28/09/2026
Perbedaan Islam dan ateisme bukan semata soal menerima atau menolak agama. Keduanya berangkat dari jawaban yang berbeda atas pertanyaan paling mendasar: dari mana alam semesta berasal, untuk apa manusia hidup, bagaimana mengenali kebenaran, dan apakah ada pertanggungjawaban setelah kematian.
Dalam ajaran Islam, Allah dipahami sebagai Pencipta dan Pemelihara seluruh yang ada. Al-Qur’an menggambarkan kehidupan sebagai ujian bermakna, sementara manusia dan jinn diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, moralitas, penderitaan, pilihan hidup, hingga kematian ditempatkan dalam horizon kebangkitan dan pengadilan akhir.
Ateisme, di sisi lain, bukan satu doktrin tunggal. Secara umum, pandangan ateistik tidak mengharuskan kepercayaan kepada Tuhan, wahyu, tujuan hidup yang ditetapkan secara ilahi, atau pengadilan setelah mati. Makna dan etika dapat diletakkan pada kesejahteraan manusia, empati, akal, hak, hubungan sosial, pengalaman, serta akibat dari tindakan.
Artikel ini juga menegaskan bahwa perdebatan tersebut tidak sesederhana “agama melawan sains”. Islam menghargai pengamatan dan penalaran, namun menempatkan wahyu sebagai penuntun. Sementara pendekatan ateistik biasanya bertumpu pada bukti empiris, pengalaman, nalar, dan sains. Titik sengketanya adalah apakah realitas, kesadaran, kewajiban moral, dan tujuan akhir manusia dapat dijelaskan sepenuhnya tanpa Sang Pencipta.
Menariknya, Al-Qur’an tidak mengajarkan pemaksaan keyakinan: “لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ”. Kisah Ibrahim yang merenungkan bintang, bulan, dan matahari juga menampilkan pencarian melalui pengamatan dan refleksi. Sejumlah pemikir Muslim, dari Al-Ghazālī hingga Javed Ahmad Ghamidi, berbeda penekanan dalam membahas ateisme, tetapi sama-sama memandangnya tidak sejalan dengan tawḥīd—seraya menekankan dialog yang bernalar, bukan penghinaan.