10/05/2026
Aku mundur pelan.
Nafasku mulai nggak karuan.
Sosok itu berdiri di dapur. Air menetes dari rambutnya. Bajunya hitam dan bau tanah basah memenuhi rumah.
Ibu langsung nangis pelan sambil pegang lenganku erat.
“Raka… jangan lihat matanya…”
Tapi terlambat.
Makhluk itu menatapku.
Dan dia… tersenyum.
Senyumnya makin lebar sampai hampir menyentuh telinga.
HP-ku bergetar lagi.
> “Kalau dia sudah masuk rumah, jangan biarkan dia mendekat.”
Aku gemetar baca pesan itu.
“Siapa kamu sebenarnya?!” teriakku.
Makhluk itu nggak jawab.
Dia cuma miringkan kepala… lalu berkata dengan suara parau:
“Sudah lama… aku nyari rumah ini.”
Lampu rumah tiba-tiba mati.
BRAK!
Pintu dapur tertutup sendiri.
Ibu teriak histeris.
Dalam gelap, aku cuma bisa lihat siluet makhluk itu berdiri diam.
Lalu…
suara langkah kaki terdengar mendekat.
Pelan.
Basah.
CEK…
CEK…
CEK…
Aku buru-buru nyalain senter HP.
Dan makhluk itu… hilang.
“Bu… jangan pisah dari aku.”
Ibu mengangguk sambil menangis.
Tapi saat aku menoleh sebentar ke arah lorong…
ibu sudah nggak ada.
“IBU?!”
Rumah mendadak sunyi.
Terlalu sunyi.
Lalu dari lantai atas terdengar suara ibu memanggil:
“Raka… tolong ibu…”
Padahal…
rumah kami nggak punya lantai dua.
HP-ku bergetar sekali lagi.
Pesan terakhir masuk.
> “Dia sekarang tahu rasa takutmu.”
Dan tepat setelah itu…
suara langkah kaki terdengar tepat di belakangku.