01/02/2026
“Dulu, waktu Arga masih sendiri, tabungannya banyak.”
“Sekarang entah ke mana.”
........
AKU MENANTU BUKAN MUSUH-Part 3 (Tamat)........
Maya hanya diam.
Ia tahu, yang diserang bukan sekadar uang, melainkan posisinya sebagai istri.
Hingga suatu hari, Arga jatuh sakit dan harus dirawat.
Biaya rumah sakit membengkak.
Tabungan yang dipegang Ratna tak cukup.
Ratna panik.
Untuk pertama kalinya, ia menoleh ke Maya.
“Maya… kamu punya simpanan?”
Tanpa ragu, Maya mengeluarkan buku tabungan kecil.
Uang hasil menyisihkan belanja, hasil menahan keinginan,
hasil sabar yang tak pernah dipuji.
Ratna terdiam melihat angka di sana.
“Ini… dari mana?”
Maya menunduk.
“Maya belajar menabung, Bu.
Karena Maya tahu, suatu hari kita akan butuh.”
Air mata Ratna jatuh.Bukan karena uang.
Tapi karena rasa iri yang selama ini ia pendam.
Ia iri melihat Maya mampu mengatur tanpa berisik.
Iri karena Arga mulai dewasa.
Dan iri karena perannya perlahan bergeser.
Ratna jatuh terduduk.
Tangannya menutup wajah, berbicara sambil terisak..
“menurutmu, apa salah Ibu selama ini yang menjaga uang suamimu?”
“Ibu melahirkannya”
“Ibu yang membesarkannya!”
Maya menangis.
“Ibu tidak salah…”
“Tapi menikah berarti Mas punya keluarga sendiri.”
“Dan keluarga itu… bukan ancaman.”
Ratna terisak.
“Kalau aku lepaskan semuanya…”
“Lalu aku ini siapa…?”
Maya mendekat perlahan.
“Ibu tetap ibu.”
“Tak tergantikan.”
“Tapi cinta…”
“Tidak bisa dijaga dengan uang…
atau kendali.”
Malam itu…
bukan hanya buku tabungan yang terbuka.
Tapi juga… luka lama…
dan rasa takut kehilangan.
“Maafkan ibu nak, mungkin selama ini…
Ibu takut kalah.” ucap ratna pelan, menyesali sikapnya selama ini.
Maya menatapnya lembut.
“iya bu, sudah maya maafkan dari dulu, disini tidak ada yang kalah, Bu. Kita hanya sedang belajar berbagi peran.”
Di ruangan rumah sakit itu,
bukan hanya Arga yang sedang disembuhkan,
tapi juga luka lama antara mertua dan menantu
Karena rumah tangga…
bukan tentang siapa yang memegang uang…
melainkan…
siapa yang mau saling memahami.
TAMAT
..........
Terima kasih sudah menemani cerita ini hingga akhir.
Jika hatimu merasa lebih tenang setelah membacanya,kamu boleh singgah lagi di cerita berikutnya…
aku akan menunggu di sini.
Dan jika ingin, tinggalkan jejak kecil berupa tanda s**a atau komentar sederhana, agar cerita-cerita seperti ini, terus menemukan jalannya ke hati yang membutuhkan...