22/08/2026
BAYI JELMAAN
Di sebuah desa, di pinggiran kaki gunung…
Tinggalah sepasang suami istri yang sangat bahagia dengan pernikahan mereka.
Dialah Kang Wira dan Yu Sekar si kembang desa.
Namun telah 10 tahun lamanya pasangan ini mendambakan seorang anak.
Berbagai cara telah mereka tempuh, demi keinginan menimang buah hati.. namun belum juga ada hasil.
Sampai akhirnya mereka mendatangi seorang dukun. “Apapun syaratnya akan kami penuhi mbah.. asal istri saya bisa hamil” begitulah kata kang Wira kepada Dukun tersebut.
Yu Sekar hanya mengangguk penuh harap.
Lalu Dukun itu melakukan ritualnya..
Berapa minggu kemudian Yu Sekar hamil dan ini menjadi saat yang paling membahagiakan dalam pernikahan mereka setelah penantian 10 tahun lamanya.
Saat yang di nantikan telah tiba, bayi itu lahir dengan sehat dan selamat.
Kang Wira dan Yu Sekar, merawat bayinya dengan penuh kasih sayang. Yu Sekar menyusui bayinya siang dan malam tanpa lelah.
Hari demi hari Kang Wira memperhatikan istrinya, yang semakin hari semakin terlihat kurus dan lelah.. “ Dek kalau lelah istirahatlah, makan yang banyak biar badannya berisi lagi dek.. akang liat adek makin kurus loh”
Yu Sekar hanya tersenyum..
Hingga hari beganti minggu tidak hanya badan Yu Sekar yang makin kurus, tapi wajah dan penampilannya makin terlihat seperti tak ter urus.
Kang Wira mulai prihatin melihat kondisi istrinya, dia takut istrinya kelelahan dan jatuh sakit.
Melihat kondisi itu Kang Wira berniat mempekerjakan Emak Encum dari desa sebelah, untuk membantu istrinya. Lagi p**a Emak Encum memang sudah biasa merawat bayi.
Dan siang itu Emak Encum datang ke rumah Kang Wira dan Yu Sekar.
Emak Encum kaget sekaligus prihatin saat melihat Yu Sekar yang dulu cantik si kembang desa, kini terlihat kurus, wajahnya pucat, matanya cekung seperti orang sakit..
“Masuk Mak.. itu bayinya lagi tidur” Yu Sekar mempersilahkan Emak Encum masuk dan melihat bayinya.
Dan untuk kedua kalinya Emak encum di buat kaget, saat melihat bayi mareka..
“Ee.. Eee.. anu Kang, maaf bisa kita bicara sebentar” Emak Encum berusaha menyembunyikan kegugupannya..
“Oh iya Mak.. tadi kita belum bicara masalah gaji ya” sahut Kang Wira.
Lalu saat di luar, “maaf Kang.. ini bukan masalah gaji, tapi kalau bayi yang ini sepertinya saya tidak bisa merawatnya” suara Emak Encum bergetar.
“Emang kenapa Mak?.. bayi ya bayi sama aja Mak.. tolong ya mak..” Kang Wira memohon
Emak Encum memelankan suaranya dan berbisik kepada Kang Wira “kalau Kang Wira ingin tahu kebenarannya, nanti malam jam 12 tepat, suruh istrimu menyusui bayi itu Kang… jangan bersuara sedikitpun.. dan intip saja dari balik tirai kamar saat istrimu menyusui”
“Nanti Kang Wira akan mengerti, kenapa saya tidak berani menerima tawaran Kang Wira membantu merawat bayi itu, walau di bayar emas sekalipun” lanjut Emak Encum yang kemudian pamit p**ang..
Kang Wira yang bingung tapi penasaran mendengar kata-kata Emak Encum, akhirnya memutuskan untuk menuruti apa yang di katakan Emak Encum tadi. Jam 12 malam Kang Wira membangunkan istrinya dan menyuruhnya untuk menyusui bayi nya itu “Dek.. bangun itu anaknya waktunya minum ASI”
Lalu Kang Wira keluar kamar, tanpa bersuara dia mengintip dari balik tirai dan memperhatikan istrinya yang mulai menyusui walau terlihat mengantuk. Dan betapa kagetnya Kang Wira.. ternyata bayi yang di susui oleh istrinya itu adalah seekor ulat pohon yang sangat besar, seukuran bayi berwarna hijau dan ulat itu menyusu dengan sangat rakusnya..
Sontak Kang Wira masuk ke kamar dan mengambil bayi jelmaan ulat pohon itu. “Dek sudah istirahat saja ya.. biar Akang yang gendong” Kang Wira berusaha menahan emosi agar istrinya tak curiga. Dia pandangi bayi jelmaan ulat itu
“Besok akan aku kembalikan kamu kepada Dukun itu” ucap Kang Wira dalam hati
Esoknya subuh-subuh, Kang Wira mencari alasan akan membawa bayi itu untuk ruwatan di rumah Emak Encum. “Dek kata Emak Encum kemarin bayi ini harus di ruwat untuk menghindari bala’ dan sawan, Akang hari ini sudah janjian sama Emak.. adek tidak usah ikut, istirahat saja ya.. adek kelihatan kurang sehat juga”
Yu Sekar sebenarnya tidak tega, tapi karena dia merasa kelelahan dan kurang sehat.. Yu Sekar hanya nurut saja apa yang di katakan suaminya
“Hati-hati ya Kang.. maafin adek tidak bisa nemenin akang” kata Yu Sekar matanya tampak berkaca-kaca
Dinginnya pagi itu masih menusuk tulang.. tapi Kang Wira sudah bertekad menemui Dukun itu.
Ketika sampai di rumah Dukun itu, Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon.. bayi jelmaan yang di gendong Kang Wira bergerak menggeliat sangat kuat seolah memberontak. Kang Wira panik, dan tiba-tiba bayi jelmaan itu menampakkan wujud aslinya.. ulat pohon yang sangat besar berwarna hijau.. dan dia melompat secepat kilat dari gendongan Kang Wira lalu menempel di pohon beringin besar yang ada di halaman rumah Dukun itu. Dan menghilang menuju kegelapan.
Kang Wira hanya tercengang melihat kejadian itu.. matanya tak berkedip, tubuhnya terpaku.. krieeeek” terdengar suara pintu di buka. “Sudah sadar kau rupanya?” Suara Dukun itu mengagetkan Kang Wira.
“Mbah.. maksudnya apa ini mbah? Apa yang telah mbah lakukan terhadap kami??” Tanya Kang Wira dengan suara bergetar.
“Aku hanya melakukan yang kalian minta.. melihat keputus asaan kalian, membuatku lancang membuka portal yang seharusnya terap tertutup.” Dukun itu tertunduk
“Lalu yang selama ini yang kami rawat dan kami besarkan dengan penuh kasih sayang itu siapa mbah ?” Suara Kang Wira bergetar
“Dia bukan anakmu, ada sesuatu yang ikut masuk ketika aku melakukan ritual itu. Syukurlah kalian merawatnya dengan baik, sekarang p**anglah.. biar aku membereskan semuanya” pungkas Dukun itu, lalu dia menghilang di balik pintu rumahnya.
Kang Wira p**ang dengan perasaan campur aduk, sesampai di rumah dia menceritakan semua kepada istrinya Yu Sekar..
Beberapa bulan berlalu, Yu Sekar pulih dan kembali segar seperti dulu lagi. Tapi ada harga yang harus di bayar atas keinginan yang di paksakan, mereka tidak bisa lagi mempunyai keturunan.
Di lain hari diam-diam Kang Wira mendatangi rumah dukun itu bermaksud ingin mengucapkan permintaan maaf yang belum sempat dia sampaikan. Tapi rumah Dukun tersebut seperti hilang di telan bumi. Yang tersisa, hanya pohon beringin besar yang menjadi saksi bisu kejadian saat itu.
Keinginan yang besar harus diimbangi dengan kebijaksanaan, karena keputusan yang diambil tanpa pertimbangan dapat berakhir menjadi penyesalan. Namun seberat apa pun kehilangan, kasih sayang dan keikhlasan akan membantu seseorang untuk bangkit dan melanjutkan hidup.