21/11/2025
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.
(Simulasi bostrom).
Kita bisa jelaskan bagaimana realitas dibuat secara digital tapi belum terjawab Mengapa kesadaran bisa merasakan dirinya hidup di dalam sistem tersebut. Bostrom nggak pernah menyimpulkan bahwa kita pasti simulasi, tapi dia justru membuat trilemma logis, dimana sisi eksistensialnya justru lebih menarik, kalaupun kita simulasi, rasa sakit, cinta & makna yang kita alami tetap nyata bagi yang merasakannya, & mungkin nya realitas bukan sekedar soal biologis / digitalnya tapi soal kemampuan untuk sadar & menerima dalam keterbatasan. Kesadaran manusia memang seperti kode sumber terbuka, alam semesta tidak memonopoli makna ia membiarkan setiap mahluk berkontribusi pada harmoni kehidupan. Sama seperti proyek open source semua terhubung lewat jaringan Kesadaran seperti blockchain biologis yang menjaga keseimbangan.
Pada akhirnya, jika realitas itu adalah Neurotransmitter antara Objektif & Subjektif maka KEBENARAN itu tidak perlu dibingungkan lagi hanya perlu dialami dari fenomena bahwa kita itu ada tapi nisbi. Kalau dari sisi agama, hal ghaib itu hanya milik Tuhan & manusia tidak ada hak untuk itu. Pont Pentingnya, setinggi²nya ilmu seseorang pasti ujung² diarahkan ke spiritual (Ketuhanan) jika disingkat innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.