02/04/2026
Tadi sore pas aku lagi beli jajan, ada Ibu-ibu duduk di pinggir trotoar. Di sampingnya ada buah-buahan yang dimasukin ke keranjang. Buahnya banyak macem.
Sambil nunggu jajanan aku selesai dibuat, aku samperin Ibunya.
"Bu, ikut duduk di sini ya," aku permisi ke Ibunya.
Si Ibu dengan muka yang keliatan sangat lelah, menjawab sapaan aku dengan senyum ramah banget. "Monggo, Mbak."
"Kediri beberapa hari sumuk banget ya, Mbak. Tapi sore hujan juga deres," si Ibu memulai percakapan sebagai pengamat cuaca hihi
"Nggih, Bu. Cuacanya ga menentu," aku lihat si Ibu beberapa kali mengusap keringat yang terus-terusan muncul.
Aku denger suara krucuk dari perut si Ibu. Si Ibu cuma tersenyum karir. "Perut saya bunyi. Belum makan."
"Mau aku beliin makan dulu, Bu? Ibu mau apa? Nasi padang yang di situ aja ya biar cepet?"
"Oh gausah, Mbak. Ini sebentar lagi saya mau pulang kok. Udah sore juga."
Aku liat kerajang buah si Ibu masih banyak, tapi Beliau udah mau pulang.
"Ibu, tunggu di sini sebentar aja ya. Jangan kemana-mana dulu. Aku mau ambil pesenan aku. Sebentar, Bu."
Si Ibu mengangguk sambil senyum.
Aku ambil pesenan jajanku, terus aku lanjut pergi ke tukang nasi Padang.
Pas aku sampai ke tempat tadi, ternyata si Ibu masih ada.
"Bu, ini rezeki yang sedikit banget buat Ibu makan dulu ya," aku ngasih kresek nasi padang tadi ke Ibunya.
"Loh gausah, Mbak, gapapa. Kok malah repor-repot beliin."
"Gapapa, Ibu, tolong diterima ya. Oh iya, Bu, aku mau beli buahnya. Melon satu, buah naga tiga, sama pisangnya satu sisir," aku bilang ke Ibunya sambil milih-milih buah yang aku pengen.
Belum sempet buahnya dibungkus, ada mobil yang berhenti di depan kami.
"Ayo, Ma, udah mau hujan," kata Bapak-bapak pas udah turun dari mobil.
Aku diem. Lebih ke bengong kayak orang-orangan sawah.
"Sebentar, Yah. Ini buahnya ga djual, Mbak. Soalnya ini saya habis belanja buah buat stok seminggu nanti. Ini buahnya buat, Mbak ya," si Ibu ngasih buah yang aku sebutin tadi.
Aku masih bengong.
"Mbak rumahnya di mana? Mau dianter sekalian? Ayo bareng sama kita," ajak Bapak-bapak yang aku tau suaminya si Ibu.
"Eh, Pak, Bu, anu, niki anu, pripun nggih, anu nyuwun ngapunten.."
"Mpun mboten nopo-nopo. Ayo, Mbak, sekalian tak anter pulang, mau hujan," kali ini yang ngajak bareng si Ibu.
"Mboten usah, Bu. Aku bawa motor, masih di tukang sempol tadi, belum aku ambil," aku tersenyum kikuk.
"Oh nggih, kalau gitu kita pulang dulu ya, Mbak. Makasih banyak loh nasi padangnya. Harusnya tadi beli dua buat suami saya juga," sepasang suami istri itu tertawa.
Aku cuma senyum plengah-plengeh kayak orang-aring🥲
Pas mereka mau berangkat, si Ibu dadah-dadah, si Bapak nglakson mobil alphard (yang baru aku baca) dengan sopan.