan hanya itu saja, sepatu, baju, bahkan perhiasan berlian yang harganya puluhan juta itu juga terlihat sangat mirip dengan milik Okta.
"Bagus benget, Mbak. Benar-benar sangat mirip dengan barang aslinya, oh ya Mbak, soal pembayaran nanti aku transfer ya terimakasih banyak sudah mau membantuku, tapi aku butuh bantuan Mbak sekali lagi, boleh?"
"Tentu saja. Apa yang bisa Mbak bantu?"
"Bantu aku untuk menjual semua barang-barang seperti ini yang asli,"
Mbak Dewi tampak terkejut. Seperti tak percaya, tapi akhirnya dia mengangguk juga.
"Mbak nggak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi saat ini, Rin. Tapi Mbak harap semoga masalahmu cepat selesai, Mbak pasti akan bantu kamu!" Ucap mbak Dewi.
"Aku benar-benar sangat berterimakasih padamu, Mbak."
Setelah itu, aku pulang membawa semua barang-barang yang kubeli dengan mabk Dewi tadi. Walaupun harga barang KW nya tidak bisa di katakan murah, tapi aku cukup puas karena Okta tidak akan bisa mendapatkan barang branded yang asli.
***
Aku membuka pintu belakang dengan sangat hati-hati, takut kalau ada yang bangun. Kembali kuamati sekitar rumah, masih seperti tadi sepi dan sunyi, pintu-pintu kamar mereka semuanya terkunci.
"Aman terkendali!" Gumamku pelan.
Dadaku berdebar hebat, ada rasa takut di dalam hatiku. Tapi, demi semua hakku itu aku harus berani.
Aku berjalan pelan melewati kamar ibu, mbak Laura dan mbak Aurin. Barang-barang tadi ku masukkan kedalam karung. Cukup berat juga membawanya.
Setelah itu, aku menapaki anak tangga dengan sangat hati-hati, sambil sesekali melirik ke belakang, takutnya ibu atau yang lainnya tiba-tiba terbangun.
Aku mengusap peluh di dahi, jantungku kian berdegup kencang rasanya saat sudah bediri di atas tangga paling atas. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian melanjutkan langkah dengan penuh ke hati-hatian.
Senyumku mengembang, saat aku sudah sampai di depan pintu kamarku dulu, kamar yang di dalamnya berisi seserahan Okta tadi.
Mas Prama tidak ada di rumah ini, dia sedang ke luar kota karena ada urusan penting, sementara Okta sudah pulang ke rumahnya sejak sore tadi.
Aku memutar gagang pintu, namun gagal pintunya terkunci. Namun hal ini sama sekali tak membuatku panik, karena aku memegang satu kunci cadangan pintu kamar ini.
Ku keluarkan kunci itu dari dalam saku dasterku, kemudian membuka pintu, tak membutuhkan waktu lama pintu akhirnya berhasil terbuka.
Sekali lagi untuk kesekian kalinya aku kembali menelisik sekitar. Aman, tidak ada orang.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu dari dalam. Kunyalakan sakelar lampu hingga dalam hitungan detik kamar ini sudah kembali terang benderang.
Aku tersenyum miring menatap kotak-kotak kaca berisi barang-barang branded yang akan di berikan oleh mas Prama pada Okta itu.
10 tahun menikah denganku, sekalipun tak pernah dia membelikan aku barang-barang branded. Tapi sekarang dia mau memberi barang-barang itu pada Okta, aku tidak akan membiarkan pelakor itu menikmati hakku selama ini.
Tak ingin membuang banyak waktu, aku bergegas mengeluarkan satu persatu isi dalam kotak itu kemudian menggantinya dengan barang-barang KW ini.
Dadaku semakin berdebar kencang, kala mengeluarkan tas branded berwarna hitam itu dari dalam kotak kaca ini, kemudian menggantinya dengan tas KW yang aku beli dengan mbak Dewi tadi.
Dan yang terakhir. Dengan sangat hati-hati, aku mengeluarkan kalung berlian dari dalam tempatnya, kemudian menutupnya kembali setelah menggantinya dengan kalung berlian KW.
"Hufhh ...." Aku menghembuskan napas panjang setelah menyelesaikan semuanya.
Tanpa ingin membuang waktu lagi, gegas aku memasukkan barang branded tadi ke dalam karung, aku harus segera pergi dari sini.
Saat hendak beranjak ke pintu, jantungku berdegup kencang saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamar ini. Suaranya seperti sedang menapaki anak tangga.
Tubuhku gemetar hebat, keringat dingin bercucuran membasahi dahiku, suara itu semakin dekat. Dan kini, suaranya sudah hampir sampai pada anak tangga terakhir.
Suara itu, seperti suara sepatu mas Prama. Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia sedang ke luar kota?
Aku semakin panik saat suara langkah kakinya sudah sampai di depan pintu kamar, kemudian terdengar seperti suara kunci yang berdenting, sepertinya kunci itu terjatuh di tangan mas Prama.
Ya Tuhan, akun benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Padahal tinggal satu langkah lagi semua rencanaku berhasil, lalu kenapa mas Prama tiba-tiba pulang?
Bagaimana ini?
Sudah tamat di KBM App
Penulis : Putripmg69