Dian Dharma Book Club

Dian Dharma Book Club Penerbit buddhis | Diandharma.com | Twitter: | [email protected] |
Telp & Fak Dian Dharma memberikan pelayan bagi para sahabat dalam:

1.

Penerbitan Material Baru. Dengan didukung oleh para donatur, kami menerbitkan material baru baik buku atau non buku dengan seleksi dan editing oleh anggota Sangha.

2. Penerbitan Ulang. Dengan didukung oleh para donatur, kami melakukan penerbitan ulang baik buku atau non buku berdasarkan karena tingginya permintaan.

3. Pelimpahan jasa. Adalah program untuk melakukan kebajikan atas nama seseorang yang terkasih baik sebagai hadiah atau sebagai rasa Bakti bagi orang yang meninggal dunia. Bisa dilakukan perorangan atau bersama-sama. Janganlah kamu meremehkan bahwa 'Kebajikan tidak akan berakibat sesuatu padaku'. Bahkan tembayan pun akan terisi penuh oleh air yang jatuh menetes. Demikianlah Orang bijak memenuhi dirinya dengan kebajikan yang terkumpul sedikit demi sedikit (Dhammapada 122).

---------------------------------------------
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami,
Penerbit Dian Dharma
Jl. Mangga I blok F No. 15,
Duri Kepa - Jakarta Barat 11510
Telp: (021) 5674104
Fax : (021) 5674104
HP : 0852 1519 9777
Web : www.diandharma.com
Email: [email protected]
Twitter :

19/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Enam Penyebab Kemelekatan: Media

Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara kita memandang diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Sejak kecil, kita sering disuguhi contoh kekerasan, persaingan, dan standar penampilan yang tidak realistis, sehingga mudah merasa tidak cukup baik, memicu kemelekatan, iri hati, kemarahan, dan ketidakpuasan yang menghambat kebahagiaan serta praktik Dharma. Karena itu, kita perlu bersikap kritis terhadap media, memilih apa yang kita konsumsi, dan mengembangkan cara pandang yang bijaksana. Media yang bertanggung jawab seharusnya lebih banyak menampilkan nilai-nilai seperti kerja sama, pengampunan, toleransi, dan penyelesaian konflik secara damai demi mendukung kesejahteraan batin masyarakat.

-Venerable Thubten Chodron-

18/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Praktik Sesuai dengan Level Anda

Teman-teman sesama praktisi Dharma memiliki tingkat pemahaman, kenyamanan, dan kemajuan praktik yang berbeda-beda, sehingga wajar jika sebagian masih menjalani kebiasaan lama yang tidak lagi sesuai dengan nilai yang kita pegang. Perbedaan ini tidak perlu menimbulkan kekecewaan, kemarahan, atau keraguan terhadap diri sendiri. Kita tidak harus mengikuti pilihan mereka, tetapi juga tidak perlu menghakimi. Sebaliknya, carilah teman yang memiliki tujuan dan praktik yang sejalan dengan kita, sambil tetap menghormati bahwa setiap orang berkembang sesuai kapasitasnya. Ingatlah, menjadi seorang Buddhis tidak berarti seseorang telah mencapai kebuddhaan; setiap orang masih berada pada tahapan praktik yang berbeda di sepanjang jalan Dharma.

-Venerable Thubten Chodron-

17/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Berubah dari Saat ke Saat

Segala sesuatu yang muncul karena sebab dan kondisi bersifat tidak kekal, senantiasa berubah dari saat ke saat seiring berubahnya penyebab yang menopangnya. Dengan merenungkan ketidakpermanenan diri, orang lain, dan segala pencapaian, kita menyadari bahwa tidak ada gunanya melekat atau membiarkan emosi negatif seperti kemarahan, kecemasan, dan stres menguasai batin. Memahami sifat perubahan bukan berarti menjadi acuh tak acuh, melainkan menerima kenyataan dengan tenang dan menanggapi setiap perubahan secara bijaksana, penuh kasih sayang, serta berusaha mengarahkannya ke hal-hal yang bermanfaat.

-Venerable Thubten Chodron-

16/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Apakah Anda Berubah?

Perubahan yang terjadi pada persahabatan setelah seseorang mulai mempraktikkan Dharma adalah hal yang wajar. Seiring berubahnya nilai, tujuan hidup, dan cara memandang kebahagiaan, hubungan dengan teman-teman lama pun dapat ikut berubah. Hal ini bukan berarti Dharma memisahkan kita dari mereka atau kita harus memutuskan hubungan, melainkan merupakan bagian alami dari ketidakkekalan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah tetap memperlakukan teman-teman lama dengan kebaikan, welas asih, dan rasa hormat, sambil menerima bahwa hubungan akan berkembang sesuai dengan perubahan batin dan nilai-nilai yang kita jalani.

-Venerable Thubten Chodron-

15/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Enam Penyebab Gangguan: Teman Buruk

“Disiplin terbaik adalah menjinakkan aliran pikiran” dengan mewaspadai **pengaruh yang merugikan**, terutama dari orang-orang yang dapat memicu munculnya gangguan mental dan menjauhkan kita dari Dharma. Teman buruk tidak selalu berarti orang yang tidak baik secara duniawi; mereka bisa saja orang yang menyayangi kita, tetapi mendorong kesenangan sesaat seperti berfoya-foya, berjudi, atau mengejar kenikmatan duniawi tanpa mempertimbangkan karma dan kehidupan spiritual. Karena pergaulan dapat memicu benih kebajikan maupun ketidakbajikan dalam diri, kita perlu bijaksana memilih lingkungan dan orang-orang yang mendukung praktik Dharma serta membantu kita mengembangkan kualitas batin yang baik.

-Venerable Thubten Chodron-

14/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Apakah Itu Terjadi Sekarang?

Pengalaman menyakitkan dari masa lalu dapat terus membebani pikiran selama bertahun-tahun karena kita mempertahankan kemarahan dan menganggap orang lain sebagai penyebab utama penderitaan. Dengan berhenti dan memeriksa kembali pengalaman tersebut, kita dapat melihat bahwa peristiwa itu sudah berlalu dan orang yang menyakiti kita hanyalah kondisi pendukung, sementara dalam perspektif karma, akar penderitaan berkaitan dengan karma serta usikan mental seperti keegoisan dan kemelekatan dalam diri sendiri. Karena itu, daripada terus menyimpan kebencian terhadap orang lain, lebih bermanfaat mengarahkan perhatian pada pengenalan dan penghilangan sumber penderitaan dalam diri, sehingga kita tidak menghabiskan hidup dengan membawa luka lama yang sebenarnya sudah tidak perlu dipertahankan.

-Venerable Thubten Chodron-

13/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Enam Penyebab Usikan Mental: Perhatian yang Tidak Tepat

Faktor ketiga yang memunculkan usikan mental adalah **perhatian yang tidak tepat**, yaitu kecenderungan pikiran membesar-besarkan kualitas yang menarik, membesar-besarkan keburukan, atau memproyeksikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada sehingga kita melihat objek secara keliru. Perhatian semacam ini membuat kita menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal, penderitaan sebagai kebahagiaan, atau sesuatu yang tidak memiliki sifat inheren seolah-olah memilikinya. Untuk mengatasinya, ketika usikan mental muncul, kita perlu berhenti dan memeriksa apakah kita melihat objek dengan benar, misalnya dengan mempertanyakan hakikat orang atau hal yang kita lekati serta apakah kebahagiaan yang dibayangkan benar-benar bertahan atau hanya sementara. Dengan menyelidiki objek secara mendalam, kita dapat mengurangi cengkeraman dan mulai melihat kenyataan sebagaimana adanya.

-Venerable Thubten Chodron-

12/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Enam Penyebab Usikan: Kontak dengan Objek

Retret di tempat yang tenang membantu kita menjauh sejenak dari objek-objek yang memicu kemelekatan, kemarahan, kecemburuan, dan berbagai usikan mental, sehingga kita memiliki ruang untuk mengamati bagaimana usikan tersebut muncul dan memahami penyebabnya. Menjauh dari objek bukan berarti melarikan diri dari kenyataan, melainkan memberikan kesempatan untuk memperkuat praktik dan mengembangkan kebijaksanaan sebagai penawar terhadap keburaman batin. Seperti seseorang yang ingin menjadi dokter harus menjalani pendidikan dan latihan, menghilangkan usikan mental juga membutuhkan latihan nyata, bukan sekadar niat. Namun, jarak dari objek saja tidak cukup, karena pikiran terhadap objek tersebut tetap dapat memunculkan usikan mental; karena itu, latihan utama adalah mengembangkan kemampuan mengolah pikiran dan menumbuhkan kebijaksanaan.

-Venerable Thubten Chodron-

11/08/2026
11/08/2026

365 Mutiara Kebijaksanaan

Enam Penyebab Usikan Mental: Benih-Benih Usikan Mental

“Disiplin terbaik adalah menjinakkan aliran pikiran” dengan mengurangi usikan mental yang mengendalikan pikiran dan mendorong kita menciptakan karma. Untuk mengatasinya, kita perlu memahami penyebabnya, salah satunya adalah adanya **benih atau predisposisi usikan mental** dalam aliran pikiran. Meskipun kemarahan, misalnya, sedang tidak muncul, benih kemarahan tetap ada sebagai potensi yang dapat kembali bermanifestasi ketika bertemu kondisi atau pemicu yang sesuai. Karena itu, selama benih-benih usikan mental masih tersimpan dalam pikiran, kita perlu waspada terhadap berbagai kondisi yang dapat memicunya, sekaligus terus berlatih untuk melemahkan dan akhirnya menghilangkannya.

-Venerable Thubten Chodron-

Address

Jalan Mangga I Blok F No. 15 Duri Kepa, Tanjung Duren Barat
Jakarta
11510

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dian Dharma Book Club posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Dian Dharma Book Club:

Shortcuts

Share

Category