El Hadis

El Hadis Berbagi hadis Rasulullah ﷺ untuk inspirasi dan amalan sehari-hari.

Semoga bermanfaat dan membawa berkah

Klik disini untuk melihat koleksi buku
https://lynk.id/tinadigital2025

1. Larangan Meminta Tanpa Kebutuhan قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَ...
27/09/2025

1. Larangan Meminta Tanpa Kebutuhan

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِر
(رواه مسلم)
Artinya:
"Barang siapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak harta, maka sesungguhnya ia hanya meminta bara api. Maka terserah, apakah ia meminta sedikit atau banyak."

2. Tangan di Atas Lebih Baik

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ :الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَ
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."

3. Tidak Halal Meminta Kecuali Dalam 3 Keadaan

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لَا تَحِلُّ الْمَسْأَلَةُ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ: ذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ ذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ، أَوْ ذِي دَمٍ مُوجِعٍ
(رواه أبو داود)
Artinya:
"Tidak halal meminta-minta kecuali bagi tiga golongan: orang fakir yang sangat miskin, orang yang terlilit hutang berat, atau orang yang menanggung diyat (tebusan darah)."

4. Datang di Hari Kiamat Tanpa Daging di Wajah

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
"Seseorang akan terus meminta-minta hingga ia datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya."

5. Meminta Padahal Cukup Akan Datang dengan Luka di Wajah

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَنِ اسْتَغْنَى أَغْنَاهُ اللَّهُ، وَمَنْ اسْتَعَفَّ أَعَفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ وَلَهُ مَا يُغْنِيهِ، جَاءَتْ مَسْأَلَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُمُوشًا أَوْ كُدُوحًا فِي وَجْهِهِ
(رواه الترمذي)
Artinya:
"Barang siapa menjaga kehormatan diri, Allah akan mencukupinya. Dan barang siapa meminta-minta padahal ia memiliki kecukupan, maka pada hari kiamat ia datang dengan luka goresan di wajahnya."

6. Membuka Pintu Meminta Membuka Pintu Kefakiran

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَنْ فَتَحَ عَلَيْهِ بَابَ مَسْأَلَةٍ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ
(رواه الترمذي)
Artinya:
"Barang siapa membuka pintu meminta-minta, Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran."

7. Meminta Itu Seperti Menggores Wajah

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: السُّؤَالُ كَدُّ يَكُدُّ بِهِ الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ
(رواه أبو داود)
Artinya:
"Meminta-minta itu seperti menggores wajah seseorang, kecuali bila ia meminta kepada penguasa atau dalam keadaan darurat."

8. Lebih Baik Memikul Kayu Bakar daripada Meminta

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
"Sungguh seseorang memikul kayu bakar di punggungnya lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau ditolak."

9. Tidak Halal Meminta bagi yang Kaya dan Sehat

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لَا تَحِلُّ الْمَسْأَلَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ
(رواه الترمذي)
Artinya:
"Tidak halal meminta-minta bagi orang yang kaya dan orang yang sehat kuat."

10. Doa Nabi agar Terhindar dari Kefakiran

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ
(رواه أبو داود)
Artinya:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan, dan kehinaan."
(Hadis ini menunjukkan dianjurkannya meminta perlindungan agar tidak sampai meminta-minta.)

[Kedudukan Perempuan Sebelum Islam]Sebelum Islam datang, kondisi perempuan sangat memprihatinkan di banyak peradaban, kh...
25/09/2025

[Kedudukan Perempuan Sebelum Islam]

Sebelum Islam datang, kondisi perempuan sangat memprihatinkan di banyak peradaban, khususnya di Jazirah Arab:

1. Status sosial rendah
Perempuan dianggap milik ayah, lalu milik suami setelah menikah. Tidak punya hak menentukan jodoh atau harta.

2. Tidak punya hak warisan
Mereka tidak mendapatkan bagian harta orang tuanya, malah bisa diwariskan seperti barang.

3. Pembunuhan bayi perempuan
Sebagian kabilah mengubur hidup-hidup bayi perempuan karena dianggap aib (QS. An-Nahl: 58-59, QS. At-Takwir: 8-9).

4. Perbudakan dan eksploitasi
Perempuan budak dijadikan objek pemuas hawa nafsu tanpa perlindungan.

5. Tidak dianggap saksi atau pemilik pendapat
Perempuan tidak didengar suaranya dalam urusan penting.

[Kemuliaan Perempuan Setelah Islam]

Ketika Islam datang, posisi perempuan diangkat dan dimuliakan:

1. Dihormati sejak lahir
Nabi ﷺ bersabda:
"Barang siapa mengasuh dua anak perempuan hingga baligh, maka aku akan bersamanya di surga."
(HR. Muslim)

2. Mendapat hak hidup dan perlindungan
Islam mengharamkan pembunuhan bayi perempuan (QS. At-Takwir: 8-9) dan menjadikan anak perempuan sumber pahala bagi orang tuanya.

3. Mendapat hak pendidikan
Nabi ﷺ bersabda:
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim."
(HR. Ibnu Majah)
dan kata "muslim" mencakup laki-laki dan perempuan.

4. Hak memilih pasangan
Nabi ﷺ bersabda:
"Janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, dan gadis dimintai izinnya."
(HR. Muslim)

5. Mendapat bagian warisan
Islam menetapkan sistem waris yang adil: perempuan mendapatkan bagiannya yang pasti (QS. An-Nisa: 7-12).

6. Mendapat hak memiliki harta
Harta perempuan tidak boleh diambil suami/ayah kecuali dengan kerelaan (QS. An-Nisa: 4).

7. Dilindungi kehormatannya
Islam mewajibkan hijab bukan untuk mengekang, tetapi untuk menjaga martabat dan keamanan (QS. Al-Ahzab: 59).

8. Dihormati sebagai ibu
Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya siapa yang paling berhak diperlakukan baik:
"Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

[Aturan Islam, Memuliakan, Bukan Mengekang]

Beberapa aturan yang kadang disalahpahami justru bertujuan memuliakan:

1. Hijab & Batas Pergaulan
menjaga kehormatan, bukan mengekang kebebasan.

2. Kewajiban taat pada suami
seimbang dengan kewajiban suami untuk menafkahi dan memperlakukan istri dengan baik.

3. Pembagian waris yang berbeda
bukan diskriminasi, tetapi menyesuaikan tanggung jawab (laki-laki wajib menafkahi, perempuan tidak).

4. Larangan khalwat (berdua-duaan)
pencegahan kerusakan, bukan membatasi interaksi produktif.

Islam datang untuk mengangkat derajat perempuan, memberi hak-hak yang sebelumnya dirampas, dan melindungi kehormatan mereka. Aturan-aturan Islam bukan untuk membatasi hidup perempuan, tetapi menciptakan keseimbangan dan melindungi dari penindasan.

Sejak beliau masih bayi, Allah telah melindunginya dari pembunuhan Firaun. Beliau dibesarkan di istana musuhnya, ditempa...
25/09/2025

Sejak beliau masih bayi, Allah telah melindunginya dari pembunuhan Firaun. Beliau dibesarkan di istana musuhnya, ditempa dengan ujian, dikuatkan fisiknya, dilatih kesabaran dan kepemimpinan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya diutus untuk menghadapi penguasa paling sombong di muka bumi.

Kekuatan fisik Nabi Musa bukan hanya karunia, tapi juga bekal untuk melaksanakan misi besar. Dalam Al-Qur’an dan hadits, kita temukan banyak dalil yang menggambarkan betapa kokoh tubuhnya, cepat tanggap, berani, dan mampu mengerjakan pekerjaan yang biasanya dilakukan banyak orang. Semua ini menjadi teladan bagi kita bahwa kekuatan jasmani dan rohani harus berjalan seimbang untuk menegakkan kebenaran.

berikut adalah sebagian bukti dari kekuatan fisik nabi Musa AS.

1. Musa Mencabut Janggut Firaun Saat Bayi

Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-Qashash: 7-13) Riwayat Israiliyat
"Ketika Musa kecil di pangkuan Firaun, ia menarik janggutnya. Firaun marah dan hampir membunuhnya. Namun Asiah berkata: 'Dia hanya bayi, uji saja ia dengan bara api dan kurma.' Lalu Musa mengambil bara api dan memasukkannya ke mulutnya sehingga lisannya cadel, dan Firaun pun membiarkannya."

2. Tubuh Musa Kekar,. Kisah Batu Saat Mandi

HR. Bukhari no. 3404, Muslim no. 339
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Dahulu Musa adalah seorang yang sangat pemalu. Tidak ada yang melihat kulitnya karena ia mandi sendirian. Bani Israil menuduh ia punya cacat. Suatu hari, ia mandi, lalu ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Batu itu lari membawa pakaiannya, maka Musa mengejarnya sambil berkata: 'Bajuku wahai batu!' hingga mereka melihat tubuh Musa dan ternyata ia sebaik-baik ciptaan Allah. Allah pun membebaskannya dari tuduhan mereka."

3. Membunuh Tentara Mesir dengan Sekali Pukul

QS. Al-Qashash: 15
فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۚ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ
"Maka Musa meninjunya, lalu matilah orang itu. Musa berkata: 'Ini adalah perbuatan setan; sesungguhnya ia musuh yang menyesatkan lagi nyata permusuhannya.'"

4. Mengangkat Batu yang Biasanya Diangkat 30 Orang

Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-Qashash: 23)
"Sumur itu ditutup dengan batu besar yang hanya bisa diangkat oleh 30 orang laki-laki. Musa datang, mengangkat batu itu sendirian, lalu memberi minum ternak dua wanita itu, kemudian ia menutupnya kembali."

5. Memukul Malaikat Maut

HR. Bukhari no. 1339, Muslim no. 2372
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Malaikat maut datang kepada Musa, lalu Musa menampar matanya sehingga copot. Malaikat kembali kepada Rabbnya dan berkata: 'Engkau mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak ingin mati.' Maka Allah mengembalikan matanya dan berfirman: 'Kembalilah kepadanya, katakan kepadanya: Letakkan tanganmu di atas punggung sapi, maka setiap bulu yang tertutup oleh tanganmu, engkau akan hidup setahun. Musa berkata: 'Lalu setelah itu apa?' Malaikat berkata: 'Kematian.' Musa berkata: 'Kalau begitu sekaranglah (ya Allah).' Lalu ia meminta agar didekatkan dari Tanah Suci sejauh lemparan batu."

25/09/2025

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mulailah dari dirimu, lalu dari orang yang menjadi tanggunganmu.”
(HR. Muslim)

21/09/2025

Ikuti kata hatimu
"Istaf-ti qalbak," sabda Nabi ﷺ.
Mintalah fatwa pada hatimu.
Kebaikan selalu menenangkan,
dosa selalu menggelisahkan
meski orang-orang membenarkanmu.
Ikuti kata hatimu,
selama hatimu mengikuti Allah. ❤️

(HR. Ahmad)

07/09/2025

Gerhana bukan hilangnya cahaya, tapi tanda agar kita kembali kepada Sang Pencipta cahaya

05/09/2025

Belajar Tauhid sejak dini

"Al-Lathif" (اللطيف), salah satu Asmaul Husna Allah SWT.Al-Lathif secara bahasa berasal dari kata luthf yang berarti hal...
04/09/2025

"Al-Lathif" (اللطيف), salah satu Asmaul Husna Allah SWT.

Al-Lathif secara bahasa berasal dari kata luthf yang berarti halus, lembut, penuh perhatian, dan penuh kasih. Dalam sifat Allah, Al-Lathif bermakna:

1. Allah memahami kebutuhan hamba-Nya lebih dari hamba itu sendiri. Bahkan sebelum kita meminta, Allah telah mengetahui apa yang paling baik untuk kita, dan seringkali mengarahkan kehidupan kita melalui jalan yang tampak sulit namun sejatinya penuh kelembutan rahmat.

2. Kasih sayang Allah begitu halus sehingga sering luput dari kesadaran manusia. Nafas yang mengalir, detak jantung yang terus bekerja, dan rezeki yang datang dari arah yang tidak kita sangka—semua itu adalah manifestasi kelembutan Allah.

3. Ketika hamba berdoa, Allah menjawab dengan cara yang paling lembut. Bisa jadi tidak langsung dikabulkan sesuai permintaan, tetapi diganti dengan sesuatu yang lebih baik, atau disimpan sebagai tabungan kebaikan di akhirat.

Pendapat para ulama:

1. Ibnul Qayyim rahimahullah

"Al-Lathif adalah Dzat yang mengetahui hal-hal yang paling lembut dan samar, serta menyampaikan kebaikan kepada hamba-Nya dengan cara yang penuh kelembutan, yang terkadang hamba tidak menyadarinya."
(I’lam al-Muwaqqi’in, 1/161)

2. Imam Al-Ghazali rahimahullah

Dalam Al-Maqshad al-Asna, beliau menjelaskan:
"Al-Lathif ialah Dzat yang sampai kepada hamba-Nya dengan cara yang sangat halus dan lembut, hingga tak terasa oleh hamba itu sendiri. Dia juga yang mengetahui segala sesuatu yang samar dan tersembunyi."

3. Ibn Jarir ath-Thabari rahimahullah

Dalam tafsirnya tentang firman Allah SWT “Innallaha Latifun bibaadihi” (QS. Asy-Syura: 19), beliau berkata:
"Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya, yakni Dia memperlakukan mereka dengan kasih sayang, memberikan rezeki kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka, dan memudahkan urusan mereka dengan cara yang halus."

4. As-Sa’di rahimahullah

"Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Dia mengetahui urusan-urusan yang halus dan lembut, yang tidak mungkin dijangkau oleh pengetahuan makhluk. Dan Dia memberikan karunia-Nya kepada hamba-hamba dengan kelembutan yang tidak mereka rasakan, hingga tiba-tiba mereka mendapat kebaikan yang mereka tidak duga."
(Tafsir As-Sa’di, hlm. 758)

5. Imam Ibn Katsir rahimahullah

Menafsirkan QS. Al-An’am: 103 (Wahuwa yudriku al-absar wahuwa al-Lathiful Khabir), beliau berkata:
"Allah adalah Al-Lathif, yakni Dia mengetahui yang halus, perkara-perkara tersembunyi, dan yang sangat kecil sekali. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya."
(Tafsir Ibn Katsir, 2/175)

04/09/2025

mengenal keluarga Rasulullah SAW

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا"Keturunan dari orang-orang yang Kami bawa bersama ...
04/09/2025

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

"Keturunan dari orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur." Qs. Al Isra: 3

mengapa Nabi Nuh `alaihis salam disebut oleh Allah sebagai ʿabdan syakura (hamba yang banyak bersyukur)

1. Syukur dengan lisan

Ibnu Katsir: Nabi Nuh selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan. Beliau tidak makan, minum, memakai pakaian, atau melakukan sesuatu kecuali mengucapkan alhamdulillah. Inilah yang membuat Allah menilainya sebagai hamba yang syakur.

2. Syukur dengan amal

Imam Al-Qurthubi: syukur Nabi Nuh bukan hanya dengan ucapan, tapi juga dengan amal nyata. Beliau menggunakan nikmat umur panjang, waktu, dan kekuatan untuk terus beribadah dan berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun, meskipun banyak penentangan.

3. Syukur dengan hati (kesabaran)

Menurut As-Sa’di, kesabaran Nabi Nuh menghadapi kaumnya adalah bentuk syukur tertinggi. Beliau menyadari nikmat iman, lalu bersabar menjaga nikmat itu tanpa goyah, meski kaumnya mendustakan dan menyakitinya.

4. Syukur yang lengkap (ucapan, hati, amal)

Al-Hasan Al-Bashri: “Setiap kali Nabi Nuh makan atau minum, beliau memuji Allah. Setiap kali memakai baju, beliau memuji Allah. Setiap kali menyelesaikan suatu perkara, beliau memuji Allah. Itulah makna hamba yang syukur.”

Jadi, syukurnya Nabi Nuh mencakup tiga dimensi: hati yang ridha, lisan yang memuji, dan amal yang taat.

Nabi Nuh disebut hamba yang syukur karena beliau tidak pernah lalai dari memuji Allah, selalu memanfaatkan nikmat untuk taat, serta sabar menjaga iman meski ditolak kaumnya. Dengan kata lain, syukurnya sempurna,. ucapan, hati, dan amal.

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when El Hadis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share