Infoandalas

Infoandalas Berita • Info • News •
(1)

06/05/2026

⏳ Dunianya berhenti, tapi waktu terus berjalan…

Kak Dessy masih duduk di bangku kelas, mencatat, dan menjalani hari seperti dulu, seolah waktu tak pernah benar-benar berlalu.

Bagi kita, ini mungkin hanya cerita viral. Tapi bagi dia, itu adalah sesuatu yang belum selesai begitu saja.

🙏 Terima kasih untuk kampus dan semua yang memilih untuk peduli, bukan menghakimi.

Karena di saat dunianya berhenti, tetap ada satu alasan ia merasa “hidup”.

🤝 Andalasers, kadang yang dibutuhkan seseorang bukan jawaban, tapi kehadiran.

❤️ Dari Bireuen, kita belajar: empati itu nyata.



Video:TT/akudimana

06/05/2026

👀

06/05/2026

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa besarnya aset tidak selalu berbanding langsung dengan laba yang dihasilkan. Dalam industri perbankan, kemampuan menghasilkan keuntungan juga dipengaruhi oleh efisiensi operasional, struktur pendanaan, kualitas kredit, hingga model bisnis masing-masing bank.

Dari sisi rasio laba terhadap aset atau Return on Assets (ROA), BCA mencatat sekitar 3,78 persen, lebih tinggi dibandingkan Mandiri yang berada di kisaran 2,01 persen. Rasio tersebut menggambarkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki.

BCA dikenal memiliki porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang kuat. Tingginya dana murah dapat membantu menekan biaya bunga sehingga mendukung profitabilitas perusahaan.

Sementara itu, Bank Mandiri memiliki cakupan bisnis yang lebih luas, termasuk pembiayaan korporasi, infrastruktur, serta sektor-sektor prioritas nasional. Kondisi tersebut membuat struktur aset dan profil bisnis perusahaan menjadi berbeda dibandingkan bank yang lebih berfokus pada transaksi dan layanan ritel.

Selain itu, strategi bisnis kedua bank juga memiliki karakteristik berbeda. BCA lebih dominan pada layanan transaksi dan perbankan ritel, sedangkan Mandiri memiliki portofolio pembiayaan yang lebih beragam.

Analis menilai perbandingan ini mencerminkan bahwa ukuran aset dan tingkat profitabilitas merupakan dua indikator berbeda dalam menilai kinerja industri perbankan.

Dalam struktur regional Sumatra, Sumatra Utara menjadi provinsi dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi ...
06/05/2026

Dalam struktur regional Sumatra, Sumatra Utara menjadi provinsi dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan, yakni mencapai 1,16 persen. Kinerja ekonomi provinsi ini didorong oleh kuatnya aktivitas perdagangan, industri pengolahan, dan konsumsi masyarakat yang tetap tumbuh stabil.

Di posisi kedua, Riau mencatat kontribusi sebesar 1,04 persen. Provinsi ini masih menjadi salah satu pusat ekonomi utama Sumatra dengan dukungan sektor minyak dan gas, perkebunan kelapa sawit, serta perdagangan ekspor yang tetap kuat.

Sementara itu, Sumatra Selatan memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 0,75 persen. Berdasarkan rilis resmi BPS Sumatra Selatan, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, serta aktivitas ekspor dan konsumsi domestik yang terus meningkat.

Provinsi lain seperti Lampung dan Kepulauan Riau juga menunjukkan performa positif dengan kontribusi masing-masing sebesar 0,56 persen dan 0,55 persen. BPS Lampung menyebut sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah tersebut.

Adapun Sumatra Barat mencatat kontribusi sebesar 0,37 persen, disusul Jambi sebesar 0,28 persen, dan Aceh sebesar 0,23 persen.

Di sisi lain, kontribusi pertumbuhan ekonomi terendah tercatat di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,10 persen dan Bengkulu sebesar 0,09 persen. Rendahnya kontribusi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam diversifikasi ekonomi daerah dan ketergantungan terhadap sektor komoditas tertentu.

Sumber BPS

05/05/2026

“70 Tahun Hidup Sendiri… Saat Berangkat Haji, Nenek Ini Bertanya: ‘Siapa yang Akan Melepas Aku?’ 😢”

Tak punya siapa-siapa.
Tak ada keluarga yang mengantar.
Hanya doa… dan harapan yang ia simpan puluhan tahun.

Nenek Jumaria dari Indonesia akhirnya berangkat ke Tanah Suci setelah penantian yang tak mudah. Momen harunya viral, bikin jutaan orang meneteskan air mata.

Namun yang terjadi di detik-detik keberangkatannya… benar-benar tak terduga.

Kisah lengkapnya bikin merinding, jangan baca setengah jalan!

Video

Riau Semakin Terkoneksi: Hutama Karya Kebut Pengerjaan Junction Pekanbaru - BypassPEKANBARU– Kabar gembira bagi masyarak...
05/05/2026

Riau Semakin Terkoneksi: Hutama Karya Kebut Pengerjaan Junction Pekanbaru - Bypass

PEKANBARU– Kabar gembira bagi masyarakat Bumi Lancang Kuning. Jaringan jalan tol di Provinsi Riau dipastikan akan semakin panjang tahun ini. PT Hutama Karya (Persero) tengah melakukan percepatan pembangunan pada proyek Junction Pekanbaru - Bypass guna memperkuat konektivitas di wilayah tersebut.

Proyek ini bukan sekadar tambahan aspal, melainkan bagian krusial dari integrasi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di Riau. Nantinya, Junction Pekanbaru akan berfungsi sebagai "titik temu" yang menghubungkan berbagai ruas tol tanpa mengharuskan pengendara keluar ke jalan arteri atau jalan nasional.

Transformasi Logistik dan Ekonomi

Penyelesaian jalur bypass ini diharapkan membawa dampak sistemik bagi mobilitas di Sumatera, antara lain:

Efisiensi Waktu Tempuh: Memangkas durasi perjalanan antarwilayah secara signifikan karena kendaraan tidak lagi terjebak kemacetan di jalur arteri kota.

Kelancaran Logistik: Distribusi barang dari dan menuju pusat ekonomi akan lebih cepat dan biaya operasional angkutan dapat ditekan.

Pemicu Ekonomi Baru:Membuka aksesibilitas ke kawasan yang sebelumnya terisolasi, sehingga memicu pertumbuhan UMKM dan industri di sekitar koridor tol.

Ke depannya, ruas ini akan menjadi bagian penting dari jaringan Jalan Tol Riau yang menghubungkan berbagai wilayah tanpa perlu keluar ke jalan arteri," tulis akun resmi .

Dengan progres yang terus dikebut, wajah transportasi Riau diprediksi akan berubah total pada akhir tahun ini, menjadikan perjalanan antarprovinsi terasa lebih dekat dan nyaman.

Sumber

Menteri Haji dan Umrah menyatakan bahwa langkah ini merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025...
05/05/2026

Menteri Haji dan Umrah menyatakan bahwa langkah ini merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Dengan aturan baru ini, pembagian kuota tidak lagi hanya berdasarkan populasi umat Muslim di suatu daerah, melainkan menggunakan variabel proporsi jumlah pendaftar dalam daftar tunggu (waiting list).

"Kami ingin memastikan keadilan bagi seluruh calon jamaah. Tidak boleh ada lagi jamaah di satu provinsi yang harus menunggu hingga 40 tahun, sementara di provinsi tetangga hanya 15 tahun. Mulai 2026, semua kita ratakan di angka 26 tahun," ujar juru bicara kementerian dalam keterangan pers di Jakarta.

Perubahan Rumus 2026: Dari Populasi ke Proporsi Antrean

Sebelum kebijakan 2026, kuota dibagi berdasarkan jumlah penduduk Muslim. Hal ini menyebabkan ketidakadilan: daerah yang penduduknya sedikit tapi pendaftarnya sangat banyak (seperti Sulawesi Selatan atau beberapa daerah di Sumatra) memiliki masa tunggu yang sangat lama (bisa 40 tahun).

Dampak bagi Provinsi di Sumatra
Kebijakan ini membawa perubahan signifikan bagi kuota di Pulau Sumatra. Beberapa provinsi yang sebelumnya memiliki masa tunggu relatif pendek harus mengalami pengurangan kuota demi mendukung pemerataan nasional. Sebaliknya, wilayah dengan antrean panjang mendapatkan tambahan kuota.

Masyarakat diimbau untuk mengecek estimasi keberangkatan terbaru melalui aplikasi Pusaka Kemenag versi 2026. Perubahan tahun keberangkatan pada akun jamaah merupakan dampak langsung dari sinkronisasi sistem kuota nasional yang baru ini.

Di wilayah Sumatra, pengaruh ini sangat terasa. Misalnya di Aceh atau Sumatera Barat, jika sebelumnya masa tunggu terasa lebih dinamis, dengan kebijakan 2026 ini jumlah keberangkatan tahunan akan dikunci pada angka yang memastikan setiap pendaftar baru akan berangkat tepat 26 tahun kemudian.

Kuota provinsi adalah variabel penentu utama. Jika kuota suatu provinsi naik, masa tunggu turun. Namun, mulai tahun 2026, pemerintah tidak lagi membiarkan masa tunggu ini bergerak bebas; pemerintah justru mempermainkan angka kuota setiap provinsi sedemikian rupa agar hasil akhirnya (masa tunggu) seragam di angka 26 tahun bagi seluruh rakyat Indonesia.

Aceh Pimpin Capaian Literasi di Sumatera, Lampaui Rata-Rata Nasional 2025Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI melalui ko...
05/05/2026

Aceh Pimpin Capaian Literasi di Sumatera, Lampaui Rata-Rata Nasional 2025

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI melalui kompilasi data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan dinamika baru dalam pembangunan literasi di Pulau Sumatera. Berdasarkan data terbaru, Provinsi Aceh berhasil mengukuhkan posisi sebagai wilayah dengan indeks tertinggi di Sumatera, melampaui standar pencapaian nasional.

Dominasi Aceh di Wilayah Sumatera
Dalam rilis "Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Dimensi Penyusunnya Menurut Provinsi 2025", Aceh mencatatkan skor sebesar 45,29. Angka ini menempatkan Aceh di posisi teratas se-Sumatera, unggul dari Sumatera Barat yang memperoleh skor 43,36 dan Sumatera Utara dengan skor 40,54.

Ketiga provinsi tersebut merupakan wakil Sumatera yang berhasil melampaui skor rata-rata nasional Indonesia yang berada di angka 40,06. Pencapaian ini menjadi sinyal positif bagi penguatan infrastruktur dan budaya baca di bagian utara dan barat pulau tersebut.

Rendahnya angka di beberapa titik ini dipengaruhi oleh tujuh dimensi penyusun IPLM, yang meliputi pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan, jumlah perpustakaan ber-Standar Nasional Perpustakaan (SNP), keterlibatan masyarakat, hingga jumlah anggota perpustakaan.

Sumber Data:
Badan Pusat Statistik (2025). Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat dan dimensi penyusunnya menurut provinsi, 2025.

Catatan : Pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat hanya dilakukan pada provinsi yang urusan perpustakaannya ditangani oleh kelembagaan setingkat dinas

04/05/2026

Bengkulu | Laporan warga: min Anak SMA 1Jalan ke air terjun Kemaceak Desa Lemeu ,di ketahui jumlah 4 orang hanyut 3 Udh di temukan 1 dalam pencarian min

Video

BPD se-Sumatera Catat Pertumbuhan Aset Signifikan di 2025, Bank Sumut dan Sumsel Babel MemimpinSumatra | Industri perban...
04/05/2026

BPD se-Sumatera Catat Pertumbuhan Aset Signifikan di 2025, Bank Sumut dan Sumsel Babel Memimpin

Sumatra | Industri perbankan daerah di Pulau Sumatera menunjukkan resiliensi yang kuat sepanjang tahun buku 2025.

Berdasarkan data laporan kinerja terbaru, Bank Pembangunan Daerah (BPD) di wilayah ini mencatatkan pertumbuhan aset yang solid, didorong oleh ekspansi kredit produktif dan penetrasi layanan digital yang semakin masif.

Dominasi Kekuatan Regional

Bank Sumut mengukuhkan posisinya sebagai market leader di Sumatera dengan total aset mencapai Rp50,1 triliun, menjadikannya salah satu BPD terbesar di tingkat nasional.

Di posisi kedua, Bank Sumsel Babel mencatatkan pencapaian impresif dengan aset konsolidasi yang menembus angka Rp42 triliun, sebuah tonggak sejarah baru bagi bank yang beroperasi di wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung tersebut.

Sementara itu, Bank Nagari di Sumatera Barat tetap menunjukkan performa tangguh dengan total aset sebesar Rp33,6 triliun.

Menariknya, pertumbuhan Bank Nagari didorong secara signifikan oleh kinerja unit usaha syariahnya yang mencatatkan kenaikan laba hingga 15,43%.

Tren Perbankan Syariah dan Konsolidasi

Wilayah tengah-Utara Sumatera semakin mempertegas dominasi ekosistem keuangan syariah. Bank Aceh Syariah dan Bank Riau Kepri (BRK) Syariah konsisten berada di jajaran aset papan atas dengan masing-masing membukukan Rp31,1 triliun dan Rp29,9 triliun.

Di sisi lain, BPD dengan skala aset yang lebih kecil seperti Bank Lampung (Rp11,5 triliun) dan Bank Bengkulu (Rp11,2 triliun) mulai memetik hasil dari strategi Kelompok Usaha Bank (KUB).

Skema ini terbukti efektif dalam memperkuat permodalan inti sesuai regulasi OJK sekaligus menjaga stabilitas pertumbuhan aset di tengah kompetisi perbankan digital yang semakin ketat.

Proyeksi Ke Depan
Para analis menilai bahwa digitalisasi layanan akan menjadi kunci utama bagi BPD se-Sumatera untuk mempertahankan basis nasabah di tahun 2026. Dengan penguatan modal inti dan fokus pada pembiayaan sektor UMKM di daerah masing-masing, BPD diharapkan tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi regional di Sumatera.

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Infoandalas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Infoandalas:

Share