14/03/2026
BERGEMA DI LEMBAH CENDERAWASIH!!
Di bawah bayang-bayang Puncak yang abadi,
Salju abadi menatap bisu pada tanah yang terluka hati.
Angin dingin menyusup di sela-sela jemari yang kasar,
Membawa kabar tentang sejarah yang tak pernah pudar.
Lihat-Lah sosok itu, seorang ibu dengan mata yang bercerita,
Tentang malam-malam tanpa lelap dan hari-hari penuh air mata.
Dipeluk-Nya sang buah hati, sekecil harapan di tengah badai,
Melintasi jalan berbatu, di mana ketenangan jarang sekali sampai.
Jacket lusuh itu bukan sekadar pelindung dari gigil yang menusuk,
Melainkan perisai bagi mimpi yang hampir saja remuk.
Langkah-langkah kaki telanjang di atas tanah leluhur,
Menandai jejak perlawanan yang takkan pernah luntur.
Di belakang-Nya, barisan raga memikul beban sejarah,
Menembus kabut, melintasi jurang, tanpa sedikitpun menyerah.
Rumah-rumah panggung di lereng curam adalah saksi,
Bahwa hidup adalah tentang tegak berdiri, bukan sekadar basa-basi.
Mereka tidak meminta permata yang terkubur dalam perut bumi,
Hanya ingin kedaulatan atas diri, di tempat yang mereka huni.
Sebab Papua bukan sekadar garis di atas selembar kertas,
Ia adalah darah yang mengalir, ia adalah napas yang bebas.
Setiap pohon yang menjulang, setiap sungai yang menderu,
Menyanyikan lagu lama tentang hak yang harus kembali bersatu.
Matahari dari timur selalu datang membawa janji,
Bahwa fajar keadilan suatu saat pasti akan menepati.
Meski pundak terasa berat oleh duka yang bertumpuk-tumpuk,
Jiwa-jiwa ini adalah karang yang takkan bisa ditunduk.
Tuhan, dengar-Lah bisikan dari lembah-lembah yang dalam ini,
Tentang sebuah bangsa yang merindu damai di tanah sendiri.
Selama jantung masih berdetak, selama hutan masih hijau,
Suara "Merdeka" akan terus bergema, jauh menembus risau.