05/04/2026
'Semua kendaraan harus tenaga listrik' – Dua kendala besar mewujudkan ide Presiden Prabowo
Presiden Prabowo Subianto berencana mengonversi semua kendaraan berbahan bakar bensin menjadi tenaga listrik di tengah krisis energi dunia. Presiden berujar, gagasan itu merupakan 'game changer'. Menurut pengamat, agar ide tersebut bisa diwujudkan, ada sejumlah kendala yang harus diatasi.
Dalam diskusi bersama sejumlah pentolan media nasional, setidaknya ada dua tujuan Presiden Prabowo dalam gagasan konversi mobil listrik. "Saya ingin total [dalam kendaraan] listrik," ungkap Prabowo dalam diskusi itu.
Lebih lanjut, Prabowo menggagas, "Semua motor kita akan konversi menjadi motor listrik, semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik."
Tujuan dalam sudut pandang ekonomi, tertuang dalam perkataan Prabowo yang menyebut "Jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferari, silakan lo pakai bensin lo bayar aja [sesuai] harga [minyak] dunia."
Sementara, cita-citanya adalah sumber listrik itu berasal dari sumber energi terbarukan, seperti yang ia ungkap, "Saya inginnya listriknya itu dari [tenaga] matahari."
Kata Presiden Prabowo dalam diskusi di akun YouTube-nya yang berjudul 'Presiden Prabowo Menjawab!!!', paling tidak dalam dua tahun, Indonesia harus punya pembangkit listrik tenaga surya yang menghasilkan 100 GW (Gigawatt) listrik.
Di pinggiran Jakarta, masuk gang sempit berkelok, Haliman, 55 tahun, pengemudi ojek daring, sesekali memencet klakson agar orang-orang di gang itu tahu bahwa ada motor yang sedang melaju.
Hal itu ia lakukan karena suara mesin sepeda motornya nyaris tak terdengar orang-orang di sekitarnya.
Agar kendaraan listrik bisa melampaui dominasi kendaraan berbahan bakar fosil, ada sejumlah kendala yang harus diatasi, menurut pengamat.
Apa saja kendalanya?
1. Ekosistem kendaraan listrik
Menurut Ferry Triansyah selaku Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalisrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga Oktober 2025, baru mencapai perbandingan 1:26.
Artinya, satu SPKLU dapat melayani 26 kendaraan listrik.
"Padahal, idealnya 1:17," jelas Ferry seperti yang dikutip dalam laman Kementerian ESDM.
Hingga September 2025, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mengoperasikan 4.272 mesin SPKLU di 2.811 lokasi, dan menyediakan lebih dari 57.000 layanan pengisian daya listrik di rumah di seluruh Indonesia.
Pada 2025, terdapat selisih angka SPKLU menurut Keputusan Menteri ESDM Nomor 24.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Pengembangan SPKLU untuk periode tahun 2025 hingga 2030.
Proyeksi SPKLU tahun lalu sebanyak 5.810 unit, dan akan terus meningkat jumlahnya hingga 2030 yang mencapai 62.918 yang mayoritas berada di Pulau Jawa.
2. Sumber tenaga kendaraan listrik
Pada musim libur Nataru (Natal dan Tahun Baru) 2026, dari 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, total energi listrik yang tersalurkan untuk pengisian daya kendaraan listrik di SPKLU mencapai 5.619 MWh.
Dalam periode itu, terdapat 234.136 kali pengisian daya listrik, meningkat sebesar 479% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada November 2025 lalu, PLN memastikan pasokan listrik untuk kebutuhan SPKLU sudah siap mendukung ekosistem kendaraan listrik dengan menggunakan hanya 5% dari cadangan listrik nasional yang sebesar 10.400 MW.
Dalam artikel BBC News Indonesia 2023 lalu, tenaga listrik yang digunakan kendaraan listrik mayoritas dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Meski demikian, Presiden Prabowo ingin suatu saat nanti Indonesia bisa mengandalkan sumber energi ramah lingkungan.
Namun, jika dilihat dari Statistik Ketenagalistrikan 2024 ambisi presiden masih sulit diwujudkan.
Pembangkit listrik yang dimiliki PLN, masih didominasi batubara (sekitar 66,43%), disusul gas (17,65%), dan minyak (3,93%). Singkat kata, produk listrik masih didominasi PLTU.
Sementara apa yang dicita-citakan Presiden Prabowo dalam penggunaan sumber energi baru terbarukan seperti tenaga surya, masih berada pada kisaran 0,26%.