Kanak_Sini_Maha_Ge

Kanak_Sini_Maha_Ge follow dan like ya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Horor part 3 👻
27/12/2025

Horor part 3 👻

Horor part 2 👻
26/12/2025

Horor part 2 👻

Merry Christmas catlovers 😍
26/12/2025

Merry Christmas catlovers 😍

Catlovers ♥️
24/12/2025

Catlovers ♥️

Catlovers ♥️
21/12/2025

Catlovers ♥️

good morning cat lovers 🐾🐾
24/09/2025

good morning cat lovers 🐾🐾

Jadi kurang semangat upload video 😿"Cimo lagi tidur"
27/07/2025

Jadi kurang semangat upload video 😿
"Cimo lagi tidur"

🔴 EPISODE 5: CIMO DAN KARDUS BEKAS YANG LEBIH BERHARGA DARI APA PUN“Kadang yang paling membahagiakan bukan hal besar… ta...
11/07/2025

🔴 EPISODE 5: CIMO DAN KARDUS BEKAS YANG LEBIH BERHARGA DARI APA PUN

“Kadang yang paling membahagiakan bukan hal besar… tapi tempat kecil yang terasa aman.”

---

Aku baru saja menerima paket besar. Isinya? Barang diskon yang kutunggu-tunggu — bantal bulu baru, rak dinding, dan sedikit camilan impor. Kubuka semua dengan penuh semangat, membuang plastik dan kertas pelindung, menyusun barang satu per satu.

Dan sisa dari semuanya?
Sebuah kardus polos.
Kusisihkan ke pojok ruangan, niatnya mau dibuang nanti sore.

Tapi beberapa menit kemudian… terdengar suara gesekan lembut.

Aku menoleh.
Dan di sanalah Cimo.
Masuk ke dalam kardus, tubuhnya melingkar, matanya memejam perlahan.
Ia menggeliat seperti menemukan kasur kerajaan.
Kakinya mendorong sisi kardus, lalu ekornya memutar menutupi wajahnya.
Hening. Damai.

---

Aku tertawa kecil.
Di saat aku sibuk mengagumi barang baru yang kubeli,
Cimo hanya butuh kotak bekas — tempat kecil yang hangat, tersembunyi, dan miliknya sendiri.

Sejak itu, kardus itu tidak jadi dibuang.
Kukasi alas kain tipis di dalamnya, dan tiap malam dia tidur di sana.
Padahal aku punya tempat tidur kecil khusus untuknya, yang empuk dan lucu. Tapi tidak. Dia pilih kardus.

---

Hari itu aku belajar:
Kadang, kenyamanan bukan soal harga atau bentuk. Tapi soal rasa: merasa aman, merasa dicintai, dan merasa diterima apa adanya.

Dan mungkin, bukan hanya Cimo yang seperti itu.
Kita pun sama.

---



EPISODE 4: CIMO MOGOK MAKAN KARENA TIDAK DIAJAK JALAN“Kadang, seekor kucing hanya ingin tahu… apakah ia masih dirindukan...
09/07/2025

EPISODE 4: CIMO MOGOK MAKAN KARENA TIDAK DIAJAK JALAN

“Kadang, seekor kucing hanya ingin tahu… apakah ia masih dirindukan.”

---

Beberapa hari terakhir, aku mulai sibuk.
Tugas menumpuk, pekerjaan datang silih berganti. Biasanya tiap sore aku selalu keluar sebentar bersama Cimo — kami duduk di halaman, dia menjelajahi pot bunga atau mengendus batang kayu, dan aku hanya duduk mengawasinya.
Itu rutinitas kecil kami.
Yang kelihatan sepele… tapi ternyata tidak bagi Cimo.

Hari itu, aku terlalu lelah.
Cimo mengeong pelan di dekat pintu, ekornya menyentuh kakiku, lalu duduk diam.
Aku hanya tersenyum lelah, “Nanti ya, Cimo…”

Dia tak menjawab.
Tak mengeong lagi.
Dia hanya pergi ke pojok dapur, dan duduk.

---

Sore berlalu.
Malam datang.
Saat kuberikan makan malam ke mangkuknya, Cimo hanya menatap. Tidak mendekat. Tidak mencium. Bahkan tidak menjilat.

Kukira dia sakit.

Aku panik. Kugendong tubuhnya pelan, tapi dia tidak menolak. Hanya diam.
Matanya menatapku… dalam dan sepi.

Aku coba suap pelan, tetap tak disentuh.
Kubawa ke kamarku, dan dia hanya rebahan — seperti boneka bulu yang kehilangan semangat.

Tiba-tiba aku sadar.
Mungkin bukan sakit.
Mungkin dia ngambek.

---

Paginya, aku sengaja bangun lebih awal.
Kusapu halaman, kupanggil dia, kubuka pintu belakang.
Dan saat dia melihatku duduk di teras, dengan tangan terulur — dia berjalan pelan mendekat.
Lalu duduk di pangkuanku. Menutup mata. Dan mengeong sangat pelan.

Setelah itu?
Dia langsung makan habis semuanya.

---

Hari itu aku belajar:
Ada banyak cara seekor kucing menunjukkan kecewa. Tapi satu hal yang pasti — mereka tidak pernah membenci. Mereka hanya rindu diperhatikan.

--



CIMO DAN SI TAMU DARI PAGAR SAMPING“Terkadang, rasa cemburu adalah cara seekor kucing menunjukkan bahwa ia punya tempat ...
07/07/2025

CIMO DAN SI TAMU DARI PAGAR SAMPING

“Terkadang, rasa cemburu adalah cara seekor kucing menunjukkan bahwa ia punya tempat di hatimu.”

---

Pagi itu agak berbeda.
Aku sedang menyapu halaman saat melihat seekor kucing oranye duduk di luar pagar. Tubuhnya kurus, bulunya agak kusut, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Ia hanya duduk, mengamati.

Cimo, dari balik jendela, sudah waspada. Kupingnya berdiri, ekornya bergoyang pelan — tanda dia sedang menilai. Tapi dia tak mengeong. Hanya diam dan mengawasi.

Sore harinya, kucing oranye itu datang lagi. Tapi kali ini… dia masuk halaman.
Langsung menuju mangkuk Cimo yang baru saja kuisi.

Dan di situlah semuanya terjadi.

---

Cimo keluar dari dalam rumah — bukan berlari, bukan meloncat, tapi berjalan pelan penuh gaya. Tapi wajahnya... serius.
Dia mendekati kucing oranye itu dengan langkah terukur, tubuh sedikit membungkuk, ekor lurus ke atas.
Suara rendah keluar dari tenggorokannya. “Grrrrrr...”

Aku langsung siaga, takut mereka berkelahi. Tapi anehnya, si oranye mundur. Hanya menatap balik sebentar, lalu berjalan pergi, melewati pagar yang sama ia masuki.

Cimo tak mengejarnya.
Ia hanya duduk di samping mangkuknya, lalu menjilat kaki sendiri seolah berkata, "Ini wilayahku."

---

Tapi keesokan harinya… Cimo duduk dekat pagar.
Menunggu.
Diam.
Sesekali menatap ke luar.
Tidak marah, tidak gelisah — hanya menunggu.

Mungkin dia menyesal.
Atau mungkin, seperti manusia, ia juga penasaran akan pertemuan kedua.
Karena ternyata... bukan hanya aku yang punya hati.

---

Hari itu aku sadar:
Bahkan kucing yang pendiam pun bisa cemburu, bisa menjaga, dan bisa… rindu.

---



Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kanak_Sini_Maha_Ge posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share