I-hujan musim panas

I-hujan musim panas Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from I-hujan musim panas, News & Media Website, Jakarta.

SUAMI MEMBERI RP50.000 SEHARI UNTUK MAKAN DAN MENUNTUT DAGING. DI DEPAN IBU MERTUA, ISTRI MENYAJIKAN TULANG AYAM DAN STR...
28/07/2026

SUAMI MEMBERI RP50.000 SEHARI UNTUK MAKAN DAN MENUNTUT DAGING. DI DEPAN IBU MERTUA, ISTRI MENYAJIKAN TULANG AYAM DAN STRUK KHUSUS RP74.000.000!

"Dengan Rp1.500.000 ini cukup untuk sebulan."

"Aku tidak mau mendengar alasan, Maya."

"Aku mau ada daging di meja makan, terutama saat ibuku datang menginap minggu ini."

Rendy meletakkan 15 lembar uang Rp100.000 di atas meja makan.

Dia menepuk-nepuk permukaannya seolah baru saja memberikan harta karun.

Rendy merapikan posisi jam tangan di pergelangan tangannya.

Dia mengambil kunci mobil sedan miliknya.

Rendy tersenyum dengan rasa percaya diri seorang pria yang merasa uang memberinya hak penuh untuk memerintah.

Maya memandangi deretan tagihan listrik, air, gas, dan keperluan dapur.

Merek tinggal di daerah Bandung.

Di kota ini, uang Rp50.000 sehari bahkan sulit untuk membeli bahan makanan pokok sederhana.

"Apakah aku juga harus membeli sabun, tisu, dan makanan Ciko dengan uang ini?" tanya Maya.

"Kamu kan ahli mengatur uang."

"Ibuku dulu mengurus rumah dengan uang lebih sedikit dari ini dan tidak pernah mengeluh," jawab Rendy dingin.

Rendy bekerja sebagai koordinator penjualan di perusahaan properti mewah.

Sejak naik jabatan 6 bulan lalu, Rendy selalu bicara soal citra, koneksi, dan gaya hidup level eksekutif.

Namun di rumah, dia memperhitungkan harga setiap kilogram beras.

Maya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah SMP negeri.

Selama 7 tahun pernikahan mereka, Maya sering menutupi kekurangan dapur dan biaya hidup menggunakan gajinya sendiri.

Namun pagi itu, Maya memutuskan untuk tidak lagi menyelamatkan Rendy dari aturan absurdnya.

Pada minggu pertama, Maya hanya menyajikan nasi, tempe, tahu, dan sayur bening.

Rendy p**ang ke rumah dengan pakaian beraroma makanan restoran mahal.

Dia membuka tudung saji di meja makan lalu mendesis gusar.

"Lauk begini lagi? Kamu benar-benar bikin malu!"

"Hanya ini yang muat dalam anggaran harian milikmu," balas Maya tenang.

Pada hari Sabtu, saat merapikan jas kerja Rendy, Maya menemukan selembar kertas terlipat di saku dalam.

Itu adalah struk pembelian barang otomotif dari sebuah bengkel variasi.

Velg mobil sport: Rp46.000.000.

Ban impor: Rp28.000.000.

Total pengeluaran: Rp74.000.000.

Pembelian itu dilakukan tepat 2 hari lalu.

Di hari yang sama ketika Rendy menyuruh Maya menghemat uang belanja dapur.

Namun hal paling mengejutkan tertulis di bagian catatan pembayaran:

"Uang muka ditanggung via transfer oleh Ratna Salgado."

Ibu mertuanya, Bu Ratna, dijadwalkan datang pada hari Kamis.

Bu Ratna perlu menginap sementara waktu karena ada perbaikan kebocoran di rumahnya.

Rendy menuntut menu rendang daging, ayam bakar, sup, dan hidangan penutup untuk menyambut ibunya.

Maya menyimpan struk itu, memfotonya dengan ponsel, lalu tidak mengatakan apa-apa.

Hari Kamis tiba.

Menggunakan sisa uang Rp180.000 terakhir, Maya menyiapkan makan malam yang menyebarkan aroma lezat ke seluruh ruangan.

Rendy tersenyum bangga melihat taplak meja putih bersih, piring keramik terbaik, dan wadah saji besar yang tertutup rapat.

"Nah, begini d**g. Kalau mau berusaha pasti bisa," ujar Rendy penuh kepuasan.

Bu Ratna duduk di kursi utama dan menanyakan menu yang dimasak.

Maya melangkah mendekat, lalu mengangkat penutup wadah saji.

Di dalam wadah itu hanya ada cakar ayam, leher, kulit, dan satu tulang sapi besar tanpa ada selapis daging pun.

Lalu Maya meletakkan lembaran struk sebesar Rp74.000.000 tepat di sebelah piring Rendy.

Sebelum ada yang sempat bersuara, layar ponsel Rendy menyala terang di atas meja.

Sebuah notifikasi perbankan muncul dengan nada nyaring:

"Kredit Pribadi Jatuh Tempo: Rp120.000.000. Segera lakukan pembayaran untuk menghindari tindakan penagihan."

Di saat yang sama, pintu depan rumah digedor dengan sangat keras hingga kaca jendela bergetar.

Napas semua orang tertahan saat suara berat dari balik pintu mulai memanggil nama Rendy... 👇👇👇

SAMBIL MEMANJAKAN SELINGKUHAN HAMILNYA, PRIA INI TAK SADAR ISTRINYA SUDAH MENJUAL RUMAH 320 MILIAR, MEMBAWA ANANNYA KABU...
28/07/2026

SAMBIL MEMANJAKAN SELINGKUHAN HAMILNYA, PRIA INI TAK SADAR ISTRINYA SUDAH MENJUAL RUMAH 320 MILIAR, MEMBAWA ANANNYA KABUR, DAN MENYIAPKAN JEBAKAN MEMATIKAN!

Rendy Pratama menyuapkan sendok berisi makanan mewah ke mulut Siska.

Tangannya mengelus perut Siska yang diklaim sedang mengandung calon legally-bound pewaris bisnisnya.

Mereka duduk di penthouse mewah kawasan P*K, Jakarta Utara.

Di sekeliling mereka menumpuk puluhan tangkai bunga impor dan belasan tas desainer mahal.

Semua barang itu dibeli menggunakan kartu kredit korporat perusahaan.

Rendy tersenyum lebar.

Senyum bahagia seperti itu tidak pernah ia tunjukkan saat istrinya hamil dulu.

"Satu suap lagi, demi bayi kita," bisik Rendy lembut.

Siska bersandar di bahu Rendy sambil berpura-pura lelah.

"Kamu sudah 4 jam di sini. Maya tidak curiga?"

Rendy tertawa sinis.

"Maya hidup dari uangku. Rumah, mobil, kartu kredit, semuanya dari aku."

"Dia tahu diri untuk tidak banyak bertanya."

Rendy tidak tahu, pada saat yang sama, gerbang mansion mewahnya di Menteng sudah diganti gembok dan kodenya.

Mansion seharga 320 miliar rupiah yang ia tempati selama 4 tahun terakhir bukan lagi tempat tinggalnya.

Semua jas mahal milik Rendy sudah dipindahkan ke dalam box penyimpanan gudang sewaan.

Akses kartu parkir penghuninya telah dicabut total.

Saat itu, Maya sedang berada di dalam mobil travel menuju Surabaya.

Ia memangku Kenzie, anak laki-laki usia 4 tahun yang masih mengira ayahnya sedang lembur bekerja.

Surat gugatan cerai juga sudah selesai ditandatangani.

Begitu Rendy melangkah keluar dari penthouse, wajah Siska langsung berubah dingin.

Ia mengambil ponsel kedua dari dalam laci meja.

Siska mengetik pesan singkat: "Dia sudah keluar."

Balasan dari Dion, asisten pribadi Rendy, masuk dalam hitungan detik: "Semua sudah siap."

1 jam kemudian, Rendy tiba di depan pintu mansion Menteng.

Ia menempelkan kartu akses miliknya.

Lampu indikator berwarna merah menyala.

Pesan di layar muncul: AKSES DITOLAK.

Rendy menggedor pintu pagar dengan emosi.

Ia mencoba menelepon Maya, lalu mengontak nomor jam tangan pintar Kenzie.

Semua panggilan langsung dialihkan.

Tetangga sebelah rumah, Ibu Santi, berjalan mendekati gerbang.

"Pak Rendy? Saya pikir Bapak sudah tahu."

"Bu Maya sudah menjual rumah ini 3 hari yang lalu."

Rendy tertawa keras, yakin tetangganya sedang melontarkan lelucon konyol.

"Dia tidak punya hak menjual rumah saya!"

Rendy segera menghubungi Dion.

Dion membutuhkan waktu agak lama untuk menjawab, sebelum akhirnya mengonfirmasi kenyataan pahit itu.

"Itu benar, Pak. Sertifikat rumah sepenuhnya atas nama Bu Maya karena dibeli melalui dana wali amanat keluarga beliau."

Dion menyampaikan fakta berikutnya.

Tepat pukul 00:00 hari ini, Maya genap berusia 32 tahun.

Ia resmi menerima hak warisan tunai dari almarhum ibunya senilai lebih dari 820 miliar rupiah.

"Bekukan semua rekening dia sekarang!" perintah Rendy tegas.

"Tidak bisa, Pak. Rekening pribadi Bu Maya tidak terhubung dengan PT Pratama Group," jawab Dion.

Sebelum Rendy sempat mencerna situasi, kabar buruk kedua menghantamnya.

Maya telah membeli 29% saham PT Pratama Group dari para pemegang saham minoritas.

Seorang kurir berseragam rapi berjalan mendekati Rendy.

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.

Di dalamnya terdapat akta jual beli rumah, berkas gugatan cerai, dan selembar kertas bertuliskan tangan:

"Kamu menghabiskan waktu bertahun-tahun memberi tahu aku bahwa semuanya milikmu."

"Sudah waktunya kamu merasakan bagaimana rasanya terkunci di luar rumahmu sendiri."

Rendy belum selesai membaca ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya:

"Pergilah ke rumah orang tuamu. Buka laci paling bawah di ruang kerjamu yang lama."

Untuk pertama kalinya, Rendy menyadari sesuatu.

Istri pendiam yang selama ini selalu ia sepelekan tidak sedang melarikan diri darinya.

Maya telah bertahun-tahun menyiapkan rencana ini agar Rendy menyadari siapa dia sebenarnya... dan apa saja yang bakal hilang dari hidupnya. ..... 👇👇👇

MENANTU HUMILIASI ISTRINYA DI DEPAN SEMUA ORANG TANPA MENYADARI IBU KANDUNG SANG ISTRI TELAH MEMILIH RESTORAN ITU UNTUK ...
28/07/2026

MENANTU HUMILIASI ISTRINYA DI DEPAN SEMUA ORANG TANPA MENYADARI IBU KANDUNG SANG ISTRI TELAH MEMILIH RESTORAN ITU UNTUK MENGAKHIRI 3 TAHUN TEROR KELUARGA!

Ketika Rendy Pratama memegang rambut istrinya dan memaksa kepalanya menunduk di hadapan seluruh keluarga, ruang makan pribadi restoran itu mendadak hening.

Bahkan denting sendok dan garpu tidak lagi terdengar.

"Belajar menghormati ibuku," bisik Rendy sambil menekan rahangnya.

Maya berusia 31 tahun.

Ia seorang perawat di rumah sakit anak di Jakarta Pusat.

Ia sudah 6 tahun menikah dengan Rendy.

Makan malam itu seharusnya merayakan ulang tahun pernikahan mereka.

Namun sebenarnya, acara itu diselenggarakan oleh Bu Rita, ibu mertuanya.

Tujuannya hanya untuk memamerkan kalung emas baru, rencana liburan ke Bali, dan kehidupan mewah yang diklaim diberikan oleh putranya.

Ibu Heni, ibu kandung Maya, tahu fakta sebenarnya.

Kalung emas itu dibeli dengan kartu kredit atas nama Maya.

Liburan ke Bali itu juga dibayar dari rekening Maya.

Sejak 3 tahun terakhir, Rendy mengendalikan seluruh gaji Maya.

Rendy memeriksa ponselnya setiap malam.

Rendy bahkan menentukan berapa ongkos transportasi yang boleh dibawa Maya setiap hari.

Bu Rita tidak pernah melewatkan kesempatan untuk merendahkan Maya.

"Baju yang kamu pakai seperti beli di pasar kaget," sindir Bu Rita.

"Istri yang baik tidak menelantarkan suaminya hanya demi merasa sok sibuk bekerja."

"Dengan gaji yang tidak seberapa itu, kamu masih berani merasa paling penting."

Maya hanya menundukkan kepala dan tersenyum terpaksa.

Setiap kali Ibu Heni hendak bertindak, Maya selalu memberikan tatapan memohon yang sama.

Jangan lakukan apa pun, Ibu.

Nanti keadaannya akan makin buruk.

Ibu Heni menahan diri.

Bukan karena takut.

Ia ingin Rendy merasa benar-benar tidak tersentuh dan berada di atas angin.

Puncak ketegangan terjadi ketika Maya menjelaskan alasannya tidak bisa ikut ke Bali.

Maya mendapat tugas piket pada hari Sabtu.

Bu Rita meletakkan serbetnya dengan kasar lalu tertawa sinis.

"Selalu ada alasan untuk tidak melayani keluarga ini."

"Ada 2 anak dalam kondisi kritis di ruang perawatan, Bu. Saya tidak bisa meninggalkan mereka."

Rendy mendadak berdiri dari kursinya.

Ia menjambak rambut Maya dan menekan wajahnya ke atas meja.

Maya merintih pelan.

Kedua tangannya kaku di samping piring.

Ia tahu bergerak sedikit saja akan membuat Rendy makin marah.

Bu Rita mengangkat gelas minumannya.

"Begitulah cara mendidik istri yang pembangkang."

Pelayan restoran sempat melangkah maju untuk melerai.

Namun Rendy menatapnya dengan tajam sehingga pelayan itu mundur.

Beberapa kerabat yang hadir memilih menundukkan pandangan.

Sebagian lagi berpura-pura sibuk menatap layar ponsel mereka.

Rendy lalu menatap Ibu Heni dengan angkuh.

"Ibu mendidik anak ini untuk melawan suaminya sendiri."

Ibu Heni melipat serbetnya dengan sangat tenang.

Ia berdiri dari tempat duduknya.

"Saya mendidiknya untuk menyadari bahwa rasa takut bukanlah rasa hormat."

Rendy melepaskan genggamannya pada rambut Maya.

"Duduk, Bu. Ini urusan rumah tangga kami."

"Justru karena itu kita ada di sini," jawab Ibu Heni tegas.

"Supaya semua orang melihat bagaimana urusan ini berakhir."

Pada saat itu juga, manajer restoran mengunci pintu utama dari dalam.

2 petugas keamanan berdiri kokoh di depan pintu keluar.

Lampu merah dari 3 kamera pengawas di sudut ruangan terus berkedip.

Wajah Rendy berubah pucat.

Rendy tidak pernah bertanya mengapa Ibu Heni yang memilih restoran tersebut.

Ia tidak tahu mengapa Ibu Heni memesan meja tepat di bawah posisi kamera.

Ia juga tidak tahu mengapa Ibu Heni sudah datang 50 menit sebelum acara dimulai.

Rendy tidak pernah mencari tahu latar belakang Ibu Heni.

Ibu Heni adalah mantan hakim pengadilan keluarga selama 24 tahun.

Ibu Heni menunjuk tas milik Maya.

"Maya, keluarkan map biru itu."

Maya mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

Ketika Rendy melihat map biru itu dikeluarkan, ia menyadari hal yang sangat buruk baru saja dimulai. ........ 👇👇👇 Voir moins

Takut Istri Mengirim Uang Terus ke Keluarganya, Aku Hanya Memberinya Rp3 Juta Sebulan. Tapi Saat Diam-Diam Mengikutinya ...
28/07/2026

Takut Istri Mengirim Uang Terus ke Keluarganya, Aku Hanya Memberinya Rp3 Juta Sebulan. Tapi Saat Diam-Diam Mengikutinya "Pulang Kampung", Aku Melihat Pemandangan yang Mengubah Segalanya...

Dulu aku selalu menganggap diriku sebagai suami yang berpikir jauh ke depan.

Setidaknya... sampai hari ketika aku diam-diam mengikuti istriku p**ang ke kampung halamannya.

Aku dan Sari sudah menikah selama tiga tahun.

Tiga tahun memang bukan waktu yang lama, tetapi cukup bagiku untuk memahami bahwa Sari adalah perempuan yang sangat menyayangi keluarganya... bahkan terkadang sampai membuatku merasa kesal.

Sari adalah anak bungsu dari sebuah keluarga sederhana di Yogyakarta. Ayahnya meninggal sejak lama. Ibunya sudah lanjut usia dan sering sakit-sakitan. Kakak laki-lakinya mengalami kegagalan usaha, sementara kakak perempuannya menikah dan tinggal jauh di Surabaya, dengan kehidupan yang juga pas-pasan.

Saat kami menikah, hanya ada satu permintaan dari Sari.

"Kalau nanti aku sesekali mengirim sedikit uang untuk Ibu, jangan marah ya..."

Saat itu aku langsung mengangguk sambil tersenyum lebar.

"Itu uang hasil kerja kamu. Terserah kamu mau dipakai untuk apa."

Namun kenyataannya tidak semudah ucapan.

Setelah menikah, kami tinggal di Jakarta.

Aku bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan dengan gaji tetap setiap bulan.

Sari bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah perusahaan kecil.

Penghasilan kami sebenarnya cukup untuk hidup nyaman, meski tidak bisa dibilang berlebihan.

Pada awalnya, setiap bulan Sari hanya mengirim sekitar Rp1,5–2 juta kepada ibunya di kampung.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Namun lama-kelamaan jumlah itu naik menjadi Rp3 juta, bahkan ada bulan yang mencapai Rp4 juta.

Aku mulai merasa tidak nyaman.

Bukan karena aku pelit.

Aku hanya merasa semuanya tidak adil.

Keluargaku di kampung juga bukan orang berada.

Orang tuaku masih tinggal di Semarang, tetapi aku sendiri tidak pernah mengirim uang sebanyak itu.

Sementara biaya kontrakan, listrik, makan, kendaraan, hingga tabungan darurat sebagian besar berasal dari penghasilanku.

Suatu malam, akhirnya aku bertanya terus terang.

"Kenapa kamu kirim uang sebanyak itu terus? Kapan kita bisa benar-benar menabung?"

Sari terdiam cukup lama sebelum menjawab lirih.

"Kondisi keluargaku memang lebih sulit..."

Jawaban itu justru membuat emosiku semakin naik.

"Susah juga ada batasnya, kan? Masa setiap bulan hampir semua uang kamu dikirim ke sana?"

Sari tidak membantah.

Ia hanya menundukkan kepala.

Entah kenapa, sikap diamnya itu justru membuatku merasa seperti orang yang paling egois di dunia.

Sejak malam itu, aku mengambil keputusan sendiri.

Aku mengatakan kepada Sari bahwa mulai sekarang aku yang akan mengatur seluruh keuangan rumah tangga.

Setiap bulan aku hanya akan memberinya Rp3 juta untuk kebutuhan pribadinya... termasuk kalau ia ingin mengirim uang kepada keluarganya.

Sari tidak membantah.

Ia hanya menatapku dan bertanya pelan.

"Kamu yakin dengan keputusan ini?"

Aku mengangguk mantap.

Sangat yakin.

Sejak hari itu, setiap bulan aku hanya memberinya Rp3 juta.

Tidak pernah lebih.
Terima kasih sudah menemaniku sampai di sini 🙌📖 Ini baru permulaan… Bagian selanjutnya ada di kolom komentar 👇🔥 Jika tidak terlihat, ketuk “Lihat semua komentar”👇👇

Menyewa Tetangga untuk Merawat Suami yang Lumpuh dengan Bayaran Rp300 Ribu per Malam. Namun, pada Malam Kelima, Aku Mend...
28/07/2026

Menyewa Tetangga untuk Merawat Suami yang Lumpuh dengan Bayaran Rp300 Ribu per Malam. Namun, pada Malam Kelima, Aku Mendapat Telepon: “Dia Sedang Menindih Suamimu!” Saat Aku Pulang, Pemandangan di Depanku Membuatku Terpaku...

Namaku Laras, 35 tahun, bekerja sebagai buruh jahit di sebuah kawasan industri di Bekasi, Indonesia. Suamiku, Ardi, dulunya pria yang sehat, lembut, dan sangat menyayangi istri serta anak-anaknya. Namun setahun lalu, ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuatnya lumpuh sebagian tubuh.

Sejak hari itu, rumah kecil kami seolah tenggelam dalam kesunyian.

Setiap pagi aku berangkat kerja sebelum matahari terbit dan sering baru p**ang larut malam. Sep**ang kerja, aku masih harus menyiapkan obat, memasak bubur, dan membersihkan tubuh Ardi. Pada bulan-bulan pertama aku masih sanggup bertahan, tetapi lama-kelamaan tubuhku mulai kelelahan. Pernah suatu malam, setelah selesai memandikan dan mengganti pakaian Ardi, aku tertidur bersandar di sisi ranjang karena benar-benar kehabisan tenaga.

Melihat kondisiku, Bu Rina, tetangga yang tinggal persis di sebelah rumah, berusia hampir 40 tahun dan hidup seorang diri, menawarkan bantuan.

"Kamu sudah capek kerja seharian. Biar saya yang menjaga Pak Ardi setiap malam. Saya pernah merawat orang sakit. Bayarnya saja Rp300 ribu semalam."

Menurutku tawaran itu masuk akal. Aku juga mengenalnya sebagai orang yang pendiam dan baik hati, jadi aku menyetujuinya.

Pada beberapa malam pertama, aku terus mengirim pesan untuk memastikan keadaan di rumah. Jawaban Bu Rina selalu sama.

"Pak Ardi sudah tidur nyenyak. Kamu tenang saja."

Bahkan Ardi sempat berkata kepadaku,

"Bu Rina pandai bercerita. Rasanya malam jadi tidak terlalu sepi."

Aku merasa lega. Setidaknya, saat aku bekerja, suamiku punya teman berbicara sehingga tidak terlalu kesepian.

Namun, pada malam kelima, semuanya berubah.

Sekitar pukul sebelas malam, saat aku sedang lembur di pabrik, ponselku berdering berkali-kali. Yang menelepon adalah Bu Sari, tetangga yang rumahnya berada tepat di belakang kami. Suaranya terdengar panik.

"Laras! Cepat p**ang! Tadi saya lihat dari jendela... Bu Rina sedang berada di atas tubuh suamimu!"

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Aku langsung meletakkan pekerjaanku, berlari keluar pabrik meski hujan turun sangat deras. Jarak dari kawasan industri ke rumah sebenarnya tidak sampai dua kilometer, tetapi malam itu rasanya begitu jauh.

Sesampainya di rumah, pintu gerbang terbuka lebar. Cahaya lampu kamar memancar keluar melalui jendela.

Aku berlari masuk.

Pemandangan yang kulihat di depan mataku membuatku benar-benar terpaku.
Terima kasih sudah mengikuti! Jika Anda ingin membaca cerita selengkapnya, Anda bisa mengklik tautan yang saya berikan di kolom komentar! 👇

Tabungan terakhir seorang nenek penjual lemper ketan dirampas di tengah hujan deras hingga ia menangis tersedu-sedu di t...
28/07/2026

Tabungan terakhir seorang nenek penjual lemper ketan dirampas di tengah hujan deras hingga ia menangis tersedu-sedu di tengah pasar. Namun ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya dan seorang pria turun dari dalamnya, tubuhnya langsung membeku karena syok...

Selama bertahun-tahun, setiap hari Bu Sulastri berjualan lemper ketan di depan terminal angkot tua di Surabaya. Ia selalu menyisihkan satu bungkus yang masih hangat untuk seorang anak tukang semir sepatu yang sering tidak makan seharian. Hanya sebungkus makanan sederhana dan beberapa kata perhatian, tetapi itulah yang menjadi penyemangat anak itu untuk bertahan melewati masa-masa paling sulit dalam hidupnya.

Beberapa tahun kemudian, anak itu meninggalkan kota demi mencari masa depan yang lebih baik.

Hampir dua puluh dua tahun berlalu. Kini Bu Sulastri telah renta. Ia tidak lagi memiliki keluarga dan berjalan pun sudah tertatih-tatih. Namun setiap hari ia tetap berjualan lemper ketan di bawah hujan agar masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu hari, seorang pria kaya tiba-tiba datang. Saat mata mereka saling bertemu, seluruh pasar seolah mendadak sunyi.

"Berhenti Kembalikan kantongku Itu satu-satunya uang yang masih kumiliki"

Teriakan putus asa nenek itu menggema di tengah ramainya pasar tradisional pada sore hari.

Bu Sulastri berusaha mengejar kantong kain lusuh yang dibawa penjambret. Namun tenaganya sudah tidak kuat. Kakinya terpeleset di lantai semen yang licin karena hujan. Sekali tarikan keras membuat tubuhnya terjatuh ke tanah.

Tampah berisi lemper ketannya ikut terlempar.

Lemper yang masih hangat berserakan di lantai pasar yang berlumpur. Aroma harum ketan langsung bercampur dengan bau lumpur dan air hujan.

Penjambret itu berlari sangat cepat lalu menghilang di tengah kerumunan.

Beberapa orang sempat menoleh.

Ada yang mencoba mengejarnya tetapi ia sudah lenyap di balik deretan kios pakaian.

Ada p**a yang membantu Bu Sulastri berdiri.

Namun tidak sedikit yang hanya menggeleng lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka.

Bu Sulastri tetap duduk di tanah yang basah sambil menatap ke arah penjambret itu melarikan diri.

Uang di dalam kantong itu memang tidak banyak.

Hanya beberapa juta rupiah.

Tetapi itulah seluruh tabungan yang berhasil ia kumpulkan selama berhari-hari berjualan.

Uang itu rencananya untuk membeli beras.

Membeli obat.

Dan memenuhi kebutuhan hidup beberapa hari ke depan.

Satu per satu ia memungut lemper yang sudah terkena lumpur. Tangannya gemetar dan berkali-kali makanan itu terjatuh lagi dari genggamannya.

Tak lama kemudian ia benar-benar menangis.

"Sudah habis... semuanya sudah habis..."

Seorang penjual sayur segera menghampirinya.

"Bu Apakah Ibu baik-baik saja"

Bu Sulastri hanya menggeleng pelan sementara air matanya terus mengalir di wajahnya yang penuh keriput.

"Tidak apa-apa... aku hanya memikirkan... bagaimana aku bisa berjualan lagi besok..."

Suaranya sangat lirih.

Karena keesokan harinya di kamar kontrakan kecilnya di sebuah gang sempit kawasan Tambora Jakarta Barat sudah tidak ada lagi sebutir beras pun yang tersisa.

Ia juga tidak memiliki uang untuk membeli bahan dagangan.

Usianya sudah tua.

Suaminya telah lama meninggal.

Ia tidak memiliki anak.

Juga tidak mempunyai kerabat yang bisa diandalkan.

Selama bertahun-tahun satu-satunya sumber penghasilannya hanyalah menjual lemper ketan setiap hari.

Kalau dagangannya laris ia bisa makan dengan layak.

Kalau sepi pembeli ia hanya bertahan dengan minum air.

Ia menatap panci kukusan tuanya yang sudah penyok di sampingnya lalu tersenyum pahit.

"Mungkin... memang sudah waktunya aku berhenti..."

Tepat pada saat itu terdengar suara halus mesin kendaraan dari luar pasar.

Sebuah SUV hitam mewah perlahan berhenti di tepi jalan.

Pintunya terbuka.

Seorang pria mengenakan kemeja putih turun dari dalam mobil.

Usianya sekitar tiga puluh delapan tahun. Tubuhnya tinggi, berpakaian rapi, dan pembawaannya langsung membuat semua orang sadar bahwa ia adalah sosok yang sangat sukses.

Namun bukan mobil mewahnya yang pertama kali menarik perhatian orang-orang.

Melainkan tatapan matanya.

Begitu melihat Bu Sulastri yang duduk di tanah yang basah, ia langsung terdiam.

Tatapannya tertuju pada rambut putih sang nenek.

Pada tangan kurus yang gemetar.

Pada panci kukusan tua itu.

Lalu ia melihat lemper yang berserakan di atas lumpur.

Perlahan wajahnya berubah.

Bibirnya mulai bergetar.

"Ibu..."...BAGIAN2👇

PRIA PALING DITAKUTI DI JAKARTA BERJANJI MENIKAHI SIAPA PUN YANG MENYEMBUHKAN PUTRANYA, NAMUN SEORANG PELAYAN MISKIN MEN...
28/07/2026

PRIA PALING DITAKUTI DI JAKARTA BERJANJI MENIKAHI SIAPA PUN YANG MENYEMBUHKAN PUTRANYA, NAMUN SEORANG PELAYAN MISKIN MENEMUKAN RAHASIA KELAM DI BALIK KEBISUAN ANAK ITU!

"Siapa pun yang berhasil membuat putraku bicara lagi akan mendapat setengah dari kekayaanku... dan berhak memakai nama keluargaku."

Janji Adrian Pratama bergema di aula megah kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat.

Ucapan itu terasa seperti ancaman yang dibungkus mukjizat.

Di hadapannya berdiri para dokter, pejabat, dan pengusaha kelas atas.

Tidak ada satu pun yang berani tertawa.

Adrian adalah pemilik jaringan hotel, pengembang properti, dan perusahaan transportasi raksasa.

Di balik namanya, beredar rumor kelam yang tidak pernah berani diucapkan orang secara terbuka.

Namun malam itu, dia hanya terlihat seperti seorang ayah yang putus asa.

Putranya, Elang, yang berusia 6 tahun, sudah 9 bulan tidak mengucapkan satu kata pun.

Kebisuan itu dimulai sejak kematian mendadak ibunya, Vania.

Elang menyaksikan sendiri ibunya mendadak pingsan di dapur saat menyiapkan nasi goreng.

Sejak hari itu, Elang selalu tidur memeluk boneka kelinci putih.

Dia sering menatap taman belakang rumah seolah menunggu seseorang p**ang.

Spesialis ternama dari Surabaya, Singapura, hingga Australia telah gagal membantunya.

Sementara itu, beberapa kilometer dari kawasan Menteng, Maya Pertiwi menyeka meja restoran kecil di kawasan Tanah Abang.

Maya berusia 29 tahun.

Malam itu dia hanya memakai jaket tipis pinjaman dan menyimpan uang 186.000 rupiah di dompetnya.

Mantan suaminya menghilang setelah kalah dalam taruhan judi gelap.

Pria itu meninggalkan tumpukan utang dan menelantarkan Maya di hadapan para penagih utang yang kasar.

Malam itu, 2 pria berbadan tegap mencegat Maya di depan pintu belakang restoran.

"Pak Aksa menagih utang 240.000.000 rupiah."

"Uang itu bukan saya yang pakai," sahut Maya tegas.

"Tapi kamu masih tercatat sebagai istrinya. Kalau dia kabur, kamu yang bayar."

Salah satu dari mereka mendorong Maya hingga punggungnya membentur pintu besi.

Mereka memberinya tenggat waktu 10 hari.

Maya berjalan p**ang ke kamar sewaannya yang sempit dengan sudut bibir memar.

Dia menggenggam erat gelang plastik kecil milik Kirana.

Kirana adalah putrinya yang meninggal pada usia 4 tahun karena kelainan jantung bawaan.

Sebelum bekerja sebagai pelayan restoran, Maya adalah seorang terapis wicara profesional.

Dia bahkan mempelajari Bahasa Isyarat Indonesia untuk berkomunikasi dengan putrinya semasa hidup.

Keesokan harinya, Maya melihat iklan di surat kabar:

"Dibutuhkan pekerja rumah tangga internal untuk kediaman pribadi. Gaji tinggi. Kerahasiaan mutlak."

Alamat yang tertera merujuk pada rumah keluarga Pratama di Menteng.

Maya memutuskan untuk melamar.

Bi Inah, pengelola rumah tangga, langsung menjelaskan aturan ketat begitu Maya melangkah masuk.

"Jangan bertanya. Jangan mendengarkan. Jangan masuk ke ruang kerja Tuan Adrian. Dan jangan pernah mendekati Elang."

Selama 6 hari pertama, Maya mematuhi semua instruksi itu dengan tertib.

Namun, Elang mulai memperhatikannya dari kejauhan.

Suatu sore di ruang tengah, boneka kelinci milik Elang terjatuh dan bergulir ke dekat kaki Maya.

Maya berlutut pelan, mengambil boneka itu, lalu menggerakkan jemarinya.

Dia membentuk isyarat: "Teman."

Mata Elang terbuka lebar.

Anak kecil itu menatap tangan Maya tanpa berkedip.

Perlahan, jemari kecil Elang mencoba meniru gerakan yang sama.

Tiba-tiba, pengasuh pribadi Elang datang dengan wajah marah dan menarik tangan anak itu dengan kasar.

Pengasuh itu mengusir Maya dari ruangan.

Malam itu juga, Adrian memanggil Maya ke ruang kerjanya.

Di atas meja kayu jati, sebuah layar monitor menampilkan rekaman CCTV sore tadi.

"Beri saya satu alasan kenapa saya tidak boleh memecatmu malam ini," kata Adrian dingin.

Maya menatap mata Adrian tanpa rasa takut.

"Karena putra Anda tidak kosong. Dia hanya terjebak."

Adrian menatapnya tajam.

"Kamu pikir kamu bisa membuatnya bicara lagi?"

"Tidak," jawab Maya pelan. "Tapi saya bisa mengajarinya bahwa ada orang yang mau mendengarkannya."

Adrian hening sejenak.

Ruang kerja itu terasa sangat sunyi.

Kemudian, Adrian menurunkan nada suaranya.

"Mulai besok, lakukan tugasmu."

Maya mengangguk, merasa baru saja mendapat jalan keluar dari kesulitan hidupnya.

Dia belum menyadari bahwa di dalam rumah mewah itu, menolong Elang berarti menantang kekuatan besar yang sanggup menghancurkannya..... 👇👇👇

Pacarku merebut mobil yang sudah kupesan demi mengantar primadona kampus ke stasiun, lalu mengancam menggunakan kekuasaa...
28/07/2026

Pacarku merebut mobil yang sudah kupesan demi mengantar primadona kampus ke stasiun, lalu mengancam menggunakan kekuasaan ayahnya untuk mengeluarkanku dari universitas… tetapi dia sama sekali tidak tahu bahwa gadis “kampungan” yang selalu dia rendahkan sebenarnya memiliki identitas yang cukup untuk membuat wajahnya dan ayahnya seketika berubah pucat.

Bagian 1

“Pokoknya mobil itu dipakai Nadia dulu. Kamu naik sepeda sewaan saja ke stasiun.”

Raka mengatakannya tepat pada pagi pertama libur panjang Hari Kemerdekaan, seolah mobil yang sudah kupesan sejak tiga hari lalu memang miliknya.

Aku menatap koper besar di samping kakiku, lalu menatap layar ponsel.

Beberapa menit sebelumnya, Nadia—primadona kampus kami—baru saja mengunggah tulisan di akun komunitas kampus.

“Pesona seorang laki-laki itu terlihat dari kemampuannya menyelesaikan masalah. Saat satu kampus kesulitan dapat kendaraan, aku sudah hampir sampai stasiun. Sampai jumpa setelah liburan, semuanya~”

Di bawah unggahan itu, beberapa mahasiswa yang sejak lama s**a menjodoh-jodohkan Nadia dan Raka langsung menandai akunku.

Ada yang menyebutku pengganggu.

Ada yang bilang aku badut yang tidak tahu diri.

Bahkan ketika teman sekamarku, Wulan, mencoba membelaku, dia ikut diserang sampai matanya memerah menahan tangis.

Aku menyerahkan tisu kepadanya.

“Jangan menangis.”

Lalu aku membuka aplikasi transportasi di ponsel.

“Lihat saja. Kalau aku batalkan perjalanan ini sekarang, Nadia juga tidak akan sampai stasiun.”

Wajah Raka langsung berubah.

“Kalau kamu berani membatalkannya, aku akan minta kampus menghapus statusmu sebagai mahasiswa.”

Wulan buru-buru menarik ujung lenganku.

“Maya, jangan gegabah. Semua orang tahu Raka anak rektor. Kalau dia bilang bisa melakukan sesuatu, mungkin dia benar-benar bisa.”

Dia menelan ludah.

“Sudahlah. Minta maaf saja. Anggap masalah ini selesai.”

Mendengar itu, Raka kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.

Dia menatapku dari atas ke bawah.

“Kamu tahu berapa banyak orang yang mau mengantar Nadia ke stasiun?”

“Sekarang dia bersedia naik mobil yang kamu pesan saja seharusnya kamu merasa dihargai. Bukannya berterima kasih, malah bikin masalah.”

Aku tertawa pendek.

“Berterima kasih?”

“Aku yang memesan mobil. Dia mengambilnya tanpa izinku, lalu aku yang harus berterima kasih?”

Aku menunjuk koper besar di sampingku.

“Sekalian saja aku nggak usah p**ang. Aku pergi ke Borobudur, bawa p**ang patung besar, lalu kusuruh duduk di atas kepalaku supaya aku bisa belajar jadi orang yang lebih sabar.”

Beberapa mahasiswa yang lewat menahan tawa.

Wajah Raka memerah.

Aku tidak memberinya kesempatan bicara lagi.

Aku langsung menelepon pengemudi mobil yang kupesan.

“Pak, penumpang yang Bapak bawa bukan orang yang memesan perjalanan. Saya pemilik akun dan saya tidak pernah memberikan izin. Tolong hentikan perjalanan dan selesaikan masalah ini dulu. Kalau tidak, saya akan melaporkan bahwa kendaraan saya digunakan untuk membawa orang tanpa persetujuan pemesan.”

Belum selesai aku berbicara, Raka merebut ponsel dari tanganku.

Jari-jarinya mencengkeram begitu kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat.

“Maya, kamu sudah gila?”

“Kamu sadar nggak apa yang sedang kamu lakukan?”

Setelah membentakku, suaranya tiba-tiba berubah lembut ketika berbicara melalui telepon.

“Nadia, jangan takut. Maya lagi emosi saja.”

Lalu dia berbicara kepada pengemudi.

“Pak, tolong antar Nadia sampai stasiun dengan aman. Nanti saya bayar dua kali lipat.”

Dia memutus panggilan.

Detik berikutnya, ponselku dilempar ke lantai.

Sudut ponsel itu menghantam pergelangan kakiku sebelum jatuh.

Rasa nyeri menjalar sampai betisku.

“Kamu ribut cuma gara-gara ongkos Rp80.000?”

Raka menatapku seolah akulah orang paling memalukan di tempat itu.

“Kalau Nadia sampai ketinggalan kereta dan keluarganya khawatir, kamu mau bertanggung jawab?”

Aku mengangkat wajah.

“Lalu keluargaku?”

“Apa kamu tidak pernah berpikir mereka juga akan khawatir kalau aku tidak sampai rumah?”

Tatapan Raka sempat goyah.

Hanya sesaat.

Kemudian dia meninggikan suara.

“Itu beda.”

“Nadia dibesarkan di kota. Dia seperti putri yang selalu dijaga keluarganya.”

“Sedangkan kamu?”

Dia tertawa meremehkan.

“Kamu tumbuh di daerah kecil. Dari dulu juga terbiasa mengurus semuanya sendiri. Sedikit kesulitan memangnya kenapa?”

Tanganku perlahan mengepal.

Raka mendekat dan menurunkan suaranya.

“Kamu terus melawanku begini karena mau memaksaku putus sama kamu?”

Dia mengatakannya pelan, seperti takut mahasiswa lain mendengar bahwa kami sebenarnya berpacaran.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini sengaja kuabaikan.

Selama hampir setahun, Raka selalu meminta hubungan kami dirahasiakan.

Katanya dia tidak s**a menjadi bahan gosip.

Katanya dia ingin melindungiku dari perhatian orang lain.

Namun setiap kali bersama Nadia, dia tidak pernah keberatan difoto, dijodoh-jodohkan, atau dipuji sebagai pasangan paling serasi di kampus.

Aku memungut ponselku.

Layarnya retak di sudut.

Aku berjalan mendekatinya.

“Raka, bukan aku yang memaksamu mengakhiri hubungan ini.”

“Kamulah yang memilih melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap pacarmu sendiri.”

Aku menatap tepat ke matanya.

“Sekarang aku yang mau putus.”

“Dengar baik-baik.”

“Aku mencampakkanmu.”

Mata Raka membesar.

Sebagai anak rektor yang sejak kecil terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, mungkin tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa seseorang seperti aku akan meninggalkannya lebih dulu.

Wajahnya berubah merah.

Tangannya terangkat.

“Kamu berani mencampakkan aku?”

“Belum pernah ada orang yang memperlakukanku begini. Kamu cari masalah, ya?”

Aku tidak mundur.

“Silakan pukul.”

Aku mengangkat ponsel yang retak.

“Aku yakin berita ‘anak rektor memukul mahasiswi di kampus’ akan lebih menarik daripada semua unggahan romantis tentang kamu dan Nadia.”

“Aku bahkan berani bertaruh, satu kampus akan membicarakannya.”

Tangannya berhenti di udara.

Beberapa mahasiswa sudah berdiri tidak jauh dari kami.

Akhirnya dia menurunkannya.

Aku menggoyangkan ponsel di tanganku.

“Kalau tidak punya keberanian menanggung akibatnya, jangan sok berkuasa.”

“Ponsel ini baru kubeli dua minggu lalu. Kamu merusaknya, jadi kamu harus mengganti biaya perbaikannya.”

“Kalau tidak, aku tidak keberatan membuat laporan resmi.”

Raka memutar matanya.

Pada detik berikutnya, tatapannya dipenuhi penghinaan.

“Jadi ujung-ujungnya uang.”

“Dasar perempuan kampungan. Pantas saja nggak pernah kelihatan berkelas.”

Dia tersenyum sinis.

“Oh iya, tanganku tadi sampai sakit gara-gara melempar ponselmu.”

“Cepat minta maaf kepadaku.”

“Kalau suasana hatiku membaik, mungkin aku masih cukup murah hati untuk memaafkanmu.”

Aku hampir tertawa karena marah.

Raka sama sekali belum menyadari bahwa orang yang baru saja dia ancam akan dikeluarkan dari kampus adalah putri ketua yayasan yang menaungi universitas tempat ayahnya bekerja sebagai rektor.

Terima kasih sudah membaca sampai di sini 🙌📖 Kisah ini baru saja dimulai… Bagian 2 sudah ada di kolom komentar 👇🔥 Jika belum terlihat, klik “Lihat semua komentar” 💬✨

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when I-hujan musim panas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share