30/06/2025
Suatu sore di tahun 2002, dua bocah kampung, Leo dan Ronal, duduk bersila di lantai, menggenggam erat stik PlayStation 1. Suasana kamar sempit dipenuhi teriakan kecil dan suara kipas angin tua yang berderit pelan. Di layar, pertandingan sepak bola digital berlangsung sengit.
“Eh Ronal, jangan curang d**g! Tadi itu offside!” seru Leo, setengah kesal.
Ronal tertawa, “Main bola itu bukan soal adil, tapi menang! Makanya belajar dari Portugal!”
“Yah, gue Argentina, bro. Fair play nomor satu!”
Mereka tertawa, beradu skill sambil mimpi: suatu hari jadi pemain top dunia.
---
Dua dekade kemudian…
Klik!
Ronal mengangkat ponselnya dan mengambil selfie. Kali ini bukan di lapangan hijau, tapi di balik kasir minimarket. Seragam biru-merah mencolok, name tag bertuliskan “Ronaldo”, dan senyuman penuh profesionalisme terpancar.
“POV: dari calon bintang sepak bola... jadi kasir yang gak bisa cuti lebaran,” gumamnya lirih, menyimpan ponsel ke saku.
Di seberang lorong, Leo muncul dengan dua bungkus Pop Mie dan sebungkus roti.
“Bro, shift gue abis. Main PS di rumah gue, yuk?”
Ronal tersenyum kecil, “Masih PS1?”
Leo mengangguk bangga. “Nostalgia, bro. Kita belum selesai waktu itu. Ingat nggak, skor terakhir 3-3?”
Ronal tertawa pelan. “Baiklah. Tapi abis ini gue harus balik lagi. Soalnya… supervisor shift malam absen.”
Dan begitulah, dua legenda yang gagal debut di lapangan dunia, tapi tetap bertanding — di ruang tamu kecil, dengan stik PS1 usang, dan semangat yang nggak pernah mati
Karena kadang, mimpi nggak perlu panggung besar. Cukup dua teman, satu konsol, dan tawa yang tulus.