28/08/2026
HAMIL 8 BULAN, SUAMI TEGA MEMBAWA SELINGKUHANNYA KE ACARA BABY SHOWER DAN MENDORONG ISTRINYA HINGGA JATUH KE TUMPUKAN HADIAH. TEPAT PUKUL 14.00, SIRENE POLISI MENGUNGKAP IDENTITAS ASLI SANG ISTRI!
—Kalau perempuan ini masih berada di sini, anak yang kau kandung tidak akan pernah kami akui sebagai ahli waris keluarga Baskoro.
Suara Ibu Herlina menggema di ruang tamu mewah kediaman keluarga Baskoro di Pondok Indah.
Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi sunyi.
Musik berhenti.
Para tamu saling berpandangan.
Bahkan pelayan yang sedang membawa nampan minuman pun berdiri mematung, seolah takut membuat suara sekecil apa pun.
Maya berdiri di tengah ruangan sambil memegangi perutnya yang sudah sangat besar.
Usia kandungannya memasuki delapan bulan.
Enam tahun ia menunggu kehamilan ini.
Tiga kali menjalani program kehamilan.
Dua kali kehilangan calon buah hati.
Karena itu, bayi yang kini tumbuh di dalam rahimnya bukan sekadar anak yang dinanti-nantikan.
Bagi Maya, bayi itu adalah segalanya.
Acara baby shower tersebut diadakan di rumah keluarga Baskoro. Namun hampir tidak ada satu pun hal yang benar-benar dipilih Maya sendiri.
Ibu Herlina mengatur semuanya.
Balon berwarna biru.
Rangkaian bunga putih.
Kue empat tingkat.
Bahkan gaun yang dikenakan Maya sore itu pun dipilih oleh ibu mertuanya.
Pagi tadi, saat melihat Maya mengenakan gaun tersebut, Ibu Herlina sempat berkata dengan nada menyindir,
—Warna itu membuat wajahmu terlihat semakin pucat. Tapi mungkin memang bagus begitu. Setidaknya orang-orang akan lebih memperhatikanmu.
Maya memilih diam.
Ia sudah terlalu sering menerima sindiran seperti itu selama bertahun-tahun.
Namun kali ini, penghinaan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Pintu utama tiba-tiba terbuka.
Hendra masuk.
Dan dia tidak datang sendirian.
Tangannya menggandeng seorang perempuan muda yang baru berusia dua puluh dua tahun.
Perempuan itu mengenakan gaun merah ketat yang langsung mencuri perhatian seluruh tamu.
Namanya Siska.
Maya sudah sangat mengenal nama itu.
Nama yang berulang kali muncul dalam pesan-pesan rahasia di ponsel Hendra.
Nama yang tercantum dalam beberapa reservasi hotel.
Nama yang menerima transfer uang dalam jumlah besar dari rekening suaminya.
Maya menatap mereka tanpa berkedip.
—Kenapa dia ada di sini?
Hendra sama sekali tidak terlihat bersalah.
Sebaliknya, dia justru tersenyum santai.
—Siska sekarang bagian dari hidupku. Cepat atau lambat, kamu harus menerima kenyataan itu.
Maya menahan napas.
—Ini baby shower anak kita, Hendra.
Siska melirik perut Maya, lalu tersenyum tipis.
—Kita juga belum tahu apakah anak itu benar-benar pantas menyandang nama keluarga Baskoro.
Beberapa tamu langsung menundukkan kepala.
Yang lain pura-pura sibuk dengan ponsel mereka.
Tak seorang pun berani ikut campur.
Pak Baskoro, ayah Hendra sekaligus pemilik Baskoro Group, mengetuk gelas di tangannya.
—Sudahlah, Maya. Jangan membuat keributan. Banyak mitra bisnis penting yang hadir di sini.
Maya menoleh kepadanya.
—Saya tidak membuat keributan, Pak. Anak Bapak yang membawa selingkuhannya ke acara baby shower istrinya sendiri.
Wajah Pak Baskoro langsung mengeras.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Ibu Herlina berjalan menghampiri Siska dan merangkul bahunya dengan penuh kasih.
Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan kepada Maya.
—Siska masih muda, sehat, dan tahu bagaimana memperlakukan keluarga —ujar Ibu Herlina.— Tidak seperti perempuan yang harus bolak-balik ke dokter hanya untuk bisa memberikan keturunan.
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke luka lama Maya.
Dua keguguran yang pernah dialaminya seolah kembali terbayang dalam sekejap.
Namun Maya tidak menangis.
Ia hanya menatap Hendra.
—Suruh dia pergi. Sekarang.
Hendra mendengus.
—Jangan mengaturku di rumahku sendiri.
—Ini juga rumahku.
Hendra tertawa mengejek.
—Jangan terlalu percaya diri, Maya. Kamu tinggal di sini karena aku mengizinkanmu. Jangan mengira status sebagai istriku otomatis membuat semua milik keluarga Baskoro menjadi milikmu.
Maya menarik napas panjang.
Tangannya masih melindungi perutnya.
—Kalau dia tidak pergi, aku yang pergi.
Siska tiba-tiba mengusap perutnya sendiri yang masih rata.
—Jangan terlalu emosi, Kak. Kasihan bayinya kalau sampai terjadi sesuatu.
Anehnya, Hendra justru langsung berbalik kepada Siska.
—Kamu tidak apa-apa, Sayang?
Maya terpaku.
Suaminya menanyakan keadaan selingkuhannya.
Bukan keadaan istrinya yang sedang hamil delapan bulan.
Bukan keadaan anak yang selama enam tahun mereka tunggu.
Saat itulah sesuatu dalam diri Maya berubah.
Tatapannya menjadi dingin.
—Kamu pengecut, Hendra.
Senyum Hendra lenyap.
—Apa katamu?
Maya menatapnya tepat di mata.
—Aku bilang kamu pengecut. Dan ternyata bukan cuma kamu. Seluruh keluargamu busuk di balik jas mahal dan nama besar kalian.
Wajah Hendra seketika memerah.
Ia melangkah maju.
—Jaga mulutmu!
Maya tidak mundur.
—Kenapa? Takut orang-orang mengetahui keluarga Baskoro yang sebenarnya?
Hendra kehilangan kendali.
Dengan kasar, ia mendorong tubuh Maya.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Maya kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya menghantam meja yang dipenuhi hadiah.
BRAK!
Kotak-kotak kado berjatuhan.
Hiasan kaca pecah berserakan.
Sebagian dekorasi roboh.
Kue berlapis krim biru ikut terguling dan hancur di lantai.
Maya terbaring di antara tumpukan hadiah.
Rasa sakit menjalar dari punggung hingga pinggangnya.
—Maya! —teriak salah seorang tamu.
Maya refleks memeluk perutnya dengan kedua tangan.
Jantungnya berdegup kencang.
Beberapa detik terasa seperti selamanya.
Lalu...
Bayi di dalam kandungannya bergerak.
Maya memejamkan mata sejenak.
Anaknya masih bergerak.
Masih bertahan.
Ketika ia membuka mata kembali, Hendra masih berdiri di hadapannya.
Tak ada penyesalan di wajah lelaki itu.
—Kamu sendiri yang membuatku melakukan ini —katanya dingin.
Yang lebih menyakitkan, Ibu Herlina justru bertepuk tangan pelan.
—Bagus, Hendra. Memang sudah waktunya dia belajar sopan santun.
Pak Baskoro mengangguk seolah tindakan putranya adalah sesuatu yang wajar.
Hendra kemudian membungkuk sedikit di dekat Maya.
Suaranya direndahkan agar hanya Maya yang bisa mendengarnya.
—Ada satu hal lagi yang belum kamu tahu.
Maya menatapnya.
Hendra tersenyum.
—Siska sedang hamil.
Mata Maya perlahan beralih kepada perempuan bergaun merah itu.
Siska berdiri sambil tersenyum puas.
Hendra melanjutkan,
—Dia yang sedang mengandung ahli waris keluarga Baskoro yang sebenarnya. Sedangkan kamu...
Ia berhenti sejenak.
—Kamu cuma kesalahan mahal yang seharusnya sudah lama kubuang.
Maya tidak menjawab.
Di antara pecahan kaca di lantai, ia melihat jam tangannya yang terlepas saat terjatuh.
Kacanya retak.
Namun jarumnya masih bergerak.
13.59.
Anehnya, Maya tidak menangis.
Tidak memohon.
Tidak p**a terlihat ketakutan.
Sebaliknya, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Senyum yang membuat Hendra mengernyit.
—Kenapa kamu tersenyum?
Maya menatap suaminya.
—Karena ada satu kesalahan besar yang kamu lakukan sejak menikah denganku.
—Kesalahan apa?
Maya melirik jam tangannya sekali lagi.
Tinggal beberapa detik menuju pukul dua siang.
Kemudian ia berkata dengan suara tenang,
—Kamu seharusnya memeriksa latar belakang perempuan yang kamu nikahi, Hendra.
Hendra mengerutkan dahi.
—Apa maksudmu?
Jarum jam bergerak.
Tepat pukul 14.00.
Tiba-tiba suara sirene meraung dari luar gerbang.
Satu.
Kemudian disusul sirene kedua.
Lalu ketiga.
Suasana di dalam rumah langsung berubah.
Para tamu berhamburan menuju jendela.
Pak Baskoro berdiri dari kursinya.
—Ada apa ini?
Suara sirene semakin dekat.
Beberapa mobil polisi berhenti tepat di depan kediaman keluarga Baskoro.
Dan untuk pertama kalinya sore itu, wajah Maya benar-benar terlihat tenang.
👉 Baca kelanjutan kisah lengkapnya di kolom komentar!