26/10/2025
HARI KETIGA
Rena duduk di bangku halte di trotoar jalan utama pusat kota Jakarta, menunggu seseorang menjemputnya. Koper ukuran kabin dia letakkan di sisi kanannya. Dia baru saja turun dari kereta bawah tanah yang membawanya dari bandara.
Sebenarnya, Rena tidak pernah menyukai Jakarta. Bagi Rena Jakarta terlalu sibuk, bising, dan asing. Menurutnya Samarinda di Kalimantan sana merupakan tempat yang sangat nyaman. Semua yang ada di Jakarta, di Samarinda juga ada. Minus sibuk, bising, dan asing. Dan kereta bawah tanah.
Rena memperhatikan lalu lintas yang berlalu sibuk di depannya. Tiga setengah jam total waktu yang dibutuhkan dari rumahnya di Samarinda hingga duduk di bangku ini. Rena tersenyum sendiri mengingat-ingat kenekatannya mendadak pergi ke Jakarta.
Dirga, laki-laki yang dia kenal di aplikasi kencan, alasan kenekatan itu. Rena memesan tiket pesawat hanya dengan satu alasan: ingin tahu seperti apa wujud nyata dari suara dan wajah yang selama ini kadang menemaninya hingga tertidur. Dirga lah yang membuat hari-hari Rena kembali terasa hidup, setelah kegagalannya menerima hati seseorang satu tahun lalu.
Enam bulan lamanya Rena mengenal Dirga. Rasanya sudah ribuan jam waktu Rena lewatkan mengobrol dengan Dirga lewat panggilan suara dan video. Jutaan karakter dia tumpahkan di aplikasi pesan. Sampai akhirnya dia tidak tahan, dia harus pergi ke Jakarta, kota yang tidak disukainya. Untuk bertemu Dirga.
Sebuah sedan merah berhenti di depan halte. Mata Rena menatap seorang lelaki yang keluar dari pintu pengemudi. Itu Mas Dirga, pekik Rena dalam hati. Dirga benar-benar seperti yang Rena lihat selama ini di layar ponsel. Wajahnya teduh, tampan, dan pembawaannya tenang. Jantung Rena berdegup kencang.
Saat pertama kali Dirga menggenggam tangannya, Rena merasa seperti remaja yang baru belajar jatuh cinta. Rasanya canggung, dan jantung serasa mau jatuh dari tempatnya. Tapi kemudian, di dalam mobil, Rena mulai merasa nyaman. Obrolan mengalir begitu saja, Rena dengan mudah menyatukan tawa dengan Dirga.
Di sebuah restoran kecil di daerah Menteng, mereka duduk berhadapan. Rena memerhatikan Dirga dengan rasa yang campur aduk: gugup dan jatuh cinta. Tapi Dirga dengan sikapnya yang tenang dan hangat tahu persis cara membuat dia nyaman.
"Aku senang kamu datang," ujar Dirga pelan. "Kamu cantik, lebih dari yang kubayangkan." Rena tersipu. Dia ingin berkata membalas pujian Dirga, tetapi hanya tersenyum dan menunduk.
Hari itu mereka habiskan berdua. Dari restoran ke taman kota, ke cafe terkenal yang Rena ingin kunjungi, lalu ke cafe lain tempat favorit Dirga, Rena merasa Dirga seperti tidak pernah kehabisan bahan obrolan.
Rena merasa hari itu adalah hari paling bahagia selama hidupnya. Dirga sangat pintar mengajaknya berpetualang. Rena benci jika hari harus berakhir. Namun tanpa sadar petulangan kecil Rena harus membawa mereka ke hotel tempatnya menginap.
Malam semakin larut, dan mereka masih melanjutkan obrolan yang tidak ada habisnya itu. Semakin panjang obrolannya, semakin mereka tidak bisa membohongi apa yang dirasakan selama berbulan-bulan di depan layar ponsel. Dan malam itu, dunia di luar kamar hotel Rena sirna seperti tidak pernah ada.
Malam yang sirna muncul kembali dengan terbitnya matahari yang sinarnya samar terlihat dari balik awan. Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung. Udara terasa berat.
Rena duduk di pinggir tempat tidur dengan rambut masih basah setelah mandi. Dirga berdiri di dekat pintu kamar, menggenggam ponselnya dan sesekali melirik jam tangan.
"Aku harus pergi sekarang. Maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini. Ada urusan mendadak di kantor" katanya sambil tersenyum kecil.
Rena berdiri mendekati Dirga, lalu mengangguk pelan. “Oke sayang. Tapi, nanti malam ketemu lagi, kan?”
Dirga diam sesaat. Lalu mencium kening Rena dan menatapnya agak lama. "Kamu baik-baik ya, jaga diri."
Itu saja. Tak ada janji, tak ada kepastian. Hanya tatapan yang terasa seperti salam perpisahan yang tak diucapkan.
Setelah Dirga keluar dan menutup pintu, Rena tetap berdiri di tempat, mematung. Ada sesuatu yang terasa hilang. Tapi dia tak tahu apa.
Hari itu berlalu tanpa kabar. Rena mengirim pesan seperti biasa kepada Dirga: ringan, dan manja. Tidak dibalas. Dia menelepon, tapi masuk ke pesan suara. Mungkin Mas Dirga sibuk, pikir Rena. Sore hari sepulang bertemu teman masa kuliahnya, Rena mencoba menghubungi Dirga lagi. Masih tak ada jawaban. Hati Rena mulai bimbang.
Malamnya Rena menangis di kamar hotel. Kepalanya dipenuhi pertanyaan: Apa aku salah bicara? Apa aku terlalu cepat percaya? Apa aku terlalu berharap?
Rena mengingat-ingat kembali percakapan mereka dan apa yang terjadi malam sebelumnya, mencoba mencari kata-kata atau perbuatannya yang salah. Menebak-nebak apa yang dipikirkan Mas Dirga dan mencoba membenarkan sikap dia kepadanya. Rena mencoba memahami hal yang bahkan tidak bisa ia mengerti.
Hari ketiga, Jakarta terasa semakin asing. Rena berjalan tanpa arah, menyusuri trotoar Sudirman di antara orang-orang berpakaian rapi dan langkah tergesa. Niatnya untuk membeli tas merek baru yang sedang populer dia urungkan. Tidak ada yang bisa menyentuh kekosongan yang tumbuh di dalam dadanya. Dia sendirian di kota yang tak dia sukai, ditinggal oleh seseorang yang tak pernah benar-benar jadi miliknya.
Menjelang sore hari, Rena duduk kembali di halte yang sama, koper kabinnya di sisi kanan. Persis sama seperti tiga hari lalu. Tapi kini, dadanya jauh lebih sibuk daripada lalu lintas di hadapannya.
Sebelum turun ke stasiun kereta bawah tanah, Rena membuka ponselnya sekali lagi, mengecek pesan dari Dirga. Masih tidak ada balasan.
Rena akhirnya tersenyum kecil—pahit, getir, dan menyerah. Cinta mungkin bukan tentang siapa yang pertama kali jatuh, tapi siapa yang tetap tinggal saat segalanya mulai rumit.
Dia kembali ke Samarinda sore itu, membawa pulang luka yang tidak dia harap akan dia dapatkan dari Jakarta.
Dan Dirga, tetap jadi nama yang dia simpan diam-diam dalam hatinya, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai pelajaran paling sunyi dalam hidupnya.
💔💔