Cuma Mau Cerita

Cuma Mau Cerita ya gitu aja cuma pengen cerita sedikit tentang apa saja.

20/07/2025

😁🙏🏼

Wargakotok

Jalanan masih berlapis aspal bercampur tanah dan lumpur, basah oleh hujan atau mungkin tetesan air dari kendaraan yang m...
07/07/2025

Jalanan masih berlapis aspal bercampur tanah dan lumpur, basah oleh hujan atau mungkin tetesan air dari kendaraan yang melintas. Jalan ini dipadati berbagai moda transportasi khas era tersebut: sepeda motor keluaran Jepang dengan becak motor di belakangnya, mobil sedan Fiat Topolino atau Morris Minor dengan plat hitam berhuruf B (kode Jakarta), serta truk besar hijau-merah bergaya Amerika yang biasa dipakai mengangkut barang dagangan ke pasar

Seorang pengendara motor mengenakan kemeja putih tampak fokus menatap ke depan. Ia berbaur dengan lalu lintas padat namun tak teratur, bersama para pejalan kaki yang hilir-mudik. Beberapa anak kecil berdiri di tepi jalan menatap ke arah kamera dengan raut penasaran, menyiratkan bagaimana keberadaan kamera pada masa itu masih menjadi sesuatu yang jarang mereka temui.

Di sisi jalan, tampak deretan bangunan tua bergaya kolonial Hindia-Belanda. Rumah-rumah toko (ruko) bercat putih dengan balkon kayu dan atap merah genteng tanah liat mencerminkan gaya arsitektur Indis, yakni perpaduan antara desain kolonial Eropa dengan adaptasi iklim tropis.

Bangunan dua lantai dengan balkon yang menjorok keluar memberi keteduhan pada pejalan kaki di bawahnya, sebuah fitur khas arsitektur kolonial di kota-kota besar Indonesia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Jendela-jendela besar berjalusi kayu, tiang-tiang penyangga balkon, serta ornamen sederhana memperlihatkan fungsi bangunan sebagai ruko yang juga menjadi tempat tinggal pedagang.

Di ujung jalan tampak bangunan yang lebih besar dengan façade simetris dan atap pelana, kemungkinan besar dulunya merupakan kantor dagang atau gudang milik saudagar besar. Papan-papan nama toko bertuliskan huruf Latin sederhana menunjukkan keberadaan berbagai usaha kecil yang meramaikan ekonomi rakyat.

Proyek Senen. Desainnya khas arsitektur modern tropis era 60-an: bentuk geometris sederhana, kisi-kisi beton untuk sirku...
05/07/2025

Proyek Senen. Desainnya khas arsitektur modern tropis era 60-an: bentuk geometris sederhana, kisi-kisi beton untuk sirkulasi udara, dan atap lebar untuk menahan terik matahari. Di atas gedung, tulisan besar “SENEN” merah menyala seolah menyapa warga kota.

Namun di kaki gedung, kita masih melihat sisa-sisa dunia lama: pedagang kaki lima dengan tenda seadanya, becak yang sabar menunggu penumpang, dan jalan tanah penuh debu. Kontras ini menunjukkan bahwa proses modernisasi tidak terjadi dalam semalam.

---

Manusia-Manusia Senen

Di sekitar proyek, warga tetap beraktivitas seperti biasa. Pedagang membawa bakul di kepala, anak muda berlari-lari kecil melintasi jalanan, para tukang becak bercengkerama sambil menanti rezeki.

Mereka adalah saksi hidup dari transisi kota: dari pasar tradisional yang liar menjadi pusat perdagangan modern. Bagi sebagian pedagang kecil, proyek ini berarti harapan baru—lapak yang lebih layak, pelanggan yang lebih banyak. Namun bagi yang lain, ini juga berarti kehilangan: relokasi paksa, biaya sewa yang lebih mahal, dan semakin terpinggirkannya pedagang kecil.

Bus tingkat PPD 43 Cililitan -Tanjung PriokPada awal 2000-an, Jakarta mulai beralih ke sistem TransJakarta dengan korido...
03/07/2025

Bus tingkat PPD 43 Cililitan -Tanjung Priok

Pada awal 2000-an, Jakarta mulai beralih ke sistem TransJakarta dengan koridor khusus, menandai akhir era bus tingkat. Banyak armada ini akhirnya dijual sebagai besi tua, atau dijadikan bus wisata di beberapa kota kecil. Namun bagi mereka yang pernah menumpang, kenangan tentang naik bus tingkat tetap melekat: suara deru mesinnya, guncangan di lantai dua yang kadang terasa seperti mau roboh, dan hembusan angin kencang saat jendela terbuka lebar.

Kini bus tingkat hanya tinggal cerita, sebuah potongan nostalgia bagi mereka yang pernah merasakannya. Gambar ini menjadi saksi bisu era itu — saat Jakarta masih bisa tersenyum melihat si raksasa jalanan melintas, mengangkut mimpi-mimpi kecil para penghuninya.

Gedung bertuliskan "RADIO Toshiba", sebuah penanda kuat era globalisasi awal, ketika produk-produk elektronik Jepang mul...
01/07/2025

Gedung bertuliskan "RADIO Toshiba", sebuah penanda kuat era globalisasi awal, ketika produk-produk elektronik Jepang mulai mengalir deras ke pasar Asia Tenggara. Gedung ini menjadi saksi pergeseran gaya hidup urban yang mulai terbentuk: dari radio transistor hingga televisi hitam-putih.

Tapi bukan hanya bangunan yang bercerita. Perhatikan jalanan yang masih lengang dari hiruk-pikuk zaman kini. Mobil-mobil klasik seperti Jeep Willys, Holden, hingga Vespa berbaur harmonis dengan pejalan kaki dan pesepeda. Tak ada klakson keras, tak ada macet panjang — hanya deru mesin dan langkah sepatu bersahaja.

Para pria berkemeja putih lengan pendek dan wanita dengan rok selutut berjalan santai, mungkin menuju Sarinah atau sekadar menikmati sore di trotoar yang lapang. Anak-anak ikut orang tuanya menyeberang jalan tanpa rasa cemas, sementara sopir angkot biru di kanan gambar bersandar menunggu penumpang berikutnya.

Gambar ini adalah jendela kecil menuju era ketika Jakarta masih bernapas pelan, ketika langitnya belum dikoyak gedung pencakar dan suaranya belum ditenggelamkan bising knalpot. Sebuah masa ketika ibu kota masih mengenal jeda — dan manusia di dalamnya masih menjadi pusat dari setiap pergerakan kota.

Kini, lebih dari lima dekade berlalu, lokasi ini telah berubah drastis. Sarinah direnovasi megah, gedung RADIO Toshiba digantikan oleh menara baru, dan lalu lintas sudah tak sejinak dulu. Namun bagi yang menyaksikan masa itu, gambar ini bukan sekadar nostalgia — ia adalah pengingat bahwa Jakarta pernah punya momen keemasan yang tenang, teratur, dan penuh harapan.

Suatu sore di tahun 2002, dua bocah kampung, Leo dan Ronal, duduk bersila di lantai, menggenggam erat stik PlayStation 1...
30/06/2025

Suatu sore di tahun 2002, dua bocah kampung, Leo dan Ronal, duduk bersila di lantai, menggenggam erat stik PlayStation 1. Suasana kamar sempit dipenuhi teriakan kecil dan suara kipas angin tua yang berderit pelan. Di layar, pertandingan sepak bola digital berlangsung sengit.

“Eh Ronal, jangan curang d**g! Tadi itu offside!” seru Leo, setengah kesal.

Ronal tertawa, “Main bola itu bukan soal adil, tapi menang! Makanya belajar dari Portugal!”

“Yah, gue Argentina, bro. Fair play nomor satu!”

Mereka tertawa, beradu skill sambil mimpi: suatu hari jadi pemain top dunia.

---

Dua dekade kemudian…

Klik!

Ronal mengangkat ponselnya dan mengambil selfie. Kali ini bukan di lapangan hijau, tapi di balik kasir minimarket. Seragam biru-merah mencolok, name tag bertuliskan “Ronaldo”, dan senyuman penuh profesionalisme terpancar.

“POV: dari calon bintang sepak bola... jadi kasir yang gak bisa cuti lebaran,” gumamnya lirih, menyimpan ponsel ke saku.

Di seberang lorong, Leo muncul dengan dua bungkus Pop Mie dan sebungkus roti.

“Bro, shift gue abis. Main PS di rumah gue, yuk?”

Ronal tersenyum kecil, “Masih PS1?”

Leo mengangguk bangga. “Nostalgia, bro. Kita belum selesai waktu itu. Ingat nggak, skor terakhir 3-3?”

Ronal tertawa pelan. “Baiklah. Tapi abis ini gue harus balik lagi. Soalnya… supervisor shift malam absen.”

Dan begitulah, dua legenda yang gagal debut di lapangan dunia, tapi tetap bertanding — di ruang tamu kecil, dengan stik PS1 usang, dan semangat yang nggak pernah mati

Karena kadang, mimpi nggak perlu panggung besar. Cukup dua teman, satu konsol, dan tawa yang tulus.

Empat individu pria yang tampak sedang berinteraksi di sekitar sebuah gerobak makanan tradisional. Lokasi yang ditangkap...
30/06/2025

Empat individu pria yang tampak sedang berinteraksi di sekitar sebuah gerobak makanan tradisional. Lokasi yang ditangkap tampak seperti area terbuka dengan pepohonan dan pagar besi di latar belakang, menunjukkan suasana pedesaan atau pinggiran kota pada masa itu.

Gerobak yang menjadi pusat perhatian dilengkapi dengan papan bertulisan "Mie Baso" dalam huruf yang agak memudar, mengindikasikan bahwa ini adalah penjual mie baso, makanan khas Indonesia. Struktur gerobak sederhana, terbuat dari kayu dan logam, dengan wadah berisi bahan makanan yang tersusun rapi. Salah satu individu terlihat sedang menyantap mangkuk mie baso dengan sendok, sementara yang lain berdiri santai, mungkin menunggu giliran atau sekadar mengobrol.

Pakaian mereka mencerminkan tren fashion era tersebut: kemeja lengan panjang dan pendek dengan celana panjang berpotongan longgar, serta sabuk lebar. Uniknya, semua individu memakai pakaian dengan tulisan "AFK" berwarna merah di dada, yang bisa menjadi inisial kelompok, organisasi, atau sekadar identitas kolektif mereka. Salah satu pria tampak memegang rokok, menambah kesan santai dan khas zaman itu

📍 Lokasi: Pasar Hewan Internasional, Desa Ternak FCPOV kamu adalah kambing baru yang baru pindah dari Argentina.🐐: "Kata...
29/06/2025

📍 Lokasi: Pasar Hewan Internasional, Desa Ternak FC

POV kamu adalah kambing baru yang baru pindah dari Argentina.

🐐: "Katanya gue bakal diternak sama legenda bola. Kirain cuma istilah... ternyata harfiah."

📸 Kamu lihat dua sosok manusia duduk di tengah kandang kambing, satu brewok kharismatik pakai jersey biru-kuning, satu lagi berdiri penuh percaya diri dengan belahan rambut yang lebih rapi dari pagar kandang.

"Yang kiri kayaknya Messi. Tapi kenapa dia nyuapin kambing sambil ngedribel bola jerami?!"

> "Yang kanan... itu pasti Ronaldo. Tadi barusan dia push-up sambil ngangkat kambing di punggung!"

---

📢 Messi:
"Tenang, kambing. Di sini kamu bebas. Gak ada offside, cuma off rumput."

📢 Ronaldo:
"Ayo cepat gemuk, nanti kamu bisa dapet transfer ke peternakan Arab!"

---

🎬 Tiba-tiba dua kambing adu kepala. Messi ngoper pakan ke Ronaldo, Ronaldo juggling pakai panci!

💥 Suasana makin panas. Semua kambing bersorak:

> "Meeeeeeh—ssi! Rooooooon-goooot!"

🐐 Kamu cuma bisa diam sambil mikir:
"Gue kira G.O.A.T itu gelar, ternyata... beneran jadi kambing di sini."

Sore itu, kamu ikut latihan “Goat Cup” sambil dilatih sprint oleh CR7 dan disuruh free kick dari kandang ke kandang sama Messi.
Kaki empat, tapi semangatmu bola dunia. 🌍⚽🐐

KETAGIHAN MARTABAK DI TAHUN 80 😁Pada suatu malam di penghujung dekade 80-an, ketika Jakarta belum sepenuhnya terbungkus ...
29/06/2025

KETAGIHAN MARTABAK DI TAHUN 80 😁

Pada suatu malam di penghujung dekade 80-an, ketika Jakarta belum sepenuhnya terbungkus cahaya neon dan hiruk-pikuk mal modern, terdapat sebuah sudut kota yang hidup bukan karena kemewahan, melainkan karena aroma – dan cerita – yang keluar dari gerobak sederhana.

Di Jalan yang tak begitu ramai, berdirilah sebuah kedai kecil: Martabak NEUTRAL. Warung semi permanen ini bukan hanya menjual makanan, tapi juga menghadirkan potongan kehidupan masyarakat urban yang sedang bertumbuh.

Seorang pria dengan pakaian kasual era 90-an – polo hijau tua yang diselipkan ke celana kain, sepatu olahraga putih khas masa itu – sedang berdiri memperhatikan tumpukan martabak yang baru matang. Di balik etalase kaca, telur-telur ayam tersusun rapih. Seorang pria lain, mengenakan kaos kutang putih, tampak sibuk di bagian dapur terbuka, dengan nyala api dari kompor minyak tanah yang membakar wajan lebar.

Pemilik warung, yang fotonya terpampang di dinding belakang, mungkin tak pernah membayangkan bahwa usaha sederhananya ini akan menjadi bagian dari ingatan kolektif kota. Di tengah aroma martabak dan suara spatula yang menghantam loyang, terjadi percakapan-percakapan kecil tentang harga beras, pertandingan bola, atau sekadar curhatan pegawai kantoran yang baru pulang lembur.

Martabak NEUTRAL adalah oasis – tempat netral – di mana semua lapisan masyarakat melebur jadi satu. Anak muda, bapak-bapak berseragam PNS, hingga mahasiswa kos yang menawar harga setengah porsi.

SUARA KERIBUTAN TERMINAL “Ayo... ayo... 32! Blok M, Matraman, Cililitan! Ayo naik, Bu, ayo Pak, masih kosong atasnya!”pe...
28/06/2025

SUARA KERIBUTAN TERMINAL

“Ayo... ayo... 32! Blok M, Matraman, Cililitan! Ayo naik, Bu, ayo Pak, masih kosong atasnya!”

petugas kondektur dengan baju safari biru, berdiri di pintu bus, memanggil penumpang sambil menggantungkan tas karcis di pundak.

"Kondektur adalah navigator kota. Ia bukan sekadar penjual tiket, melainkan pemimpin kecil di atas roda. Tugasnya menjaga ritme: waktu keberangkatan, keamanan penumpang, bahkan memarahi pengamen atau pedagang yang terlalu lama."

Bus-bus tua dengan cat pudar. Kamera menyorot Bus No.32 bertuliskan "Blok M – Cililitan via Matraman". Di belakangnya, muncul raksasa dua tingkat: Bus Leyland biru-putih trayek No.14.

"Inilah jantung transportasi urban di Jakarta pada masa itu. Armada bus kota yang sederhana, padat, dan vital. Bus single-decker dan double-decker yang saling berdampingan seperti kontras dua wajah kota — antara efisiensi dan eksperimen modernitas."

Address

Jakarta

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cuma Mau Cerita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share