07/12/2025
Konspirasi: “Islam Menyebar Dengan Pedang” – Sebuah Kebohongan Sejarah yang Diulang-Ulang
Selama berabad-abad, ada satu narasi yang terus disebarkan, terutama oleh para orientalis Barat: bahwa Islam menyebar dengan pedang, bahwa kaum Muslim menaklukkan dunia melalui kekerasan, dan bahwa setiap wilayah yang memeluk Islam melakukannya karena takut mati.
Tapi, benarkah demikian? Atau… ini hanyalah sebuah konspirasi sejarah untuk menutupi kebangkitan peradaban Islam yang sebenarnya berlangsung damai dan alami?
Untuk menemukan jawabannya, kita harus kembali ke abad-abad awal penyebaran Islam. Dunia saat itu sedang berada dalam pergolakan besar—perdagangan internasional mulai berkembang, budaya mulai saling bertemu, dan jalur laut menjadi jantung pertukaran peradaban. Di tengah arus besar sejarah itu, Islam tidak datang sebagai serdadu. Islam datang sebagai pedagang, pemikir, sufi, ulama, dan pelaut.
Lihatlah Nusantara, wilayah yang hari ini menjadi rumah bagi lebih dari 230 juta Muslim. Jika benar Islam menyebar melalui perang, maka di mana jejak pasukannya? Di mana catatan penaklukan? Di mana istana yang ditaklukkan?
Faktanya, tidak ada satu pun catatan sejarah yang menyebutkan ekspedisi militer Islam memasuki kep**auan ini. Tidak ada pasukan Persia yang mendarat. Tidak ada tentara Arab yang menyerbu. Tidak ada perang besar yang memaksa raja-raja lokal masuk Islam. Sebaliknya, Islam tumbuh seperti air yang menyerap ke tanah—perlahan, tenang, tapi tak terbendung. Ia datang melalui pedagang dari Gujarat, Hadhramaut, Yaman, dan Persia. Mereka berdagang dengan jujur, berinteraksi dengan masyarakat lokal melalui adab dan akhlak. Dari pasar-pasar kecil di pesisir Aceh, Gresik, Tuban, hingga Maluku, Islam menyebar bukan dengan peperangan tetapi dengan teladan.
Salah satu faktor terbesar penyebaran Islam di Nusantara justru para sufi—tokoh-tokoh yang membawa ajaran melalui kelembutan, bukan paksaan. Para wali di Jawa tidak memaksa siapa pun. Mereka masuk melalui budaya, seni, dan kearifan lokal. Wayang, gamelan, tembang, ukiran—semuanya dijadikan media dakwah yang penuh hikmah.
Bagaimana mungkin sebuah agama yang dituduh menyebar dengan pedang justru masuk ke Nusantara melalui kesenian dan perdagangan?
Kita bergerak ke wilayah lain. Afrika Timur—Zanzibar, Somalia, Tanzania, Kenya. Di sinilah dunia kembali melihat bukti bahwa Islam menyebar tanpa darah. Para pedagang Arab telah berdagang dengan wilayah ini sejak abad ke-7, bahkan sebelum banyak kerajaan Islam besar berdiri. Melalui hubungan maritim yang panjang, masyarakat Afrika Timur mulai memeluk Islam karena keadilan dalam perdagangan, kejujuran pedagang Muslim, dan spiritualitas yang mereka saksikan sendiri. Hingga hari ini, tidak ada catatan adanya penjajahan militer Islam di wilayah tersebut. Kota-kota pesisir seperti Lamu dan Mombasa menyerap Islam dari interaksi damai yang berlangsung ratusan tahun.
Lalu kita melihat Asia Tengah—wilayah luas dari Uzbekistan, Kazakhstan, hingga Turkmenistan. Di sini pun kita tidak menemukan narasi penaklukan besar seperti yang sering dilebih-lebihkan. Ya, ada interaksi politik dan ada konflik, sebagaimana semua peradaban besar pada zamannya. Tapi masuknya Islam tidak pernah terjadi melalui penaklukan massal. Para sufi besar seperti Bahauddin Naqsyaband dan Khoja Ahmad Yasawi adalah penyebar utama Islam di Asia Tengah. Mereka mengajarkan tasawuf, memberi ketenangan kepada masyarakat stepa, dan mengajarkan Islam melalui kedamaian, bukan pedang.
Jika Islam benar menyebar dengan paksaan, mengapa kita melihat jutaan Muslim Asia Tengah memeluk ajaran ini melalui para sufi, bukan melalui peperangan? Mengapa tidak ada catatan pemaksaan massal di sana?
Sementara itu, dunia Barat—yang menuduh Islam menyebar dengan pedang—sendiri memiliki sejarah ekspansi militer dan kolonialisme yang panjang. Dari penaklukan Amerika Latin, Afrika, hingga Asia… sejarah dunia mencatat siapa yang sebenarnya menyebarkan agama melalui meriam dan kapal perang.
Di sinilah konspirasi itu terlihat jelas: narasi “Islam menyebar dengan pedang” bukan datang dari sejarah, tetapi dari propaganda. Sebuah upaya sistematis untuk menutup fakta bahwa Islam adalah salah satu agama yang paling cepat menyebar melalui interaksi sosial, perdagangan, pernikahan, dan hubungan budaya.
Dan yang paling menarik dari semua ini adalah: wilayah yang masuk Islam tanpa paksaan justru menjadi pusat Islam yang paling kokoh hingga hari ini—Nusantara, Afrika Timur, Asia Tengah, Cina Barat, dan bahkan sebagian Afrika Barat. Semua masuk karena dakwah. Semua bertahan karena keyakinan. Semua berkembang karena keteladanan.
Pada akhirnya, narasi ini bukan hanya tentang sejarah, tetapi tentang siapa yang mengendalikan cerita. Bila Anda hanya membaca sejarah dari tangan para orientalis, maka Islam selalu tampak sebagai penakluk. Tetapi ketika kita membaca dari sumber-sumber lokal, dari jejak-jejak peradaban, kita melihat kenyataan yang jauh berbeda.