24/08/2026
JOYO, Prefektur Kyoto — Penjualan teh grosir Jepang mencatat rekor tertinggi, didorong oleh melonjaknya popularitas matcha di Jepang maupun luar negeri.
“Permintaan matcha sangat kuat, terutama di pasar luar negeri dan di kalangan wisatawan asing. Ini turut mendorong kenaikan harga teh secara keseluruhan,” ujar spesialis pasar teh dari cabang Kyoto JA Zen-Noh pada lelang teh Uji 2026, 31 Juli.
Total transaksi panen pertama dan kedua mencapai 12,94 miliar yen (±US$81,9 juta), naik 30% dari tahun sebelumnya. Ini menjadi rekor selama enam tahun berturut-turut.
Total teh yang diperdagangkan mencapai 950 ton, sedikit naik dari 939 ton pada 2025. Namun, harga rata-rata melonjak 30%, dari 10.251 yen menjadi 13.614 yen/kg.
Pendorong utamanya adalah meningkatnya permintaan tencha, daun teh yang digiling menjadi bubuk untuk membuat matcha.
Nilai transaksi tencha panen pertama yang dipanen dengan mesin melonjak 50%, dari 6,83 miliar menjadi 10,1 miliar yen. Harga rata-ratanya juga naik 20%, dari 14.141 menjadi 17.250 yen/kg. Keduanya merupakan angka tertinggi sejak data pembanding mulai dicatat pada 1996.
Booming tencha membuat produksi teh yang diproses dengan cara digulung, seperti sencha, gyokuro, dan kabusecha, berkurang. Meski begitu, permintaannya tetap kuat sehingga harga seluruh kategori teh ikut naik.
“Ini menggembirakan karena nilai transaksi mencapai rekor. Teh Uji berkualitas tinggi juga semakin diakui di Jepang dan luar negeri,” ujar Chotaro Horii, ketua Kyoto Prefecture Tea Chamber of Commerce and Industry.
Namun, Horii juga mengkhawatirkan dampaknya bagi konsumen Jepang. Produksi beberapa jenis teh, termasuk sencha, gyokuro, dan hojicha, menurun sementara harga naik di semua kategori. Ia khawatir kondisi ini membuat konsumen Jepang mengurangi pembelian teh.
Source: https://www.asahi.com/ajw/articles/16786346