Joe Brendo

Joe Brendo ikuti trus keseruan drama kehidupan 💞

"Cepat masuk, nggak usah banyak gaya. Saya nggak punya banyak waktu!"Aku membukakan pintu mobil dengan ka sar, nya ris m...
23/05/2026

"Cepat masuk, nggak usah banyak gaya. Saya nggak punya banyak waktu!"

Aku membukakan pintu mobil dengan ka sar, nya ris membuat Larisa tersandung kalau saja dia tidak sigap. Hari ini adalah hari pengajuan izin nikah ke kesatuan. Sebenarnya, aku malas setengah m ati membawa perempuan ini ke markas, tapi prosedur tetaplah prosedur.

"Sabar d**g, Kapten. Seragamnya bagus, tapi…," gumam Larisa sambil merapikan tunik birunya yang sederhana. Benar benar style dusun.

“Tapi apa?” Sentakku melo tot. Pasti dia mau membuatku kesal lagi, tuhkan benar dia tersenyum menyebalkan.

"Lagian, siapa juga yang mau lama-lama di mobil bau parfum yang bikin mu al begini?"

"Apa kamu bilang? Mu al? Ini parfum impor!" aku mendesis, memba nting pintu kemudi.” Da sar kampubngan. Oh iya aku lupa. Kamu kan biasa naik delman di kampung. Jarang naik mobil. Lain kali bawa keresek kalau m ual.” Sungutku kesal.

"Dan dengar ya, nanti di depan Komandan saya, jangan memalukan. Diam saja kalau nggak ditanya. Biar saya yang bicara." Terserah dia mau bilang aku jutek dan arogan. Semakin dia membe nciku itu lebih baik.

Kami sampai di depan ruang Danyon. Aku menarik nafas panjang, merapikan baret dan seragamku. Di dalam sana ada Komandan Aris, sahabat sekaligus atasan yang paling tahu seluk-beluk hidupku.

"Izin, Komandan! Kapten Arjuna melapor," aku memberi hormat tegas begitu pintu terbuka.

Aris yang sedang memeriksa berkas mend**gak. Matanya yang taj am langsung tertuju pada sosok di belakangku.

Aku berdehem, "Izin, Komandan. Saya ingin memperkenalkan calon istri saya untuk pengajuan izin nikah kedinasan. Ini Larisa Sivania Wibowo."

Keheningan yang aneh tiba-tiba menyelimuti ruangan. Aris tidak langsung menyuruh kami duduk. Dia malah menatap Larisa dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara terkejut, tak percaya, dan... tidak s**a?

"La- Larisa?" suara Aris terdengar be rat.

"Calon istri kamu, Jun?"

"Siap, Komandan. Benar."

Aris meletakkan pulpennya dengan bunyi yang ker as. "Bukannya kemarin kamu bilang calon istri kamu itu seorang penyiar TV? Kok sekarang yang datang beda?"

Wajahku terasa panas. S ial, Aris memang tipe yang ingatannya setaj am sil et. Baru saja aku mau membuka mulut untuk mengarang alasan, ponsel di kantongku bergetar hebat. Nama Rena Amalia terpampang di layar.

"Izin, Komandan... telepon penting," aku merin gis


Aris hanya mengangguk kaknu. Aku menjauh sedikit ke sudut ruangan, mengangkat telepon itu dengan suara berbisik.

"Mas! Kamu di mana? Kamu di markas ya? Pokoknya setelah selesai urusan izin itu, kamu harus temui aku! Aku udah di depan gerbang kesatuan nih, panas banget tahu!" rengek Rena di seberang sana.

"Iya, iya, Say ang. Sabar ya, sebentar lagi selesai," ba lasku cepat sebelum mem at ikan ponsel. Kulihat dari jauh tampak Komandan Aris dan sidusun itu berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.

Begitu aku berbalik kembali ke meja Aris, Larisa langsung mendekatiku, dan dengan songongnya dia meran gkul lenganku! Tangannya melin gkar e rat, seraya tersenyum lembut padaku.

“Jun, kamu belum jawab pertanyaanku. Benar Larisa calon istrimu?” tanya Komandan Aris namun Larisa dengan cepat menyahut.

"Iya, Komandan. Mohon doanya. Mas Arjuna sangat mencintai saya sampai tidak mau menunda lagi," ucap Larisa dengan nada yang dibuat sedemikian rupa sehingga terdengar sangat mes ra.

Aku tersentak. G ila ini perempuan! Berani banget megang-megang aku! Tapi di depan Komandan, aku tidak bisa menepisnya. Aku hanya bisa mematung kaku.

Komandan Aris menatap Larisa dengan sorot yang aneh.

"Kenapa harus dia?"

Aku mengernyit. Kok pertanyaannya aneh? Seolah-olah mereka sudah saling kenal. Tapi ah, mungkin maksud Komandan kenapa aku menikah sama perempuan ini, bukan dengan kekasihku.

"Karena Mas Arjuna lelaki yang luar biasa, Komandan," sahut Larisa tenang, tangannya semakin e rat meme luk lenganku.

Suasana ruangan mendadak jadi sangat gerah dan teg ang. Aris menandatangani berkas izinku dengan ka sar.

"Silakan keluar sekarang. Saya ada rapat!" us irnya tanpa menatap kami lagi.

Begitu pintu ruangan tertutup, aku langsung menyent ak tangan Larisa hingga terlep as.

"Heh! Maksud kamu apa tadi sok me sra begitu? Rangbkul-rang kul segala! Kamu sudah mulai jatuh cinta ya sama saya?" sem protku pedas. "Buabng jauh-jauh perasaan itu. Saya nggak minat sama sekali sama gadis dusun!"

Larisa terlihat agak gugup, wajahnya

sedikit pucat, tapi dia cepat menguasai diri.

"Siap salah, Kapten. Saya cuma menjalankan skenario supaya Komandan nggak cur iga kalau kita nikah kontrak. Bukannya Anda bilang kita harus akting romantis?"

"Akting sih akting, tapi jangan ambil kesempatan dalam kesempitan! Mulai sekarang, jaga jarak minimal lima meter dari saya kalau lagi di luar. Saya bisa alergi bersen tuhan sama perempuan kayak kamu!"

Larisa menarik napas panjang, wajahnya kembali tenang dan elegan. "Siap, laksanakan, Kapten."

Tumben dia bersikap lembut. Jangan jangan bener, dia sudah terpesona padaku?

Kami berjalan menuju gerbang markas, Rena sudah menunggu dengan kacamata hitam ma halnya. Sebagai mantan finalis Miss Grand Ibu Kota dan penyiar tv, penampilannya selalu modis dan on point.

"Mas! Lama banget sih! Aku kepanasan tahu nggak, nunggu di sini," keluh Rena manja sambil mengipasi wajahnya. Matanya langsung beralih ke Larisa yang berdiri agak jauh di belakangku.

"Duh, Mas. Ini calon kamu?" sindir Rena t ajam, suaranya sengaja d**e raskan.

"Bajunya... ya ampun, kupikir dia ganti baju dulu, pake makeup dulu? Ndeso banget."

Rena berjalan mendekati Larisa, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan ji jik. "Eh, kamu. Inget ya, kamu itu cuma numpang lewat. Enam bulan lagi kamu bakalan balik ke kandang kambing di dusun. Jangan mimpi bisa jadi nyonya Kapten selamanya. Level kita itu beda, Mbak. Kayak berlian sama kerikil."

Larisa hanya diam. Dia tidak memba las, bahkan tidak menatap Rena. Fokusnya justru beralih ke ponselnya yang terus bergetar. Dia melihat sebuah pesan masuk, dan seketika ekspresinya berubah cemas.

"Maaf, saya harus pergi duluan," ucap Larisa tiba-tiba, suaranya terdengar buru-buru.

"Heh! Sopan dikit kalau bicara sama calon suami!" be ntakku.

"Saya ada urusan mendadak. Saya permisi," Larisa berbalik, hendak mencari angkutan umum.

"Mas, anterin dia gih, kasihan tuh," ej ek Rena sambil tertawa cekikikan.

"Siapa juga yang mau anterin dia? Bisa-bisa mobilku turun mesin atau rus ak gara-gara anterin dia ke dusun," bal.asku pedas, membuat Rena tertawa semakin kencang.

Larisa tidak menoleh sedikit pun. Dia terus melangkah dengan punggung tegak dan dagu yang terangkat, terlihat sangat elegan meski hanya memakai baju sederhana. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa sangat tenang, seolah semua hin aan kami hanya angin lalu.

Aku menatap punggungnya yang menjauh.

Sok sibuk banget itu cewek, belagu. batinku. Seakan akan dia orang penting. Namun saat ku bukakan pintu mobil untuk Rena, mataku tertuju pada sebuah benda…stetoskop.

Punya siapa itu? Tanyaku bingung.
*****
Judul : KAPTEN, ISTRI DUSUNMU DOKTER MILITER
Penulis : Rayu Coe
Novel di aplikasi KBM

“Mbak Nayla! Sumpah, jilbab pashmina Mbak rapi banget! Dan itu ... St4rbucks? Dari siapa?”*Setelah menyampirkan tas di p...
23/05/2026

“Mbak Nayla! Sumpah, jilbab pashmina Mbak rapi banget! Dan itu ... St4rbucks? Dari siapa?”

*

Setelah menyampirkan tas di pinggiran kursi, Nayla mengeluarkan laptop dari laci dan meletakkannya di atas meja kerja yang masih terasa asing—maklum, ini baru hari kedua dirinya bekerja.

Sembari menunggu perangkat itu menyala, ia menyesap kopi pemberian Bima perlahan. Logo hijau pada paper cup itu tampak kontras di samping perangkat kerjanya, membawa aroma premium yang seketika membangunkan saraf-saraf Nayla yang selama ini tumpul akibat urusan dapur.

Baru saja layar laptop menampilkan halaman utama, Tiwi tiba-tiba muncul dari balik kubikel dengan mata membelalak.

“Mbak Nayla! Sumpah, jilbab pashmina Mbak rapi banget! Dan itu ... Starbucks?” Tiwi mendekat, berbisik heboh. “Beli di lobi bawah tadi, Mbak?”

Nayla tersenyum tipis. “Dikasih orang tadi di depan lift, Mbak Wi.”

“Orang? Siapa? Pak Bima?!” Tiwi nyaris menjatuhkan tumpukan map yang ia pegang. Ia buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, matanya membelalak sampai hampir keluar. Ia menyeret kursi putarnya mendekat ke meja Nayla, lalu berbisik dengan nada histeris yang tertahan.

“Mbak! Sumpah, demi apa?! Pak Bima yang kalau lewat aja hawanya kayak masuk freezer itu ... kasih Mbak kopi? Sendiri? Pake tangan dia sendiri?!”

Nayla mengangguk ragu, sedikit menyesal karena sudah jujur.

“Mbak Nayla tahu nggak sih? Selama tiga tahun aku di sini, jangankan beliin kopi, lihat Pak Bima senyum ke karyawan aja itu mitos! Ini hari kedua Mbak masuk dan Mbak dapet asupan langsung dari kasta tertinggi?” Tiwi menepuk jidatnya sendiri, ekspresinya antara kagum dan iri yang lucu.

“Mbak Nayla beneran bawa aura beda, deh. Pantesan hari ini kelihatan segar banget, pashminanya rapi, mukanya cerah. Ternyata rahasianya booster dari CEO ya? Beda banget sama kemarin yang mukanya kusut kayak cucian belum disetrika!”

Nayla hanya bisa tertegun melihat reaksi Tiwi yang seheboh itu. Ia segera menyembunyikan paper cup tersebut di balik tumpukan dokumen, berharap aroma kopi premium itu tidak tercium oleh hidung-hidung tajam di kubikel lain.

“Kebetulan saja tadi ketemu di depan lift, Mbak Wi. Mungkin dia lagi berbaik hati saja,” jawab Nayla pelan, mencoba meredam suasana.

Tiwi mencibir sambil tertawa kecil, “Nggak ada istilah 'kebetulan' buat Pak Bima, Mbak. Cowok sedingin dia itu setiap gerakannya pasti ada maksudnya. Duh, jadi penasaran, Mbak Nayla ini sebenernya siapa, sih? Kok bisa bikin es batu berjalan itu mendadak jadi barista?”

Nayla hanya tersenyum tipis dan pura-pura sibuk dengan tetikusnya. Ia tidak ingin membahas Bima lebih jauh, terutama karena ia sendiri masih merasa aneh dengan perlakuan pria itu. Ia memilih fokus pada portal internal, membiarkan Tiwi kembali ke dunianya sendiri meskipun gadis itu masih sesekali melirik dengan tatapan penuh selidik.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Sejak tadi, ponselnya yang ia letakkan di atas meja terus bergetar dan berkedip-kedip. Notifikasi pesan dari Amir bermunculan di layar kunci, menyerbu seperti rentetan peluru: keluhan kompor yang tidak mau menyala, sampai pertanyaan konyol di mana letak bedak dingin Bu T**i.

Nayla hanya meliriknya sekilas dari notifikasi yang muncul, lalu mengabaikannya. Ia tidak ingin otaknya benar-benar ‘berkarat’ seperti tuduhan Amir semalam.

Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah pesan singkat masuk melalui aplikasi internal kantor di layar laptopnya. Sebuah pop-up muncul di sudut kanan bawah.

Dari Bima.

“Pelajari laporan evaluasi divisi tahun lalu. Bawa ringkasannya ke ruangan saya jam 11 tepat. Saya mau lihat, apa otak juara kelas Anda masih berfungsi atau sudah menguap di dapur.”

Nayla mendengus. Rasa ‘gemas’ karena kopi tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa tertantang.

Bima memang tidak pernah berubah, selalu punya cara untuk memancing emosinya dengan kata-kata yang menyebalkan namun menantang. Tapi anehnya, tantangan itu justru memacu adrenalinnya. Ia tidak merasa ciut seperti saat menghadapi kemarahan Amir atau ibu mertuanya dulu, ia justru merasa bersemangat untuk membuktikan kapasitasnya.

Sementara itu, di rumah mewah mereka yang terletak di cluster elit, suasana terasa begitu menyesakkan.

Amir berdiri kebingungan di dapur bersih, tangan kanannya memegang spatula seolah itu adalah benda asing. Di meja makan marmer, Intan—istri keduanya—sedang menangis sesenggukan sambil meniup ujung jarinya yang memerah karena terkena percikan minyak saat mencoba menggoreng telur ceplok.

Di kamar utama, Bu T**i terus-menerus berteriak memanggil nama Nayla. Kakinya yang bengkak akibat kesandung saat mati lampu kemarin membuatnya sulit bergerak dari ranjang, dan ia butuh bantuan hanya untuk sekedar ke kamar mandi.

Amir menatap Intan dengan frustrasi, lalu beralih menatap pintu kamar ibunya yang terus meraung. Ia baru menyadari bahwa kemewahan rumah ini tak lebih dari sekadar tumpukan semen dan marmer yang mati tanpa napas manajemen dari tangan dingin Nayla.

Hari ini, rumah itu kehilangan ruhnya. Amir dan Intan terperangkap dalam ketidakberdayaan domestik yang memuakkan, sementara di kantor, Nayla justru sedang memoles kembali mahkotanya yang sempat berdebu.

Baca selengkapnya di KBM app

Judul : Merakit Harga Diri

Penulis : Askana Sakhi

10 tahun aku jadi TKI Malaysia demi calon istri jadi dokter. Tapi dia malah check-in dengan pria lain.Oke. Aku p**ang di...
20/05/2026

10 tahun aku jadi TKI Malaysia demi calon istri jadi dokter. Tapi dia malah check-in dengan pria lain.
Oke. Aku p**ang diam-diam. Di hari pernikahannya, aku datang… bukan untuknya, tapi melamar kakaknya yang direndahkan, dengan mahar 10 kali lipat dari pestanya.

Dia gak tahu kalau aku sebenarnya ...

****

#8

“Mas, bisa transfer 15 juta? Buat renovasi rumah Ibu.”

Aku langsung kirim tanpa curiga. Dua hari kemudian, dia hilang tanpa kabar. Yang datang justru video dia check-in hotel dengan pria lain. Kesal, aku p**ang diam-diam dan menyiapkan balasan dengan cara ....

****
#8

"Si-al!" umpatku pelan.

Aku merasa seperti orang bo-doh. Aku baru saja menikahinya secara sah, baru saja berniat memberinya kehidupan yang lebih baik, dan sekarang dia menghilang?

Apa dia kembali ke desa? Kembali pada keluarga yang menghisap darahnya itu?

Rasa cemas yang aneh mulai merayap, bercampur dengan amarah yang mendidih. Aku tidak pernah gagal dalam mengendalikan situasi, tapi wanita ini... dia baru saja membuatku kehilangan kendali di malam pertama pernikahan kami.

Aku menyambar ponselku, hendak menghubungi pihak keamanan hotel, namun sebuah pikiran terlintas. Jika dia benar-benar kabur, dia tidak akan bisa jauh. Dia tidak punya identitas selain KTP yang tadi kugunakan untuk daftar KUA, dan semua dokumen itu ada di tanganku.

Aku berbalik dengan cepat menuju pintu, namun tepat saat itu, suara pintu utama kamar terbuka dari luar.

Aku terpaku. Napasku tertahan di tenggorokan.

Di ambang pintu, Dilara berdiri. Ia tampak terengah-engah, wajahnya yang tertutup cadar bergerak seiring deru napasnya yang tidak teratur. Di tangannya, ia memegang sebuah kantong plastik kecil berisi botol air mineral dan... obat maag cair murahan dari minimarket bawah.

Ia berjengit kaget melihatku berdiri di tengah ruangan dengan wajah gelap seperti awan badai.

"Mas... Mas Kaizan sudah kembali?" tanyanya gemetar.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan yang bisa membunuh. Rasa lega yang muncul secara tiba-tiba justru membuat amarahku meledak lebih tinggi.

"Dari mana kamu?" suaraku keluar seperti geraman binatang buas.

Selengkapnya baca hanya di aplikasi KBM app
Judul : Disangka TKI Ternyata Dokter Spesialis
Penulis: Queensunrise

Pukvl dua dini hari, aku terbangvn dari tidurku. Malam begitu hening, hanya detak jam dinding yang terdengar pelan, seol...
20/05/2026

Pukvl dua dini hari, aku terbangvn dari tidurku. Malam begitu hening, hanya detak jam dinding yang terdengar pelan, seolah mengingatkanku bahwa waktu keberangkatanku semakin dekat. Hari ini, aku benar-benar akan meninggalkan rum ah ini, rum ah yang pernah kuanggap istana kecilku bersama an ak-an ak.

Semalam, sebuah pesan masuk dari Pak Andri Sanjaya, orang terhormat yang dulu pernah menawariku pekerjaan. Beliau mengabarkan bahwa ia dan keluarganya sudah tiba di Indonesia, dan kini saatnya aku memenuhi janjiku untuk menjadi pengasvh putranya.

Semua barang-barangku sudah kupacking rapi sejak sore. Koper kecil itu berdiri di sudut kam ar. Pak Andri sendiri yang memesankan m0bil tra vel, dan menurut jadwal, m0bil itu akan datang menjemputku pukvl tiga pagi.

Aku membuka lagi lemari. Masih banyak bajuku yang tak kubawa. Baju-baju itu adalah tinggal hadiah-hadiah dari Keynan dari Ryan dan dari Elina. Mereka hampir setiap bulan selalu membelikanku baju. Ada satu gaun indah pemberian dari Mas Indra juga yang tak kubawa.

Aku duduk di tepi ran jang, mencoba menenangkan hati yang berdebar tak karuan. Namun semakin kutunggu, semakin pe rih rasanya dada ini. Dalam kesunyian, tanganku tergerak untuk merapikan tumpukan berkas di atas meja. Di antara tumpukan itu, tanpa sengaja kutemukan sebuah buku kecil berwarna ungu muda, diary milik Elina.

Aku terpaku. Jemariku gemetar saat membuka halaman pertamanya. Dan di sanalah, selembar foto terselip rapi.

Langkah nafasku langsung tersengal. Itu foto kami berempat, aku, Elina, Ryan, dan Keynan.

Wajah polos mereka masih begitu jelas, dengan senyum yang tulus dan tawa yang seakan membeku dalam waktu. Elina yang pipinya tembam, Ryan yang selalu ja hil tapi manis, dan Keynan yang mencoba terlihat dewasa meski masih belia.

Aku sendiri tampak tersenyum di tengah-tengah mereka, memeluk erat ketiga anak itu seolah dunia tak akan pernah mampu memisahkan kami.

Aku sampai lupa, kapan tepatnya foto itu diambil. Mungkin ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, dan Keynan baru saja menginjak masa remajanya. Yang pasti, foto itu adalah potret kecil kebahagiaan kami, masa ketika segalanya masih belum berubah.

Air mataku luruh deras tanpa bisa kubendung. Rasanya dadaku se sak, seolah foto itu menyalakan kembali semua kenangan yang berusaha kupendam. Kenangan tentang tawa mereka saat kuantar sekolah, tentang pelvkan kecil sebelum tidur, tentang panggilan Mama Sep yang selalu membuat hatiku meleleh.

"Kita akan mandi setelah Mama Sep main petak umpet dulu sama kita!"

"Iya, ManaSep yang jaga dan kita bertiga yang sembunyi! Kalau MamaSep berhasil menemukan kita bertiga, kita akan mandi!" Aku tersenyum melihat mereka memberikan tawaran saat aku memintanya untuk mandi tapi mereka bertiga masih terus asyik kejar-kejaran, padahal sudah senja.

"Ya sudah! Tapi hanya sekali saja ya, setelah ini kalian bertiga harus mandi!"

"Oke, MamaSep!"

Ryan menarikku dengan girang dan menyuruhku untuk mengumpat sambil menghitung hingga sepuluh dan mereka pun mulai berlarian mencari tempat sembunyi.

Mereka tidak tahu saja kalau aku tidak mengumpat tapi memperhatikan mereka berlarian cari tempat sembunyi. Mereka begitu bahagia masa kecilnya meskipun hanya bermain bertiga saja dan berempat denganku.

Hingga mudah aku menemukannya.

"Ah, gak seru kalau MamaSep yang jaga! Gal adil! Cepat ketemu!" gerutu Elina saat aku berhasil menemuinya dengan cepat. Begitupun yang lainnya.

Hingga akhirnya mereka pun menuruti janjinya untuk mandi sebelum Indra p**ang dari kantor.

Betapa indahnya masa itu. Betapa bahagianya aku pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka. Dan betapa pe dihnya kini aku harus pergi … meninggalkan segalanya, termasuk harapan yang pernah kutaruh pada mereka.

Kukuatkan diriku untuk menutup diary itu, tapi air mataku sudah meleleh. Foto kecil itu kuselipkan kembali dalam buku diary itu.

Jam dinding berdentang pelan. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga. Sebentar lagi m0bil tra vel itu akan tiba.

Tring!

Ponselku berbunyi lagi, pesan dari seorang sopir travel sudah menunggunya di depan. Aku pun mengirim pesan singkat untuk menunggunya.

Dengan berat hati aku berjalan keluar menarik ko per kecil yang isinya hanya beberapa baju lama saja.

Aku berjalan pelan menyusuri koridor rum ah ini. Lampu temaram membuat langkahku terasa berat, seolah setiap pijakan adalah penanda bahwa aku akan benar-benar pergi.

Pintu pertama yang kubuka adalah kam ar Elina. Wajah mungilnya begitu damai saat terlelap, dengan selimut yang setengah menutupi tubvhnya. Aku duduk di tepi ran jangnya, membelai rambut panjangnya perlahan, lalu mengecvp keningnya. “Elina, maafkan Mama… Semoga kau selalu bahagia ya, Nak.”

Air mataku jatvh tanpa bisa kutahan. Aku menutup pintu perlahan lalu melangkah ke kam ar berikutnya.

Di kam ar Ryan, putra Indra yang kedua itu tidur meringkuk. Aku tersenyum getir, teringat bagaimana ia dulu selalu mencari-cari aku saat hendak tidur.

Aku mencium keningnya dan berbisik, “Kamu sebentar lagi wisuda. Kamu sudah menginjak dewasa. Kamu sudah tidak membutuhkan pelvkan lagi Mama, kan. Iya kamu sudah dewasa. Maafkan Mama kalau harus pergi.”

Langkahku semakin berat saat menuju kam ar terakhir, kam ar Keynan. Dia tertidur p**as dengan posisi miring, sesekali menggerakkan bibirnya seolah sedang bermimpi. Aku berlutut di samping ran jangnya, menggenggam tangannya sebentar, lalu mengecvp keningnya dengan penuh kerinduan. “Keynan, jaga adik-adikmu. Mama selalu sayang sama kalian.”

Sebelum keluar kakiku berhenti di depan dinding yang terpajang foto-foto. Ya, aku masih ingat dinding di kam ar Keynan lah yang dipilih untuk memajang foto-foto setiap moment.

Tapi sayang, aku lihat semuanya telah berubah, sudah tidak ada lagi fotoku yang terpajang di sini. Hanya foto Amelia lah yang kini banyak terpajang.

Aku tersenyum getir. Ini sudah menunjukkan kalau memang aku sudah tidak ada lagi di hati anak-anak. Itu yang terpajang bersama mereka. Mereka memang sudah melvpakanku.

Setelah berpamitan memasuki ke kam ar an ak-an ak satu per satu, aku keluar dari kam ar itu dengan tubvh gemetar. Aku berdiri di koridor, menatap pintu-pintu kam ar yang baru saja kutinggalkan. Rasa se sak kembali menelusup hingga ke dada.

“Sudah siap, Mbak?” tanya sopir itu sambil menoleh sekilas.

“Sudah, Mas,” jawabku singkat.

Aku melirik sopir itu. Senyumnya ramah, tapi entah kenapa terasa terlalu lebar, terlalu dibuat-buat. Aku pun mencoba membalas dengan senyuman tipis, meski hati ini sedang berkeca muk.

Mobil melaju tenang menembus dini hari. Di dalamnya, aku baru sadar, ini bukan mobil travel biasa. Rasanya m0bil ini terlalu me wah. Ya, interiornya me wah, jok kulit empuk, pendinginnya dingin merata, bahkan musiknya lembut mengalun.

Aku baru sadar, m0bil travel ini seperti bukan m0bil travel yang sering kutumpangi selama ini. Ya, dulu-dulu aku juga sering naik m0bil travel pesanan Indra untuk membawa an ak-an ak liburan saat ketiga anaknya libur sekolah. Mereka selalu meminta liburan dan selalu aku sendiri yang mengantar dan menemani mereka liburan setiap libur sekolah akhir tahun dan juga akhir akhir semester tiba.

Tapi yang kurasakan saat ini, baru kali ini aku menaiki m0bil travel senyaman ini. Ini m0bil bermerek sp0rt. Pasti sewaan tra vel yang Pak Andri kirim untukku m0bil mahal. M0bilnya saja me wah.

Tiba-tiba m0bilnya berhenti di sebuah restoran yang membuat keningku berkerut. Kenapa berhenti di sini? Kan rum ahnya Pak Andri masih jauh!

"Restoran ini buka 24 jam. Saya belum makan, apa Mbak mau menemani saya makan dulu? Tenang saja, saya yang traktir, kok!" tanya tukang sopir itu menawarkanku makan dengan begitu ramah.

Gak salah, tukang sopir ini menawarkanku makan dulu di restoran mewah, ditraktir?

***
Judul : Karena Aku Hanya Pengganti
Penulis : MuhammadBeben

Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membaw...
28/04/2026

Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membawa b4yi kami, lalu dia mengirim sebuah pesan anc4man yang membuatku....

Bab 4

Malam harinya, suasana makin riuh. Kami semua berkumpul di ruang makan yang penuh dengan hidangan. Ada opor, sambal goreng ati, dan emping renyah buatan Ibu. Nuri akhirnya keluar. Dia memakai bedak cukup tebal, menutupi bekas jariku di pipinya. Dia duduk di sampingku, diam seribu bahasa, hanya bergerak saat menyendokkan nasi ke piringku.
"Wah, Nuri makin cantik ya setelah tinggal di Jakarta," puji Pakde sambil terkekeh.

Aku tersenyum bangga, menepuk bahu Nuri. "Iya, Pakde. Di Jakarta kan perawatannya beda."

Aku melirik Nuri, berharap dia memberikan senyum manis atau setidaknya ikut menimpali. Tapi dia tetap membisu. Dia hanya makan sedikit, lalu sibuk menyuapi bubur untuk Arzan yang duduk di pangkuannya. Ibu sesekali melirik sinis ke arah Nuri, mungkin masih kesal soal ua ng tadi pagi, tapi Ibu juga pintar berakting di depan tamu. Beliau tetap menyuruh Nuri tambah lauk seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja.

"Yusman, nanti habis lebaran rencananya mau langsung balik Jakarta atau gimana?" tanya Pakde lagi.

"Rencananya seminggu di sini, Pakde. Biar puas ketemu Ibu," jawabku mantap.

Tiba-tiba, Nuri bersuara. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat meja makan mendadak hening. "Mas, aku mau ke minimarket sebentar di depan. Popok arzan habis, minyak telon dan bedaknya juga."

Aku mengernyit. "Sekarang? Ini sudah jam delapan malam, Nur. Besok saja."

"Nggak bisa, Mas. Takutnya Arzan bangun tengah malam terus popoknya habis, nanti dia rewel dan ganggu tidur Ibu," jawab Nuri tenang. Matanya menatapku lurus, tidak ada ketakutan seperti tadi pagi.

Aku menimbang sejenak. Benar juga sih, kalau Arzan menjerit-jerit tengah malam karena popoknya penuh, Ibu pasti bakal ngomel lagi. Dan jujur saja, aku malas bangun malam-malam buat menenangkan ba yi.

"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Naik motor Bapak saja di depan, kuncinya ada di tembok," kataku sambil kembali menyendok rendang.

"Aku jalan kaki saja, Mas. Dekat, kok. Sekalian cari angin biar nggak pusing," Nuri bangkit, menggend**g Arzan dengan kain jarik warna hijau.

"Loh, ba yinya dibawa? Malem-malem loh ini, Nur," tegur Ibu.

"Iya, Bu. Arzan lagi manja, kalau ditaruh pasti rewel lagi. Cuma sebentar kok ke depan," sahut Nuri pelan.

Ibu mendengus, "Ya sudah, sana. Hati-hati, jangan keluyuran."

Nuri mengangguk, menyalami Ibu, Pakde, dan Budhe. Saat dia menyalamiku, aku merasa tangannya sangat dingin. Aku tidak curiga. Sama sekali tidak. Kupikir itu karena dia habis cuci tangan barusan, air sumur di sini memang sedingin es.

"Cepat ya, jangan mampir-mampir," pesanku pendek.

Nuri hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar melewati pintu depan. Aku kembali asyik mengobrol dengan Pakde tentang harga tanah di Jakarta yang makin gi la. Aku merasa hidupku sempurna malam itu. Perut kenyang, keluarga kumpul, dan istri yang akhirnya menurut meskipun sempat "mogok" bicara.

Setengah jam. Satu jam. Dan kini hampir dua jam sejak Nuri pamit ke mini market, ia belum juga kembali. Aku mulai melirik jam dinding di ruang tamu. Gelisah? Pasti. Tapi aku berusaha untuk tenang. Nuri bukan ana k kecil. Dia ngak mungkin kesasar.

"Yusman, istrimu kok lama banget?" tanya Ibu, mulai tidak sabar.

"Mungkin antre di kasir, Bu. Kan malam lebaran begini biasanya ramai," jawabku menenangkan diri sendiri.

Tapi hatiku mulai tidak tenang. Aku keluar ke teras, menatap jalanan desa yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang tidak menunjukkan tanda-tanda sosok wanita menggend**g ba yi. Aku mencoba menelepon ponselnya, tapi tidak aktif.

"Si al," um patku pelan. "Mana mungkin dia berani kabur? Dia nggak punya siapa-siapa di sini. Dia nggak punya ua ng, semua tabungan, kan, di tanganku."

Aku yakin, Nuri sengaja berlama-lama di luar. Ia sengaja mau menghindar dari keluargaku. Dia pasti ngak nyaman dengan bude Lastri.

Aku kembali masuk. Namun, sisi hatiku tiba-tiba merasa ngak enakan.

Apa mungkin Nuri betulan kabur? Apa diam-diam dia ambil du it yang aku simpan di koper?

Aku mempercepat langkah ke kam ar. Memasukkan sandi dan membuka koper. Satu persatu ua ng itu kuhitung. Utuh. Tidak berkurang sehelai pun. Aku tersenyum semringah. Nuri istri penurut dan dia sangat mencintaiku jadi dia ngak mungkin pergi jauh.

Aku pun kembali bergabung dengan saudaraku di ruang tengah. Sesekali melirik ke pintu depan berharap Nuri segera datang.

Cerita ini tersedia di kbm app.

Judul ; Dituduh Mencuri Uang Mertua
Penulis: senja_naja

Sepakat Berpisah  Bab 7“Selamat berpisah. Jangan pernah bertemu lagi, di kebetulan mana pun.”“Deal!”Sesuai dengan kesepa...
28/04/2026

Sepakat Berpisah
Bab 7

“Selamat berpisah. Jangan pernah bertemu lagi, di kebetulan mana pun.”

“Deal!”

Sesuai dengan kesepakatan, kami berpisah setelah satu tahun menjalani pernikahan. Kami sama-sama yakin tidak akan pernah bertemu kembali. Namun siapa sangka, takdir justru mempertemukan kami lagi dalam keadaan yang sangat berbeda.

Dan anehnya, kenapa justru ada debar yang begitu menggila setelah kami…

*

“Masih ingat p**ang?” Suara Pak Baskoro terdengar penuh sindiran saat melihat putrinya melewati ruang keluarga. “Sudah punya suami kaya, jadi lupa sama keluarga ya?” sindirnya lagi.

Shana memutar bola matanya ke atas. Lagi-lagi kalimat itu yang harus masuk ke telinganya. Sudah terlalu sering, sampai terasa biasa.

Ia memilih diam. Tak ada gunanya menjawab sindiran ayahnya. Percuma saja. Memangnya suaranya pernah benar-benar didengar di rumah ini? Tentu tidak. Lagi p**a, hidupnya sedang cukup rumit untuk meladeni hal seperti ini.

“Percuma juga menikah sama suami kaya kalau nggak ada manfaatnya buat keluarga.” Seorang wanita paruh baya ikut menimpali ucapan itu. Siapa lagi kalau bukan ibu tirinya? Si provokator ulung, Mela.

Shana menarik napas panjang. Memasuki rumah ini memang butuh kesabaran seluas lautan. Sebab yang ia hadapi adalah orang-orang yang tak pernah tahu batas, yang bisa menguras seluruh tenaganya jika ia tak cukup kuat menahan diri.

Ia pun berbalik, menampilkan senyum lebar yang terasa datar.

“Ada yang salah? Ini juga rumahku. Rumah peninggalan mamaku. Jadi kalau aku mau p**ang kapan pun, itu terserah aku, kan?”

Bibirnya terangkat sinis menatap keduanya. Tak ada lagi rasa takut seperti dulu. Kini ia berdiri dengan dagu terangkat, menatap lurus tanpa gentar.

“Kayaknya makin ke sini kamu makin kurang ajar, Shan?” Pak Baskoro menggeleng melihat sikap putrinya yang menurutnya sudah kelewatan terhadap orang tua.

“Mentang-mentang sekarang jadi istri orang kaya, ya, Mas. Jadi makin berani durhaka sama orang tua.” Mela kembali menabur racun. Sepertinya ia masih belum terima karena Dirga memilih menikahi Shana, bukan Silva—putrinya sendiri.

“Mang kenapa kalau kurang ajar? Kayaknya lebih kurang ajar laki-laki mokondo yang nikah siri sama pelakor deh.”

Shana menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam mengarah pada ayahnya yang kini berdiri dengan wajah menegang.

‘Pasti gue ditampar nih,’ teriak batinnya.

PLAKKK!!

‘Nah, benar kan! Astaga! Gue ditampar lagi untuk kesekian kalinya sama si mokondo.’

Sambil memegangi pipinya yang panas, Shana malah tertawa lebar. Wajahnya memerah, tatapannya menyala penuh perlawanan.

“Puas? Sudah puas? Cuma segini aja? Pengecut yang selalu nutupin kesalahan pakai kekerasan. Ayo, tampar lagi!”

Shana menantang tanpa rasa takut. Kini ia tidak selemah dulu. Sebentar lagi ia akan kaya raya, mendapat banyak harta gono-gini dari Dirga. Ia akan punya kekuatan untuk melawan semuanya.

Tangan Pak Baskoro kembali terangkat. Wajah lelaki itu merah padam menahan emosi.

“Mbak, kamu p**ang?”

Sebelum tamparan kedua mendarat, suara seorang gadis terdengar. Pak Baskoro mengurungkan niatnya. Napasnya memburu, matanya masih tajam menusuk ke arah Shana.

“Anak bejat!”

Shana menoleh saat mendengar suara itu. Seorang gadis seusianya berjalan mendekat. Itu Silva, adik tirinya. Suaranya lembut, penuh perhatian, bahkan terdengar seperti menyimpan kerinduan.

“He em,” jawab Shana datar.

Sambil mengalihkan pandangan dari ayahnya, ia bergumam pelan,

“Bapak bejat! Bangke!”

Tanpa menanggapi lebih jauh, Shana langsung berjalan meninggalkan mereka menuju kamarnya. Ada sesuatu yang harus ia ambil untuk persiapan perceraiannya dengan Dirga.

Saat berjalan menuju kamar, ia masih sempat mendengar suara Silva berkata kepada ayahnya.

“Papa jangan terlalu keras sama Mbak Shana. Dia juga anak Papa.”

Shana memutar bola mata. Ia benar-benar muak dengan gaya Silva yang selalu terlihat lembut itu. Entah kenapa, ia tidak pernah benar-benar percaya pada sikap baik adik tirinya itu. Meski belum pernah terbukti jahat, ia yakin Silva tidak sebaik yang terlihat.

Silva itu anaknya Mela.

Kalau buah jatuh, ya nggak akan jauh dari pohonnya. Eh… pokoknya begitulah. Darah mereka sama, pasti jahatnya juga sama.

Mau ditutupi dengan kelembutan seperti apa pun, bangkai tetap saja bangkai, kan?

Brak!

Shana membanting pintu kamarnya keras-keras untuk meluapkan semua kekesalan yang selalu meledak setiap kali ia berada di rumah ini.

Padahal dulu, rumah ini penuh kedamaian. Sebelum semuanya berubah. Sebelum negara api menyerang—begitulah ia menyebutnya.

Dulu ia dan ibunya hidup tenang di rumah ini, meski ayahnya sering pergi berdagang ke luar kota—setidaknya begitu katanya.

Shana mengambil tas besar dari dalam lemari, lalu mulai mengemasi semua barang yang perlu ia bawa untuk pergi dari rumahnya sendiri.

Sebentar lagi ia akan bercerai dan memulai hidup baru dengan modal harta dari Dirga. Ada banyak barang penuh kenangan yang harus ikut dibawa.

Pintu kembali terbuka saat Shana sedang sibuk berkemas.

Ia menoleh sekilas.

Wajah Silva yang tersenyum manis terlihat di sana.

Shana tak peduli. Ia tetap melanjutkan kegiatannya.

Sekretaris Dirga itu lalu duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Shana yang mondar-mandir mengambil barang.

“Mbak… kamu mau cerai dari Mas Dirga?”

Mata Shana langsung membelalak.

Tangannya mengepal menahan emosi.

Si Dirga benar-benar mulut ember!

Bisa-bisanya rahasia mereka dibocorkan begitu saja.

‘Bangke si Dirga! Bisa-bisanya malah curhat ke Silva!’

Baca Selengkapnya di KBM App

Judul : Sepakat Berpisah
Penulis : Inge Lezta





Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Joe Brendo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share