23/05/2026
"Cepat masuk, nggak usah banyak gaya. Saya nggak punya banyak waktu!"
Aku membukakan pintu mobil dengan ka sar, nya ris membuat Larisa tersandung kalau saja dia tidak sigap. Hari ini adalah hari pengajuan izin nikah ke kesatuan. Sebenarnya, aku malas setengah m ati membawa perempuan ini ke markas, tapi prosedur tetaplah prosedur.
"Sabar d**g, Kapten. Seragamnya bagus, tapi…," gumam Larisa sambil merapikan tunik birunya yang sederhana. Benar benar style dusun.
“Tapi apa?” Sentakku melo tot. Pasti dia mau membuatku kesal lagi, tuhkan benar dia tersenyum menyebalkan.
"Lagian, siapa juga yang mau lama-lama di mobil bau parfum yang bikin mu al begini?"
"Apa kamu bilang? Mu al? Ini parfum impor!" aku mendesis, memba nting pintu kemudi.” Da sar kampubngan. Oh iya aku lupa. Kamu kan biasa naik delman di kampung. Jarang naik mobil. Lain kali bawa keresek kalau m ual.” Sungutku kesal.
"Dan dengar ya, nanti di depan Komandan saya, jangan memalukan. Diam saja kalau nggak ditanya. Biar saya yang bicara." Terserah dia mau bilang aku jutek dan arogan. Semakin dia membe nciku itu lebih baik.
Kami sampai di depan ruang Danyon. Aku menarik nafas panjang, merapikan baret dan seragamku. Di dalam sana ada Komandan Aris, sahabat sekaligus atasan yang paling tahu seluk-beluk hidupku.
"Izin, Komandan! Kapten Arjuna melapor," aku memberi hormat tegas begitu pintu terbuka.
Aris yang sedang memeriksa berkas mend**gak. Matanya yang taj am langsung tertuju pada sosok di belakangku.
Aku berdehem, "Izin, Komandan. Saya ingin memperkenalkan calon istri saya untuk pengajuan izin nikah kedinasan. Ini Larisa Sivania Wibowo."
Keheningan yang aneh tiba-tiba menyelimuti ruangan. Aris tidak langsung menyuruh kami duduk. Dia malah menatap Larisa dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara terkejut, tak percaya, dan... tidak s**a?
"La- Larisa?" suara Aris terdengar be rat.
"Calon istri kamu, Jun?"
"Siap, Komandan. Benar."
Aris meletakkan pulpennya dengan bunyi yang ker as. "Bukannya kemarin kamu bilang calon istri kamu itu seorang penyiar TV? Kok sekarang yang datang beda?"
Wajahku terasa panas. S ial, Aris memang tipe yang ingatannya setaj am sil et. Baru saja aku mau membuka mulut untuk mengarang alasan, ponsel di kantongku bergetar hebat. Nama Rena Amalia terpampang di layar.
"Izin, Komandan... telepon penting," aku merin gis
Aris hanya mengangguk kaknu. Aku menjauh sedikit ke sudut ruangan, mengangkat telepon itu dengan suara berbisik.
"Mas! Kamu di mana? Kamu di markas ya? Pokoknya setelah selesai urusan izin itu, kamu harus temui aku! Aku udah di depan gerbang kesatuan nih, panas banget tahu!" rengek Rena di seberang sana.
"Iya, iya, Say ang. Sabar ya, sebentar lagi selesai," ba lasku cepat sebelum mem at ikan ponsel. Kulihat dari jauh tampak Komandan Aris dan sidusun itu berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.
Begitu aku berbalik kembali ke meja Aris, Larisa langsung mendekatiku, dan dengan songongnya dia meran gkul lenganku! Tangannya melin gkar e rat, seraya tersenyum lembut padaku.
“Jun, kamu belum jawab pertanyaanku. Benar Larisa calon istrimu?” tanya Komandan Aris namun Larisa dengan cepat menyahut.
"Iya, Komandan. Mohon doanya. Mas Arjuna sangat mencintai saya sampai tidak mau menunda lagi," ucap Larisa dengan nada yang dibuat sedemikian rupa sehingga terdengar sangat mes ra.
Aku tersentak. G ila ini perempuan! Berani banget megang-megang aku! Tapi di depan Komandan, aku tidak bisa menepisnya. Aku hanya bisa mematung kaku.
Komandan Aris menatap Larisa dengan sorot yang aneh.
"Kenapa harus dia?"
Aku mengernyit. Kok pertanyaannya aneh? Seolah-olah mereka sudah saling kenal. Tapi ah, mungkin maksud Komandan kenapa aku menikah sama perempuan ini, bukan dengan kekasihku.
"Karena Mas Arjuna lelaki yang luar biasa, Komandan," sahut Larisa tenang, tangannya semakin e rat meme luk lenganku.
Suasana ruangan mendadak jadi sangat gerah dan teg ang. Aris menandatangani berkas izinku dengan ka sar.
"Silakan keluar sekarang. Saya ada rapat!" us irnya tanpa menatap kami lagi.
Begitu pintu ruangan tertutup, aku langsung menyent ak tangan Larisa hingga terlep as.
"Heh! Maksud kamu apa tadi sok me sra begitu? Rangbkul-rang kul segala! Kamu sudah mulai jatuh cinta ya sama saya?" sem protku pedas. "Buabng jauh-jauh perasaan itu. Saya nggak minat sama sekali sama gadis dusun!"
Larisa terlihat agak gugup, wajahnya
sedikit pucat, tapi dia cepat menguasai diri.
"Siap salah, Kapten. Saya cuma menjalankan skenario supaya Komandan nggak cur iga kalau kita nikah kontrak. Bukannya Anda bilang kita harus akting romantis?"
"Akting sih akting, tapi jangan ambil kesempatan dalam kesempitan! Mulai sekarang, jaga jarak minimal lima meter dari saya kalau lagi di luar. Saya bisa alergi bersen tuhan sama perempuan kayak kamu!"
Larisa menarik napas panjang, wajahnya kembali tenang dan elegan. "Siap, laksanakan, Kapten."
Tumben dia bersikap lembut. Jangan jangan bener, dia sudah terpesona padaku?
Kami berjalan menuju gerbang markas, Rena sudah menunggu dengan kacamata hitam ma halnya. Sebagai mantan finalis Miss Grand Ibu Kota dan penyiar tv, penampilannya selalu modis dan on point.
"Mas! Lama banget sih! Aku kepanasan tahu nggak, nunggu di sini," keluh Rena manja sambil mengipasi wajahnya. Matanya langsung beralih ke Larisa yang berdiri agak jauh di belakangku.
"Duh, Mas. Ini calon kamu?" sindir Rena t ajam, suaranya sengaja d**e raskan.
"Bajunya... ya ampun, kupikir dia ganti baju dulu, pake makeup dulu? Ndeso banget."
Rena berjalan mendekati Larisa, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan ji jik. "Eh, kamu. Inget ya, kamu itu cuma numpang lewat. Enam bulan lagi kamu bakalan balik ke kandang kambing di dusun. Jangan mimpi bisa jadi nyonya Kapten selamanya. Level kita itu beda, Mbak. Kayak berlian sama kerikil."
Larisa hanya diam. Dia tidak memba las, bahkan tidak menatap Rena. Fokusnya justru beralih ke ponselnya yang terus bergetar. Dia melihat sebuah pesan masuk, dan seketika ekspresinya berubah cemas.
"Maaf, saya harus pergi duluan," ucap Larisa tiba-tiba, suaranya terdengar buru-buru.
"Heh! Sopan dikit kalau bicara sama calon suami!" be ntakku.
"Saya ada urusan mendadak. Saya permisi," Larisa berbalik, hendak mencari angkutan umum.
"Mas, anterin dia gih, kasihan tuh," ej ek Rena sambil tertawa cekikikan.
"Siapa juga yang mau anterin dia? Bisa-bisa mobilku turun mesin atau rus ak gara-gara anterin dia ke dusun," bal.asku pedas, membuat Rena tertawa semakin kencang.
Larisa tidak menoleh sedikit pun. Dia terus melangkah dengan punggung tegak dan dagu yang terangkat, terlihat sangat elegan meski hanya memakai baju sederhana. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa sangat tenang, seolah semua hin aan kami hanya angin lalu.
Aku menatap punggungnya yang menjauh.
Sok sibuk banget itu cewek, belagu. batinku. Seakan akan dia orang penting. Namun saat ku bukakan pintu mobil untuk Rena, mataku tertuju pada sebuah benda…stetoskop.
Punya siapa itu? Tanyaku bingung.
*****
Judul : KAPTEN, ISTRI DUSUNMU DOKTER MILITER
Penulis : Rayu Coe
Novel di aplikasi KBM