Melanesian Spirit

Melanesian Spirit "Indigenous Peoples"

(Melanesian | West Papua, Fiji, Solomon Island, PNG, and Vanuatu)

18/07/2026

⛰️🌄🙌

Terlalu indah dan elok pada wajahmuEngkau bukan milik satu wilayah adat, engkau milik banyak wilayah adat di wilayah ada...
18/07/2026

Terlalu indah dan elok pada wajahmu
Engkau bukan milik satu wilayah adat, engkau milik banyak wilayah adat di wilayah adat Tanah Tabi.

Gunung Cyclop ⛰️🌿🪴🍀
Sentani Barat
West Papua.

DEBU - DEBU SEJARAH KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA! The Sin Nio (Prajurit TNI)Kisah Pilu Perempuan Pahlawan BangsaPeremp...
18/07/2026

DEBU - DEBU SEJARAH KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA!

The Sin Nio (Prajurit TNI)
Kisah Pilu Perempuan Pahlawan Bangsa
Perempuan Tionghoa ini adalah pejuang kemerdekaan Indonesia asal Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau ikut bertempur melawan Belanda dan bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18, dibawah komando Sukarno (terakhir berpangkat Brigjend dan pernah menjadi Dubes RI untuk Aljazair). Yang istimewa, Sin Nio adalah satu2nya prajurit perempuan dalam kompi tersebut.
Semasa berjuang, Sin Nio pada awalnya hanya bermodalkan senjata sederhana berupa golok, bambu runcing dan tombak. Sampai akhirnya suatu ketika gadis pejuang tersebut berhasil merampas senapan jenis LE dari pihak Belanda.
Dari bagian tempur, kemudian Sin Nio dipindahkan kebagian perawat atau palang merah, karena ada kekosongan juru rawat, padahal banyak sekali pejuang yang terluka dan butuh perawatan medis. Sin Nio berhasil melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik.
Setelah kemerdekaan dan kondisi negara mulai aman, srikandi ini memutuskan menikah dan akhirnya memiiliki 6 anak dari 2 orang suami, yang keduanya berakhir dengan perceraian.
Sebagai janda dengan 6 anak, tentu hidup Sin Nio sangatlah berat, dan hal ini membulatkan tekad keberangkatan dirinya dari Wonosobo ke Jakarta. Keputusan ini juga diakibatkan oleh karena pejuang ini tak mendapatkan pensiun, yang semestinya adalah haknya sebagai pejuang kemerdekaan. Keberangkatan nya ke Jakarta untuk mengurus hak pensiunnya. Saya menduga ini karena Sin Nio berasal dari etnis Tionghoa, sehingga pensiunnya dipersulit.
1973, pejuang ini sampai di Jakarta dan menumpang tinggal selama 9 bulan di Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia di Jalan Gajah Mada.

Kemudian setelah itu beliau terpaksa hidup menggelandang di Ibukota, satu pilihan menyedihkan bagi seorang pejuang bangsa, bayangkan perempuan pejuang berusia sekitar 60 tahun harus hidup menggelandang dikerasnya ibukota. Kehujanan kepanasan tanpa tempat tinggal yang jelas.

Perjuangan panjang akhirnya pada tanggal 29 Juli 1976 The Sin Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang yang turut aktif mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta. SK ini ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs.Soehardjo, juga sebagai saksi mata ditandatangani ooeh Mayor TNI-AD Kadri Sriyono (Kastaf Kodim 0734 Diponegoro dan Dr R.Brotoseno (dokter militer pada Resimen 18 Divisi III Dipinegoro.
Tragisnya, SK tersebut tidak diiringi dengan hak pensiunnya, sehingga Sin Nio tetap hidup sebagai gelandangan. Beliau hidup menggelandang diseputaran disekita pintu air tak jauh dari mesjid Istiqlal Jakarta.

Uang pensiun sebesar Rp 28.000,- per bulan akhirnya dapat diperoleh beberapa tahun kemudian. Tapi uang sebesar itu tak mampu mencukupi kebutuhan lainnya, sehingga Sin Nio hanya bisa tinggal di gubuk tanah pinggiran rel kereta api milik PJKA.

The Sin Nio bersikeras tak mau pulang lagi ke Wonosobo, bahkan dia tak pernah lupa untuk tetap mengirimkan uang kepada anak cucunya di kampung halaman. "Saya tak mau merepotkan anak cucu saya, biarlah saya hidup sendiri di Jakarta, meski dalam tempat seperri ini!" . Jiwa pejuang sejati!

Pernah ada janji dari Menteri Perumahan, Cosmas Batubara, bahwa Sin Nio akan diberikan rumah di Perumnas. Tapi janji tinggallah janji.
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. The Sin Nio telah mempertaruhkan nyawanya diujung peluru demi tegaknya kemerdekaan Indonesia, tapi apa balasan yang didapatnya?
Tak diketahui, bagaimana kisah akhir kehidupan pejuang bangsa ini, apakah kemudian beliau menghilang begitu saja, atau dia menghindar dari kita bangsa Indonesia, dan berucap :

"Saya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!" (Ir. Azmi)
Tuhan, maafkan kami!
Kita Sebangsa Setanah Air dan Setara
Merdeka!!

Sumber :
-Majalah Sarinah, 6 agustus 1984
Museum pustaka peranakan tionghoa

LASINRANG adalah simbol perlawanan dan keteguhan hati dari tanah Bugis khususnya Pinrang, dalam menghadapi penjajahan Be...
18/07/2026

LASINRANG adalah simbol perlawanan dan keteguhan hati dari tanah Bugis khususnya Pinrang, dalam menghadapi penjajahan Belanda. Sebagai seorang pejuang yang berani dan tak gentar, Lasinrang memimpin para pemuda Sawitto dalam berbagai pertempuran melawan penjajah, menunjukkan kekuatan dan semangat yang luar biasa.

Namun trik keji Belanda mampu membuat La Sinrang mengalah, dikarenakan Belanda mencvlik Ayah dan Istrinya, dan diancam akan menyiks4 mereka.

Dengan akal licik Belanda, akhirnya Petta Lolo La Sinrang menyerahkan diri, dan La Sinrang menjalani pengasingan oleh Belanda di Banyumas, dan dipulangkan dalam keadaan sakit-sakitan.

La Sinrang akhirnya wafat pada tanggal 29 Oktober 1938 dan dimakamkan di Amassangeng.



Sumber : TEMPODOELOE
video video video

A Rare Snapshot of an Indonesian Activist at a Secret Falintil Base in 1999—and Her Survival After Being Shot with Live ...
16/07/2026

A Rare Snapshot of an Indonesian Activist at a Secret Falintil Base in 1999—and Her Survival After Being Shot with Live Ammunition in Jakarta

February 28, 1999, marked a moment of extraordinary courage for Dhyta Caturani, an Indonesian pro-democracy activist from the PRD. She ventured 200 kilometers into the interior from Dili to visit a secret Falintil guerrilla camp as an act of cross-border solidarity. This bravery came at a high price; just months later, in July 1999, she was struck in the back by live ammunition fired by security forces during a protest in front of the General Elections Commission (KPU) in Jakarta. Although she was critically wounded, Dhyta survived and recovered. She remains alive and active today as a humanitarian and women's rights activist—a living testament to the history of Timor-Leste’s struggle for independence, a fight marked by the sacrifices and bonds of solidarity shared by Indonesian activists who stood against oppression.

Toksave K100 and K150, New Century Front.Kiunga North Fly District Western Province (PNG)🇵🇬🫶
16/07/2026

Toksave K100 and K150, New Century Front.
Kiunga North Fly District Western Province (PNG)🇵🇬🫶

The  Morning Star Flag on the wall painted by Wenegwe Wenda West Papuan Artist in Oxford, United Kingdom
16/07/2026

The Morning Star Flag on the wall painted by Wenegwe Wenda West Papuan Artist in Oxford, United Kingdom

Pimpinan tertinggi gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah Christiaan Robbert Steven Soumokil (mantan Jaksa Agung N...
16/07/2026

Pimpinan tertinggi gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah Christiaan Robbert Steven Soumokil (mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur). Ia adalah dalang utama yang memproklamasikan RMS di Ambon pada 25 April 1950

"Memenuhi kemauan jang sungguh, tuntutan dan desakan rakjat Maluku Selatan, maka dengan ini kami proklamir KEMERDEKAAN REPUBLIK MALUKU SELATAN, defakto de jure, jang berbentuk Republik, lepas dari pada segala perhubungan ketatanegaraan Negara Indonesia Timur dan R.I.S..."

(Kata Tokoh Kemerdekaan Republik Maluku Selatan Dr Chris Soumokil)

Soumokil adalah tokoh utama RMS yang memimpin gerakan separatis di Maluku sejak 1950. Setelah ditangkap di Seram, ia diadili oleh pemerintah Indonesia dan dijatuhi hukuman mati, lalu dieksekusi pada tahun 1966.

GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan ...
14/07/2026

GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi, mabuk-mabukan, bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan adat rakyat Aceh. Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan.

Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh tua Aceh yang sudah tenang kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, adat Aceh dan agama Islam. Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka sepakat meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak bisa tercapai tanpa senjata.

Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang belajar di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain adalah kakak Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM.

Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.

Miliki Pabrik Senjata dan Berlatih di Libya

Address

Jayapura

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Melanesian Spirit posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share