10/10/2026
NABI ﷺ PUN SEBAGAI PEMIMPIN MAU MENERIMA SARAN DARI PARA SAHABAT
Menjadi seorang pemimpin bukan berarti harus selalu merasa paling benar. Seorang pemimpin juga perlu mendengar dan mempertimbangkan saran dari orang lain.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mulia. Namun, beliau tetap bermusyawarah dengan para sahabat.
Dalam Perang Badar, Al-Hubab bin al-Mundzir radhiyallahu ‘anhu memberikan saran kepada Rasulullah ﷺ tentang posisi pasukan dan sumber air. Setelah mengetahui bahwa keputusan tersebut bukan wahyu, Rasulullah ﷺ menerima saran tersebut.
Allah ﷻ berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 159)
Dari sini kita belajar bahwa menerima saran yang baik bukan tanda kelemahan. Justru seorang pemimpin perlu memiliki kerendahan hati untuk mendengar dan menerima masukan.
Jangan melihat siapa yang memberikan saran. Jika sarannya benar dan bermanfaat, terimalah.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang yang rendah hati dan mau menerima kebenaran.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.
__
♻️ Silahkan disebarluaskan
🚫 Dilarang menambah dan mengurangi isi poster/video ini tanpa izin