01/12/2025
Muncul yang baru lagi ternyata bagus juga boleh ini di kasih ke temen soal nya sudah masuknya dengan aman sentosa
Erik tidak pernah mengeluh, walau lututnya sering nyeri karena bekerja sebagai buruh angkut di pasar. Saat orang lain pulang tepat waktu, ia justru mengambil shift tambahan. Bukan karena ambisi, tapi karena ia tahu anak sulungnya butuh sepatu baru agar tidak diejek teman-temannya, dan adiknya ingin buku gambar.
Yang lucu, anak-anak itu pikir ayahnya hanya s**a bekerja. Mereka tidak pernah tahu bahwa sebelum tidur, Erik selalu menghitung uang receh sambil bertanya dalam hati, “Cukup nggak untuk besok?”
Ada saat di mana ia ingin menyerah. Ketika hujan deras membuat ia sakit parah, ketika bos pasar memotong upah tanpa alasan, ketika kehidupan terasa tidak adil. Tapi setiap ia melihat anak-anaknya makan dengan lahap atau tertawa karena hal kecil, lelahnya seperti diredam oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Suatu malam, anak bungsunya bertanya:
“Yah, apa ayah capek?”
Erik ingin berkata, “Iya, Nak, capek sekali.”
Tapi yang ia pilih hanya senyum sambil mengusap kepala anak itu:
“Kalau untuk kalian, ayah kuat.”
Dan untuk pertama kali, anaknya melihat hal yang selama ini tersembunyi: bukan otot ayahnya yang kuat, tapi hatinya.