27/03/2026
Jam dinding sudah menunjuk angka dua dini hari. Mata ini rasanya sudah sangat perih menatap layar laptop. Di sebelah kiri, deretan draf laporan audit kantor dan tumpukan berkas seakan menuntut untuk segera diselesaikan. Sementara di layar yang lain, draf revisi bab pembahasan tesis seolah menatap balik dengan dingin. Kepala rasanya mau pecah, apalagi memikirkan esai pendaftaran beasiswa lanjutan yang tenggat waktunya tinggal menghitung hari.
​Lelah? Sangat. Rasanya raga ini ingin segera menyerah dan rebah.
​Tiba-tiba, di tengah sunyinya malam, terdengar suara batuk pelan dari kamar sebelah. Suara ranjang kayu berderit, disusul rintihan lirih. Itu suara Ibu.
​Ada sejenak godaan berbisik di hati kecil. "Ah, Ibu mungkin cuma mau ganti posisi tidur. Air minum juga sudah kusiapkan di meja kecilnya. Laporanku harus selesai malam ini juga..."
​Namun, memori tentang pengorbanan masa lalunya seketika menampar kesadaran. Ku-klik tombol save di laptop, lalu bergegas melangkah ke kamarnya. Benar saja, Ibu sedang bersusah payah mencoba bangun, memegangi lututnya yang sering ngilu ketika udara malam sedang dingin.
​"Ibu mau ke kamar mandi? Mari, kupegangi pelan-pelan ya, Bu," ucapku sambil merangkul pundaknya yang kini terasa begitu kecil, rapuh, dan tak lagi sekokoh dulu.
​Ibu menatapku dengan mata sayunya yang menyiratkan rasa bersalah. "Maaf ya, Nak... Ibu ganggu kamu lembur dan ngerjain tugas akhirmu lagi. Kamu pasti capek banget, siang kerja ngurusin dokumen, malam harus begadang ngetik..."
​Kuusap pelan punggung tangannya yang sudah dipenuhi keriput. "Nggak apa-apa, Bu. Laporannya bisa nunggu, urusan kampus pelan-pelan pasti selesai. Yang penting Ibu nyaman."
​Malam itu, setelah membantunya dan memijat pelan kakinya sampai beliau kembali terlelap dengan tenang, aku terdiam di tepi ranjang. Setetes air mata jatuh tanpa permisi. Betapa sombongnya aku, merasa paling menderita karena kelelahan urusan duniawi—mengejar target karir, mengejar gelar, berambisi meraih beasiswa—sampai hampir saja menunda melayani pintu surga yang terbaring tepat di kamar sebelah.
​Sahabat, di usia kematangan kita saat ini, pernahkah kita merasa sangat kehabisan napas dengan rutinitas yang menjepit? Di satu sisi kita harus berjuang menstabilkan ekonomi, menata karir, atau merampungkan pendidikan. Di sisi lain, kita melihat fisik orang tua kita semakin menua, melambat, dan mulai kembali seperti anak kecil yang sangat membutuhkan perhatian.
​Terkadang setan membisikkan bahwa merawat orang tua yang sudah sakit-sakitan adalah beban yang menyita waktu istirahat kita.
​Namun percayalah, bakti seorang anak kepada orang tuanya di masa tua mereka bukanlah penghambat jalan kesuksesan. Justru, usapan lembut tangan keriput mereka di kepala kita, dan doa lirih yang mereka panjatkan di sela-sela malam setelah kita merawatnya, adalah golden ticket pembuka segala kemudahan hidup.
​Boleh jadi, tesis yang akhirnya dipermudah oleh dosen pembimbing, urusan pekerjaan kantor yang mendadak lancar, hingga rezeki beasiswa dan finansial yang tiba-tiba terbuka jalannya... itu semua bukan semata-mata karena kita cerdas. Melainkan, ada rida Allah yang turun deras membasahi bumi, ditarik oleh senyum rida orang tua kita.
​Mumpung Allah masih menitipkan mereka di rumah kita, jangan pernah mengeluhkan fisiknya yang mulai melemah. Rengkuh mereka, karena kelak, hanya kenangan berbakti inilah yang akan menjadi penawar rindu paling mujarab saat mereka telah tiada. ✨
​Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, Aamiin
Silahkan tulis "AAMIIN" di komentar.
Sahabat sekarang memiliki dua pilihan ,
1. ​Membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
2. ​Membagikan pengetahuan ini kesemua teman facebookmu dengan klik 'Bagikan' , Insya Allah akan lebih bermanfaat bagi kita dan orang lain serta akan menjadi pahala bagimu