Cerita Pendek Drama

Cerita Pendek Drama Halaman cerita pendek bertema drama keluarga dan kehidupan sehari-hari.

“Dulu, waktu Arga masih sendiri, tabungannya banyak.”“Sekarang entah ke mana.”  ........AKU MENANTU BUKAN MUSUH-Part 3 (...
01/02/2026

“Dulu, waktu Arga masih sendiri, tabungannya banyak.”
“Sekarang entah ke mana.”

........
AKU MENANTU BUKAN MUSUH-Part 3 (Tamat)........

Maya hanya diam.
Ia tahu, yang diserang bukan sekadar uang, melainkan posisinya sebagai istri.

Hingga suatu hari, Arga jatuh sakit dan harus dirawat.
Biaya rumah sakit membengkak.
Tabungan yang dipegang Ratna tak cukup.
Ratna panik.

Untuk pertama kalinya, ia menoleh ke Maya.
“Maya… kamu punya simpanan?”

Tanpa ragu, Maya mengeluarkan buku tabungan kecil.
Uang hasil menyisihkan belanja, hasil menahan keinginan,
hasil sabar yang tak pernah dipuji.

Ratna terdiam melihat angka di sana.
“Ini… dari mana?”

Maya menunduk.
“Maya belajar menabung, Bu.
Karena Maya tahu, suatu hari kita akan butuh.”

Air mata Ratna jatuh.Bukan karena uang.
Tapi karena rasa iri yang selama ini ia pendam.
Ia iri melihat Maya mampu mengatur tanpa berisik.
Iri karena Arga mulai dewasa.
Dan iri karena perannya perlahan bergeser.

Ratna jatuh terduduk.
Tangannya menutup wajah, berbicara sambil terisak..
“menurutmu, apa salah Ibu selama ini yang menjaga uang suamimu?”
“Ibu melahirkannya”
“Ibu yang membesarkannya!”

Maya menangis.
“Ibu tidak salah…”
“Tapi menikah berarti Mas punya keluarga sendiri.”

“Dan keluarga itu… bukan ancaman.”

Ratna terisak.
“Kalau aku lepaskan semuanya…”
“Lalu aku ini siapa…?”

Maya mendekat perlahan.
“Ibu tetap ibu.”
“Tak tergantikan.”

“Tapi cinta…”
“Tidak bisa dijaga dengan uang…
atau kendali.”

Malam itu…
bukan hanya buku tabungan yang terbuka.
Tapi juga… luka lama…
dan rasa takut kehilangan.

“Maafkan ibu nak, mungkin selama ini…
Ibu takut kalah.” ucap ratna pelan, menyesali sikapnya selama ini.

Maya menatapnya lembut.
“iya bu, sudah maya maafkan dari dulu, disini tidak ada yang kalah, Bu. Kita hanya sedang belajar berbagi peran.”

Di ruangan rumah sakit itu,
bukan hanya Arga yang sedang disembuhkan,
tapi juga luka lama antara mertua dan menantu

Karena rumah tangga…
bukan tentang siapa yang memegang uang…
melainkan…
siapa yang mau saling memahami.

TAMAT
..........

Terima kasih sudah menemani cerita ini hingga akhir.
Jika hatimu merasa lebih tenang setelah membacanya,kamu boleh singgah lagi di cerita berikutnya…
aku akan menunggu di sini.

Dan jika ingin, tinggalkan jejak kecil berupa tanda s**a atau komentar sederhana, agar cerita-cerita seperti ini, terus menemukan jalannya ke hati yang membutuhkan...

AKU MENANTU, BUKAN MUSUH - PART 2"UANG ITU BUKA MILIKMU!!"...............................................“Kamu mau pegan...
30/01/2026

AKU MENANTU, BUKAN MUSUH - PART 2

"UANG ITU BUKA MILIKMU!!"...............................................

“Kamu mau pegang uang Arga?”
Ratna berdiri di ambang pintu.
Suaranya datar…tapi tajam.

Maya berdiri.
Menunduk sopan.
“Bukan begitu, Bu…
Maya hanya ingin membantu…”

Ratna tersenyum kecil.
“Membantu… atau menguasai?”

Kalimat itu menghantam.
“Dulu sebelum menikah… Uang Arga aman.
“Sekarang baru dua tahun, kamu sudah mulai bicara soal gaji.”

Maya menelan ludah.
“Bu… Maya tidak berniat buruk.”

“Semua menantu bilang begitu.” ucap Ratna geram.

Sejak hari itu…
udara di rumah terasa berbeda.
Ratna mulai sering membandingkan.
Mulai sering mengeluh.
Mulai sering mengingatkan bahwa…
segala sesuatu pernah lebih baik sebelum Maya datang.

Di balik semua itu…
ada satu rasa yang tumbuh diam-diam.
Iri.
Iri melihat Arga tertawa bersama istrinya.
Iri melihat peran yang dulu hanya miliknya…
perlahan bergeser.

Malam itu hujan turun deras.
Langit gelap, seperti ikut menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan.

Di ruang tengah, Ratna berdiri dengan wajah memerah.
Di tangannya, buku tabungan Maya—terbuka lebar.
“Kamu kira aku bodoh?”
Suaranya tinggi, bergetar.

Maya membeku di dekat pintu kamar.
“Bu… itu tabungan pribadi Maya.”
Ratna tertawa keras.
“TABUNGAN?
Dari mana seorang menantu bisa punya uang sebanyak ini kalau bukan dari suaminya?”

Arga berdiri di antara mereka.
“Bu, itu uang Maya sendiri. Bukan dari gajiku.”

Ratna menoleh tajam ke Arga.
“Kamu dibutakan, Arga!
Perempuan itu pelan-pelan mengurasmu!”

Maya maju selangkah.
Tangannya gemetar, tapi suaranya akhirnya keluar.
“Bu… selama ini Maya tidak pernah pegang gaji Mas.
Belanja saja Maya dicatat.
Setiap rupiah Maya jelaskan.”

Ratna membanting buku tabungan ke meja.
“Justru itu!
Kamu terlalu rapi. Terlalu tenang.
Seolah-olah kamu sudah merencanakan semuanya!”

Hujan di luar makin kencang.
Petir menyambar.
Maya menarik napas panjang.
Ini bukan lagi soal uang.
“Bu… jujur saja,” katanya, suaranya pecah,
“yang Ibu takutkan bukan Maya pegang uang.
Tapi Ibu takut… Mas Arga tidak lagi sepenuhnya milik Ibu.”

Kalimat itu jatuh seperti bom.
Ratna terdiam.
Wajahnya pucat.
“Kamu kurang ajar,” bisiknya.

“Tidak, Bu,” Maya menggeleng, air mata jatuh.
“Maya hanya lelah disalahkan.
Setiap hari Maya merasa seperti pencuri di rumah sendiri.”
..........(Bersambung ke Part 3).....

Jika cerita ini terasa dekat dengan kenyataan, tinggalkan satu komentar…
mungkin ceritamu juga perlu didengar..

30/01/2026

Aku menantumu, bukan musuhmu.


- tinggalkan tombol s**a agar aku tau kamu menikmati video seperti ini
- komen apa yang kamu rasakan
- follow untuk cerita lainnya

29/01/2026

Bukan tamu. Bukan anak.
Lalu aku ini siapa di rumah ini?

“AKU MENANTU BUKAN MUSUH”- PART 1Di rumah tua bercat krem itu, suara sendok beradu dengan piring selalu terdengar lebih ...
29/01/2026

“AKU MENANTU BUKAN MUSUH”- PART 1

Di rumah tua bercat krem itu, suara sendok beradu dengan piring selalu terdengar lebih keras dari biasanya.

Bukan karena dapurnya sempit, melainkan karena ada perasaan yang tak pernah benar-benar tenang.
Ratna, sang mertua, duduk tegak di kursi makan. Punggungnya lurus, sorot matanya tajam, seperti seorang jenderal yang sedang menginspeksi pas**an.

Di hadapannya berdiri Maya, menantu perempuan yang baru dua tahun menikah dengan Arga, anak semata wayang Ratna.

“Masaknya kurang asin,” ucap Ratna datar, tanpa menatap wajah Maya.

Maya tersenyum tipis. Senyum yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin.

“Iya, Bu. Nanti Maya perbaiki.”

Ratna mendengus pelan.
“Dari dulu juga begitu. Katanya sudah diperbaiki, tapi rasanya tetap saja tak pernah pas.”

Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Maya, rasanya seperti disiram air dingin tepat ke dada.

Setiap pagi, Maya bangun lebih awal.
Menyapu, mengepel, memasak, mencuci, memastikan rumah itu rapi—rumah yang bahkan bukan miliknya sepenuhnya.
Namun di mata Ratna, semua yang dilakukan Maya selalu kurang.

Arga, suaminya, lebih sering memilih diam.
Ia duduk di ruang tamu, menatap layar ponsel, seolah tak mendengar apa-apa.
Diamnya Arga adalah luka lain yang harus ditelan Maya setiap hari.

“Dulu, sebelum kamu datang,” kata Ratna suatu sore, suaranya terdengar lirih tapi menusuk,
“Arga itu anak yang rapi. Bajunya disetrika sempurna. Makanannya selalu sesuai seleranya.”

Maya menunduk, meremas ujung celemeknya.
“Maaf, Bu… Maya masih belajar.”
Ratna tertawa kecil.

“Belajar? Perempuan itu harusnya sudah bisa sebelum menikah. Bukan belajar setelah masuk rumah orang.”

Kalimat itu menggantung di udara.
Maya merasa napasnya sesak.
Ia ingin menjawab. Ingin membela diri.
Tapi lidahnya kelu.

Malam itu, di kamar sempit yang ia tempati bersama Arga, air mata Maya jatuh tanpa suara.
“Mas,” bisiknya pelan,
“Apa aku memang selalu salah di mata Ibu?”
Arga menghela napas panjang.

“Ibu cuma khawatir. Sabar ya.”
Sabar.
Kata itu kembali.

Hari demi hari, kesabaran Maya diuji.
Soal cara mencuci pakaian, cara menyapu halaman, bahkan cara tertawa.
Semua selalu salah.

Rumah itu tak pernah benar-benar sepi.
Bukan karena suara televisi atau derap langkah kaki,
melainkan karena bisik-bisik yang tak pernah diucapkan dengan lantang.

Ratna duduk di ruang tengah, menghitung uang dengan kacamata baca bertengger di ujung hidungnya.
Lembar demi lembar uang disusun rapi.
Tangannya cekatan, matanya awas.

Di dapur, Maya mendengar suara itu.
Bukan suara uang yang membuat dadanya berdebar,
melainkan ingatan—tentang kalimat yang berulang kali ia dengar.
“Perempuan itu, kalau sudah pegang uang, lupa diri.”

Kalimat itu bukan sekali dua kali keluar dari mulut Ratna.
Sejak Arga menikah dengan Maya, satu hal tak pernah berubah:
uang gaji Arga selalu masuk ke tangan Ratna.

Bukan karena Arga tak percaya pada istrinya,
melainkan karena sejak kecil, Arga diajari satu prinsip:
Ibu selalu tahu yang terbaik.

Suatu sore, Maya memberanikan diri bicara.
Suaranya pelan, nyaris bergetar.
“Mas… mungkin ke depan, gaji Mas bisa kita kelola bareng?
Biar kebutuhan rumah lebih tertata.”
Arga terdiam.

Belum sempat ia menjawab, suara Ratna terdengar dari balik pintu.
“Kamu mau pegang uang Arga?”

Ratna berdiri di ambang pintu.
Wajahnya dingin, matanya menyipit.

Maya berdiri, menunduk sopan.
“Bukan begitu, Bu. Maya cuma ingin membantu…”

Ratna tertawa pendek.
“Membantu atau menguasai?”
...................(Bersambung ke Part 2)..................

Ada kalanya luka keluarga tak terucap. Jika kamu pernah merasakannya, kamu tidak sendiri.

Kadang, yang menyakitkan bukan kata-kata… tapi sikap yang berulang. Kamu juga bisa ceritakan kisahmu di kolom komentar..

5 fakta unik semut:1. Semut mencium bau dengan antenasemut memiliki reseptor bau empat hingga lima kali lebih banyak dar...
19/04/2024

5 fakta unik semut:
1. Semut mencium bau dengan antena
semut memiliki reseptor bau empat hingga lima kali lebih banyak daripada kebanyakan serangga lain, membuat mereka sangat sensitif terhadap bau

2. Semut adalah serangga paling pintar di dunia
Makhluk kecil ini, memiliki kemampuan sosial yang baik dan diyakini sebagai serangga terpintar di planet ini. Dengan total 250.000 sel otak yang mengejutkan, semut memiliki kerumitan kognitif yang menarik para ilmuwan dan peneliti

3. Semut adalah petani pertama di dunia
Jauh sebelum manusia menemukan seni bertani, semut telah menyempurnakan keterampilan pertanian mereka. Catatan fosil menunjukkan bahwa semut mulai melakukan pertanian sekitar 50 juta tahun yang lalu, menjadikan mereka petani pertama di dunia. Prestasi luar biasa ini menunjukkan kemampuan semut untuk beradaptasi dan berkembang di lingkungan mereka

4.Semut sangat kuat
Semut benar-benar unik di antara hewan-hewan di kerajaan hewan karena mereka mampu mengangkat benda 10 hingga 50 kali berat badan mereka sendiri.

5. Semut memiliki 12.000 jenis di seluruh dunia

Serangga yang menakjubkan ini, yang memiliki keanekaragaman yang luar biasa yang mencakup lebih dari 12.000 spesies atau jenis yang telah diketahui, ditemukan di berbagai habitat dan ekosistem, seperti di hutan hujan tropis, padang pasir yang gersang, dan bawah tanah,

Sumber: IDNTimes-Gebi Rolina-6 Fakta Unik Semut, Serangga terpintar di dunia

S**a dengan info unik seperti ini? Follow untuk info unik lainnya 🥰

Address

Jakarta

Telephone

+6285174410496

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Pendek Drama posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Cerita Pendek Drama:

Shortcuts

Share