Tiwi Ono

Tiwi Ono Memintal benang-benang kehidupan & menenunnya dalam sebuah cerita sederhana.

03/02/2026

Dunia yang Tak Kupahami Setelah Aku Pergi
(POV anak kelas 4 SD)

Disclaimer: Cerita ini ditulis untuk mengingatkan, bukan menghakimi.
Jika kamu sedang lelah hidup, kamu tidak sendirian.

---

Aku bangun di tempat yang dingin.
Aku cari jam, tapi tak ada.
Aku tunggu pagi, tapi tak juga datang.
Aku sempat berpikir,
“Ini surga?”
Karena aku pernah dengar, kalau lelah hidup, kita pergi saja. Nanti tempatnya tenang, tak sakit lagi.

Tapi kenapa sekarang aku takut?
Bukannya surga seharusnya tak bikin orang takut?

Aku lihat bayanganku di sebuah kolam yang airnya hitam.
Aku kecil. Lebih kecil dari aku yang dulu.
Tanganku pendek, kakiku kurus.
Aku bingung.
“Kenapa aku jadi begini?”

Aku ingin menangis, tapi tangisku tak terdengar.
Air mataku jatuh, tapi seperti hilang sebelum sampai ke tanah.

Di sekelilingku banyak suara.
Mereka tertawa, tapi tak senang.
Jalan mereka aneh, muka mereka seram.
Aku ingin sekali pulang.

Lalu aku ingat kenapa aku di sini.
Karena hari itu aku bilang hidupku capek.
Karena aku sedih.
Aku pikir, kalau aku pergi, semuanya berhenti.
Tapi ternyata aku salah.
Yang berhenti cuma aku, dunia jalan terus.

Walau kakiku rasanya berat, aku jalan lagi.
Terus aku lihat rumahku.
Aku langsung lari.
Lampu dapur masih menyala.
Aku senang.
Aku pikir, “Ibu pasti ada.”

Aku masuk, dan aku lihat ibu.
Ibu sedang duduk di lantai.
Rambutnya berantakan.
Ibu pegang bajuku sambil menangis.

Aku belum pernah lihat orang menangis seperti itu.
Napasnya patah-patah, mukanya sakit.
“Aduh… Nak…”
Ibu memanggil namaku.

Aku mau jawab, mau bilang, “Bu, aku di sini.”
Aku mau peluk ibu, tapi tanganku tembus.
Aku tak bisa pegang ibu.

Aku baru tahu,
ternyata orang dewasa bisa lebih sedih dari anak kecil.
Aku ingat dulu aku sering dengar orang berkata,
“Kalau capek hidup, mending mati saja. Biar tenang.”

Tidak, mereka tak tahu yang sebenarnya.
Karena sekarang, aku tidak tenang.

Aku pernah dengar orang bilang, Tuhan tidak s**a kalau kita pergi padahal belum waktunya. Mungkin itu sebabnya aku ada di sini.
Sekarang, aku hanya bisa kangen ibu setiap hari.

Aku lihat ibu setiap malam menangis, sambil ngomong,
“Maafkan ibu… maafkan ibu…”

Aku ingin teriak,
“Bukan salah ibu!”
Tapi ibu tak mendengar.

Kalau aku bisa kembali ke hari itu, sebelum aku nekat menyakiti diriku sendiri, aku mau bilang sama diri sendiri:

“Jangan pergi, menangis saja sepuasnya, sampai hilang sedihnya.
Cerita saja ke Tuhan, tunggu sebentar.”

Tapi di tempat ini, tak ada tombol ulang.
Aku sekarang tahu.
Pergi bukan bikin sakitnya hilang.
Pergi hanya pindahkan sakitnya ke ibu.

Kalau kamu masih hidup dan baca ceritaku,
tolong dengarkan aku,
Ini bukan jalan ke surga.
Ini tempat yang dingin, sepi dan menakutkan.




Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tiwi Ono posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share