Joe Brendo

Joe Brendo ikuti trus keseruan drama kehidupan 💞

Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membaw...
28/04/2026

Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membawa b4yi kami, lalu dia mengirim sebuah pesan anc4man yang membuatku....

Bab 4

Malam harinya, suasana makin riuh. Kami semua berkumpul di ruang makan yang penuh dengan hidangan. Ada opor, sambal goreng ati, dan emping renyah buatan Ibu. Nuri akhirnya keluar. Dia memakai bedak cukup tebal, menutupi bekas jariku di pipinya. Dia duduk di sampingku, diam seribu bahasa, hanya bergerak saat menyendokkan nasi ke piringku.
"Wah, Nuri makin cantik ya setelah tinggal di Jakarta," puji Pakde sambil terkekeh.

Aku tersenyum bangga, menepuk bahu Nuri. "Iya, Pakde. Di Jakarta kan perawatannya beda."

Aku melirik Nuri, berharap dia memberikan senyum manis atau setidaknya ikut menimpali. Tapi dia tetap membisu. Dia hanya makan sedikit, lalu sibuk menyuapi bubur untuk Arzan yang duduk di pangkuannya. Ibu sesekali melirik sinis ke arah Nuri, mungkin masih kesal soal ua ng tadi pagi, tapi Ibu juga pintar berakting di depan tamu. Beliau tetap menyuruh Nuri tambah lauk seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja.

"Yusman, nanti habis lebaran rencananya mau langsung balik Jakarta atau gimana?" tanya Pakde lagi.

"Rencananya seminggu di sini, Pakde. Biar puas ketemu Ibu," jawabku mantap.

Tiba-tiba, Nuri bersuara. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat meja makan mendadak hening. "Mas, aku mau ke minimarket sebentar di depan. Popok arzan habis, minyak telon dan bedaknya juga."

Aku mengernyit. "Sekarang? Ini sudah jam delapan malam, Nur. Besok saja."

"Nggak bisa, Mas. Takutnya Arzan bangun tengah malam terus popoknya habis, nanti dia rewel dan ganggu tidur Ibu," jawab Nuri tenang. Matanya menatapku lurus, tidak ada ketakutan seperti tadi pagi.

Aku menimbang sejenak. Benar juga sih, kalau Arzan menjerit-jerit tengah malam karena popoknya penuh, Ibu pasti bakal ngomel lagi. Dan jujur saja, aku malas bangun malam-malam buat menenangkan ba yi.

"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Naik motor Bapak saja di depan, kuncinya ada di tembok," kataku sambil kembali menyendok rendang.

"Aku jalan kaki saja, Mas. Dekat, kok. Sekalian cari angin biar nggak pusing," Nuri bangkit, menggend**g Arzan dengan kain jarik warna hijau.

"Loh, ba yinya dibawa? Malem-malem loh ini, Nur," tegur Ibu.

"Iya, Bu. Arzan lagi manja, kalau ditaruh pasti rewel lagi. Cuma sebentar kok ke depan," sahut Nuri pelan.

Ibu mendengus, "Ya sudah, sana. Hati-hati, jangan keluyuran."

Nuri mengangguk, menyalami Ibu, Pakde, dan Budhe. Saat dia menyalamiku, aku merasa tangannya sangat dingin. Aku tidak curiga. Sama sekali tidak. Kupikir itu karena dia habis cuci tangan barusan, air sumur di sini memang sedingin es.

"Cepat ya, jangan mampir-mampir," pesanku pendek.

Nuri hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar melewati pintu depan. Aku kembali asyik mengobrol dengan Pakde tentang harga tanah di Jakarta yang makin gi la. Aku merasa hidupku sempurna malam itu. Perut kenyang, keluarga kumpul, dan istri yang akhirnya menurut meskipun sempat "mogok" bicara.

Setengah jam. Satu jam. Dan kini hampir dua jam sejak Nuri pamit ke mini market, ia belum juga kembali. Aku mulai melirik jam dinding di ruang tamu. Gelisah? Pasti. Tapi aku berusaha untuk tenang. Nuri bukan ana k kecil. Dia ngak mungkin kesasar.

"Yusman, istrimu kok lama banget?" tanya Ibu, mulai tidak sabar.

"Mungkin antre di kasir, Bu. Kan malam lebaran begini biasanya ramai," jawabku menenangkan diri sendiri.

Tapi hatiku mulai tidak tenang. Aku keluar ke teras, menatap jalanan desa yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang tidak menunjukkan tanda-tanda sosok wanita menggend**g ba yi. Aku mencoba menelepon ponselnya, tapi tidak aktif.

"Si al," um patku pelan. "Mana mungkin dia berani kabur? Dia nggak punya siapa-siapa di sini. Dia nggak punya ua ng, semua tabungan, kan, di tanganku."

Aku yakin, Nuri sengaja berlama-lama di luar. Ia sengaja mau menghindar dari keluargaku. Dia pasti ngak nyaman dengan bude Lastri.

Aku kembali masuk. Namun, sisi hatiku tiba-tiba merasa ngak enakan.

Apa mungkin Nuri betulan kabur? Apa diam-diam dia ambil du it yang aku simpan di koper?

Aku mempercepat langkah ke kam ar. Memasukkan sandi dan membuka koper. Satu persatu ua ng itu kuhitung. Utuh. Tidak berkurang sehelai pun. Aku tersenyum semringah. Nuri istri penurut dan dia sangat mencintaiku jadi dia ngak mungkin pergi jauh.

Aku pun kembali bergabung dengan saudaraku di ruang tengah. Sesekali melirik ke pintu depan berharap Nuri segera datang.

Cerita ini tersedia di kbm app.

Judul ; Dituduh Mencuri Uang Mertua
Penulis: senja_naja

Sepakat Berpisah  Bab 7“Selamat berpisah. Jangan pernah bertemu lagi, di kebetulan mana pun.”“Deal!”Sesuai dengan kesepa...
28/04/2026

Sepakat Berpisah
Bab 7

“Selamat berpisah. Jangan pernah bertemu lagi, di kebetulan mana pun.”

“Deal!”

Sesuai dengan kesepakatan, kami berpisah setelah satu tahun menjalani pernikahan. Kami sama-sama yakin tidak akan pernah bertemu kembali. Namun siapa sangka, takdir justru mempertemukan kami lagi dalam keadaan yang sangat berbeda.

Dan anehnya, kenapa justru ada debar yang begitu menggila setelah kami…

*

“Masih ingat p**ang?” Suara Pak Baskoro terdengar penuh sindiran saat melihat putrinya melewati ruang keluarga. “Sudah punya suami kaya, jadi lupa sama keluarga ya?” sindirnya lagi.

Shana memutar bola matanya ke atas. Lagi-lagi kalimat itu yang harus masuk ke telinganya. Sudah terlalu sering, sampai terasa biasa.

Ia memilih diam. Tak ada gunanya menjawab sindiran ayahnya. Percuma saja. Memangnya suaranya pernah benar-benar didengar di rumah ini? Tentu tidak. Lagi p**a, hidupnya sedang cukup rumit untuk meladeni hal seperti ini.

“Percuma juga menikah sama suami kaya kalau nggak ada manfaatnya buat keluarga.” Seorang wanita paruh baya ikut menimpali ucapan itu. Siapa lagi kalau bukan ibu tirinya? Si provokator ulung, Mela.

Shana menarik napas panjang. Memasuki rumah ini memang butuh kesabaran seluas lautan. Sebab yang ia hadapi adalah orang-orang yang tak pernah tahu batas, yang bisa menguras seluruh tenaganya jika ia tak cukup kuat menahan diri.

Ia pun berbalik, menampilkan senyum lebar yang terasa datar.

“Ada yang salah? Ini juga rumahku. Rumah peninggalan mamaku. Jadi kalau aku mau p**ang kapan pun, itu terserah aku, kan?”

Bibirnya terangkat sinis menatap keduanya. Tak ada lagi rasa takut seperti dulu. Kini ia berdiri dengan dagu terangkat, menatap lurus tanpa gentar.

“Kayaknya makin ke sini kamu makin kurang ajar, Shan?” Pak Baskoro menggeleng melihat sikap putrinya yang menurutnya sudah kelewatan terhadap orang tua.

“Mentang-mentang sekarang jadi istri orang kaya, ya, Mas. Jadi makin berani durhaka sama orang tua.” Mela kembali menabur racun. Sepertinya ia masih belum terima karena Dirga memilih menikahi Shana, bukan Silva—putrinya sendiri.

“Mang kenapa kalau kurang ajar? Kayaknya lebih kurang ajar laki-laki mokondo yang nikah siri sama pelakor deh.”

Shana menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam mengarah pada ayahnya yang kini berdiri dengan wajah menegang.

‘Pasti gue ditampar nih,’ teriak batinnya.

PLAKKK!!

‘Nah, benar kan! Astaga! Gue ditampar lagi untuk kesekian kalinya sama si mokondo.’

Sambil memegangi pipinya yang panas, Shana malah tertawa lebar. Wajahnya memerah, tatapannya menyala penuh perlawanan.

“Puas? Sudah puas? Cuma segini aja? Pengecut yang selalu nutupin kesalahan pakai kekerasan. Ayo, tampar lagi!”

Shana menantang tanpa rasa takut. Kini ia tidak selemah dulu. Sebentar lagi ia akan kaya raya, mendapat banyak harta gono-gini dari Dirga. Ia akan punya kekuatan untuk melawan semuanya.

Tangan Pak Baskoro kembali terangkat. Wajah lelaki itu merah padam menahan emosi.

“Mbak, kamu p**ang?”

Sebelum tamparan kedua mendarat, suara seorang gadis terdengar. Pak Baskoro mengurungkan niatnya. Napasnya memburu, matanya masih tajam menusuk ke arah Shana.

“Anak bejat!”

Shana menoleh saat mendengar suara itu. Seorang gadis seusianya berjalan mendekat. Itu Silva, adik tirinya. Suaranya lembut, penuh perhatian, bahkan terdengar seperti menyimpan kerinduan.

“He em,” jawab Shana datar.

Sambil mengalihkan pandangan dari ayahnya, ia bergumam pelan,

“Bapak bejat! Bangke!”

Tanpa menanggapi lebih jauh, Shana langsung berjalan meninggalkan mereka menuju kamarnya. Ada sesuatu yang harus ia ambil untuk persiapan perceraiannya dengan Dirga.

Saat berjalan menuju kamar, ia masih sempat mendengar suara Silva berkata kepada ayahnya.

“Papa jangan terlalu keras sama Mbak Shana. Dia juga anak Papa.”

Shana memutar bola mata. Ia benar-benar muak dengan gaya Silva yang selalu terlihat lembut itu. Entah kenapa, ia tidak pernah benar-benar percaya pada sikap baik adik tirinya itu. Meski belum pernah terbukti jahat, ia yakin Silva tidak sebaik yang terlihat.

Silva itu anaknya Mela.

Kalau buah jatuh, ya nggak akan jauh dari pohonnya. Eh… pokoknya begitulah. Darah mereka sama, pasti jahatnya juga sama.

Mau ditutupi dengan kelembutan seperti apa pun, bangkai tetap saja bangkai, kan?

Brak!

Shana membanting pintu kamarnya keras-keras untuk meluapkan semua kekesalan yang selalu meledak setiap kali ia berada di rumah ini.

Padahal dulu, rumah ini penuh kedamaian. Sebelum semuanya berubah. Sebelum negara api menyerang—begitulah ia menyebutnya.

Dulu ia dan ibunya hidup tenang di rumah ini, meski ayahnya sering pergi berdagang ke luar kota—setidaknya begitu katanya.

Shana mengambil tas besar dari dalam lemari, lalu mulai mengemasi semua barang yang perlu ia bawa untuk pergi dari rumahnya sendiri.

Sebentar lagi ia akan bercerai dan memulai hidup baru dengan modal harta dari Dirga. Ada banyak barang penuh kenangan yang harus ikut dibawa.

Pintu kembali terbuka saat Shana sedang sibuk berkemas.

Ia menoleh sekilas.

Wajah Silva yang tersenyum manis terlihat di sana.

Shana tak peduli. Ia tetap melanjutkan kegiatannya.

Sekretaris Dirga itu lalu duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Shana yang mondar-mandir mengambil barang.

“Mbak… kamu mau cerai dari Mas Dirga?”

Mata Shana langsung membelalak.

Tangannya mengepal menahan emosi.

Si Dirga benar-benar mulut ember!

Bisa-bisanya rahasia mereka dibocorkan begitu saja.

‘Bangke si Dirga! Bisa-bisanya malah curhat ke Silva!’

Baca Selengkapnya di KBM App

Judul : Sepakat Berpisah
Penulis : Inge Lezta





"Naya, kita bangkrut! Kita sudah miskin!"Ternyata suamiku hanya pura-pura bangkrut demi bisa menyenangkan istri mudanya ...
28/04/2026

"Naya, kita bangkrut! Kita sudah miskin!"

Ternyata suamiku hanya pura-pura bangkrut demi bisa menyenangkan istri mudanya yang sedang hamil. Ia tak tahu kalau aku ...

(1)

"Mas, kamu bercanda, 'kan? Usaha mebel kita baru saja mendapat pesanan besar dari hotel di Bali bulan lalu. Bagaimana mungkin sekarang kamu bilang kita bang krut?"

Naya menatap suaminya dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Hendri duduk dengan wajah ditekuk, melempar tumpukan map cokelat ke atas meja kopi hingga isinya berserakan.

"Untuk apa aku bercanda soal kehancvranku sendiri, Naya?!" bent4k Hendri. Suaranya yang mengg3legar membuat Naya sampai terlonjak. Ini bukan Hendri yang dulu lembut dan selalu memujanya.

"Tapi, Mas... uanq modal yang aku ambil dari tabungan pribadiku juga sudah masuk ke sana. Itu simpanan terakhirku," lirih Naya dengan mata berkaca-kaca.

Hendri tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat asing di telinga Naya. "Tabunganmu? Uanq receh itu tidak ada artinya! Dengar, Naya. Bank sudah menyita gudang dan seluruh aset kita. Semuanya habis! Dan kamu tahu kenapa ini terjadi?"

Hendri bangkit, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Naya yang pucat. "Ini karena kamu! Kamu wanita pembawa si4l! Lima tahun kita menikah, kamu tidak bisa memberiku an ak. Rahimmu kering! Ibu benar, mungkin Tuhan mengvtvk usahaku karena aku bersikeras mempertahankan istri mandvl sepertimu!"

Deg.

Jantung Naya seperti berhenti berdetak. Kata 'mandul' itu meluncur seperti sembilu yang menyayat ulu hatinya. Selama ini, Naya sudah berkorban segalanya. Ia meninggalkan kemewahan, mengabaikan murka ayahnya, dan rela hidup prihatin di awal pernikahan demi membangun usaha mebel ini dari nol bersama Hendri. Ia yang mengurus pembukuan, ia yang mencari klien, bahkan ia yang sering begadang di gudang untuk memastikan kualitas kayu.

"Mas... tega kamu bicara begitu? Kita sudah berjuang bersama, Mas. Tapi..."

"Sudah, Hendri. Jangan berdebat dengan wanita yang hanya tahu cara menghabiskan uanq ini."

Sesosok wanita paruh baya dengan daster bermerek dan perhiasan emas yang mencolok di lengannya muncul dari arah dapur. Bu Tami, ibu mertua Naya, menatap menantunya dengan pandangan rendah.

"Ibu..."

"Jangan panggil aku Ibu. Aku malu punya menantu yang tidak bisa memberikan cucu, malah sekarang membawa si4l bagi rezeki an akku," sahut Bu Tami dengan begitu kejam.

"Hendri sudah memutuskan. Karena rumah ini akan disita besok, kamu harus angkat kaki. Kami akan pindah ke kontrakan kecil untuk memulai lagi. Tapi tentu saja, kamu tidak perlu ikut," sambungnya.

Naya mengerutkan kening, tidak mengerti. "Maksud Ibu? Aku ini istri Mas Hendri. Ke mana pun Mas Hendri pergi, aku akan ikut mendampingi. Kita bisa mulai dari nol lagi di kontrakan itu, Mas."

Naya mencoba meraih lengan Hendri, namun pria itu menepisnya dengan kasar hingga Naya tersungkur ke lantai marmer yang dingin.

"Tidak perlu, Naya. Kontrakan itu terlalu sempit untuk tiga orang," ucap Hendri dingin.

"Tiga orang?" Naya mend**gak dengan napas tersengal.

"Iya. Aku, Ibu, dan... seseorang yang jauh lebih berguna darimu. Seseorang yang sedang mengandung ahli warisku," sambung Hendri tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Dunia Naya seolah rvntvh seketika. Di tengah berita bangkrvt yang mengh4nt4m, suaminya justru mengakui ada wanita lain. Dan wanita itu hamil?

"Kamu... kamu selingkvh, Mas? Di saat aku bekerja keras di kantor mebel, kamu justru—"

"Jangan sebut itu selingkvh! Itu adalah usaha untuk menyelamatkan ketvrunanku yang hampir pvnah gara-gara kamu!" sela Hendri. Ia meraih satu koper tua yang rupanya sudah ia siapkan di sudut ruangan, lalu melemparkannya ke hadapan Naya.

"Pergilah. Bawa pakaianmu. Jangan harap bisa membawa barang berharga dari rumah ini, karena semuanya milik bank. Kamu datang tidak membawa apa-apa, maka pergilah sebagai gelandangan!"

Naya menatap koper itu, lalu beralih ke wajah suaminya dan mertuanya yang menatapnya dengan senyum kemenangan. Rasa sakit di hatinya perlahan mengering, berganti dengan hawa dingin yang merayap ke seluruh tubuh.

Jadi ini balasan untuk pengorbananku selama lima tahun? batin Naya.

Naya bangkit dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia tidak menangis lagi karena tahu, bahwa hal itu tak ada gunanya. Ia meraih koper itu, lalu menatap Hendri dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Baik. Aku akan pergi," ucap Naya tenang, membuat Hendri dan Bu Tami sedikit terkejut. "Tapi ingat satu hal, Mas Hendri. Apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai. Jangan pernah menyesal saat kamu tahu siapa yang sebenarnya kamu buang hari ini."

"Halah! Banyak bicara! Pergi sana!" usir Bu Tami.

Naya melangkah keluar dari rumah mewah itu tanpa menoleh lagi. Di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun menyambut langkahnya, Naya merogoh saku gamisnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel yang layarnya sudah retak.

Sebuah nomor yang sudah lima tahun tidak ia hubungi kini tertera di layar.

"Halo... Ayah?" Suara Naya bergetar saat sambungan telepon itu diangkat. Ia menggigit bibirnya, mengingat betapa bodoh dirinya karena mengabaikan ayahnya demi pria seperti Hendri.

Sekarang, ucapan sang Ayah telah terbukti. Hendri bukan hanya berselingkvh, tapi juga mengusirnya tanpa iba.

"Naya? Ini benar kamu, Nak?" Suara berat di seberang sana terdengar penuh kerinduan.

"Ayah... maafkan Naya. Naya mau p**ang. Naya capek, Yah. Tolong bantu Naya."

Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. "Tunggu di sana. Jangan kemana-mana."

Tak lama setelah itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan Naya yang sudah basah kuyup. Namun, Naya tahu itu bukan mobil ayahnya. Pintu depan terbuka, dan seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam keluar memayungi Naya.

"Nona Nayala?" tanya pria itu. Wajahnya tampan, namun tatapannya tajam dan dingin.

Naya mend**gak. "Siapa kamu?"

Pria itu sedikit membungkuk hormat. "Nama saya Anjas. Tuan Surya mengutus saya untuk menjemput Anda. Mulai hari ini, saya bukan hanya supir pribadi Anda, tapi saya adalah orang yang akan membantu Anda membalas setiap tetes air mata ini."

Naya tertegun. Di belakangnya, ia mendengar suara tawa Hendri dan seorang wanita dari dalam rumah. Naya menggertak gigi, lalu masuk ke dalam mobil mewah itu.

***

Novel KBMApp

Judul : Siapa Suruh Pura-Pura Bangkrut
Penulis : umma khoir

Bagian 15“Mas Radit… maafin aku ya.”Aku menoleh pelan.Mataku masih basah. Dadaku masih sesak.Dan di hadapanku… Dila berd...
28/04/2026

Bagian 15

“Mas Radit… maafin aku ya.”

Aku menoleh pelan.

Mataku masih basah. Dadaku masih sesak.

Dan di hadapanku… Dila berdiri dengan wajah pu cat.

“Maafin aku, Mas… gara-gara aku Mas jadi terlambat bawa Bian ke rumah sakit…”

Aku menghela napas panjang.

Sakit.

Tapi entah kenapa… aku masih mencoba tegar.

“Udah, Dila,” kataku pelan. “Ini semua takdir… enggak ada yang bisa ngelawan ke ma ti an.”

Kalimat itu keluar dari mulutku.

Tapi di dalam hati…

aku sendiri tidak percaya.

Dila menggeleng.

Air matanya jatuh.

“Kalau aja Salsa enggak nelpon Mas… pasti Mas bisa bawa Bian…”

Tiba-tiba—

dia bersujud di depanku.

Di depan makam anakku sendiri.

“Maafin aku, Mas… maafin aku…”

Aku tersentak.

Cepat-cepat aku tarik bahunya.

“Jangan gini, Dila!” suaraku serak. “Ini bukan salah kamu… bukan juga salah Salsa…”

Aku berhenti sejenak.

Dadaku makin berat.

“Aku enggak mungkin ninggalin anak kecil yang lagi ketakutan sendirian…”

Aku mencoba membenarkan diriku sendiri.

Mencari alasan…

agar aku tidak terlihat seburuk itu.

“Kalian juga enggak punya siapa-siapa…”

Dila menangis semakin keras.

“Mas… aku mau minta maaf sama Andin…”

Aku langsung menggeleng.

“Jangan sekarang. Andin lagi han cur. Kedatangan kamu cuma akan bikin semuanya makin ka cau.”

Aku menatapnya.

“Kamu p**ang dulu.”

Dila mengangguk.

Tapi tiba-tiba—

“Aduh…”

Tubuhnya oleng.

Aku refleks menangkapnya.

“Dila! Kamu kenapa?”

“Kepalaku masih pusing, Mas…”

Aku mendesah kasar.

“Terus Salsa di mana?”

“Aku tinggal di rumah…”

DEG.

Emosiku langsung naik.

“Kamu ninggalin anak kecil sendirian?!”

Tanpa pikir panjang—

“Udah. Aku antar kamu p**ang sekarang.”

Dan tanpa sadar…

aku meninggalkan makam Bian.

Lagi.

Untuk kedua kalinya demi Dilla dan Salsa.

***
Judul: Kubuang Kau Demi Janda Kesayanganmu
Penulis: Arunika Senja
Sudah TAMAT di KBM App


Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membaw...
25/04/2026

Aku men4mpar istriku karena u4ng 300 ribu milik ibuku hilang. Seharian dia diam di k4mar, malam harinya dia pergi membawa b4yi kami, lalu dia mengirim sebuah pesan anc4man yang membuatku....

Bab 2

Aku duduk di pinggir ka sur, menyalakan sebatang ro kok untuk menenangkan saraf-sarafku yang teg ang. Puasaku hari ini jadi ru sak gara-gara terlalu emos i. Di sudut ruangan, Nuri merin gkuk membelakangiku. Di pang kuannya ada Arzan, ba yi itu sudah diam, mungkin kecapekan menangis hingga ketiduran.

Aku menatap punggung Nuri yang gemetar. Sebenarnya aku sayang dia, tapi dia terlalu sering membuatku emo si. Harusnya dia paham, mudik ini penting buatku. Aku ingin menunjukkan pada Ibu dan saudara-saudaraku kalau aku sukses di Jakarta. Aku ingin tunjukkan ke semua, kalau pilihanku menikahi Nuri tidak salah.

Tapi apa? Baru hari pertama dia sudah bikin m alu.

"Yusman! Sini, Le!" suara Ibu memanggil dari ruang tengah.

Aku mema tikan ro kok dan keluar. Ibu berdiri di dekat meja makan dengan wajah tanpa beban, memegang tiga lembar ua ng pecahan seratus ribu.

"Ua ngnya ketemu. Ternyata nyelip di bawah taplak meja. Ibu lupa semalam habis ngitung sisa belanja, Ibu taruh situ," ucap Ibu enteng. Beliau bahkan tidak terlihat merasa bersalah.

Aku tertegun sejenak. Jadi... Nuri benar? Dia memang tidak mengambilnya?

Ada rasa tidak enak yang menu suk ulu hatiku. Aku teringat tamparan tadi subuh, juga tenda-nganku yang mendarat di pa hanya saat di kam ar tadi. Tapi kemudian aku berpikir lagi, ya sudahlah, namanya juga orang tua. Ibu kan sudah sepuh, wajar kalau lupa. Lagi p**a, kalau Nuri tidak menjawab dengan nada menant ang tadi subuh, aku juga tidak akan sampai main tangan.

Aku masuk kembali ke kamar. Nuri mend**gak, matanya sembab dan wajahnya bengkak sebelah. Hatiku agak mence los melihatnya, tapi aku tidak boleh terlihat lemah. Sebagai suami, aku harus tetap punya wibawa.

"Ua ngnya sudah ketemu," kataku pendek, berusaha sedatar mungkin.

"Ketemu di mana, Mas?" tanya Nuri dengan suara serak.

"Terselip di bawah taplak meja makan. Ibu lupa naruh semalam," aku duduk di sampingnya, mencoba meredakan situasi. "Sudah, jangan nangis terus. Je lek dilihat tetangga nanti. Ayo keluar, bantu Ibu cuci piring dan memasak. Nanti sore pak lek dan keluarga mau datang. Kumpul keluarga besar di rumah ibu tahun ini."

Nuri menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Mas... kamu habis mu kul aku, nuduh aku mal ing, dan sekarang cuma bilang 'sudah ketemu' tanpa minta maaf?"

Aku mende ngus. "Ya kan sudah jelas sekarang salah paham. Ibu cuma khilaf karena faktor usia. Kamu juga sih, tadi bukannya bantu nyari malah nantangin, kan aku jadi em osi. Sudahlah, jangan diperpanjang. Namanya juga keluarga, masa mau hitung-hitungan salah terus?"

Nuri diam saja, tapi tatapannya kosong ke arah dinding. Aku menganggap diamnya adalah tanda setuju. Lagip**a, apalagi yang dia mau? Ua ngnya sudah ketemu, masalah selesai. Lebam itu nanti juga hil ang dalam dua atau tiga hari kalau dikasih salep.

Aku pun beranjak keluar ka mar. Aku merasa sudah bersikap cukup adil. Aku sudah memberi tahu dia kalau uangnya ketemu, itu sudah cukup sebagai bentuk "permintaan maaf" terselubungku. Sekarang waktunya menikmati mudik, pusing juga kalau harus meladeni drama perempuan terus-menerus.

Masak iya, jauh-jauh p**ang dari Jakarta dengan niat pamer malah harus meladeni drama ibu dan Nuri? Berasa ngak ada harga dirinya aku ini. Pokoknya lebaran kali ini, aku harus bisa buktikan ke semua, jika aku sukses, bukan cuma materi, tapi juga sukses mendidik istri jadi penurut.

Yuk baca selanjutnya ke KBM app.

Judul : Dituduh Mencu ri uang Mertua

Penulis : senja_naja

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (10) (9A) Suasana kamarku terasa mencekam. Mas Indra masih memegang sudut bibirnya yang pecah ...
25/04/2026

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (10)
(9A)

Suasana kamarku terasa mencekam. Mas Indra masih memegang sudut bibirnya yang pecah karena ditonjok ayah. Aku shock tadi, ketika Mas Indra datang, tiba-tiba Ayah menghadiahinya dua pukulan. Beruntung, Ibu bisa menenangkannya. Kini kami duduk bersama di kamarku, rapat darurat. Sementara itu, para kerabat yang bersiap berangkat dari sini besok, sudah ramai berkumpul di ruang tengah.

“Apa maksud kamu berbuat seperti ini, Indra? Kamu lamar putri sulungku, tapi kamu rusak putri bungsuku?!” Ayah menggeram. Suaranya datar, penuh kemarahan.

Aku menunduk, hatiku berkedut takut. Ibu memelukku sambil mengusap-usap punggungku. Beruntunglah di sini aku terlihat seperti korban. Jadi, hanya Mas Indra yang dapat kemarahan.

“Maaf, Yah. Waktu itu, saya agak mabuk. Saya pikir, yang saya tid*ri itu, Nira, tapi pas saya bangun, ternyata Dinar. Saya mengaku salah, Yah.”

Suara Mas Indra terdengar pasrah. Tentu saja, pasrah yang dibuat-buat juga.

“K—Kamu!” Ayah menunjuk wajah Mas Indra penuh kemarahan.

“Saya siap bertanggung jawab pada Dinar, Yah. Gimanapun … dia mengandung anak saya.” Suara Mas Indra memotong kalimat ayah.

Hening sejenak. Ayah menjatuhkan tubuhnya pada kursi belajarku. Sementara itu, Mas Indra berdiri menunduk seperti pesakitan.

“Kalau kamu menikahi Dinar, gimana dengan Nira? Sehancur apa hati dia? Kalian itu gegabah!” hardik Ayah.

“Maaf, Yah. Saya benar-benar minta maaf. Ini diluar kendali kami. Hanya saja, karena Dinar sudah mengaku mengandung anak saya. Biar saya yang bicara dengan Nira, kalau yang akan saya nikahi itu, Dinar. Bukan dia.”

Ayah mengepalkan tinjunya. Lalu menghantam tembok dengan keras berulang kali, seolah meluapkan kekesalannya yang memuncak.

“Ayah!” Ibu terkejut, bangun lalu memburu Ayah.

“Istighfar, yah … istighfar,” tutur Ibu sambil memeluk ayah. Ibu sesenggukkan. Tentu saja dia kesal, karena melihat anak kesayangannya akan terl*ka.

“Biar aku panggil Mbak Nira ke sini, Bu.” Aku lekas mengambil gawai dan menelpon Mbak Nira. Inisiatifku tak ada yang menahan. Aku harus segera selesaikan semua urusan ini. Aku nggak sabar melihat wajah Mbak Nira hancur lebur berantakan.

Tak berapa lama, pintu kamarku diketuk. Mbak Nira muncul dengan jeans selutut dan kaos longgar, rambutnya dikuncir santai. Di tangannya memegang es krim.

“Ada apa, Din? Eh, kok kalian pada ngumpul di sini?” tanyanya dengan wajah heran. Aku berpura-pura mendung, tetapi sudut hatiku tak sabar melihatnya hancur.

“Ayah dan Mas Indra mau bicara, Mbak.” Aku bicara lirih, sambil duduk kembali di tepi tempat tidurku.

“Oh, ya? Bicara apa, sih? Malah pada ngumpul di sini.” Mbak Nira ikut duduk di sampingku sambil menjilati es krim, santai, tenang, tanpa beban. Ah, sebentar lagi, es krim itu pasti dibantingnya ke lantai.

“Nak, kamu yang sabar, ya!” Sebelum orang lain berbicara, Ibu lebih dulu memeluk Mbak Nira dan menangis sesenggukkan.

“Loh, Ibu kenapa, sih? Aku emang kurang sabar apa, sih?” tanyanya dengan wajah polos dan heran.

“Kamu yang sabar, Naaak!” Suara Ibu penuh emosi, isaknya makin kencang.

“Bu, udah ih nangisnya. Es krimku jatuh nanti.” Mbak Nira begitu santai melepas pelukan Ibu, lalu menatap Mas Indra dan Ayah bergantian.

“Ayah sama Mas Indra mau bicara apa, sih? Kok kayak penting banget?” tanyanya, ringan.

Aku mendelik sekilas. Tak sabar melihat wajah sok kuat itu berubah pias.

Ayah dan Mas Indra malah saling bertukar pandang. Aku jadi nggak sabar. Akhirnya, aku ambil tespeck yang jatuh dari tangan ayah tadi dan menunjukkannya pada Mbak Dinar.

“Maaf, Mbak … a—aku, aku h4m1l.” Aku meletakkan tespeck itu ke pangkuannya.

Hening, tak ada reaksi. Aku melirik wajah Mbak Nira, tapi dia terlihat datar saja.

“Oh, h4m1l? Jadi selama ini kamu bukan pergi kuliah, tapi pergi pacaran?” kekehnya sambil melempar benda itu ke lantai, seolah tak penting.

“Padahal Mbak banting tulang biar kehidupan kamu, ayah sama Ibu lebih terjamin di masa depan. Eh, malah gini hasilnya. Kurang bel4ian kamu, ya!”

Astagaaa, kenapa jadi malah dia yang nyerang aku? Aku melirik ayah dan Mas Indra, kenapa mereka pada diam saja.

“Mbak, jaga mulut kamu! Aku juga terjebak!” bentakku tak tahan.

“Terjebak atau sama-sama, nyari enak?” tanyanya ringan. Diluar dugaan, dia begitu santai menanggapi semua ini.

“Ini salah aku, Nira. Aku yang khilap.” Ah, syukurlah Mas Indra membuka suara. Aku melirik wajahnya, berharap dia shock, menjerit, menangis. Namun, diluar dugaan. Dia hanya menaikkan satu alisnya ke atas dan menatapku dan Mas Indra bergantian dengan pandangan j*jik.

“Oh, jadi dia h4m1l anak kamu, Mas! Semurah itu ya, kamu. Macarin kakaknya bertahun-tahun, eh diam-diam h4m1li adiknya. Nggak punya harga diri banget ya kamu jadi cowok,” tuturnya tanpa teriakkan, tanpa tangisan, tanpa kehancuran seperti yang kubayangkan.

Aku dan Mas Indra saling bertukar pandang. Ekspresi Mbak Nira, diluar dugaan.

“Maafkan ayah, Nira. Ayah nggak bisa didik Dinar sebaik ayah mendidik kamu.” Suara ayah serak, menatap Mbak Nira dengan penuh rasa bersalah.

“Ayah nggak salah. Ayah jangan menyalahkan diri. Lalat itu memang akan tertariknya pada kotoran atau bangkai dari pada berlian yang bersinar.”

Huek, muak banget dengar kata-katanya. Masih sempat-sempatnya dia ngatain aku dan Mas Indra, lalat dan bangkai. Sial.

“Jadi, karena aku sudah mengandung anak Mas Indra. Besok, aku yang harus dia nikahin, Mbak. Aku nggak mau besarin anak ini tanpa ayah.” Gemas, aku segera menyela kalimat sok bijaknya. Pasti mendengar itu, dia terpukul. Semua persiapan yang sudah matang ini, mau tak mau harus diserahkan padaku. Dia nggak ada pilihan ‘kan?

“Oh, ya sudah, silakan saja! Silakan kalian nikah … tapi.”

Mbak Nira berdiri santai sambil menjilati es krimnya, lalu membagi pandangan padaku dan Mas Indra bergantian. Ayah dan Ibu pun tampak heran dengan ketenangan Mbak Nira, mereka saling bertukar pandang.

“Tapi apa, Nira?” Mas Indra terlihat tak sabar.

“Tapi, silakan kalian cari gedung resepsi, catering dan pelaminan sendiri. Jangan pakai semua paket pernikahan yang sudah aku bayar dan aku lunasi.”

Hah? G*la? Ngurus semuanya sendiri? Mana sempat. Ini tinggal sehari. G*l4, Mbak Nira benar-benar g1l4. Bisa-bisanya dia malah menyerang balik aku dan Mas Indra setenang itu.

“Kamu jangan pelit gitu sama adik sendiri d**g, Nira! Lagian sayang, paket pernikahan semewah itu kalau nggak kepake. Mubadzir,” hardik Mas Indra, mulai naik pitam.

“Adik? Emang masih pantas dia disebut adik. Rasanya enggak. Dia lebih pantas disebut perempuan murah, yang rela melakukan apa saja demi u4n9!” kekehnya sambil menatapku tajam.

Aku mengepalkan tangan, darahku mendidih. Tapi anehnya … Mbak Nira malah tersenyum.

Tipis. Tenang. Menyeramkan.

“Silakan kalau kalian memaksa mau ikut memakai paket pernikahan yang sudah kubayar besok,” lanjutnya ringan.

“Pernikahanku besok, akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kalian.”

Dadaku mendadak berdebar. Ada yang salah. Sangat salah.

“Karena bagaimanapun .…” Ia menatapku dan Mas Indra bergantian, “besok akan tetap jadi hari yang tak akan pernah terlupakan.”

Senyum itu masih ada. Namun, senyuman tenang yang terasa menakutkan. Aku yang awalnya tak sabar melihatnya hancur, kini justru mulai merasa seakan aku yang akan dihancurkan.

Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya, yuk baca di KBM App

(11) Hari Minggu, Bima membawa keluarganya jalan-jalan ke salah satu mall di Jakarta. Mereka ingin membelikan perlengkap...
25/04/2026

(11) Hari Minggu, Bima membawa keluarganya jalan-jalan ke salah satu mall di Jakarta. Mereka ingin membelikan perlengkapan untuk pesta ulang tahun Inaya yang baru genap delapan tahun, yang akan dirayakan Minggu depan.

Hari ini mereka mencari perlengkapan, sekalian menikmati waktu bersama keluarga, agar semakin sempurna permainan Bima.

Angga tak ikut, karena ia tak s**a jalan bersama Bima. Sejak ia tahu kecurangan papanya, Angga terus menerus menghindari lelaki itu. Saat makan, Angga cepat-cepat menyudahi makannya dan masuk ke kamar. Saat monoton TV dan tiba-tiba Bima p**ang dari kantor, Angga langsung naik ke atas. Ia membiarkan adik-adiknya bergelayut manja di lengan papanya, di pangkuannya. Sementara ia sendiri begitu benci melihat lelaki itu.

Lebih baik menghindar daripada memicu amarah yang lebih besar. Nindita merasakan kerenggangan itu. Ia sempat bertanya pada Angga, kenapa ia berjarak dengan Bima.

“Angga nggak ngerasa gitu, Ma.” Angga membantah apa yang dituduhkan oleh Nindita.

Keesokan harinya, Angga tak terlalu kentara memperlihatkan kerenggangan itu lagi. Ia tetap tinggal saat ada Bima, tapi saat berbicara Angga hanya menjawab saat ditanya. Angga takut jika mama bertanya lagi, dan ia tak bisa menemukan kebohongan yang tepat.

Nindita tak hanya bertanya pada Angga, ia juga mengeluhkan hal itu pada suaminya.

“Akhir-akhir ini aku lihat kamu sama Angga kayak renggang, Mas. Angga jarang ngomong kalau lagi ada kamu. Kamu juga, aku perhatiin udah jarang ngobrol sama Angga. Kenapa sih, Mas?” Nindita sungguh penasaran, karena Angga dan Bima sebelumnya tak pernah seperti itu.

“Waktu itu pas kamu bilang Angga bolos, aku langsung telepon dia dan nggak tanggung-tanggung aku marahi tanpa bertanya ini itu. Aku nggak dengar penjelasan dia, langsung marah dan bilang mau nyita motornya. Mungkin itu yang bikin dia sedikit marah sama aku. Katanya dia malu aku marahi di depan Sam.”

Bima menjelaskan begitu lancar, tanpa beban seolah itu adalah bentuk kejujuran.

“Dia cuma bolos sehari waktu itu, sekarang tiap hari aku nanya ke wali kelasnya. Kamu udah minta maaf sama Angga?” tanya Nindita.

“Udah. Tapi, mungkin masih kesal. Nanti juga baikan. Namanya juga anak remaja, emosinya masih labil.”

“Nanti deh, aku kasih pengertian ke dia. Nggak baik menghindar dari orangtua.” Nindita bersungguh-sungguh, tak tahu bahwa suaminya sedang berbohong.

Bima, Nindita dan dua gadis kecilnya berjalan mengitari toko ke toko. Mereka memilih-milih barang yang diperlukan. Balon, pita, dan semua perintilannya sudah dibeli, sekarang saatnya memilih pakaian yang cocok untuk Inaya yang akan dipakainya saat pesta ulang tahun.

Nindita juga membeli beberapa hijab yang ia s**ai. Bima menyuruhnya memilih apa saja yang ia inginkan. Hingga saat selesai belanja, Bima mengajak keluarganya untuk makan siang di sebuah restoran yang terkenal enak di mall tersebut.

Namun, tiba-tiba semuanya menoleh saat mendengar Inaya memanggil seseorang.

“Enzy!” teriak Inaya di tengah keramaian.

Gadis kecil yang namanya dipanggil itu menoleh, memastikan siapa yang memanggilnya. Enzy membulatkan mata dengan lengkungan senyum yang sempurna saat melihat Inaya bersama keluarganya.

“Ma, ada Enzy, Ma!” ucap Inaya pada mamanya bersemangat.

“Mana?” tanya sang mama yang belum melihat teman Inaya itu. Pasalnya mall terlalu ramai di hari libur, banyak sekali lalu lalang orang-orang sehingga Nindita tak bisa melihat tubuh kecil itu.

Inaya menunjuk ke arah kanannya, di mana dari kejauhan beberapa meter terlihat Enzy melambai padanya.

Bima yang melihat itu wajahnya langsung pias, bukan karena Enzy, melainkan karena seseorang yang bersama Enzy memicu spot jantung yang lebih kencang dari normalnya.

“Panggil ke sini!” Nindita berkata pada Inaya.
...

Yuk lanjut di kbm app
Judul Video Pernikahan Papa
Penulis El Baarish

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Joe Brendo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share