28/04/2026
Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membawa b4yi kami, lalu dia mengirim sebuah pesan anc4man yang membuatku....
Bab 4
Malam harinya, suasana makin riuh. Kami semua berkumpul di ruang makan yang penuh dengan hidangan. Ada opor, sambal goreng ati, dan emping renyah buatan Ibu. Nuri akhirnya keluar. Dia memakai bedak cukup tebal, menutupi bekas jariku di pipinya. Dia duduk di sampingku, diam seribu bahasa, hanya bergerak saat menyendokkan nasi ke piringku.
"Wah, Nuri makin cantik ya setelah tinggal di Jakarta," puji Pakde sambil terkekeh.
Aku tersenyum bangga, menepuk bahu Nuri. "Iya, Pakde. Di Jakarta kan perawatannya beda."
Aku melirik Nuri, berharap dia memberikan senyum manis atau setidaknya ikut menimpali. Tapi dia tetap membisu. Dia hanya makan sedikit, lalu sibuk menyuapi bubur untuk Arzan yang duduk di pangkuannya. Ibu sesekali melirik sinis ke arah Nuri, mungkin masih kesal soal ua ng tadi pagi, tapi Ibu juga pintar berakting di depan tamu. Beliau tetap menyuruh Nuri tambah lauk seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja.
"Yusman, nanti habis lebaran rencananya mau langsung balik Jakarta atau gimana?" tanya Pakde lagi.
"Rencananya seminggu di sini, Pakde. Biar puas ketemu Ibu," jawabku mantap.
Tiba-tiba, Nuri bersuara. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat meja makan mendadak hening. "Mas, aku mau ke minimarket sebentar di depan. Popok arzan habis, minyak telon dan bedaknya juga."
Aku mengernyit. "Sekarang? Ini sudah jam delapan malam, Nur. Besok saja."
"Nggak bisa, Mas. Takutnya Arzan bangun tengah malam terus popoknya habis, nanti dia rewel dan ganggu tidur Ibu," jawab Nuri tenang. Matanya menatapku lurus, tidak ada ketakutan seperti tadi pagi.
Aku menimbang sejenak. Benar juga sih, kalau Arzan menjerit-jerit tengah malam karena popoknya penuh, Ibu pasti bakal ngomel lagi. Dan jujur saja, aku malas bangun malam-malam buat menenangkan ba yi.
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Naik motor Bapak saja di depan, kuncinya ada di tembok," kataku sambil kembali menyendok rendang.
"Aku jalan kaki saja, Mas. Dekat, kok. Sekalian cari angin biar nggak pusing," Nuri bangkit, menggend**g Arzan dengan kain jarik warna hijau.
"Loh, ba yinya dibawa? Malem-malem loh ini, Nur," tegur Ibu.
"Iya, Bu. Arzan lagi manja, kalau ditaruh pasti rewel lagi. Cuma sebentar kok ke depan," sahut Nuri pelan.
Ibu mendengus, "Ya sudah, sana. Hati-hati, jangan keluyuran."
Nuri mengangguk, menyalami Ibu, Pakde, dan Budhe. Saat dia menyalamiku, aku merasa tangannya sangat dingin. Aku tidak curiga. Sama sekali tidak. Kupikir itu karena dia habis cuci tangan barusan, air sumur di sini memang sedingin es.
"Cepat ya, jangan mampir-mampir," pesanku pendek.
Nuri hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar melewati pintu depan. Aku kembali asyik mengobrol dengan Pakde tentang harga tanah di Jakarta yang makin gi la. Aku merasa hidupku sempurna malam itu. Perut kenyang, keluarga kumpul, dan istri yang akhirnya menurut meskipun sempat "mogok" bicara.
Setengah jam. Satu jam. Dan kini hampir dua jam sejak Nuri pamit ke mini market, ia belum juga kembali. Aku mulai melirik jam dinding di ruang tamu. Gelisah? Pasti. Tapi aku berusaha untuk tenang. Nuri bukan ana k kecil. Dia ngak mungkin kesasar.
"Yusman, istrimu kok lama banget?" tanya Ibu, mulai tidak sabar.
"Mungkin antre di kasir, Bu. Kan malam lebaran begini biasanya ramai," jawabku menenangkan diri sendiri.
Tapi hatiku mulai tidak tenang. Aku keluar ke teras, menatap jalanan desa yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang tidak menunjukkan tanda-tanda sosok wanita menggend**g ba yi. Aku mencoba menelepon ponselnya, tapi tidak aktif.
"Si al," um patku pelan. "Mana mungkin dia berani kabur? Dia nggak punya siapa-siapa di sini. Dia nggak punya ua ng, semua tabungan, kan, di tanganku."
Aku yakin, Nuri sengaja berlama-lama di luar. Ia sengaja mau menghindar dari keluargaku. Dia pasti ngak nyaman dengan bude Lastri.
Aku kembali masuk. Namun, sisi hatiku tiba-tiba merasa ngak enakan.
Apa mungkin Nuri betulan kabur? Apa diam-diam dia ambil du it yang aku simpan di koper?
Aku mempercepat langkah ke kam ar. Memasukkan sandi dan membuka koper. Satu persatu ua ng itu kuhitung. Utuh. Tidak berkurang sehelai pun. Aku tersenyum semringah. Nuri istri penurut dan dia sangat mencintaiku jadi dia ngak mungkin pergi jauh.
Aku pun kembali bergabung dengan saudaraku di ruang tengah. Sesekali melirik ke pintu depan berharap Nuri segera datang.
Cerita ini tersedia di kbm app.
Judul ; Dituduh Mencuri Uang Mertua
Penulis: senja_naja