POSKOTAK

Kisah keberanian alexander prokhorenko pasukan khusus Rusia yang gugur di Suriah dalam perang melawan Isis 2016alexander...
18/01/2026

Kisah keberanian alexander prokhorenko pasukan khusus Rusia yang gugur di Suriah dalam perang melawan Isis 2016

alexander prokhorenko lahir pada 22 Juni 1990, Prokhorenko lulus dari akademi militer dengan predikat terhormat dan bertugas di Spetsnaz.

Pada Januari 2016, ia dikirim ke Suriah untuk membantu pasukan Suriah melawan ISIS, bertindak sebagai pengamat maju (forward observer) untuk mengarahkan serangan udara.

Pengorbanan Diri:
Pada 17 Maret 2016, saat terlibat dalam ofensif pembebasan Palmyra, ia terkepung oleh pejuang ISIS.
Menghadapi situasi tak ada jalan keluar, ia memutuskan untuk mengorbankan diri dengan memberikan koordinat ke pesawat tempur Rusia agar menyerang posisinya sendiri, membunuh dirinya
Kata-kata Terakhir Rambo Rusia yang Minta Dibom saat Dikepung ISIS A A A MOSKOW - Pasukan khusus Rusia atau Spetsnaz yang dijuluki “Rambo” setelah minta dibom pesawat tempur Moskow saat dikepung puluhan militan ISIS di Palmyra, Suriah, telah dianggap pahlawan oleh Kremlin.
Pasukan khusus bernama Letnan Alexander Prokhorenko, tewas secara heroik. Dia minta dibom oleh pesawat tempur Rusia agar puluhan militan kelompok Islamic State (ISIS) juga ikut tewas. Militer Rusia tidak pernah merilis identitas pasukan khusus yang tewas itu. Namun, media-media Rusia berhasil mengungkap sosok “Rambo” Rusia tersebut. Baca juga: Inilah "Rambo" Rusia yang Minta Dibombardir saat Dikepung ISIS Media Rusia, Pravda, merilis transkrip kata-kata terakhir Prokhorenko saat meminta militer Moskow melakukan serangan udara terhadap dirinya. Berikut transkrip percakapannya;

Prokhorenko:
Mereka berada di luar, lakukan serangan udara sekarang, tolong cepat, ini adalah akhir, beritahu keluarga, saya mencintai mereka dan saya mati berjuang untuk tanah air saya.

Komando: Negatif, kembalilah ke jalur hijau.

Prokhorenko:
Perintah tidak diterima, saya dikepung, mereka berada di luar, saya tidak ingin mereka mengambil saya dan memparadekan saya, lakukan serangan udara, mereka akan membuat ejekan terhadap saya dan seragam ini. Saya ingin mati dengan martabat dan mengambil semua bajingan ini dengan saya. Penuhi keinginan terakhir saya, lakukan serangan udara, mereka akan membunuh saya.
Komando:
Silakan konfirmasi permintaan Anda.

Prokhorenko:
Mereka di luar, ini adalah komando akhir, terima kasih, beritahu keluarga saya dan negara saya, saya mencintai mereka. Beritahu mereka, saya berani dan saya berjuang sampai saya tidak bisa lagi. Harap berhati-hati dari keluarga saya, balas kematian saya, selamat tinggal komandan, beritahu keluarga, saya mencintai mereka! Komando: (Tidak ada respon, memerintahkan serangan udara). Menurut laporan yang diterbitkan oleh media Rusia itu,

Penghargaan:
Atas tindakan heroiknya, Presiden Vladimir Putin menganugerahinya gelar Pahlawan Federasi Rusia (Hero of the Russian Federation), penghargaan tertinggi di Rusia, secara anumerta pada April 2016.
Ia dijuluki "Rambo Rusia" karena keberaniannya dan dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di desa asalnya

17/01/2026
Usaha terakhir Jepang pada saat perang dunia 2 dengan serangan bunuh diri kamikaze Pada permulaan Perang Pasifik, salah ...
16/01/2026

Usaha terakhir Jepang pada saat perang dunia 2 dengan serangan bunuh diri kamikaze

Pada permulaan Perang Pasifik, salah satu babak dari Perang Dunia II, Onishi adalah kepala divisi pengembangan penerbangan angkatan laut dalam kementrian perlengkapan perang. Dia juga bertanggung jawab atas masalah teknis dalam penyerbuan Pearl Harbor tahun 1941 di bawah komando Laksamana Isoroku Yamamoto. Onishi sendiri sebenarnya menentang rencana penyerbuan yang diyakininya akan memicu perang berskala besar dengan musuh yang lebih kuat dan memiliki cukup sumber daya untuk membuat Jepang menyerah tanpa syarat.

Oktober 1944, Onishi menjadi komandan Armada Udara I di Filipina utara. Walaupun namanya sering dihubungkan dengan perencanaan taktik serangan pesawat bunuh diri terhadap kapal-kapal induk Sekutu, misi ini sebenarnya sudah ada sebelum dia menjabat dan Onishi sendiri sebenarnya kurang menyetujui cara ini. Dalam keadaan terdesak menyusul jatuhnya Kepulauan Mariana, Onishi mengubah pandangannya dan memerintahkan penyerangan dengan cara demikian. Rencana ini adalah dengan pemakaian pesawat-pesawat Mitsubishi A6M Zero yang diisi dengan bom seberat 250 kg, pesawat-pesawat ini akan menukik dan menabrak kapal-kapal Sekutu lalu meledak bersama pilotnya.

Dalam rapat di Lapangan Udara Mabacalat (Clark Air Base) dekat Manila, dia mengumpulkan para perwira staffnya di lapangan terbang itu dan mengatakan dengan suara terharu bahwa takdir Jepang terletak di tangan pilot-pilot yang merupakan anak buahnya. Disini dia mengusulkan suatu operasi yang sungguh luar biasa nekat. Dia berkata, “Saya pikir tiada cara lain lagi untuk mempertahankan Filipina selain memasang 250 kg bom pada pesawat-pesawat zero dan menabrakkannya ke kapal induk Amerika, ini adalah untuk menahan mereka selama seminggu”

Usul ini diterima opsir-opsir Jepang dalam suasana tegang. Setelah Onishi selesai dengan pidatonya, Komandan Asaichi Tamai, opsir tertinggi di Magracut meminta waktu untuk memikirkan dan bertukar pikiran dengan para komandan skuadronnya. Namun dari sorot mata mereka terlihat jelas bahwa mereka bersedia gugur bagi Tenno Heika, bagi kaisar, bagi negaranya. Bahkan seorang letnan bernama Yukio Seki yang baru saja menikah sebelum berangkat ke medan perang juga bersedia melakukan misi suci untuk membela negara ini.

Keadaan negara Jepang yang terdesak karena serangan dari Amerika pada Perang Dunia II, membuat Jepang terpaksa melaksanakan strategi terakhirnya, yaitu serangan dengan Kamikaze. Tidak adanya regenerasi dari pilot Kamikaze yang sudah gugur, memaksa pihak militer Jepang untuk membuat ideologi-ideologi agar bisa mendoktrin para pemuda Jepang untuk mau menjadi pilot Kamikaze. Segala cara dilakukan pihak militer demi menyukseskan perekrutan pilot Kamikaze, seperti dengan cara memanfaatkan propaganda pada ideology, sistem pendidikan, dan menggunakan media-media yang ada di Jepang untuk menyebarkan ideologi mereka mengenai serangan dengan Kamikaze.

Puncak serangan terjadi pada 6 April 1945 di Kepulauan Okinawa. Serangan kamikaze di Kepulauan Okinawa ini dipusatkan untuk menghancurkan kapal-kapal perusak (destroyer) milik pasukan sekutu. Serangan ini melibatkan sekitar 1.465 pesawat, menciptakan kekacauan yang cukup besar, tetapi menjelang akhir pertempuran, sedikitnya 21 kapal AS berhasil ditenggelamkan oleh kamikaze.

Karena waktu itu Jepang masih kalah jauh dalam hal teknologi perang dari Pasukan Sekutu, Jepang melatih pilot- pilot dari armada tempur udaranya untuk dijadikan pilot-pilot kamikaze yang cenderung lebih mudah bagi Jepang untuk menghancurkan pesawat-pesawat atau kapal-kapal milik pasukan sekutu. Pasukan angkatan laut sekutu juga sudah mulai mengembangkan teknik untuk menangkal serangan-serangan pilot kamikaze Jepang, seperti menembaki pesawat-pesawat kamikaze dengan senapan AA Gun yang ada di kapal perang ke arah pesawat kamikaze yang terbang mendekat sebelum mereka menabrak kapal perang milik pasukan sekutu. Walaupun taktik seperti itu tidak bisa dipakai untuk melawan serangan-serangan pesawat kamikaze Jepang yang menyerang dari sudut tinggi (serangan khas pilot kamikaze yang menggunakan pesawat buatan jepang yang bernama ohka

Begitu banyak pengorbanan yang di lakukan Jepang toh pada akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat akibat di jatuhkannya Bom atom di Jepang.

Jendral Jepang laksamana penggagas serangan bunuh dini kamikaze, Takajiro Onishi, betul-betul seorang samurai sejati.

Sebagai seorang perwira tinggi AL Jepang, Onishi termasuk yang berpegang teguh pada sikap berperang sampai mati.

Onishi yang diangkat sebagai Wakil Kepala Staf AL Kekaisaran pada Mei 1945 adalah mendukung keras dilanjutkannya perang.

Padahal kondisi saat itu jelas menunjukkan Jepang kehabisan harapan.

Karena itu, tatkala mendengar siaran takluknya Jepang yang disampaikan Kaisar pada 15 Agustus, dia pun melakukan hara-kiri 16 Agustus pagi.

Sebelum harakiri, malam harinya Onishi mengundang sejumlah perwira stafnya untuk jamuan perpisahan di kediamannya dengan melakukan ritual minum sake bersama-sama.

Pagi itu ajudannya dikabari bahwa Laksamana Onishi telah melakukan harakiri.

Ajudan itu bergegas ke rumah Onishi dan menemukannya dalam keadaan sekarat namun masih sadar.

Onishi telah merobek perutnya hingga ususnya terburai menggunakan pedang pendek (katana) dan berusaha memotong lehernya sendiri.

Namun tampaknya usaha menggorok leher itu kurang berhasil karena ia tidak memiliki tenaga lagi.

Dalam kondisi seperti itu biasanya pelaku ritual harakiri akan menyerahkan pedang samurai ke orang yang sudah ditunjuk untuk memenggal kepalanya.

Ajudan Onishi sempat menawarkan apakah perlu mencari pertolongan medis atau memenggal kepala Onishi menggunakan pedang samurai “secara terhormat” sehingga rasa sakitnya segera hilang.

Tapi Onishi ternyata melarang ajudan itu mencari pertolongan medis maupun membantunya mempercepat kematian.

Dengan sengaja ia membiarkan diri menderita sampai kematiannya tiba pada senja hari pukul 18.00.

Menjelang kematiannya, Onishi ternyata sempat menuliskan pesan terakhirnya
Pesan itu antara lain menyatakan pujian dan penghargaannya terhadap jiwa-jiwa para pilot kamikaze.

“Mereka bertempur dan gugur secara gagah berani, dengan kepercayaan kepada kemenangan akhir kita.
Dalam kematian, saya berharap dapat berdamai dengan kegagalan saya dalam ikut mencapai kemenangan.

Dan saya mohon maaf terhadap jiwa para penerbang yang telah gugur serta keluarga mereka yang telah berduka.

Saya harapkan kaum muda Jepang menemukan moral dalam kematian saya...”.

Sejarah singkat Korea selatan dan Korea UtaraSatu leluhur tetapi di pisahkan oleh ideologi Korea dimasa dynasti joeun139...
14/01/2026

Sejarah singkat Korea selatan dan Korea Utara
Satu leluhur tetapi di pisahkan oleh ideologi

Korea dimasa dynasti joeun
1392-1897

Sebelum terbagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan, Korea merupakan satu kesatuan wilayah utuh. Pada periode tersebut, Korea memiliki sistem pemerintahan kerajaan.

Jepang menduduki Korea
1907-1945

Pada tahun 1905 Korea di bawah kekuasaan dinasty josoen kalah perang dari Jepang, Jepang menduduki Korea dan Korea berada di bawah penjajahan Jepang selama 35 tahun sampai dengan Perang Dunia II berakhir tahun 1945.
Kekalahan Jepang membuat Korea akhirnya jatuh ke tangan sekutu. Untuk itu, sekutu sepakat membagi Korea menjadi dua bagian. Uni Soviet memasuki kawasan Korea dan menduduki wilayah utara. Sekutu Uni Soviet dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS), menyusul dan menduduki Korea bagian selatan.

Tentara Soviet dan proksinya selama tiga tahun berikutnya, mendirikan rezim komunis di wilayah utara. Sedangkan di bagian selatan, dibentuklah pemerintahan militer yang didukung langsung AS.
Meskipun kebijakan Soviet sangat populer di kalangan sebagian besar pekerja dan petani di Korea Utara, sebagian besar masyarakat kelas menengah di utara melarikan diri ke selatan, tempat mayoritas penduduk Korea tinggal saat ini. Sementara itu, rezim di selatan yang didukung oleh AS jelas-jelas lebih menyukai elemen sayap kanan yang anti-komunis. Tahun 1948, AS mengusulkan penyelenggaraan pemungutan suara yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar seluruh penduduk Korea dapat menentukan nasib masa depan semenanjung tersebut. Setelah Korea Utara menolak berpartisipasi, Korea Selatan akhirnya membentuk pemerintahannya sendiri di Seoul yang dipimpin Syngman Rhee yang sangat anti-komunis. Sebagai respon, Korea Utara mengangkat mantan gerilyawan komunis Kim Il Sung sebagai perdana menteri pertama Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) di ibu kota Pyongyang
menyatakan bahwa dia akan mengakhiri upaya rekonsiliasi dengan Korea Selatan (Korsel). Kim mengatakan, reunifikasi Korea Utara dengan Korea Selatan tidak akan mungkin lagi terjadi. Dalam pidatonya, Kim berjanji akan menghancurkan monumen reunifikasi yang dulu ayahnya bangun di Pyongyang. Kim menyebut monumen tersebut “merusak pemandangan”. Kim pada pidatonya itu juga mengatakan, Pyongyang sedang dalam upaya menghapuskan semua lembaga yang mempromosikan kerja sama dengan Seoul. Pada saat yang sama, ia menyebut Korea Selatan sebagai “musuh utama ”. Baca juga: Pasang Surut Hubungan Rusia dan Korea Utara Kini, hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan berada di ujung tanduk. Upaya reunifikasi beberapa dekade terakhir mengalami kebuntuan. Padahal, dahulu Korea Utara dan Korea Selatan merupakan satu kesatuan wilayah. Kreator Konten dan Aktivis Greenpeace Didoksing-Diteror Usai Kritik Penanganan Bencana Sumatera Seoul Ingin Berbaikan dengan Pyongyang, tetapi Latihan Gabungan Jalan Terus Apa yang menyebabkan Korea terpecah menjadi dua negara yang sangat berbeda satu sama lain? Semenanjung Korea Sebelum Terpecah Sebelum terbagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan, Korea merupakan satu kesatuan wilayah utuh. Pada periode tersebut, Korea memiliki sistem pemerintahan kerajaan. Baca juga: Trump Siapkan F-35, Arab Saudi Pasang Badan Cegah AS Serang Iran Tahun 1905, Jepang menduduki Korea dan secara resmi menganeksasi wilayah itu lima tahun setelahnya. Korea berada di bawah penjajahan Jepang selama 35 tahun sampai dengan Perang Dunia II berakhir tahun 1945. Kekalahan Jepang membuat Korea akhirnya jatuh ke tangan sekutu. Untuk itu, sekutu sepakat membagi Korea menjadi dua bagian. Uni Soviet memasuki kawasan Korea dan menduduki wilayah utara. Sekutu Uni Soviet dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS), menyusul dan menduduki Korea bagian selatan. Baca berita tanpa iklan. Selama tiga tahun berikutnya, tentara Soviet dan proksinya mendirikan rezim komunis di wilayah utara. Sedangkan di bagian selatan, dibentuklah pemerintahan militer yang didukung langsung AS. Baca juga: Korea Utara Mengecam Keras Latihan Militer Korea Selatan-AS Meskipun kebijakan Soviet sangat populer di kalangan sebagian besar pekerja dan petani di Korea Utara, sebagian besar masyarakat kelas menengah di utara melarikan diri ke selatan, tempat mayoritas penduduk Korea tinggal saat ini. Sementara itu, rezim di selatan yang didukung oleh AS jelas-jelas lebih menyukai elemen sayap kanan yang anti-komunis. Tahun 1948, AS mengusulkan penyelenggaraan pemungutan suara yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar seluruh penduduk Korea dapat menentukan nasib masa depan semenanjung tersebut. Setelah Korea Utara menolak berpartisipasi, Korea Selatan akhirnya membentuk pemerintahannya sendiri di Seoul yang dipimpin Syngman Rhee yang sangat anti-komunis. Sebagai respon, Korea Utara mengangkat mantan gerilyawan komunis Kim Il Sung sebagai perdana menteri pertama Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) di ibu kota Pyongyang.

Perang saudara Korea 1950

Ketegangan antara kedua rezim tersebut terus memanas hingga puncaknya tahun 1950 ketika keduanya memutuskan untuk berperang. Insiden ini dikenal sebagai Perang Korea.

Selama perang berlangsung, Korea Utara secara aktif menerima pasokan dan bantuan dari Uni Soviet. Tidak lama setelahnya, China ikut memberikan bantuan kepada Korea Utara. Di sisi lain, Korea Selatan didukung PBB dan secara aktif menerima bantuan AS. Perang Korea hanya berlangsung selama tiga tahun tetapi telah menewaskan setidaknya 2,5 juta orang. Meski demikian, perang ini sama sekali tidak menjawab pertanyaan mengenai rezim mana yang paling tepat untuk Korea. Namun, perang ini secara resmi menjadikan AS sebagai musuh permanen Korea Utara karena keterlibatannya dalam pengeboman desa-desa hingga kota-kota di bagian utara.

Pada 27 Juli 1953, komandan militer AS mewakili Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tentara Rakyat Korea, dan Tentara Relawan Rakyat Tiongkok menandatangani Perjanjian Gencatan Senjata Korea. Penandatanganan tersebut sekaligus mengakhiri tiga tahun Perang Korea. Tahun 1954, Jenewa, Swiss menjadi tuan rumah perundingan perdamaian Korea. Namun, pada akhirnya tidak ada perjanjian perdamaian resmi yang ditandatangani. Dengan demikian, Semenanjung Korea secara teknis masih dalam keadaan perang sampai saat ini.

Perjanjian Gencatan Senjata juga menciptakan Garis Demarkasi Militer (MDL) pada garis kontak terakhir antara pasukan yang bertentangan. Kedua belah pihak juga diharuskan mundur dua kilometer dari MDL untuk membentuk Zona Demiliterisasi (DMZ) selebar empat kilometer, yang membentang sepanjang 241 kilometer melintasi lebar semenanjung Korea. Kedua belah pihak diizinkan mengakses bagian dua kilometer milik mereka di DMZ, tetapi dilarang melintasi MDL tanpa izin dari pihak lain.

Dengan berlanjutnya hubungan kuat dengan Barat dan kehadiran militer AS, Korea Selatan berhasil mengembangkan perekonomian mereka dengan sangat pesat. Korea Selatan juga aktif mengambil upaya untuk mewujudkan Korea yang demokratis. Sementara itu, Korea Utara menjadi negara yang sangat terisolasi, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet tahun 1990-an. Korea Utara yang sangat bergantung dengan Uni Soviet mulai mengalami kemunduran sejak Uni Soviet runtuh.

Demikian sejarah singkat tentang Korea Utara dan Korea selatan.
Sejarah Korea selatan dan Korea Utara tentang leluhur mereka sama, tetapi mereka sekarang berpisah karena perbedaan ideologi
Korea Utara yang menganut pemahaman komunis dan Korea selatan menganut pemahaman kapitalisme

Kisah Tragis Penyelam Dev Show  Bushman Hall terletak Afrika SelatanPenyelam yang terlibat: Deon Reyer (20 tahun) dan De...
13/01/2026

Kisah Tragis Penyelam Dev Show

Bushman Hall terletak Afrika Selatan
Penyelam yang terlibat: Deon Reyer (20 tahun) dan Dev Show (pilot, penyelam)
Kejadian berawal dari penyelaman Deon yang berakhir tragis.
Profil Deon Reyer
Anak muda 20 tahun asal Afrika Selatan
Hobi: Berburu, balap mobil, menyelam
Telah melakukan lebih dari 200 penyelaman
Menjadi asisten penyelam di Bushman Hall untuk South African Cave Diving Association (SACDA).
Kejadian Penyentuhan
Deon melakukan penyelaman dengan target kedalaman 150 m
Setelah penyelaman, ketua tim menemukan Deon hilang
Temannya melihat Deon memberikan tanda jempol sebelum tenggelam
Diduga Deon kehilangan kesadaran akibat hiperkapnia (kelebihan karbon dioksida).
Pencarian Deon
Keluarga berduka, ayah Deon berjuang untuk menemukan jasadnya. Sang ayah sampai menyewa kapal selam dari Bear Mining Company untuk mencari jasad anaknya, namun hanya menemukan helm Deon
Keluarga meletakkan pelakat di dekat Bushman Hall sebagai tanda peringatan.10 tahun kemudian, pada 28 Oktober 2014, Dev Show melakukan penyelaman di Bushman Hall
Mencari untuk memecahkan rekor dunia dan tidak disangka menemukan jasad Deon di dasar gua
Jasad Deon terjebak di lumpur, Dev berusaha mengevakuasi namun terpaksa kembali karena kehabisan oksigendan tidak ada persiapan tetapi Dev menandai lokasi penemuan jenasah Deon.
Dev berjanji akan mengevakuasi jasad Deon untuk keluarga.
Persiapan Evakuasi
Dev merekrut tim penyelam profesional
Mempersiapkan tabung oksigen, peralatan menyelam, dan kantong jenazah khusus
Pengalaman sebelumnya memberi keyakinan kepada Dev.
Akhirnya tanggal evakuasi dimulai disaksikan oleh keluarga Deon.
8 Januari 2008, Dev siap untuk menyelam kembali ke gua
Memasang kamera untuk mendokumentasikan proses evakuasi
Proses evakuasi menjadi sulit karena tubuh Deon mengapung dan oksigen semakin menipis
Dev mengalami narkosis nitrogen, kesulitan bernapas, dan kabel kantong jenazah terlilit
Keputusan untuk terus berjuang meskipun situasi semakin berbahaya.
Misi yang Berujung pada Tragedi
Salah satu teman, Don Sherley, menyadari ada yang tidak beres dan melakukan pencarian
menemukan Dev yang tidak bergerak di dasar gua
Don memilih untuk kembali ke atas agar tidak ada nyawa yang terancam lagi
Pesan ditulis: "Dave tidak kembali lagi".

Tiga hari setelah tragedi, tanpa disangka-sangka kedua jenazah mengambang di permukaan. berhasil dievakuasi dari Bushman Hall
Keduanya dikuburkan secara layak
Dev Show berhasil mengevakuasi jasad Deon meskipun mengorbankan nyawanya sendiri.

Ambisi besar untuk menjadi yang pertama menaklukkan Everest yang berakhir tragis😔Pada tahun 1924  George Mallory  Andrew...
13/01/2026

Ambisi besar untuk menjadi yang pertama menaklukkan Everest yang berakhir tragis😔

Pada tahun 1924 George Mallory Andrew Irvine melakukan pendakian di gunung Everest. Ambisi untuk menjadi orang yang pertama mencapai puncak. ketika hanya tersedia tangki oksigen.

Pada tanggal 6 Juni, Mallory dan Irvine memulai pendakian dari North Col, mencapai ketinggian sekitar 8.200 meter keesokan harinya. Namun, setelah terlihat terakhir kali oleh rekan mereka, Noel Odell, pada tanggal 8 Juni, jejak mereka hilang tanpa bekas.

Meskipun upaya pencarian dilakukan, badai dan musim hujan yang mendekat menghalangi usaha lebih lanjut. Edward Norton, pemimpin ekspedisi, kemudian mengirim telegraf ke surat kabar harian London "The Times”, yang berbunyi: "Mallory dan Irvine tewas dalam upaya terakhir.”

11 tahun kemudian pada tahun 1933 kapak es milik Irvine ditemukan .laporan ini menjadi titik terang

75 tahun kemudian Pada tahun 1999, jasad Mallory ditemukan oleh pendaki AS, Conrad Anker, di ketinggian 8.159 meter, mengungkapkan bahwa ia mengalami cedera parah akibat jatuh. Namun, Irvine dan kamera yang mungkin menyimpan bukti pendakian mereka tetap hilang.
Masih kontroversial apakah mereka berhasil mencapai puncak sebelum meninggal atau tidak. Mallory ditemukan pada tahun 1999, dan jasadnya terawetkan abadi dengan sangat baik. Kisahnya menjadi catatan yang mengerikan tentang keabadian gunung tersebut.

Kisah perjuangan pahlawan nasional SisingamangarajaPatuan Besar Ompu Pulo Batu atau yang lebih dikenal Sisingamangaradja...
10/01/2026

Kisah perjuangan pahlawan nasional Sisingamangaraja

Patuan Besar Ompu Pulo Batu atau yang lebih dikenal Sisingamangaradja XII adalah raja serta pendeta terakhir masyarakat Batak di Sumatera Utara. Ia turut menjadi pejuang melawan penjajahan Belanda di Sumatera sejak 1878

Pada 1907, ia terbunuh dalam pertempuran oleh pasukan Belanda. Ia pun dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1962 berkat perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda.
Pada tahun 1824, seluruh wilayah koloni Inggris di Sumatra diberikan kepada Belanda melalui Perjanjian Inggris dan Belanda (Anglo-Dutch Treaty of 1824). Hal ini membuka peluang bagi Hindia Belanda untuk menganeksasi seluruh wilayah yang belum dikuasainya di Sumatra.

Pada tahun 1873, Belanda melakukan invasi militer ke Aceh melalui Perang Aceh. Kemudian, Belanda melanjutkan invasi ke Tanah Batak pada 1878. Para raja kampung Batak (huta) yang beragama Kristen menerima masuknya Hindia Belanda ke Tanah Batak, sementara Raja Bangkara, Sisingamangaraja XII, yang memiliki hubungan dekat dengan Kesultanan Aceh, menolak dan menyatakan perang.

Pada tahun 1877, para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada Pemerintah Kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Sisingamangaraja XII. Kemudian, Pemerintah Kolonial Belanda dan para misionaris sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Sisingamangaraja XII di Bangkara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.

Pada tanggal 6 Februari 1878, pasukan Belanda tiba di Pearaja, tempat kediaman misionaris Ingwer Ludwig Nommensen. Kemudian, beserta misionaris Nommensen dan Simoneit sebagai penerjemah, pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Kehadiran tentara kolonial ini telah memprovokasi Sisingamangaraja XII, yang kemudian mengumumkan pulas (perang) pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan.

Pada tanggal 14 Maret 1878, datanglah Residen Boyle bersama tambahan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dari Sibolga. Pada 1 Mei 1878, Bangkara yang merupakan pusat pemerintahan Sisingamangaraja XII diserang oleh pasukan kolonial. Pada 3 Mei 1878, seluruh Bangkara telah ditaklukkan, tetapi Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi. Sementara, para raja yang tertinggal di Bangkara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan Hindia Belanda.

Walaupun Bangkara telah ditaklukkan, Sisingamangaraja XII terus melakukan perlawanan secara gerilya. Hingga akhir Desember 1878, beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur juga telah ditaklukkan oleh pasukan Kolonial Belanda.

Di antara tahun 1883-1884, Sisingamangaraja XII berhasil melakukan konsolidasi pasukannya. Kemudian bersama pasukan bantuan dari Aceh, secara ofensif menyerang kedudukan Belanda antaranya Uluan dan Balige pada Mei 1883, serta Tangga Batu pada tahun 1884.

Salah satu pemimpin Aceh yang secara aktif membantu perjuangan ini adalah Teuku Ben Blangpidie, seorang panglima gerilya dari pantai barat Aceh. Pada awal tahun 1907, Teuku Ben Mahmud mengirim sekitar 150 pejuang dari Tapaktuan menelusuri Sungai Cenendang hingga Simsim, wilayah Pakpak Bharat, untuk mendukung gerakan Sisingamangaraja XII.

Pasukan Aceh membantu dalam pembentukan markas gerilya, pelatihan laskar muda Batak, serta penyerangan terhadap pos, sekolah, dan gereja Belanda di sekitar Dairi. Kolaborasi ini menjadi simbol perlawanan lintas wilayah dan etnis terhadap kolonialisme Belanda di Tanah Batak dan Aceh, serta memperkuat jaringan logistik dan militer di wilayah barat Sumatra hingga perbatasan Tapanuli.

Sisingamangaraja XII gugur pada 17 Juni 1907 saat disergap oleh empat anggota Korps Marsose, pasukan elite kontra-gerilya Belanda. Penyergapan tersebut dipimpin oleh Hans Christoffel di kawasan Sungai Aek Sibulbulon, di suatu desa bernama Si Onom Hudon, di perbatasan Humbang dengan Dairi. Sisingamangaraja XII menghadapi pasukan Korps Marsose sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Johannes Rotikan, seorang prajurit pasukan Marsose asal Minahasa, mendaratkan tembakan yang menewaskan Si Singamangaraja XII.Menjelang nafas terakhir, ia tetap berucap, "Ahu Sisingamangaraja" (bahasa Indonesia: "Aku Sisingamangaraja"). Turut gugur bersamanya adalah kedua putranya, Patuan Nagari Sinambela dan Patuan Anggi Sinambela, serta putrinya, Lopian br. Sinambela. Sementara keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung. Sisingamangaraja XII kemudian dikebumikan oleh Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung, setelah sebelumnya mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Dairi.] Makamnya kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige sejak 14 Juni 1953, yang dibangun oleh pemerintah, msyarakat, dan keluarga.

8 Januari 1855  adalah hari wafatnya Pangeran Diponegoro Pangeran Diponegoro adalah salah satu tokoh pahlawan nasional I...
08/01/2026

8 Januari 1855 adalah hari wafatnya Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia yang terkenal karena perjuangannya dalam Perang Diponegoro. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Keraton Yogyakarta, ia merupakan putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari Mataram.

Nama aslinya adalah Raden Mas Ontowiryo, namun kemudian dikenal sebagai Diponegoro setelah naik takhta sebagai pangeran. Pendidikannya dilakukan di lingkungan keraton yang sarat dengan nilai-nilai keprajuritan dan agama Islam.

Perang Diponegoro adalah salah satu konflik besar yang terjadi di Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan rakyat Jawa terhadap kebijakan pemerintahan kolonial Belanda yang menindas dan mengeksploitasi rakyat pribumi.

Salah satu pemicu perang ini adalah ketidakpuasan Pangeran Diponegoro terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang mengganggu kehidupan sosial dan agama di Jawa. Dia juga menentang pengaruh budaya Barat yang diperkenalkan oleh Belanda.

Perlawanan Diponegoro terhadap Belanda merupakan perlawanan sengit yang berlangsung selama lima tahun, mulai dari tahun 1825 hingga 1830. Meskipun perlawanan ini akhirnya berhasil dipadamkan oleh Belanda, namun perjuangan Pangeran Diponegoro meninggalkan jejak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pangeran Diponegoro dianggap sebagai pahlawan nasional Indonesia karena keberaniannya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsa. Warisannya masih terus dihargai dan dihormati oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Setelah perang berakhir, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makassar, Sulawesi. Dia meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 dalam penjara di Makassar. Meskipun fisiknya telah tiada, namun semangat perjuangannya tetap hidup dalam ingatan dan penghormatan rakyat Indonesia.

Pangeran Diponegoro adalah simbol perlawanan terhadap penjajahan dan penindasan serta inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan. Kisah hidupnya menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi bangsa Indonesia dalam mempertahankan kebebasan dan martabatnya.

Dengan mengenang jasa-jasanya, kita dapat belajar tentang pentingnya semangat kebangsaan, persatuan, dan perjuangan dalam menghadapi cobaan serta tantangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

07/01/2026

7 Januari 1943 Nicola Tesla meninggal dunia

Address

Jakarta

Telephone

+6283899933980

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when POSKOTAK posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share