BocxiiL

BocxiiL 🤝

11/07/2025

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! Ewy Ela

17/04/2025
19/02/2025

Dengan Fim-Wp – Saya berhasil masuk dalam daftar interaksi mingguannya dengan menjadi salah satu orang yang paling banyak berinteraksi!

19/02/2025

Dengan ThynLv Agatha – Saya berhasil masuk dalam daftar interaksi mingguannya dengan menjadi salah satu orang yang paling banyak berinteraksi!

19/02/2025

Dengan Lee Pravda – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 6 bulan berturut-turut. 🎉

14/02/2025

Halo semuanya! 🌟 Anda bisa mendukung saya dengan mengirim Bintang, itu membantu saya mendapatkan uang untuk terus membuat konten yang Anda sukai.

Setiap kali Anda melihat Stars, Anda bisa mengirimi saya Stars!

“Adalah tugas perempuan untuk maju, dan, dalam keagungan martabat kemanusiaanya, membantu saudara laki-laki pekerjanya d...
14/02/2025

“Adalah tugas perempuan untuk maju, dan, dalam keagungan martabat kemanusiaanya, membantu saudara laki-laki pekerjanya dalam melakukan perebutan politik negara. Bukan ambisi, bukan kesombongan yang mendorongnya menjadi ‘wanita publik’; tidak, itu adalah penindasan yang menimpa setiap rumah pria miskin yang mendorongnya angkat bicara…. Dia [perempuan proletar] tidak meragukan keberhasilan akhir Chartisme dalam bentuk apapun, lebih dari perempuan-perempuan pekerja meragukan keadaannya sendiri; tetapi kemudian itu tidak akan, seperti yang kita katakan, diberikan oleh keadilan—tidak, itu harus diperas dari ketakutan para pengeksploitasi kelas pekerja.” (Perempuan Proletar dalam The Northern Star)

“Di langit malam, kita melihat gugusan bintang. Kita ingin menggapainya. Namun untuk terbang, kita tidak bisa terpaku pada bintang-bintang, atau menunggu malaikat bersayap mengikat kita pada ekornya yang rapuh; kita bukanlah anak ayam tapi elang muda dengan cakar dan taring yang sedang tumbuh! Walau kelelahan yang berlebihan, yang berpadu dengan keseluruhan bahaya di sekeliling, dapat memainkan peran yang sangat merusak fisik dan mental kita; tetapi jalan menuju revolusi, akan melahirkan laki-laki dan perempuan pekerja yang tak kenal lelah dan melampaui batas kapasitas manusiawi.” (Kaum Buruh dan Muda)

Selengkapnya: https://percikanapi.data.blog/2025/02/09/revolusi-dan-pembebasan-perempuan-bagian-7/

“Pengalaman penderitaan yang intens dan perjuangan untuk mengatasinya, telah mengilhami jiwa manusia–yang berakar di kedalaman lautan sosial yang gelap–untuk berkilau bagaikan berlian y…

MASIH TENTANG MARKAS ARFAI Saat ini, saya lagi duduk di pintu gerbang Markas KODAM XVIII Kasuari Papua Barat. Di belakan...
14/02/2025

MASIH TENTANG MARKAS ARFAI

Saat ini, saya lagi duduk di pintu gerbang Markas KODAM XVIII Kasuari Papua Barat. Di belakang saya, ada patung Kasuari yang di mulutnya sedang gigit anak panah. Arti dari patung ini apa, kami tidak tahu. Namun pada kesempatan ini kita tidak bicara kasuari yang gigit anak panah itu, tapi kami mau cerita tentang perlawanan yang pernah di buat OAP kepada Indonesia di Markas Arfai 28 Juli 1965.

P***a PBB lakukan gencatan senjata dan tanggal 1 Mei 1963 PVK di bubarkan Indonesia, Markas Arfai yang dulu jadi markas PVK, di tempati TNI Yonif 641/ Cendrawasih I

Kemudian pasukan PVK p***a di bubarkan, dari mereka ada yang pilih gabung dengan Indonesia sehingga jadi TNI, dan ada sebagian anggota PVK tolak gabung dengan Indonesia.

Pasukan PVK yang tolak gabung dengan Indonesia bentuk sebuah kelompok Perlawanan yang di sebut dengan nama Pasukan Kasuari. Pasukan kasuari di dirikan selain untuk lengkapi OPPM yang telah terbentuk, juga untuk lakukan gerilya di seluruh daerah kepala burung ”Vogel Kop” pulau Papua.

Untuk lakukan perlawanan pasukan kasuari bentuk 7 (tujuh) Batalyon yang di bantu beberapa Komandan Peleton.

Batalyon Kasuari I di pimpin mantan PVK Sergean Ferry Awom, di mana beliau sekaligus merangkap Panglima Umum, dengan daerah operasi Manokwari Kota dan Menyambow.

Marthinus Jimmy Wambrau, Komandan Batalyon Kasuari II dengan daerah operasi Pesisir Pantai Utara yaitu; Saukorem, Arfu, Numbrani, Sidei,dan Nuni.

Marthen Rumbiak, Komandan Batalyon Kasuari III dengan daerah operasi; Manokwari Timur, Ransiki, Windesi, Oransbari, dan Wasior.

Mantan Komandan Polisi Papua, Yohanes Ciprini Jambuani sebagai Komandan Batalyon Kasuari IV, dengan daerah operasi; Warsnembri, Kebar, Saukorem dan Manokwari Kota.

Mantan Sergean PVK, Silas Wompere, sebagai Komandan Batalyon Kasuari V, dengan daerah operasi di A3; Ayamaru, Aifat dan Aitinyo. Namun saat bergerilya, beliau di bunuh di daerah Ayamaru oleh komandan Peleton, anak buahnya sendiri; Martinus Prawar.

Mantan Polisi Papua, Fred Ajoi adalah Komandan Batalyon Kasuari VI dengan daerah operasi Kebar, Merdei, Menyambow, dan Manokwari.

Mantan Angkatan Laut Papua,Daniel Wanma, Komandan Batalyon Kasuari VII dengan daerah operasi Sausapor, Saukorem, Teminabuan, dan Sorong Kota.

OPPM dan kelompok perlawanan atas di bentuk karena; (1) Netherland New Guinea Bukan bagian dari Netherland Hindia (2) Orang Papua Merasa Punya Kak Untuk Merdeka seperti bangsa lain di Muka Bumi, (2) New York Agrrement di Buat tanpa di ke tahui Orang Papua, (3) Perubahan sistim Pleibesit dari One Man One Vote ke sistim Musyawarah Mufakat, (4) Setiap hari orang Papua di tangkap, di siksa, di bunuh saat lakukan protes terhadap situasi Politik yang terjadi saat itu. Atau, semua upaya damai yang di lakukan orang asli Papua di balas Indonesia dengan operasi militer dan kekerasan.

Sebelum terjadi serangan besar - besaran ke Markas Arfai, tentara OPPM Batalion Kasuari IV di bawah pimpinan Johanes Cipri Jambuani lakukan serangan kepada TNI di Kebar tanggal 25 Juni 1965 sebagai upaya untuk tunjukan diri bahwa kami tidak mau bergabung dengan Indonesia dan PBB dan UNTEA bisa lihat tindakan dan sikap orang Papua itu.

Serangan yang di pimpin Yohanes Cipri Jambuani bersama suku Ayamaru dan suku Karun di Kebar ini di lakukan pagi hari saat aparat Pemerintah dan TNI/ Polisi lakukan upacara bendera pukul, 09,00.

Dalam serangan ini 3 (tiga) orang anggota TNI mati terbunuh dan OPPM berhasil rampas 4 (empat) pucuk senjata otomat, 1 pucuk senjata M1 Garand, 3 senapan Mouser serta sepucuk senjata laras ganda.

Setelah di lakukan penyerangan di daerah Kebar dan Ransiki oleh Batalion Kasuari III di bawah pimpinan Marthen Rumbiak,Ferry Permenas Awom buat rencana untuk serang Markas Arfay yang saat itu di tempati oleh TNI Yonif 641/Cendrawasih I.

Penyerangan Markas Arfay Manokwari oleh tentara OPPM terjadi pada 28 Juli 1965, mulai pukul,10 malam hingga pukul 09,00 pagi hari. Perlawanan ini di pimpin langsung Panglima Umum Pasukan Kasuari Sergen Fery Permenas Awom.

Dalam lancarkan perlawanan ini, salah satu anak buah Fery Permenas Awom yang juga bekas anggota PVK, kawal Awom masuk dalam Asrama Cenderawasih untuk cari senjata di gudang.

Masuk sampai di dalam Markas Arfai, apa yang di cari tidak di temukan karena semua senjata telah di sita pimpinan.

Awalnya sebelum masuk dalam Markas Arfai, karena di pos monyet ada TNI yang jaga, Awom masuk dan tembak tentara di pos penjagaan tersebut lalu masuk dalam Asrama Cenderawasih.

Lihat Awom tembak TNI di pos penjagaan, Aiwor, pengawal Awom, prajurit yang sebelumnya di latih tentara sekutu lakukan penyerangan dari depan untuk tarik perhatian TNI yang ada di dalam Asrama.

Kemudian, salah satu prajurit OPPM, Yulius Inaury bersama empat kepala suku yang ikut gabung, serang dari bagian belakang Asrama Arfay dan sebagian sergap dari samping Asrama.

Perang di tempat ini berlangsung 24 jam, mulai dari jam 10 malam hingga pukul 09 pagi hari, lalu OPPM Batalion Kausari undur diri kehutan karena senjata dan amunisi yang terbatas.

Pada penyerangan ini,banyak tentara Indonesia yang di laporkan tewas terbunuh dan perang ini di catat UNTEA secara resmi yang di akui karena perang ini terjadi di depan Mereka dan ada orang Papua yang ingin merdeka.

Menurut Julius Inaury, salah satu prajurit OPPM yang ikut dalam penyerangan pada tempat ini katakan; Kami sudah masuk ke Asrama Cenderawasih dari jam sepuluh malam.

Masing - masing anggota pasukan di beri tugas jaga dan serang satu barak,”tutur mantan guru SD di YPK Manokwari ini.

Namun penyerangan di tempat ini jalan tidak sesuai rencara dan strategi yang di atur, karena anak buah Fery Permenas Awom sebelum di perintah untuk serang, mereka sudah masuk dalam Asrama penjaga sudah berteriak; “Ada Gerombolan” masuk.

Mendengar teriakan itu, satu tentara terbangun dari tidur dan dengan senjata di gantung ke belakang sedang berjalan ke arah pasukan Awom yang berasal dari Ansus Serui. Pasukan Awom yang berasal dari Serui ini potong tentara itu.

Kontak senjata di tempat ini berlangsung hingga tengah malam dan masih berlanjut hingga jelang pagi hari.

Hingga pagi, pasukan Kasuari masih berada di dalam Asrama sedangkan tim yang berjaga - jaga di luar terus lakukan serangan sambil tunggu lain yang masih di dalam Asrama untuk keluar semua.

Penyerangan dari bagian belakang dan samping di lakukan untuk lindungi pasukan yang masih berada di dalam Asrama Arfai. Mereka tidak pakai senjata modern saat itu, hanya Mouser satu, yang lain pakai senjata-senjata jaman dulu yang tembakanya hanya bisa satu-satu peninggalan Belanda dan Jepang.

Aiwor yang sebelumnya di tugaskan jaga bagian samping untuk lindungi Awom, bergerak ke depan dan di bagian belakang beberapa pasukan.

Penyerangan belum selesai tetapi, ada sebagaian undurkan diri dari medan pertempuran karena kehabisan peluru.

Hingga jam 8 pagi, Awom belum juga keluar dari Asrama Cenderawasih Arfai. Sekitar 30 menit tunggu, Awom akhirnya keluar dalam keadaan sudah di tembak dengan senjata mesin di bagian kaki saat dia menuju pagar kawat duri.

Awom langsung koprol ke dalam tempat timnya berjaga, sayangnya Awom terlambat salto karena semen tara kakinya masih di udara peluru berikut dari pihak lawan mengenai kakinya, namun dia beruntung karena peluruh yang masuk tidak mengenai tulang, namun celana yang dikenakan Awom sudah kembung karena penuh dengan darah serta berjalan tertatih – tatih.

Melihat itu, Marthin Prawar membantu dia. Mereka bawah Ferry Awom ke suatu tempat yang aman di hutan untuk berlindung lalu perintahkan beberapa orang Arfak pergi ke Warmare, jemput seorang mantri bermarga Saway, orang Inanwatan, Teminabuan Sorong Selatan untuk datang bantu Awom.

Mantri itu pun datang dengan bawah berbagai obat lalu obati luka tembakan pada tubuh Ferry Awom dan beberapa anggota pasukan Kasuari yang tertembak saat itu.

Dalam serangan di Markas Arfai ini, banyak TNI jadi korban dan pasukan kasuari ambil 1 pucuk senjata mesin regu brend kaliber, 7,7 mm dan sepucuk senjata otomatik, 2 buah sten.

Apakah Patung Kasuari yang gigit anak panah di buat di Pintu masuk Markas Kodam XVIIII Kasuari karena Peristiwa ini? Mari menjawab.

Cp. Beny pakage

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! 💎 Ewy Ela
13/02/2025

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! 💎 Ewy Ela

13/02/2025

Suyat, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi Surakarta, anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD) diculik pada dini hari 12 Februari 1998 (beberapa sumber mengatakan 13 Februari). Suyat diculik dari rumahnya di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah dan tak pernah kembali lagi.

Suyat terlibat aktif dalam aksi-aksi massa dan sering menjadi barisan pelopor. Dia berdiri paling depan dalam setiap aksi, untuk melindungi kawan-kawannya. Selain itu, Suyat banyak melakukan pengorganisasian.

Pada 7 Desember 1995, Suyat mengikuti aksi massa melompati pagar kedutaan besar Belanda.Aksi tersebut dilancarkan oleh PRD dan kaum muda Timor Leste untuk menuntut referendum. Empat hari setelahnya Suyat kembali ikut dalam aksi mogok PRD, PPBI (Pusat Perjuangan Buruh Indonesia), SMID dan belasan ribu buruh PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Ini adalah mogok terbesar sejak Rezim Militer Orde Baru berkuasa. Pada 8 Juli 1996, Suyat menjadi barisan pelopor aksi pemogokan 10 pabrik di Surabaya. Dia ditangkap dan dibawa ke Mapolresta Surabaya.

P***a Peristiwa 27 Juli 1996, PRD dinyatakan sebagai partai terlarang dan aktivisnya diburu Rezim Militer Soeharto. Suyat “tiarap” sebentar, kemudian ditugaskan menjadi pengurus Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD). Menjelang 1998, Suyat masih memimpin aksi besar di Cawang dengan tuntutan gantikan Soeharto dan semboyan “Mega-Bintang-Rakyat.”

Lamria Siagian, anggota tim penyelidik Komnas HAM dalam kasus penghilangan paksa 1997-1998 mengatakan, saksi korban penculikan juga mengaku pernah diinterograsi oleh seorang interogrator. "Interogrator itu mengaku juga telah menangkap temannya yang 'pincang'." Menurut Lamria, korban penculikan yang cacat di kakinya adalah Suyat. "Kuat dugaan kejahatan dilakukan oleh institusi militer yang sama," yaitu Kopassus. Prabowo Subianto, DanJen Kopassus saat itu tidak pernah bertanggungjawab hingga sekarang. Dia justru menjadi Presiden yang juga didukung oleh bekas kawan-kawan Suyat yang berkhianat.

Melipat Ganda, Membakar Tirani!




https://linktr.ee/arahjuang

Address

Padang Sosial

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when BocxiiL posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to BocxiiL:

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share