09/06/2026
Tubuh dan setiap objek di dunia ini memiliki atom yang sama. Elektron yang sama. Proton yang sama, semua sama mengikuti hukum hukum alam dari Tuhan sebagai SUNATULLAH
Dalam Qur'an memang menyebut:
"Tidak ada sesuatu pun didunia ini melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka..." (QS. Al-Isra' 17:44)
Dari ayat ini, para ulama memiliki beberapa penafsiran:
➡️ Tasbih hakiki
Seluruh makhluk benar-benar bertasbih dengan cara yang hanya diketahui Allah.
Manusia tidak memahami bentuk tasbih tersebut.
➡️Tasbih keadaan (lisān al-hāl)
Keberadaan dan keteraturan alam itu sendiri merupakan "tasbih".
Gunung, bintang, tumbuhan, dan atom tunduk pada hukum Allah, dan ketundukan itu disebut tasbih.
➡️Gabungan keduanya
Alam semesta benar-benar bertasbih, sekaligus keberadaannya menjadi tanda kebesaran Allah.
Jika dimaknai secara hakikat, tasbih dapat dipahami sebagai ketundukan total kepada hukum dan kehendak Allah.
Matahari beredar pada orbitnya, bumi berputar, atom mengikuti hukum-hukum yang mengaturnya, tumbuhan tumbuh sesuai fitrahnya, dan malaikat melaksanakan tugas tanpa membangkang.
Dalam pengertian ini, seluruh alam sedang "bertasbih" karena tidak keluar dari ketentuan yang telah ditetapkan baginya.
Bahkan Al-Qur'an berulang kali menggambarkan alam sebagai makhluk yang tunduk kepada Allah, baik secara s**arela maupun terpaksa.
DN-Revolusi Jiwa memandang bahwa tasbih bukan sekadar ucapan, melainkan keadaan keberadaan yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Lalu Bagaimana Manusia Harusnya Bertasbih ?
Kita tau, bahwa Batu, pohon, bintang, dan malaikat menjalankan fitrahnya sesuai ketetapan Allah. Dan Manusia diberi pilihan (ikhtiar) dan kesadaran reflektif. Karena itu manusia bisa selaras dengan fitrahnya, tetapi juga bisa menentangnya. Dalam perspektif ini, tasbih manusia bukan hanya pada keberadaannya sebagai makhluk, melainkan juga pada kesadaran dan pilihannya untuk tunduk kepada Allah.
Maka secara hakikat bisa dikatakan:
"Tasbih adalah keadaan ketika setiap makhluk menjalankan hukum dan fungsi yang telah Allah tetapkan baginya."
Sedangkan pada manusia, tasbih tidak berhenti pada mengikuti hukum alam biologisnya, tetapi juga mencakup kesadaran, niat, ucapan, dan perbuatannya.
Itulah sebabnya sebagian ahli tasawuf mengatakan bahwa seluruh alam sudah bertasbih secara fitrah, sedangkan manusia sedang belajar untuk menyadari dan menyelaraskan dirinya dengan tasbih semesta yang telah berlangsung sejak awal penciptaan.