14/07/2026
π₯ NASIB PEJUANG KELUARGA KECIL DI RANTAU ORANG π₯
β¨ PART 2 - MENINGGALKAN KONTRAKAN DENGAN AIR MATA β¨
Malam itu aku dan suamiku tidak banyak berbicara.
Kami hanya saling memandang sambil memikirkan satu hal yang sama.
"Kita harus pindah ke mana setelah ini?"
Di kota ini kami hanyalah perantau.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada tempat untuk mengadu.
Tidak ada rumah yang bisa kami datangi saat sedang kesulitan.
Yang kami miliki hanyalah satu sama lain dan tiga orang anak yang harus kami perjuangkan masa depannya.
Keesokan paginya aku mulai membereskan pakaian dan memasukkannya ke dalam tas.
Sedikit demi sedikit barang kami dikemas.
Piring yang biasa kami gunakan untuk makan bersama.
Kasur tempat anak-anak tertidur setiap malam.
Mainan kecil yang selalu berserakan di lantai.
Semua kami rapikan sambil menahan air mata.
Anak bungsuku yang berusia 4 tahun bertanya dengan polos,
"Bunda, kita mau pergi ke mana?"
Aku tersenyum sambil memeluknya erat.
"Kita mau mencari rumah baru, Nak."
Padahal saat itu aku sendiri belum tahu rumah baru itu ada di mana.
Suamiku p**ang kerja dengan wajah lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum di depan anak-anak.
Setiap hari beliau mencari kontrakan baru.
Dari satu tempat ke tempat lain.
Ada yang terlalu mahal.
Ada yang sudah penuh.
Ada yang belum sesuai dengan kemampuan kami.
Tetapi sebagai seorang ayah, ia tidak pernah menyerah.
Aku tahu di dalam hatinya ada rasa takut yang sama denganku.
Takut jika anak-anak harus kehilangan tempat untuk p**ang.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi sebelum hari itu tiba.
Bukan karena kami kalah.
Bukan karena kami menyerah.
Tetapi karena kami ingin menjaga ketenangan keluarga kecil kami.
Pagi itu satu per satu barang kami diangkat keluar.
Anak-anak hanya diam memperhatikan.
Tidak ada tawa seperti biasanya.
Tidak ada suara bermain seperti hari-hari sebelumnya.
Yang ada hanyalah keheningan dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Saat kendaraan mulai bergerak meninggalkan kontrakan itu, aku menoleh untuk terakhir kalinya.
Di tempat itu kami pernah menyimpan harapan.
Di tempat itu kami pernah mencoba membangun kebahagiaan sederhana.
Dan di tempat itu p**a kami belajar bahwa menjadi perantau tidak selalu