25/12/2025
TAMU TAK DIUNDANG DI LANTAI 4
Jam tangan saya menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Suasana di pos jaga terasa jauh lebih dingin dari biasanya, mungkin karena hujan yang baru saja reda menyisakan aroma aspal basah dan tanah lembap.
Saya bekerja sebagai sekuriti shift malam di sebuah gedung perkantoran tua yang setengahnya sudah tidak disewakan lagi di pinggiran kota.
Gedung ini punya 8 lantai, tapi aktivitas manusia hanya ada sampai lantai 3. Sisanya? Kosong, gelap, dan penuh debu.
Saya bukan orang penakut. Saya tidak percaya hantu, pocong, atau urban legend semacam itu. Bagi saya, yang menakutkan itu bukan yang tak terlihat, tapi cicilan motor yang menunggak atau beras di rumah yang habis.
Tapi malam itu, logika saya diuji dengan cara yang berbeda.
Tugas saya sederhana: patroli keliling setiap dua jam sekali. Memastikan pintu terkunci, tidak ada kebocoran air, dan—yang paling penting—mencegah maling masuk.
Malam itu giliran saya patroli sendiri karena rekan saya izin sakit.
Saya mulai naik dari tangga darurat. Lantai 1, aman. Lantai 2, sunyi. Lantai 3, hanya suara dengung mesin server yang terdengar.
Masalah dimulai saat saya menginjakkan kaki di lantai 4.
Lantai 4 adalah bekas kantor firma hukum yang bangkrut lima tahun lalu.
Masih ada sisa-sisa partisi ruangan, meja-meja patah, dan karpet yang baunya apek. Listrik di sini sudah diputus, jadi satu-satunya sumber cahaya adalah senter LED saya yang cahayanya menembus kegelapan seperti pisau membelah kabut.
Saat saya sedang mengecek jendela di ujung lorong, saya mendengarnya.
Sreeet...
Suara itu pelan, tapi jelas. Seperti suara sepatu kets yang bergesekan dengan lantai keramik yang berdebu. Suaranya bukan dari luar gedung, tapi dari dalam. Dari arah belakang saya.
Jantung saya berhenti berdetak sesaat. Saya berbalik cepat, menyorotkan senter ke sepanjang lorong gelap itu. Kosong. Hanya partisi-partisi bisu yang berdiri kaku.
"Halo? Siapa di sana?" teriak saya. Suara saya menggema, memantul-mantul di dinding kosong, membuatnya terdengar putus asa.
Hening.
Saya mencoba berpikir logis. Tikus. Pasti tikus besar. Saya melangkah maju, sepatu boots saya berbunyi duk, duk, duk memecah kesunyian. Saya memeriksa setiap bilik (cubicle).
Kosong. Kosong. Kosong.
Namun, saat saya sampai di bilik terakhir di pojok ruangan, bulu kuduk saya meremang bukan karena takut hantu, tapi karena insting purba manusia yang merasakan bahaya.
Di atas sebuah meja tua yang berdebu tebal, ada bekas jari.
Bekas jari itu baru. Debunya tersapu bersih, membentuk pola lima jari orang dewasa yang sepertinya baru saja menumpu berat badan di sana. Dan di sebelahnya, ada puntung rokok. Asap tipis masih mengepul darinya.
Darah saya berdesir hebat. Ini bukan hantu. Ada orang di sini. Ada manusia lain di lantai gelap ini bersama saya.
Saya segera mematikan senter. Logika keamanan saya berjalan: jika saya menyalakan lampu, saya adalah target yang mudah terlihat, sementara dia bersembunyi di kegelapan. Napas saya tertahan.
Saya meraba radio HT di pinggang, ingin memanggil bantuan pos induk di gerbang luar, tapi tangan saya gemetar hebat.
Saya mundur perlahan menuju pintu tangga darurat, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, lantai tua itu berkhianat. Saya menginjak pecahan kaca kecil.
Krak.
Suara itu terdengar seperti ledakan di telinga saya. Detik berikutnya, saya mendengar suara napas. Berat. Terengah-engah. Dan suaranya... berasal dari balik partisi, kurang dari dua meter di sebelah kiri saya.
Dia tidak lari. Dia menunggu.
Rasa takut yang menyerang saya saat itu bukanlah ketakutan akan wajah hantu yang hancur, melainkan ketakutan akan niat jahat manusia.
Siapa dia? Maling? Pembunuh? Orang gila yang menjadikan gedung ini rumahnya? Kenapa dia tidak lari saat saya datang? Kenapa dia malah diam menunggu?
Saya menyalakan senter lagi, mengarahkannya langsung ke balik partisi itu sambil berteriak sekeras mungkin untuk menggertak. "KELUAR! SAYA BAWA SENJATA!"
Cahaya senter menyapu ruangan itu. Kosong.
Tapi jendela di sebelahnya terbuka lebar. Angin malam masuk, mengibarkan gorden tua yang robek. Saya berlari ke jendela, menengok ke bawah. Tidak ada siapa-siapa. Mustahil dia lompat dari lantai 4 tanpa cedera.
Saat itulah saya menyadari sesuatu yang membuat lutut saya lemas.
Jendela itu berteralis besi mati. Tidak bisa dibuka cukup lebar untuk badan manusia lewat. Dia tidak keluar lewat jendela. Suara napas tadi... itu pengalihan.
Saya mendengar suara pintu tangga darurat di belakang saya tertutup pelan. Klik.
Dia tidak keluar. Dia justru masuk lebih dalam ke gedung. Atau lebih buruk... dia sedang memutari saya.
Malam itu, sisa jam kerja saya habiskan dengan mengunci diri di pos satpam lantai dasar sambil memegang tongkat pemukul, mata tak berkedip menatap monitor CCTV yang gambarnya buram. Saya tidak melihat apa-apa di layar.
Tapi saya tahu, di lantai 4, di kegelapan itu, ada sepasang mata yang mungkin sedang menatap kamera balik, atau sedang menuruni tangga menuju ke tempat saya duduk sekarang.
Keesokan paginya, saat regu pagi datang dan kami memeriksa lantai 4 bersama polisi, kami menemukan sesuatu di plafon toilet lantai tersebut.
Sebuah lubang ventilasi yang jebol. Di dalamnya ada kasur lipat, botol air minum, sisa makanan, dan foto-foto candid saya... foto-foto yang diambil dari jarak jauh saat saya sedang jaga malam di pos, tercetak dan ditempel di dinding ventilasi.
Dia bukan sekadar penyusup. Dia sudah tinggal di sana berbulan-bulan. Dia hafal jadwal saya. Dia mengamati saya setiap malam.
Dan yang paling mengerikan? Sampai hari ini, polisi tidak pernah menemukannya. Setiap kali saya jaga malam sekarang, saya tidak pernah berani mematikan lampu, dan saya selalu merasa... ada yang sedang bernapas pelan di belakang leher saya.
Pernahkah kalian merasa diawasi saat sedang sendirian di tempat sepi? Atau mendengar suara benda jatuh padahal tidak ada angin? Coba cek sudut-sudut gelap di ruangan kalian, pastikan kalian benar-benar "sendirian".
Bagaimana menurut kalian, apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi saya saat melihat puntung rokok yang masih menyala itu? Tuliskan reaksi jujur kalian di kolom komentar, saya ingin membacanya.