Cerita Horor

Cerita Horor ceritakan kisah horror kalian di komentar.

17/01/2026

Pria biasa ini tidak menyangka hidupnya berubah drastis hanya karena menonton drama dan film 🎬
Setiap kali dia menonton, sistem misterius memberinya hadiah luar biasa 💥
Dari kehidupan sederhana hingga penuh kejutan, kisah ini bikin penasaran di setiap episode!
Jangan lewatkan drama China terbaru 2026 yang lagi viral dan bikin ketagihan 🔥

09/01/2026

Seorang adik akhirnya dipertemukan kembali dengan 7 kakaknya setelah bertahun-tahun terpisah. Suasana haru, air mata, dan pelukan penuh rindu…

sampai satu kejadian tak terduga muncul di akhir cerita 😭➡️🤣

Ending-nya dijamin bikin ngakak dan merusak suasana sedih seketika!

Jangan skip sampai habis ya!

07/01/2026

Bagus nih drama cina nya 😀

TAMU TAK DIUNDANG DI LANTAI 4Jam tangan saya menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Suasana di pos jaga terasa jauh lebih di...
25/12/2025

TAMU TAK DIUNDANG DI LANTAI 4

Jam tangan saya menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Suasana di pos jaga terasa jauh lebih dingin dari biasanya, mungkin karena hujan yang baru saja reda menyisakan aroma aspal basah dan tanah lembap.

Saya bekerja sebagai sekuriti shift malam di sebuah gedung perkantoran tua yang setengahnya sudah tidak disewakan lagi di pinggiran kota.

Gedung ini punya 8 lantai, tapi aktivitas manusia hanya ada sampai lantai 3. Sisanya? Kosong, gelap, dan penuh debu.

Saya bukan orang penakut. Saya tidak percaya hantu, pocong, atau urban legend semacam itu. Bagi saya, yang menakutkan itu bukan yang tak terlihat, tapi cicilan motor yang menunggak atau beras di rumah yang habis.

Tapi malam itu, logika saya diuji dengan cara yang berbeda.

Tugas saya sederhana: patroli keliling setiap dua jam sekali. Memastikan pintu terkunci, tidak ada kebocoran air, dan—yang paling penting—mencegah maling masuk.

Malam itu giliran saya patroli sendiri karena rekan saya izin sakit.

Saya mulai naik dari tangga darurat. Lantai 1, aman. Lantai 2, sunyi. Lantai 3, hanya suara dengung mesin server yang terdengar.

Masalah dimulai saat saya menginjakkan kaki di lantai 4.

Lantai 4 adalah bekas kantor firma hukum yang bangkrut lima tahun lalu.

Masih ada sisa-sisa partisi ruangan, meja-meja patah, dan karpet yang baunya apek. Listrik di sini sudah diputus, jadi satu-satunya sumber cahaya adalah senter LED saya yang cahayanya menembus kegelapan seperti pisau membelah kabut.

Saat saya sedang mengecek jendela di ujung lorong, saya mendengarnya.

Sreeet...

Suara itu pelan, tapi jelas. Seperti suara sepatu kets yang bergesekan dengan lantai keramik yang berdebu. Suaranya bukan dari luar gedung, tapi dari dalam. Dari arah belakang saya.

Jantung saya berhenti berdetak sesaat. Saya berbalik cepat, menyorotkan senter ke sepanjang lorong gelap itu. Kosong. Hanya partisi-partisi bisu yang berdiri kaku.

"Halo? Siapa di sana?" teriak saya. Suara saya menggema, memantul-mantul di dinding kosong, membuatnya terdengar putus asa.
Hening.

Saya mencoba berpikir logis. Tikus. Pasti tikus besar. Saya melangkah maju, sepatu boots saya berbunyi duk, duk, duk memecah kesunyian. Saya memeriksa setiap bilik (cubicle).

Kosong. Kosong. Kosong.

Namun, saat saya sampai di bilik terakhir di pojok ruangan, bulu kuduk saya meremang bukan karena takut hantu, tapi karena insting purba manusia yang merasakan bahaya.

Di atas sebuah meja tua yang berdebu tebal, ada bekas jari.

Bekas jari itu baru. Debunya tersapu bersih, membentuk pola lima jari orang dewasa yang sepertinya baru saja menumpu berat badan di sana. Dan di sebelahnya, ada puntung rokok. Asap tipis masih mengepul darinya.

Darah saya berdesir hebat. Ini bukan hantu. Ada orang di sini. Ada manusia lain di lantai gelap ini bersama saya.

Saya segera mematikan senter. Logika keamanan saya berjalan: jika saya menyalakan lampu, saya adalah target yang mudah terlihat, sementara dia bersembunyi di kegelapan. Napas saya tertahan.

Saya meraba radio HT di pinggang, ingin memanggil bantuan pos induk di gerbang luar, tapi tangan saya gemetar hebat.

Saya mundur perlahan menuju pintu tangga darurat, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, lantai tua itu berkhianat. Saya menginjak pecahan kaca kecil.
Krak.

Suara itu terdengar seperti ledakan di telinga saya. Detik berikutnya, saya mendengar suara napas. Berat. Terengah-engah. Dan suaranya... berasal dari balik partisi, kurang dari dua meter di sebelah kiri saya.

Dia tidak lari. Dia menunggu.
Rasa takut yang menyerang saya saat itu bukanlah ketakutan akan wajah hantu yang hancur, melainkan ketakutan akan niat jahat manusia.

Siapa dia? Maling? Pembunuh? Orang gila yang menjadikan gedung ini rumahnya? Kenapa dia tidak lari saat saya datang? Kenapa dia malah diam menunggu?

Saya menyalakan senter lagi, mengarahkannya langsung ke balik partisi itu sambil berteriak sekeras mungkin untuk menggertak. "KELUAR! SAYA BAWA SENJATA!"

Cahaya senter menyapu ruangan itu. Kosong.
Tapi jendela di sebelahnya terbuka lebar. Angin malam masuk, mengibarkan gorden tua yang robek. Saya berlari ke jendela, menengok ke bawah. Tidak ada siapa-siapa. Mustahil dia lompat dari lantai 4 tanpa cedera.

Saat itulah saya menyadari sesuatu yang membuat lutut saya lemas.

Jendela itu berteralis besi mati. Tidak bisa dibuka cukup lebar untuk badan manusia lewat. Dia tidak keluar lewat jendela. Suara napas tadi... itu pengalihan.

Saya mendengar suara pintu tangga darurat di belakang saya tertutup pelan. Klik.
Dia tidak keluar. Dia justru masuk lebih dalam ke gedung. Atau lebih buruk... dia sedang memutari saya.

Malam itu, sisa jam kerja saya habiskan dengan mengunci diri di pos satpam lantai dasar sambil memegang tongkat pemukul, mata tak berkedip menatap monitor CCTV yang gambarnya buram. Saya tidak melihat apa-apa di layar.

Tapi saya tahu, di lantai 4, di kegelapan itu, ada sepasang mata yang mungkin sedang menatap kamera balik, atau sedang menuruni tangga menuju ke tempat saya duduk sekarang.

Keesokan paginya, saat regu pagi datang dan kami memeriksa lantai 4 bersama polisi, kami menemukan sesuatu di plafon toilet lantai tersebut.

Sebuah lubang ventilasi yang jebol. Di dalamnya ada kasur lipat, botol air minum, sisa makanan, dan foto-foto candid saya... foto-foto yang diambil dari jarak jauh saat saya sedang jaga malam di pos, tercetak dan ditempel di dinding ventilasi.

Dia bukan sekadar penyusup. Dia sudah tinggal di sana berbulan-bulan. Dia hafal jadwal saya. Dia mengamati saya setiap malam.

Dan yang paling mengerikan? Sampai hari ini, polisi tidak pernah menemukannya. Setiap kali saya jaga malam sekarang, saya tidak pernah berani mematikan lampu, dan saya selalu merasa... ada yang sedang bernapas pelan di belakang leher saya.

Pernahkah kalian merasa diawasi saat sedang sendirian di tempat sepi? Atau mendengar suara benda jatuh padahal tidak ada angin? Coba cek sudut-sudut gelap di ruangan kalian, pastikan kalian benar-benar "sendirian".

Bagaimana menurut kalian, apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi saya saat melihat puntung rokok yang masih menyala itu? Tuliskan reaksi jujur kalian di kolom komentar, saya ingin membacanya.

19/12/2025

Biar gak tegang rehat dulu ke dracin ya😅

Kisah pemuda lintas portal karena bantuan sistem dan menikahi beberapa gadis cantik😍

Jalan di Kebun Sawit Itu Selalu Terasa Lebih Panjang Setiap Saya Pulang Malam​Sumpah, ini terakhir kalinya saya nekat mo...
18/12/2025

Jalan di Kebun Sawit Itu Selalu Terasa Lebih Panjang Setiap Saya Pulang Malam

​Sumpah, ini terakhir kalinya saya nekat motong jalan lewat jalur sawit PT S**** (nama disamarkan) di perbatasan Palembang - Banyuasin kalau udah lewat jam 10 malam.

Kapok.

​Buat yang sering bolak-balik Palembang lewat jalur tikus kebun sawit itu, pasti tahu jalan tanah merah yang biasa dipakai truk pengangkut buah.

Kalau siang enak, motong waktu bisa 20 menitan daripada lewat jalan aspal utama.
​Tapi malam ini logika saya benar-benar dipermainkan.

​Saya pulang kerja lembur, jam 11 kurang dikit baru jalan.

Awalnya biasa aja, cuma gelap karena memang nggak ada lampu jalan sama sekali. Cuma ngandalin lampu motor.

Saya pikir, ah paling 15 menit tembus ke jalan poros desa. Saya udah hapal mati jalan ini, hapal setiap lubang, hapal letak parit gajahnya.

​Keanehan mulai kerasa pas saya sadar... kok ujung jalannya nggak ketemu-ketemu?
​Perasaan saya bawa motor ngebut, stabil di gigi 3.

Harusnya habis turunan yang ada tumpukan pelepah kering itu, nggak lama lagi ketemu jembatan besi kecil.

​Saya lewat turunan itu.
Oke, bentar lagi jembatan.

​Tapi jalanan lurus terus. Kanan kiri cuma pohon sawit yang kayak "melambai" kena sorot lampu. Sepi nyenyat. Nggak ada suara jangkrik, nggak ada suara burung hantu. Hening banget.

​5 menit lewat.
10 menit lewat.
Jembatan besi itu nggak ada.

​Dan yang bikin jantung saya mau copot... Saya ketemu turunan dengan tumpukan pelepah kering yang sama persis LAGI.

​Demi Allah, saya nggak putar balik. Saya jalan lurus terus ke depan. Gimana caranya saya bisa ngelewatin titik yang sama dua kali padahal saya nggak belok?

​Di situ leher belakang saya langsung panas. Motor mendadak jadi berat banget tarikannya. Padahal jalanan datar, nggak nanjak.

Tapi rasanya kayak lagi boncengin orang gendut. Suspensi belakang motor saya sampai bunyi "jedug" pelan pas kena jalan keriting, padahal saya sendirian!

​Saya nggak berani lihat spion. Kata wong tua-tua di sini, kalau lagi di sawit dan ngerasa ada yang "nempel", haram hukumnya lihat spion.

​Saya cuma bisa baca Alfatihah dalam hati, gas saya betot makin dalam. Tapi aneh, suara mesin motor meraung kencang, tapi jalannya lambat. Kayak ditahan dari belakang.

​Terus pas di telinga kiri, deket banget sama helm, ada suara napas.
Panjang... berat... baunya kayak tanah basah campur bunga melati busuk.

​"Nak kemano mang? Muter lagi peh..."
​Itu suaranya. Cekikikan kecil. Bahasa Palembangnya halus tapi bikin merinding.

​Saya langsung teriak, "BALIKLAH KAU! AKU NAK BALIK!" sambil geber motor nggak peduli jalan hancur.

​Tiba-tiba... BLAR!
Cahaya lampu warung di pinggir jalan poros kelihatan. Beban di belakang motor hilang seketika. Jembatan besi yang saya cari-cari ternyata ada tepat di depan mata.

​Saya sampai rumah mandi keringat dingin. Istri saya nanya kenapa muka saya pucat kayak mayat.

​Tapi yang bikin saya nggak bakal bisa tidur malam ini bukan kejadian di kebun sawitnya.
Pas saya baru duduk di ruang tamu, istri saya nanya polos banget:

​"Yah, kawan Ayah tadi yang turun depan pagar siapo? Kok dak diajak masuk minum dulu? Kasihan nian nengoknyo, mukonyo pucat, bajunyo kotor tanah merah galo..."

​Saya langsung kunci pintu ganda, dan sumpah saya dak berani ngintip gorden jendela depan.
​Coba warga Palembang atau Banyuasin sini, emang di blok belakang PT itu ada sejarah apaan sih dulunya? Ada yang pernah kena "putar-putar" juga di sana?

​Tolong jawab di komen lor, aku butuh kawan ngobrol biar dak parno sendirian malam ini.
​.
​(NB: Saya baru sadar tadi sempat kepencet foto pas lagi panik-paniknya di jalan itu. Fotonya gelap dan goyang. Tapi... coba tolong kalian perhatiin di bagian pinggir yang gelap di antara pohon sawit itu deh. Apa cuma mata saya aja yang salah lihat karena masih parno, atau emang kayak ada siluet orang berdiri di situ? Tolong bilang kalau saya salah lihat. 🙏)

📦 SAYA KEMBALIKAN BONEKA INI KE PENJUALNYA HARI INI JUGA. SAYA MENYERAH. 📦Saya menulis ini sekadar peringatan buat teman...
11/12/2025

📦 SAYA KEMBALIKAN BONEKA INI KE PENJUALNYA HARI INI JUGA. SAYA MENYERAH. 📦

Saya menulis ini sekadar peringatan buat teman-teman yang hobi koleksi barang antik atau beli barang di pasar loak (thrifting).

Hati-hati. Jangan sampai kejadian yang saya alami 3 hari ini kejadian juga sama kalian.

Saya baru saja pulang dari pasar loak, mengembalikan sebuah boneka porselen yang saya beli hari Minggu lalu. Penjualnya cuma tertawa pas saya balikin.

Ini kronologi lengkapnya. Tolong dibaca sampai habis biar kalian paham kenapa saya sampai segemetar ini.

[HARI PERTAMA: KECANTIKAN YANG MENIPU]

Awalnya saya nggak curiga sama sekali. Boneka ini cantik, tinggi sekitar 40cm, pakai baju gaun Eropa kuno warna biru pudar.

Wajahnya porselen halus, matanya bulat besar.
Si kakek penjual bilang, "Ini stok lama, Mas. Ambil aja murah, 50 ribu."

Saya pikir itu jackpot. Saya bawa pulang, saya bersihkan, dan saya pajang di atas rak buku di kamar, persis di seberang kasur.

Keanehan pertama cuma sepele. Tiap kali saya masuk kamar, saya merasa posisi kepalanya berubah. Kadang miring ke kiri, kadang lurus.

Saya pikir, "Ah, mungkin raknya miring atau kena getaran pintu ditutup." Saya orangnya logis, nggak mau mikir aneh-aneh.

[MALAM KEDUA: TATAPAN ITU]

Malam kedua, saya lagi ngerjain tugas di laptop sampai jam 1 pagi. Posisi saya membelakangi rak buku.

Entah kenapa, punggung saya rasanya panas. Kayak ada yang melototin dari belakang.
Pas saya nengok ke belakang...

Posisi boneka itu sudah berubah total.
Tadinya kakinya lurus ke bawah. Sekarang, kaki kanannya tersilang di atas kaki kiri.

Santai banget posisinya. Dan wajahnya... wajahnya menoleh tajam ke arah saya duduk.
Saya kaget, tapi saya coba tepis rasa takut.

Saya berdiri, saya benerin posisinya jadi lurus lagi.

"Perasaan gue aja kali ya karena ngantuk," batin saya.
Saya langsung tidur dan selimutan full.

[TADI MALAM: PUNCAKNYA]

Ini alasan kenapa pagi-pagi buta saya langsung bungkus boneka itu.

Sekitar jam 11 malam, hujan deras dan listrik di kosan tiba-tiba mati (padam). Gelap gulita.

Saya nyalakan flashlight HP buat cari lilin. Iseng, saya sorot ke arah rak buku.
KOSONG.
Rak itu kosong melompong.

Darah saya rasanya turun semua ke kaki. Logika saya mati. Nggak mungkin boneka jatuh, kalau jatuh pasti ada suara pecah. Ini hening.

Dengan tangan gemetar, saya arahkan senter HP ke sekeliling kamar. Ke lantai, ke kolong meja, nggak ada.

Saya putar badan ke arah lemari baju yang ada di sudut kamar (jaraknya sekitar 3 meter dari rak buku).
Napas saya tercekat.
Boneka itu ada di sana.

Duduk di atas tumpukan baju yang belum saya lipat.
Dia menghadap lurus ke arah saya.

Tangannya... tangannya terangkat satu, seolah-olah lagi dadah atau menyapa.

Jarak waktu dari mati lampu sampai saya sorot senter itu nggak sampai 10 detik. Nggak mungkin ada manusia yang mindahin secepat itu tanpa suara.

Yang bikin saya makin lemas, saat senter HP saya berkedip sedikit, saya melihat posisi kepalanya miring lagi. Sedikit demi sedikit.

Seolah-olah dia bergerak pas cahaya lagi nggak stabil.

Saya nggak teriak. Suara saya hilang.
Saya mundur pelan-pelan, keluar kamar, tutup pintu, dan tidur di ruang tengah sama teman kosan. Saya nggak berani masuk kamar sampai matahari terbit.

[PAGI INI]

Tadi pagi jam 7, saya masuk kamar ditemani teman kos.
Bonekanya masih di atas tumpukan baju. Posisinya sama persis seperti semalam.

Tanpa pikir panjang, saya ambil kardus, saya masukin boneka itu, dan saya lakban rapat-rapat.

Saya bawa balik ke pasar loak tempat saya beli.

Pas ketemu kakek penjualnya, saya cuma taruh kardusnya di meja lapaknya dan bilang, "Mbah, saya balikin. Nggak usah dikembaliin uangnya, nggak apa-apa. Saya nggak sanggup."

Kalian tahu respon si Mbah?

Dia nggak kaget. Dia cuma senyum tipis, ngambil kardusnya, terus bilang:
"Ya sudah. Memang dia agak nakal kalau nggak cocok sama tuannya. Nanti biar cari tuan baru."

Saya langsung pergi tanpa noleh lagi.

[PESAN SAYA]

Sekarang saya sudah lega boneka itu nggak ada di rumah. Tapi saya kepikiran satu hal...
Kakek itu bilang "biar cari tuan baru".

Artinya, boneka itu sekarang dipajang lagi di lapak pasar loak itu.

Menunggu orang lain buat beli.
Mungkin salah satu dari kalian yang s**a thrifting...

Hati-hati kalau ketemu boneka porselen baju biru pudar. Kalau matanya terasa ngeliatin kamu terus... mending taruh lagi dan jalan pergi.

Pertanyaan:
Kalian pernah nggak sih beli barang bekas terus ngerasa hawa rumah jadi beda atau "panas"?

Sharing d**g di kolom komentar, biar kita sama-sama waspada. 👇

Pengalaman Aneh di Jalan Pulang Dekat Kebun Kosong Belakang Desa​Jujur, sebenernya aku ragu mau cerita ini di sini. Tapi...
27/11/2025

Pengalaman Aneh di Jalan Pulang Dekat Kebun Kosong Belakang Desa

​Jujur, sebenernya aku ragu mau cerita ini di sini. Tapi rasanya dada sesak kalau dipendam sendiri, dan siapa tahu ada dari kalian yang pernah ngalamin hal serupa di area sana.

​Kejadiannya baru dua hari yang lalu. Sekitar jam 11 malam.

​Malam itu aku pulang agak telat dari rumah teman.
Biasanya aku lewat jalan utama yang terang, tapi entah kenapa malam itu rasanya badan capek banget dan pengen cepet sampai rumah. Akhirnya, aku mutusin buat ambil jalan pintas.

Kalian tahu kan, jalan aspal kecil yang nembus ke belakang desa? Yang di sisi kirinya itu irigasi tua, dan sisi kanannya itu kebun pisang yang udah lama kosong dan nggak keurus.

​Awalnya biasa aja. Angin malam emang lagi dingin-dinginnya, tapi nggak ada perasaan aneh.

Sampai aku masuk ke area "tikungan bambu" (warga sini pasti paham spot ini).
​Tiba-tiba, motorku rasanya berat banget.

​Bukan berat karena ban kempes atau mesin bermasalah.

Mesin bunyi normal, tapi tarikannya kayak ada beban tambahan setara dua orang dewasa di jok belakang. Spontan aku lihat spion... Kosong. Gelap.

Cuma ada pantulan lampu merah dari motor aku sendiri.

​"Ah, perasaan aja kali," pikirku, mencoba positif thinking. Aku paksa gas motor biar cepet lewat kebun kosong itu.

​Tapi, pas tepat di tengah-tengah kebun kosong itu, hidungku nangkep bau yang aneh banget.

Baunya bukan wangi melati atau kemenyan kayak di film-film. Ini bau anyir darah campur tanah basah. Menyengat banget sampai bikin perut mual.

​Dan di situ lah aku melihatnya.
​Di pinggir jalan, dekat pohon nangka yang udah mati, ada seseorang berdiri.

Posisinya membelakangi jalan, menghadap ke semak-semak gelap kebun.

Dia pakai baju putih lusuh—kelihatan kayak daster tapi kotor banget kena tanah.

Rambutnya panjang, acak-acakan, menutupi punggung.

​Jantungku rasanya mau copot. Logikanya, ngapain ada orang berdiri diam di kebun kosong jam segini?

​Aku berusaha nggak noleh, mata fokus ke depan. Tapi manusia itu punya refleks yang bodoh. Pas motor aku melewatinya, ekor mataku otomatis melirik.

​Demi Tuhan, aku nyesel seumur hidup sudah melirik.

​Dia nggak membelakangi jalan.
Kepalanya...
kepalanya itu posisinya terbalik.
Badannya membelakangi aku, tapi wajahnya menoleh 180 derajat menatap tepat ke arah mataku.

​Dan yang bikin aku gemetar sampai sekarang: Dia tersenyum.

Senyumnya lebar banget, nggak wajar, sampai hampir nyentuh telinga. Matanya melotot putih semua tanpa pupil.

​Seketika itu juga, suara motor aku kayak diredam. Sepi. Hening. Cuma ada suara ketawa dia yang lirih tapi jelas banget di telinga kanan aku: "hihihihi... sudah malam..."

​Aku langsung gas pol tanpa mikir panjang. Bodo amat jalanan rusak atau berlubang.

Aku bisa ngerasain angin dingin nembus tengkuk, kayak ada yang niup dari belakang leher sepanjang sisa perjalanan.

​Sampai di rumah, aku langsung kunci pintu kamar, selimutan, dan nggak berani keluar sampai pagi.

Besoknya, badanku demam tinggi dan ada lebam biru di bahu kiri, padahal aku nggak kebentur apa-apa.

​Kata orang tua sini, kebun kosong itu emang "jalur"-nya mereka. Dan kalau kita liat mereka senyum, tandanya mereka s**a sama kita dan mau ikut pulang.

​Sekarang aku lagi nulis ini sambil merinding, karena dari tadi di luar jendela kamar ada bau anyir yang sama kayak malam itu. Namun, itu terkadang hanya terjadi di malam jum'at saja.

​Teman-teman, aku mau tanya serius...

​Kalian pernah nggak sih lewat jalan pintas terus ngerasa ada beban berat di kendaraan kalian?
Atau mungkin kalian tahu mitos soal kebun kosong ini?

​Coba Ceritakan pengalaman horor kalian di kolom komentar. Aku butuh teman ngobrol biar nggak parno sendirian malam ini. 👇👇👇

​Tag teman kalian yang penakut tapi hobi baca cerita seram! Jangan baca sendirian ya...

Misteri Rumah Panggung di Ujung Desa​(Baca sampai habis. Ini pengalaman nyata saya minggu lalu di perbatasan kota.)​Juju...
20/11/2025

Misteri Rumah Panggung di Ujung Desa

​(Baca sampai habis. Ini pengalaman nyata saya minggu lalu di perbatasan kota.)

​Jujur, saya menulis ini tangan masih agak dingin kalau ingat kejadiannya.

Saya pikir mental saya sudah cukup kuat karena sering kerja di lapangan, keluar masuk hutan dan proyek sepi. Tapi ternyata saya salah.

​Saya bekerja sebagai surveyor (pengukur tanah).

Minggu lalu, saya dapat tugas untuk melakukan pengukuran lahan di daerah pinggiran Surabaya.

Saya tidak akan sebut nama desa atau kecamatannya secara spesifik demi kenyamanan warga sana, tapi lokasinya ada di area perbatasan kota yang masih banyak area tambak kering dan ilalang tinggi. Jauh dari keramaian jalan raya.

​Di sudut lahan luas yang harus saya ukur itu, berdiri satu bangunan yang sangat ganjil.

Sebuah rumah panggung tua dari kayu.
​Aneh sekali melihat rumah model begini di jaman sekarang, apalagi di area yang hampir rata dengan tanah.

Kayunya sudah hitam dimakan cuaca, atapnya sebagian sudah melorot, dan berdiri di atas tiang-tiang penyangga yang menancap di tanah yang agak berawa.

​Sejak siang saya sampai di sana, perasaan saya sudah tidak enak setiap melihat ke arah rumah itu.
Rasanya seperti ada yang "berat" di sana.

​Apesnya, pekerjaan saya molor.
Teman partner saya harus balik duluan ke kantor karena ada urusan mendesak, jadi tinggallah saya sendirian menyelesaikan pengukuran di titik terakhir, yang kebetulan posisinya paling dekat dengan kolong rumah panggung itu.

​Waktu itu sekitar jam 5.15 sore. Langit sudah mulai oranye kemerahan, sebentar lagi Maghrib.

Suasana sepi sekali, hanya ada suara angin dan jangkrik yang mulai bunyi.

​Saat saya sedang jongkok menggulung meteran di dekat tiang penyangga rumah itu, tiba-tiba...

​Kreeeet....

​Terdengar jelas suara papan kayu diinjak dari atas kepala saya.

​Saya terdiam.

Logika saya langsung jalan, "Ah, paling musang atau kucing liar." Saya mencoba mengabaikan dan lanjut kerja biar cepat pulang.

​Tapi kemudian suaranya berubah.

​Dug...
dug...
dug...

​Itu bukan suara hewan lari. Itu jelas suara langkah kaki yang pelan dan diseret.

Suaranya mondar-mandir di lantai papan di atas saya.

​Jantung saya mulai berdegup kencang. Siapa yang ada di rumah reyot tak berpenghuni itu jam segini? Tangganya saja sudah rapuh, tidak mungkin ada orang iseng naik.

​Saya mencoba memberanikan diri. Saya berdiri pelan-pelan, berniat untuk langsung lari ke motor saya yang diparkir agak jauh.

​Tapi sebelum saya lari, entah kenapa, mata saya refleks melihat ke atas.

Ke arah satu-satunya jendela rumah panggung yang terbuka sedikit.

​Demi Tuhan, di sana saya melihatnya.
​Tidak ada hantu berdarah atau wajah menyeramkan.

Tidak ada.

​Yang saya lihat hanya siluet. Sosok—seperti seorang wanita—duduk diam di balik jendela yang gelap.

Dia tidak bergerak sama sekali. Dia hanya duduk menghadap ke bawah.

​Menghadap lurus ke arah saya.

​Walaupun gelap dan saya tidak bisa melihat wajahnya, saya bisa merasakan tatapannya.

Tatapan kosong yang dingin sekali.

​Detik itu juga, nyali saya habis. Saya tidak jadi membereskan alat.

Saya tinggalkan semuanya di tanah, saya lari sekencang-kencangnya menuju motor.

Saya tidak berani menoleh ke belakang lagi sampai saya ketemu jalan beraspal.

​Besok paginya, saya kembali dengan dua teman untuk mengambil alat.

Di jalan masuk, kami sempat mampir di warung kecil.

Saya iseng tanya ke bapak pemilik warung tentang rumah itu dengan basa-basi.

​Bapak itu cuma tersenyum tipis, seolah sudah paham.

​"Masnya kemarin kerja sampai mau Maghrib ya di dekat 'Omah Duwur' (Rumah Tinggi) itu? Untung Masnya nggak 'disapa'. Rumah itu memang sudah kosong puluhan tahun, Mas. Peninggalan lama. Warga sini nggak ada yang berani dekat-dekat situ kalau matahari sudah mau turun."

​Saya cuma bisa menelan ludah. Ternyata perasaan "berat" yang saya rasakan sejak siang itu bukan cuma perasaan saya saja.

​Buat teman-teman di Surabaya, terutama yang sering lewat jalan-jalan tikus di perbatasan kota atau area pertambakan sepi, pernah ada yang lihat rumah panggung model begini?

​Atau ada yang punya pengalaman serupa saat berada di area yang "sepi" di jam-jam tanggung mau Maghrib?

Coba share di kolom komentar, biar saya tahu kalau bukan cuma saya yang pernah ngalamin hal ganjil begini di daerah pinggiran.

Kisah Nyata: Perawat Jaga Malam di RS H.(Inisial), Jakarta.(Cerita ini dikirim oleh salah satu follower kami. Nama dan d...
18/11/2025

Kisah Nyata: Perawat Jaga Malam di RS H.(Inisial), Jakarta.

(Cerita ini dikirim oleh salah satu follower kami. Nama dan detail spesifik kami samarkan untuk menjaga privasinya. Sebut saja dia "Suster Nani".)

Ini adalah pengalaman saya, dan demi Tuhan, saya tidak mengarangnya. Saya seorang perawat.

Saya sudah bekerja 8 tahun di dunia medis, jadi hal-hal aneh, bahkan kematian, sudah jadi bagian dari pekerjaan.

Tapi kejadian di RS H. Jakarta ini beda.
Saya dipindah tugas ke RS H. (salah satu RS rujukan besar dan cukup tua di Jakarta) sekitar setahun lalu.

Saya langsung dapat jatah jaga malam di salah satu bangsal perawatan, sebut saja Bangsal Melati.

Bangsal Melati ini letaknya agak di ujung, terhubung dengan koridor panjang ke gedung lama yang sebagian sudah tidak terpakai.
Suasananya... 'berat'. Mungkin karena kebanyakan pasien di sini adalah lansia dengan kondisi serius.

Malam itu, saya jaga shift malam (jam 9 malam - 7 pagi) bersama Suster Senior saya, sebut saja Mbak Ayu. Malam itu tenang, hanya ada 12 pasien terisi dari 20 kamar.

Semua berawal sekitar jam 1.30 pagi.

Saya dan Mbak Ayu sedang di nurse station, mengurus administrasi. Tiba-tiba, bel panggilan dari kamar 112 berbunyi.

Teet... Teet... Teet...

Saya refleks melihat ke papan monitor bel. Kamar 112. Saya lihat data pasien.

"Mbak," kata saya ke Mbak Ayu, "Kamar 112 kan kosong? Pasiennya sudah pulang dari sore tadi."

Mbak Ayu bahkan tidak mengangkat kepalanya dari kertas yang dia tulis.

"Biarin aja, Nan. Paling error sistemnya. Nanti juga mati sendiri."

Saya diam. Agak aneh, tapi saya pikir masuk akal. Belnya pun berhenti berbunyi setelah sekitar satu menit.

Jam 2.45 pagi. Mbak Ayu sedang keliling ke kamar pasien. Saya sendirian di nurse station.

Teet... Teet... Teeeetttt...

Kamar 112. Bunyi lagi.
Kali ini, belnya tidak berhenti. Terus berbunyi, seolah ada yang menekan tombolnya berulang-ulang tanpa jeda. Saya mulai merinding.

Saya cek sistem komputer. Status kamar 112: KOSONG. Tempat tidur: BERSIH.

"Suster... Suster..."

Saya membeku. Ada suara lirih dari interkom yang terhubung ke kamar 112. Suaranya seperti nenek-nenek, serak dan seperti menahan sakit.

Saya panik. "Mungkin ada pasien baru masuk dan kita lupa update data?" pikir saya.
"Mbak Ayu lagi keliling, saya harus cek," batin saya.

Saya ambil senter (prosedur) dan berjalan menyusuri koridor. Bangsal Melati ini panjang. Lampu koridor sengaja diredupkan agar pasien bisa istirahat. Hanya ada suara langkah kaki saya dan... suara bel dari kamar 112 yang semakin dekat.

Saya sampai di depan pintu kamar 112. Belnya masih berbunyi dari dalam.

Teet... Teeet... Teeeet...

"Permisi...?" Saya mengetuk pintu pelan.
Tidak ada jawaban. Tapi belnya berhenti.
Hening seketika.

Tangan saya gemetar. Saya putar gagang pintu pelan-pelan. Pintu terbuka.

Gelap.
Saya nyalakan senter, saya arahkan ke dalam.
Kosong.

Tempat tidurnya rapi. Seprai masih terlipat kencang. Tidak ada siapa-siapa. Saya arahkan senter ke kamar mandi. Kosong.
Lalu saya melihatnya.

Tombol bel panggilan yang menempel di dinding di atas kepala ranjang. Tombol itu... masih bergerak. Seperti baru saja ditekan dan dilepas. Goyang-goyang pelan.

"Suster... sakit..."

Suara itu lagi. Bukan dari interkom. Suaranya ada di dalam kamar ini. Persis di sebelah telinga saya.

Saya tidak teriak. Saya tidak bisa. Rasanya seperti ada es yang menjalar di punggung saya. Saya bisa mencium bau... seperti bau minyak kayu putih yang sudah lama sekali.

Saya tidak berani menoleh. Saya hanya bisa mundur pelan-pelan keluar kamar, dan langsung menutup pintunya.

Napas saya terengah-engah. Saya lari kecil kembali ke nurse station.

Saat saya hampir sampai... saya melihatnya.
Di ujung koridor, di dekat sambungan ke gedung lama yang gelap. Ada 'sesuatu' berdiri.
Bukan hantu yang jelas.

Hanya siluet. Sosok wanita tua, bungkuk, memakai baju pasien. Samar sekali, seperti bayangan yang lebih pekat dari gelapnya koridor. Dia hanya berdiri di sana. Diam. Menghadap ke arah saya.

Saya langsung masuk ke nurse station dan mengunci pintu.

Ketika Mbak Ayu kembali, dia melihat saya pucat pasi. Saya ceritakan semuanya.

Mbak Ayu menghela napas panjang. "Nani, kamar 112 itu... 'terisi'," katanya pelan.

Dia cerita. Dulu, ada seorang nenek di kamar itu. Dia meninggal sendirian jam 3 pagi. Dia menekan bel berkali-kali karena sesak napas, tapi entah kenapa malam itu belnya error dan tidak terdeteksi di nurse station.

Dia ditemukan meninggal subuh oleh perawat shift pagi, dengan tangan masih memegang tombol bel.

"Dia nggak ganggu," kata Mbak Ayu. "Dia cuma minta tolong. Kalau belnya bunyi, biarin aja. Nanti dia capek sendiri."

"Terus yang di ujung koridor?" tanya saya gemetar.

"Itu 'penjaga' bangsal ini. Selama kamu nggak niat jahat, dia cuma 'ngawasin' aja. Jangan pernah kamu tatap matanya."

Malam itu adalah jaga malam terpanjang dalam hidup saya.

Sampai sekarang, kalau saya jaga malam dan bel 112 berbunyi, kami para perawat hanya saling pandang, lalu melanjutkan pekerjaan. Pura-pura tidak dengar.

Ini cerita saya. Mungkin ada yang punya pengalaman serupa, terutama yang kerja shift malam di rumah sakit?

Atau mungkin ada yang bisa menebak ini RS H. yang mana di Jakarta?

Saya ngetik ini aja masih merinding. Komen di bawah kalau kalian pernah ngalamin hal ganjil di rumah sakit.

Address


Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Horor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share