07/07/2025
CIMO DAN SI TAMU DARI PAGAR SAMPING
“Terkadang, rasa cemburu adalah cara seekor kucing menunjukkan bahwa ia punya tempat di hatimu.”
---
Pagi itu agak berbeda.
Aku sedang menyapu halaman saat melihat seekor kucing oranye duduk di luar pagar. Tubuhnya kurus, bulunya agak kusut, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Ia hanya duduk, mengamati.
Cimo, dari balik jendela, sudah waspada. Kupingnya berdiri, ekornya bergoyang pelan — tanda dia sedang menilai. Tapi dia tak mengeong. Hanya diam dan mengawasi.
Sore harinya, kucing oranye itu datang lagi. Tapi kali ini… dia masuk halaman.
Langsung menuju mangkuk Cimo yang baru saja kuisi.
Dan di situlah semuanya terjadi.
---
Cimo keluar dari dalam rumah — bukan berlari, bukan meloncat, tapi berjalan pelan penuh gaya. Tapi wajahnya... serius.
Dia mendekati kucing oranye itu dengan langkah terukur, tubuh sedikit membungkuk, ekor lurus ke atas.
Suara rendah keluar dari tenggorokannya. “Grrrrrr...”
Aku langsung siaga, takut mereka berkelahi. Tapi anehnya, si oranye mundur. Hanya menatap balik sebentar, lalu berjalan pergi, melewati pagar yang sama ia masuki.
Cimo tak mengejarnya.
Ia hanya duduk di samping mangkuknya, lalu menjilat kaki sendiri seolah berkata, "Ini wilayahku."
---
Tapi keesokan harinya… Cimo duduk dekat pagar.
Menunggu.
Diam.
Sesekali menatap ke luar.
Tidak marah, tidak gelisah — hanya menunggu.
Mungkin dia menyesal.
Atau mungkin, seperti manusia, ia juga penasaran akan pertemuan kedua.
Karena ternyata... bukan hanya aku yang punya hati.
---
Hari itu aku sadar:
Bahkan kucing yang pendiam pun bisa cemburu, bisa menjaga, dan bisa… rindu.
---