RiiinStory

RiiinStory Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from RiiinStory, Digital creator, Jakarta.

Ketika Kesetiaan Tidak Dipeluk, Melainkan DitinggalkanAlya selalu percaya bahwa cinta adalah soal bertahan. Bukan tentan...
26/01/2026

Ketika Kesetiaan Tidak Dipeluk, Melainkan Ditinggalkan

Alya selalu percaya bahwa cinta adalah soal bertahan. Bukan tentang bunga yang datang setiap hari, atau kata manis yang diucapkan setiap malam, melainkan tentang hadir—bahkan saat dunia terasa berat. Itulah sebabnya ia menerima Faris apa adanya, bahkan ketika lelaki itu datang dengan masa lalu yang kusut dan mimpi yang belum rapi.

Mereka menikah sederhana. Tanpa pesta megah, tanpa gaun mahal. Alya mengikat janji dengan harapan yang sangat bersih: aku akan setia, dan aku akan jujur. Baginya, pernikahan bukan tempat untuk bersembunyi, melainkan rumah untuk p**ang.

Tahun-tahun awal berjalan tenang. Alya bekerja, mengurus rumah, dan menunggu Faris p**ang dengan senyum yang tak pernah dibuat-buat. Ia menyiapkan makan malam, mendengarkan keluh kesah Faris tentang pekerjaan, dan menelan lelahnya sendiri. Ia tidak pernah merasa rugi, karena ia mencintai dengan tulus.

Ketika usaha Faris gagal dan utang mulai menumpuk, Alya tetap berdiri. Ia menjual perhiasan terakhir yang dimilikinya—bukan karena diminta, tapi karena ingin. Ia berkata, “Kita bangun ulang sama-sama.” Faris mengangguk, memeluknya, dan berjanji tak akan mengecewakan.

Namun ketulusan, rupanya, tidak selalu mengundang kesadaran.
Kadang ia justru dianggap kelemahan.
Perubahan itu datang perlahan. Faris mulai sering p**ang larut, ponselnya tak lagi diletakkan sembarangan. Senyumnya tak sampai ke mata. Alya melihatnya, merasakannya, tapi memilih diam. Ia percaya, cinta harus diberi ruang, bukan kecurigaan.

Hingga suatu malam, ketika hujan turun tanpa ampun, Alya menemukan pesan yang tak sengaja terbuka di layar ponsel Faris. Bukan kalimat panjang, hanya satu baris sederhana:
“Aku rindu. Kapan kita bisa bertemu lagi?”
Dunia Alya runtuh tanpa suara. Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Hanya dada yang terasa kosong, seolah seluruh udara dirampas sekaligus. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali, berharap maknanya berubah. Tapi kenyataan tetap keras.
Faris mengaku. Ia berkata ia merasa “dihargai” oleh perempuan lain. Merasa “hidup kembali”. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada kebohongan. Karena Alya sadar—selama ini ia memberi segalanya, tapi tak pernah diminta. Dan mungkin, tak pernah benar-benar diinginkan.
“Maaf,” kata Faris.

Kata yang terlambat dan terlalu ringan.
Alya tidak langsung pergi. Ia menangis dalam diam berhari-hari. Ia mencoba memahami, mencoba memaafkan. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa kurangku? Padahal pengkhianatan bukan tentang kekurangan pasangan, melainkan kegagalan menjaga komitmen.
Pada akhirnya, Alya memilih pergi. Bukan karena ia berhenti mencintai, tetapi karena ia mulai mencintai dirinya sendiri. Ia sadar, ketulusan tidak seharusnya dibayar dengan luka yang berulang.
Di hari terakhirnya di rumah itu, Alya menulis sepucuk surat:

Aku tidak menyesal mencintaimu dengan sepenuh hati.
Aku hanya menyesal kau tidak menjaga cinta itu bersamaku.

Faris membaca surat itu sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kehilangan yang sesungguhnya—kehilangan seseorang yang mencintai tanpa syarat, tanpa cadangan, tanpa permainan.

Ketulusan Alya tidak kembali padanya.
Namun ketulusan itu menyelamatkan Alya.
Karena cinta sejati tidak selalu berakhir bersama,
tapi selalu berakhir dengan kejujuran pada diri sendiri.

Perselingkuhan: Kisah Dua Jiwa Kosong yang Saling Menggaruk Luka(Tulisan ini sengaja keras—bukan untuk menyenangkan, tap...
24/01/2026

Perselingkuhan: Kisah Dua Jiwa Kosong yang Saling Menggaruk Luka

(Tulisan ini sengaja keras—bukan untuk menyenangkan, tapi untuk menyadarkan)

Perselingkuhan.
Satu kata yang sering dianggap remeh.
Dibungkus tawa.
Dijadikan rahasia manis.
Bahkan kadang dipamerkan dengan bangga, seolah itu tanda bahwa seseorang masih “diinginkan”.
Padahal di balik kata itu, ada hati yang runtuh perlahan.
Ada kepercayaan yang mati tanpa pemakaman.
Ada rumah tangga yang hancur tanpa suara.
Perselingkuhan bukan cinta.
Ia hanyalah pertemuan dua manusia yang sama-sama kosong—sama-sama gatal, sama-sama tak mampu mengendalikan diri.
✨ Ketika Pengkhianatan Dipoles Menjadi Romansa
Banyak orang pintar membungkus dosa dengan kata indah.
Mereka menyebutnya kenyamanan baru.
Mereka menamainya cinta yang terlambat datang.
Ada p**a yang nekat menyebutnya takdir kedua.
Seolah perselingkuhan adalah kisah cinta terlarang yang patut diperjuangkan.
Padahal tidak.
Itu bukan cinta.
Itu hanyalah nafsu yang diberi alasan.
Dua orang yang sama-sama kehilangan malu, lalu saling menguatkan kesalahan.
✨ Rasa Gatal Itu Bukan di Tubuh—Tapi di Jiwa
Rasa gatal tidak muncul di kulit.
Ia muncul di hati yang kosong.
Di pikiran yang tak pernah puas.
Di ego yang haus pujian dan perhatian.
Gatal karena ingin dipuja.
Gatal karena ingin diinginkan.
Gatal karena ingin merasa “lebih” dari orang lain—meski harus melukai.
Alasan pun bermunculan: “Aku tidak bahagia di rumah.”
“Aku tidak dihargai.”
“Pasanganku sudah berubah.”
Tapi pertanyaannya sederhana: Jika tidak bahagia, mengapa tidak jujur?
Jika terluka, mengapa tidak menyelesaikan dengan dewasa?
Mengapa memilih berbohong, bersembunyi, dan menusuk dari belakang?
Karena perselingkuhan bukan solusi.
Ia hanya pelarian dari tanggung jawab.
✨ Perselingkuhan Selalu Pilihan Sadar
Tidak ada perselingkuhan yang terjadi tiba-tiba.
Tidak ada yang benar-benar “khilaf”.
Semuanya dimulai dari: Pesan yang dibalas.
Perhatian kecil yang dibiarkan.
Candaan yang melewati batas.
Pertemuan yang sengaja diatur.
Kebohongan yang diulang tanpa rasa bersalah.
Perempuan yang menjadi orang ketiga tahu pria itu punya pasangan.
Namun tetap membuka pintu, tetap berharap, tetap merasa spesial.
Pria yang berselingkuh tahu ada istri setia di rumah.
Tahu ada anak yang menunggu.
Namun tetap memilih api, lalu menyebutnya cinta.
✨ Luka Perselingkuhan Tidak Pernah Sederhana
Yang terluka bukan hanya dua orang.
Yang hancur bukan hanya satu hubungan.
Ada pasangan yang kehilangan kepercayaan pada cinta.
Ada anak yang tumbuh dengan trauma dan pertanyaan tanpa jawaban.
Ada keluarga yang menanggung malu dan kehancuran.
Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun runtuh oleh kesenangan sesaat.
Perselingkuhan ibarat menyalakan api di dalam rumah sendiri—
awalnya kecil, tapi akhirnya membakar segalanya.
✨ Tidak Ada Kebanggaan dalam Merusak Rumah Tangga Orang
Tidak ada kehormatan menjadi orang ketiga.
Tidak ada kemenangan dalam merebut pasangan orang lain.
Yang kamu dapatkan bukan cinta sejati—
melainkan seseorang yang lemah dan tidak setia.
Dan bagi pelaku perselingkuhan:
setiap kebohongan merusak harga dirimu sendiri.
Setiap pengkhianatan sedang menyiapkan kehancuran yang kelak harus kamu hadapi.
✨ Akhir dari Dua Jiwa yang Sama-Sama Gatal
Perselingkuhan bukan soal siapa lebih cantik atau lebih tampan.
Bukan soal siapa lebih perhatian atau lebih menarik.
Ini tentang dua manusia yang sama-sama kehilangan kendali.
Sama-sama egois.
Sama-sama kosong.
Dan ketika nafsu memudar, yang tersisa hanyalah rasa bersalah, benci, dan penyesalan yang datang terlambat.
✨ Cinta Tidak Pernah Tumbuh dari Pengkhianatan
Cinta sejati tidak lahir dari air mata orang lain.
Tidak tumbuh dari kebohongan.
Tidak berdiri di atas reruntuhan pernikahan yang hancur.
Jika itu benar-benar cinta, ia akan datang dengan cara yang benar.
Tanpa merusak.
Tanpa melukai.
Tanpa mengkhianati.
Jangan tertipu manisnya perselingkuhan.
Di balik kenikmatan sesaatnya, ada racun yang perlahan membunuh segalanya.
Karena pada akhirnya, perselingkuhan tidak pernah melahirkan cinta.
Ia hanya melahirkan luka, kehancuran, dan penyesalan.

Di Antara Janji yang Pernah SuciDina selalu percaya bahwa cinta adalah soal bertahan.Bukan soal bahagia setiap hari, tap...
24/01/2026

Di Antara Janji yang Pernah Suci
Dina selalu percaya bahwa cinta adalah soal bertahan.
Bukan soal bahagia setiap hari, tapi soal tetap memilih orang yang sama, bahkan saat rasanya hambar.
Ia menikah dengan Arga delapan tahun lalu. Pernikahan yang sederhana, tanpa pesta mewah, tapi penuh janji. Arga menggenggam tangannya dan berkata, “Kalau nanti kita capek, kita istirahat bareng, bukan cari orang lain.” Dina mengingat kalimat itu seperti doa.
Tahun-tahun awal berjalan hangat. Mereka tertawa di dapur sempit, makan mie instan di akhir bulan, dan bermimpi punya rumah dengan halaman kecil. Tapi hidup pelan-pelan berubah. Bukan karena badai besar—melainkan karena diam yang terlalu lama.
Arga sibuk. Dina mengerti.
Dina sibuk. Arga merasa dimengerti.
Mereka berhenti bercerita.
Bukan bertengkar, bukan marah—hanya berhenti berbagi.
Dan ternyata, diam yang dibiarkan tumbuh bisa lebih berbahaya daripada pertengkaran.
Orang Ketiga Tidak Pernah Datang Tiba-Tiba
Namanya Maya.
Rekan kerja Arga.
Tidak ada niat. Tidak ada rencana.
Awalnya hanya obrolan ringan saat lembur. Keluhan kecil tentang pekerjaan. Lelucon receh yang membuat Arga tertawa—sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan di rumah.
Maya mendengarkan.
Bukan karena Dina tidak mau, tapi karena Dina terlalu lelah untuk bertanya.
Pelan-pelan, Arga mulai membandingkan.
Bukan wajah. Bukan tubuh.
Tapi perasaan dimengerti.
Dan di situlah kesalahan pertama terjadi—
bukan saat tangan bersentuhan,
tapi saat Arga mulai menyimpan cerita untuk orang lain.
Pengkhianatan Selalu Dimulai dari Hal Kecil
Chat yang dihapus.
Alasan p**ang terlambat.
Ponsel yang dibalik.
Dina sebenarnya tahu. Perempuan punya insting yang jarang salah. Tapi ia memilih percaya, karena kebenaran sering kali lebih menyakitkan daripada kebohongan.
Sampai suatu malam, Dina menemukan pesan yang tidak seharusnya ia baca.
Tidak vulgar.
Tidak mesum.
Hanya kalimat sederhana:
“Terima kasih ya, kamu selalu bikin aku ngerasa p**ang.”
Dan dunia Dina runtuh.
Yang Hancur Bukan Cuma Hati, Tapi Harga Diri
Arga meminta maaf.
Menangis.
Bersumpah.
Katanya cuma salah langkah. Katanya tidak akan terulang. Katanya masih cinta.
Tapi Dina sadar, yang rusak bukan cuma kepercayaan—melainkan cara ia memandang dirinya sendiri.
Ia bertanya-tanya:
Kurang apa aku?
Salahku di mana?
Sejak kapan aku tak cukup?
Padahal, perselingkuhan jarang soal kekurangan pasangan.
Lebih sering soal ketidakberanian seseorang menghadapi kesepiannya sendiri.
Memaafkan Tidak Selalu Berarti Bertahan
Dina memaafkan.
Bukan karena Arga pantas, tapi karena Dina lelah membawa marah.
Namun memaafkan tidak otomatis menyembuhkan.
Setiap senyum Arga terasa asing.
Setiap sentuhan terasa ragu.
Dan suatu pagi, Dina memilih pergi.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan drama.
Ia pergi dengan tenang, membawa satu pelajaran mahal:
Cinta seharusnya menjadi tempat p**ang, bukan tempat kita terus-menerus merasa sendirian.
Epilog
Arga kehilangan Dina.
Bukan karena Maya,
tapi karena ia gagal menjaga yang paling setia.
Dina belajar lagi mencintai dirinya sendiri.
Pelan.
Tanpa terburu-buru.
Karena tidak semua hubungan berakhir bahagia.
Tapi setiap orang berhak berakhir dengan harga diri yang utuh.

Pernikahan yang Hanya Bernama IkatanMereka menikah bukan karena cinta.Bukan p**a karena keyakinan yang sama pada Tuhan.D...
21/01/2026

Pernikahan yang Hanya Bernama Ikatan

Mereka menikah bukan karena cinta.
Bukan p**a karena keyakinan yang sama pada Tuhan.
Dan bukan karena mereka saling memahami lewat percakapan panjang.
Mereka menikah karena waktu.
Karena usia.
Karena tekanan keluarga.
Karena “semua orang juga begitu”.
Di awal, semuanya terlihat baik-baik saja.
Ada foto pernikahan yang rapi, senyum yang dipaksakan, dan doa yang diucapkan tanpa benar-benar dihayati.
Mereka hidup serumah, berbagi meja makan, berbagi ranjang—
namun tidak berbagi jiwa.
Tanpa Agama
Ketika masalah datang, tidak ada tempat untuk kembali.
Tidak ada doa yang menenangkan.
Tidak ada nilai benar dan salah yang disepakati bersama.
Setiap konflik diselesaikan dengan ego.
Bukan dengan sabar.
Bukan dengan pengampunan.
Saat lelah, mereka tidak saling menguatkan—
mereka saling menyalahkan.
Tanpa Cinta
Mereka tidak saling rindu.
Tidak cemburu.
Tidak takut kehilangan.
Jika pasangan p**ang terlambat, tidak ada tanya “kamu kenapa?”
Jika pasangan diam berhari-hari, tidak ada usaha memahami.
Kesetiaan bukan pilihan hati,
melainkan kewajiban kosong.
Tanpa Komunikasi
Masalah kecil disimpan.
Masalah besar dipendam.
Hingga akhirnya meledak tanpa solusi.
Mereka berbicara, tapi tidak mendengar.
Mereka mendengar, tapi tidak memahami.
Setiap percakapan berubah menjadi perdebatan.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat p**ang,
berubah menjadi tempat paling sunyi.
Dampak Negatif Pernikahan Tanpa Agama, Cinta, dan Komunikasi
Kesepian di dalam pernikahan
Lebih menyakitkan daripada sendirian.
Emosi terpendam
Marah, kecewa, lelah—menumpuk tanpa jalan keluar.
Anak menjadi korban
Tumbuh di rumah tanpa kehangatan, hanya rutinitas.
Hilangnya rasa hormat
Karena tidak ada nilai dan rasa yang dijaga.
Mudah goyah oleh godaan luar
Karena rumah tidak memberi ketenangan.
Namun… Apakah Tidak Ada Sisi Positif?
Ada. Tapi pahit.
Menyadarkan bahwa pernikahan bukan sekadar status
Cincin tidak menjamin kebahagiaan.
Mengajarkan arti pentingnya fondasi
Agama, cinta, dan komunikasi bukan pelengkap—
mereka adalah pondasi.
Membuat seseorang belajar mengenal dirinya sendiri
Apa yang ia butuhkan.
Apa yang ia layak dapatkan.
Menjadi titik balik
Untuk memperbaiki diri, atau berani mengambil keputusan besar.
Motivasi & Renungan
Pernikahan tanpa agama akan kehilangan arah.
Pernikahan tanpa cinta akan kehilangan hangat.
Pernikahan tanpa komunikasi akan kehilangan makna.
Jika salah satu hilang, pernikahan pincang.
Jika ketiganya hilang, pernikahan hanya tinggal nama.
Namun kabar baiknya:
Cinta bisa ditumbuhkan
Komunikasi bisa dipelajari
Agama bisa diperbaiki dan dihidupkan kembali
Selama masih ada niat dan kerendahan hati.
Dan jika tidak…
maka berani jujur pada diri sendiri adalah bentuk tanggung jawab,
bukan kegagalan.
Penutup
Pernikahan bukan tentang bertahan sekuat tenaga,
melainkan tentang tumbuh bersama dengan nilai, rasa, dan percakapan.
Karena rumah yang damai
bukan dibangun dari tembok yang kuat,
tetapi dari hati yang sejalan dan Tuhan yang dihadirkan.

21/10/2025

Satu harapanku semoga anak-anakku tidak merasakan susah seperti yang aku rasakan, semoga mereka bahagia. Aamiin

20/10/2025

Semoga kita semua bisa memberangkatkan orang tua kita ke tanah suci Mekah 😊 Aamiin

18/10/2025

Semoga yang pernah dihina, dipandang rendah, bahkan tidak dihargai, suatu saat menjadi orang yang sukses. Aamiin

17/10/2025

Jangan takut dia PERGI,
takutlah jika dia BERSAMAMU namun hatinya untuk ORANG LAIN.

16/10/2025

Sekarang hin4an sudah terbungkus rapi dalam bentuk kata BERCANDA

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when RiiinStory posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share