Ida Bagus Subagia

Ida Bagus Subagia Budaya miwah Dresta Bali, tur Inspirasi Urip Sadina-dina — Kabaktayang antuk Satua Digital sané Kreatif. https://www.youtube.com/

Bali culture, traditions, and daily inspiration—captured through creative digital storytelling.

🌸 **Mengenal Segehan: Harmoni dalam Kesederhanaan** 🌸Pernahkah Anda melihat persembahan nasi kecil di atas daun pisang d...
23/04/2026

🌸 **Mengenal Segehan: Harmoni dalam Kesederhanaan** 🌸

Pernahkah Anda melihat persembahan nasi kecil di atas daun pisang di depan rumah atau perempatan jalan di Bali? Itulah yang disebut **Segehan**.

Secara etimologis, segehan berasal dari kata **"suguhan"** yang berarti persembahan untuk menyuguhkan sajian kepada manifestasi Tuhan dalam bentuk *Bhuta Kala*. Segehan merupakan bagian dari ritual **Bhuta Yadnya** tingkat kecil atau sederhana yang bertujuan untuk **menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam**.

Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang Segehan menurut tradisi Hindu Bali:

* **Implementasi Tri Hita Karana:** Segehan adalah wujud nyata dari konsep *Palemahan*, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan beserta isinya, baik yang terlihat (sekala) maupun tidak terlihat (niskala).
* **Simbolisme Unsur Alam:** Setiap elemen di dalamnya memiliki makna mendalam. **Nasi kepel** melambangkan *rwa bhineda* (keseimbangan dua sifat berbeda), **jahe** yang bersifat panas melambangkan semangat, **bawang** yang dingin melambangkan kepala dingin dalam berbuat, dan **garam** sebagai sarana penetralisir energi negatif.
* **Fungsi Netralisasi:** Ritual ini dilakukan untuk **menetralisir pengaruh negatif** (limbah dari pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia) agar berubah menjadi energi positif yang melindungi lingkungan sekitar.
* **Penempatan:** Berbeda dengan sesajen lain, segehan diletakkan di bawah atau di tanah (*pertiwi*), seperti di halaman rumah, gerbang masuk (*lebuh*), hingga perempatan jalan.

Melalui segehan, umat Hindu Bali diingatkan untuk selalu rendah hati dan hidup berdampingan secara damai dengan seluruh ciptaan Tuhan.

✨ *Mari lestarikan tradisi, jaga harmoni alam semesta.* ✨

Karana

Kembali ke Lontar Sundarigama I Penjelasan dari Filolog Bali dan Jawa Kuna, Sugi Lanus
11/04/2026

Kembali ke Lontar Sundarigama I Penjelasan dari Filolog Bali dan Jawa Kuna, Sugi Lanus

Kembali ke Lontar Sundarigama I Penjelasan dari Filolog Bali dan Jawa Kuna, Sugi Lanus

11/04/2026

Izin Cover Lagu Bayu Cuaca kenangan nonton beberapa tahun lalu di Lapangan Lumintang (5 tahun lalu?)

04/04/2026

Om swastyastu,
“Di satu hari dalam satu pawukon…
siklus waktu yang lamanya enam bulan (atau tepatnya 210 hari)
kita justru tidak membaca buku.
Bukan karena malas…tapi karena kita sedang belajar… menghormati ilmu.”

“Hari Saraswati…adalah hari suci untuk menghormati ilmu pengetahuan.
Dalam ajaran Hindu, ilmu bukan sekadar alat untuk pintar…tapi jalan menuju kebijaksanaan.”
“Hari ini didedikasikan untuk menghormati sosok suci…”
Dewi Saraswati.

“Dewi Saraswati adalah simbol ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan.
Ia digambarkan dengan kitab… alat musik… dan angsa putih.
Kitab melambangkan ilmu.Musik melambangkan harmoni.Dan angsa… melambangkan kemampuan memilih yang benar dari yang salah.”
“Artinya… ilmu bukan hanya untuk diketahui…tapi untuk dipahami… dan digunakan dengan benar.”

“Di Hari Saraswati… buku-buku tidak dibaca.
Mereka dihaturkan… didoakan… dan dihormati.”
“Kenapa?”
“Karena hari ini bukan tentang menambah ilmu…tapi tentang merenungi makna ilmu itu sendiri.”
“Apakah ilmu yang kita punya…sudah membawa kebaikan?”
“Atau justru… digunakan tanpa kebijaksanaan?”

“Dalam lontar suci seperti…”Sarasamuccaya
“diajarkan bahwa ilmu tanpa etika…bisa menjadi berbahaya.”
“Ilmu yang benar…adalah ilmu yang membawa kita lebih dekat pada dharma…pada kebenaran… dan pada kebaikan.”

“Di era sekarang…kita punya akses ke semua informasi… dalam genggaman.”
“Tapi pertanyaannya bukan lagi… seberapa banyak kita tahu.
Melainkan… seberapa bijak kita menggunakan apa yang kita tahu.”
“Hari Saraswati mengingatkan kita…bahwa menjadi pintar… tidak cukup.”
“Kita harus menjadi… bijaksana.”

“Di Hari Saraswati…kita tidak membaca buku…
karena kita sedang belajar…sesuatu yang lebih dalam.”
“Menghormati ilmu…dan menggunakannya… untuk kebaikan.”
“Rahajeng Rahina Saraswati 🙏”

03/04/2026

Pernahkah anda merasakan kehilangan…
yang begitu sunyi, hingga dunia terasa berhenti?
Video ini bukan sekadar tentang duka.
Ini adalah perjalanan batin—tentang memahami bahwa kehilangan bukanlah akhir.
Dalam filosofi Hindu/Weda, jiwa (Atman) tidak pernah mati.
Ia hanya berpindah, melanjutkan perjalanan yang lebih panjang dari yang bisa kita lihat.

Melalui visual yang tenang dan narasi yang mendalam, video ini mengajakmu:
✨ Menerima kehilangan dengan cara yang berbeda
✨ Memahami makna kehidupan dan kematian
✨ Menemukan kedamaian di tengah rasa rindu
Jika anda sedang berduka, merasa hampa, atau merindukan seseorang…
mungkin video ini bisa menemanimu—dalam diam.
🌿 Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar hilang.
Hanya berubah… dan tetap hidup dalam cara yang tak terlihat.

🕊️ Tonton sampai selesai untuk merasakan perjalanan utuhnya
💬 Bagikan di komentar: untuk siapa anda merindukan hari ini
❤️ Jangan lupa subscribe untuk konten reflektif lainnya

30/03/2026

Oṁ Namah Śiwaya🙏
Astungkara Rahayu 🙏

Om swastyastu semeton sami,Apakah pernikahan Anda selama ini hanya sekadar rutinitas fisik atau status sosial? Tahukah A...
29/03/2026

Om swastyastu semeton sami,

Apakah pernikahan Anda selama ini hanya sekadar rutinitas fisik atau status sosial? Tahukah Anda bahwa pernikahan sebenarnya adalah jalan sakral untuk mengalami penyatuan rasa dengan Tuhan?.

Dalam video ini, kita akan membedah filosofi mendalam tentang **Pernikahan Jiwa** dan bagaimana transformasi kesadaran dimulai dari dalam rumah. Kita tidak hanya bicara soal cinta romantis, tetapi tentang perjalanan evolusi manusia yang terjadi setiap hari di depan mata kita.

**Apa yang akan Anda pelajari dalam video ini?**

* **4 Tingkatan Pernikahan:** Mengapa banyak pasangan gagal di tahap "Pernikahan Pikiran & Perasaan" meskipun "Pernikahan Tubuh" mereka berhasil?.
* **Rahim Sebagai "Big Bang" Mini:** Penjelasan ilmiah dan spiritual tentang *Zinc Spark* (percikan cahaya) saat pembuahan dan bagaimana janin adalah ringkasan evolusi jutaan tahun dalam 9 bulan.
* **Pitri & Matri Dewa Bhawa:** Mengapa orang tua harus menjadi sosok "Dewa" (makhluk yang bercahaya pengetahuan) dan bukan "Raksasa" yang menakutkan bagi anak-anaknya.
* **Seni Melepas (The Art of Letting Go):** Memahami analogi busur dan anak panah dalam mengantarkan anak-anak menuju visi jiwa mereka sendiri.
* **Ego: Fight vs Flight:** Cara mengajarkan anak menggunakan ego dengan benar agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang mudah mengeluh dan berputus asa.
* **Penyatuan Ardaanareswari:** Rahasia menyeimbangkan energi maskulin dan feminin di dalam diri untuk mencapai keutuhan jiwa.

**Rumah tangga bukanlah "pengadilan" tempat saling menuntut dan menghakimi, melainkan sebuah "tangga" untuk menaikkan kesadaran dan menurunkan ego**.

Video ini wajib ditonton bagi Anda yang sedang mempersiapkan pernikahan, yang sudah menikah, maupun orang tua yang ingin membekali putra-putrinya dengan ilmu parenting berbasis spiritualitas yang kuat.

**Tonton selengkapnya untuk menemukan cara mengubah setiap tindakan dalam keluarga menjadi bentuk persembahan tertinggi kepada Sang Pencipta.** Link Video : https://youtu.be/3cQHDCs3hPg

Om swastyastu semeton sami,Apakah pernikahan Anda selama ini hanya sekadar rutinitas fisik atau status sosial? Tahukah Anda bahwa pernikahan sebenarnya adala...

Om swastyastu,Pernahkah Anda memperhatikan selembar kain putih berisi gambar dan aksara unik yang dipasang pada bangunan...
28/03/2026

Om swastyastu,
Pernahkah Anda memperhatikan selembar kain putih berisi gambar dan aksara unik yang dipasang pada bangunan baru di Bali?,. Itulah **Ulap-ulap**, unsur kebudayaan Bali yang menyimpan makna teologis mendalam dan peran vital dalam setiap upacara *Melaspas*,.

Dalam video ini, kita akan membedah secara tuntas apa sebenarnya fungsi dan kekuatan di balik selembar kain sakral ini:

* **Bukan Sekadar Tulisan:** Secara etimologi, *ulap-ulap* berasal dari kata "lambai" atau memanggil. Ini adalah media suci untuk **memanggil kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa** agar memberikan "jiwa" atau *urip* pada sebuah bangunan,.
* **Simbol Keseimbangan:** Ulap-ulap berfungsi sebagai jembatan antara dimensi sakral (*niskala*) dan profan (*sekala*), memastikan bangunan tersebut layak dan aman untuk ditempati,.
* **Rahasia Aksara Modre:** Mengapa pembuatannya tidak boleh sembarangan? Kita akan membahas mengapa hanya mereka yang memiliki *penugrahan* (seperti Sulinggih atau Pemangku) yang sepatutnya menyurat aksara-aksara keramat ini,.
* **Pembersih Energi Negatif:** Selain memberikan kekuatan suci, Ulap-ulap juga berfungsi sebagai *penyascita* atau pembersih dari sisa-sisa energi negatif selama proses pembangunan.
* **Beragam Jenis untuk Beragam Fungsi:** Tahukah Anda bahwa setiap jenis bangunan—mulai dari Pelinggih, Meru, hingga bangunan rumah tinggal seperti *Bale*—memiliki jenis Ulap-ulap yang berbeda-beda?.

Simak penjelasan lengkapnya untuk memahami bagaimana tradisi Bali menghidupkan benda mati menjadi sarana pemujaan yang suci

Link video: https://www.youtube.com/watch?v=-NTO9X1Ikw0

**Jangan lupa untuk Klik LIKE, SHARE, dan SUBSCRIBE untuk terus melestarikan pengetahuan budaya dan spiritual Bali!**

Om swastyastu,Pernahkah Anda memperhatikan selembar kain putih berisi gambar dan aksara unik yang dipasang pada bangunan baru di Bali?,. Itulah **Ulap-ulap**...

Address

Jakarta

Opening Hours

Monday 17:00 - 23:00
Tuesday 17:00 - 23:00
Wednesday 17:00 - 23:00
Thursday 17:00 - 23:00
Friday 17:00 - 23:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ida Bagus Subagia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share