17/04/2026
Program pesawat tempur generasi berikutnya Prancis, FCAS (Future Combat Air System), terus mengalami keterlambatan parah akibat perselisihan antar negara mitra. Kondisi ini menempatkan Prancis pada posisi yang semakin mengkhawatirkan berpotensi menjadi satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di dunia yang tidak memiliki pesawat tempur siluman generasi kelima.
CEO Dassault, Éric Trappier, secara terbuka mengakui bahwa target penyelesaian program tersebut pada 2040 sudah dipastikan meleset, dengan estimasi realistis baru bisa rampung sekitar tahun 2050-an. Selama jangka waktu itu, Prancis harus bertahan dengan armada tempur yang secara kapabilitas semakin tertinggal dari rival-rivalnya.
Sebagai respons, Prancis memilih strategi yang pragmatis. Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Sébastien Lecornu, mengumumkan pengembangan drone tempur siluman (UCAV) yang akan berfungsi sebagai loyal wingman mitra tak berawak yang terbang dan beroperasi bersama jet tempur berawak.
Drone ini akan dikendalikan langsung dari kokpit pesawat tempur dan dikembangkan berdasarkan teknologi dari program nEUROn, drone tempur siluman pertama buatan Eropa.
Drone ini dirancang dengan teknologi siluman, kompartemen senjata internal, serta sistem kendali otonom dengan opsi man-in-the-loop memastikan pilot tetap memegang kendali keputusan akhir.
Sistem ini ditargetkan siap operasional pada tahun 2033, dan diharapkan mampu menjawab ancaman udara di era 2030-an dan 2040-an.
Pilihan Prancis untuk tidak mengadopsi F-35 Amerika dan tetap mengandalkan industri pertahanan domestik memang mempertahankan kedaulatan teknologinya namun di sisi lain menciptakan kesenjangan kapabilitas yang nyata dibandingkan kekuatan udara Amerika Serikat maupun China yang telah selangkah lebih maju.
Drone siluman ini adalah jawaban sementara Prancis sambil menunggu solusi jangka panjangnya benar-benar terwujud.