DR Studio 21

DR Studio 21 DR Studio | Jaringan Informasi Pembelajaran untuk Semua - Membangun Semangat Generasi Milenial Di Era Digital

23/10/2021

Google Doodle Ellya Khadam "Boneka India"

22/10/2021

Ditutup sementara ya gaes. Liwat jalan umum dulu biar bisa lihat2 aktivitas kehidupan yang sebenarnya....

21/10/2021

Lagu Hari Santri 2021

16/06/2018

Dulu ketika masih kecil.. Saat lebaran seperti ini, acara yg di nanti adl.. Sebelum masuk lebaran jam 13.00 nabuh beduk yg di sebut "eder" di masjid rameeee.. Sore harinya jalan bareng bareng ziarah sumbah ke kuburan sedandang lan kuburan solo sowan lor.. Setelah dari kuburan rame rame dg kak thowik, kang Abdul Halim, lek muntaha, kang marno, kang bukhori, lek sarkadi dll persiapan nggawe oncor pawe bodho keliling deso.. Bakda maghrib buko buko buko poso.. Nyumet poyaaah dar dor dar dor neng ngarep masjid lan sreng srengan poyah cesssss.. Lanjut shalat isya.. Bakda shalat isya langsung pawe yg diikuti seluruh mushalla se sowan kidul ramee dan gayeng.. Mlakuu lek... Baree menggeh menggeh.. Hehehe..

Pagi hari shalat id di masjid... Bakda shalat id langsung nyumet poyaaah gede gedenan.. Duuuuuor duuuuor duoooor rameee... Jingkrak jingkrak.. Rameee ne polll

Bar nyumet poyaah.. Kunjung halal halal alias balal dari rumah ke rumah.. Cara ngucapkan balal diwurui simbokku.. Ngaturakan lepat ingkang kathah kathah nyuwun ngapunten.. Jawaban khasnya adl yoo nang podo podo wong tuwo akeh salahe... Hehehe..
Yg menjadi favoritku adl balal ke rumah mbah buyut darisah dg suguhan khasnya makanan "sagon" yg beliau sendiri masak.. Hemmm makanan favoritku.. Biasa sambil di kasih jajan mang pi.. Hehehe

Yg tdk aku lupakan adl balal ke guru guru pak hariyanto dll hemmm
Sekarang ini, tradisi balal ke guru guru di teruskan anak anakku si mas Abed Muchammad Mochammad Ameer Hasan, mbak Nurun Tajalla Nahda Sazaly yg sampe skr ini masih muter balal ke guru gurunya...
Semoga barokah barokah barokah.. Amin

Duwek mang pi ketika aku kecil masih aji kanggo tuku cendol dll

Tradisi balal ini menjadi bagian dari peristiwa yg menjadi cerita kpd anak anak utk hidup saling menyapa dg sesama tanpa mikir sopo siro sopo ingsung... Yg ahirnya kelak mereka akn menjadi bagian dari masyarakatnya yaitu berkiprah sesuai min lisani qoumihim bukannya justru ghorib asing dg kaumnya...

Semoga anak anak kita mampu meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa menjadi anak anak yg sholeh sholehah.. Amin

07/06/2018

Renungan pagi..

" Karena Ukuran Sepatumu dan Sepatuku berbeda"

Ketika kita hanya mampu membeli tas seharga 300rb sementara teman kita membeli tas dengan harga 3jt, kita bilang teman kita berlebihan padahal dia belanja tidak menggunakan uang kita.

Dan ternyata dia sudah berhemat untuk tidak membeli tas seharga 30jt yang sanggup dia beli.

Ketika kita hanya mampu hidup selalu dekat suami, sementara teman kita berpisah jarak dan waktu dengan suaminya, kita bilang dia menggadaikan rumah tangga demi materi.

Ternyata dia tetap hidup rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.

Ketika kita hanya mampu menjadi ibu rumah tangga, sementara kawan kita memilih bekerja, kita bilang dia menggadaikan masa depan anak.

Ternyata dia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita dan berdoa lebih khusyuk memohon kepada Gusti Allah SWT untuk menjaga anak-anaknya.

Ketika kita hanya mampu mengatur uang belanja 1jt sebulan, sementara teman kita pengeluaran belanja bulanannya 10jt, kita bilang dia boros, padahal dia tidak pernah berhutang pada kita dan ternyata mereka beramal lebih banyak dari uang belanjanya.

Dan mereka tak pernah lupa memberikan sumbangan, siapa yang rugi?

Kita, belum-belum sudah menilai. Bisa jadi malah berburuk sangka.

Padahal kita tak pernah tau apa yg sebenarnya orang lain hadapi dan orang lain lakukan di luar sepengetahuan kita.

Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita.

Jangan mengukur kehidupan orang lain dengan hidup kita.

Jangan menggunakan kacamata kita untuk menilai orang lain, penampilan luar belum tentu mencerminkan sifatnya.

Jangan sibuk mengurusi hidup orang lain padahal kita tidak tau apa2 tentang hal tersebut.

Mungkin itulah kenapa sepatu kaca cinderella hanya pas di kakinya.

Karena ukuran hidup kita belum tentu sama dengan ukuran hidup orang lain.

Sibuklah memperbaiki diri sendiri. Karena hanya dengan diri sendiri menjadi baiklah maka segalanya akan turut menjadi lebih baik.

Upgrade diri, jadi versi terbaik dari dirimu.

01/06/2018

Refleksi Hari Lahir Pancasila Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia
1 Juni 2018

Kita yg bernegara Indonesia dari mulai merdeka hingga sekarang sudah mempunyai kepastian tonggak dasar berbangsa dan bernegara yaitu PANCASILA..
Banyak tantangan saat Pancasila lahir dan hadir utk dijadikan dasar dan ideologi negara baik tantangan atas nama agama, atas nama ideologi, dan lain lain untuk merubah dasar Negara yaitu Pancasila..
Kita kenal DI/TII ingin merubah Pancasila..PRRI juga ingin merubah Pancasila , PKI juga ingin merubah Pancasila.. Dan yang gresss HTI ingin merubah Pancasila dg Khilafah..

Perjalanan sejarah Pancasila sebagai dasar Negara dengan ijin dan ridha dari Gusti Allah SWT masih tetap tegak.. Kebanggaan kita adl sementara negara negara lain ribut dan kocar kocar krn "bingung" mencari dasar yg kokoh tapi negara kita tercinta Indonesia tetap kokoh dengan Pancasila..

Banyak orang orang sekarang menjadi antek antek penjajah ideologi baru seperti halnya dulu menjadi antek antek penjajah belanda dan jepang ingin merubah Pancasila.. Kita harus sadar sesadar sadarnya bahwa mereka itu antek antek penjajah baru yg ingin memporak porandakan negara dan bangsa indonesia dg "bumbu bumbu" ilusi romantisme yg tdk jelas... Ini semua tantangan kita bersama dan harus kita berpadu satu dalam kebhinekaan..

Kita yg muda muda harus berani melawan antek antek penjajah baru di indonesia sebagai mana yg digelorakan oleh pahlawan kusuma bangsa dalm mengusir penjajah dan antek anteknya.. Kita bangsa yg bertabat, kita bangsa besar dan kita bangsa yg mempunya jati diri ke Indonesiaan yg berperadaban..

Ayooo kita gelorakan Pancasila di bumi pertiwi Indonesia...



30/05/2018

Dulu.. Saat kita di Madrasah Aliyah ngaji kitab balaghoh.. Pertama yg dipelajari adalah Kalam Baligh yaitu berbicara, bertutur dan berujaran yg sesuai dg konteksnya, kondisi tempat dan situasi yg dihadapi.. Muqtadhal maqam wal hal..
Sekarang ini, kita lihat justru banyak tetua tetua kita saat berbicara, bertutur dan berujaran menafikan muqtadhal maqam wal halnya.. Bahkan kadang "meramal-ramal" atau bahasa jawane "ngemper-ngemperno" sesuatu yg ilusi yg seakan akan menjadi sebuah "kepastian", yg dulu saat ngaji kita sebut thulul amal atawa "kedawan pikir"...
Nah, konsep "kedawan pikir" ini lah yg menjadikan asalnya dan sebenarnya " "nalar rasional" atawa "gaduk dipikir" bergerser menjadi "nalar irrasional" atawa "megap-megap dipikir"..

Kita, yg muda muda ini sdh seharusnya keluar dari "nalar taqlid" atawa "pikiran bebek" dari yg begini beginian ini sembari membuka "nalar ijtihad" atawa "pikiran maju" agar bisa melihat pemikiran masa lalu, dan pemikiran wong tua tua kita itu jika masih up date boleh lah dijadikan pijakan untuk merambah menuju masa depan yg lebih baik karena muqtadhal maqam wal hal nya yg berbeda..

Dunia yg kita hadapi sekarang berbeda dg yg mereka masa lalu hadapi.. seperti ini yg dulu kita ngaji diarani "daur tasalsul".. Ini prinsip berfikir berkembang maju.. jika ini kita tinggalkan.. Jargon apa pun yg berbusa busa kita usung akan nampak "jenaka" diketawain banyak orang..

Generasi muda adl kita yg akan melukis dunia ini indah mempesona..



23/05/2018

Ta'dhimnya Mbah Abdullah Hadziq Balekambang

Part 2
Habib Luthfi Senang Mengetahui Mbah Dullah Tawa Lepas

Layaknya seorang santri, yik luthfi.. Panggilan bib luthfi oleh mbah Dullah saat mondok di Balekambang pada tahun 1961.. Yik Luthfi berbaur dg santri santri lainnya tidur gelasaran di lantai pondok...

Saya seakan akan ikut hanyut pada masa di mana habib Luthfi mondok di Balekambang.. Habib menceritakan dengan detail bagaimana mbah Dullah "open dan telaten" kepada para santri santrinya.. Yg jarang dimiliki oleh kyai lain adalah Mbah Dullah jika memanggil santri santrinya tidak "gapah" tapi dihormati dengan menyebut "kang".. Setiap santrinya di panggil dengan panggilan kang...

Mbah Dullah sangat disiplin dan istiqomah dalam mendidik santri santrinya.. Hal ini beliau lakukan karena memang beliau itba' gurunya Mbah Hasyim Asy'ari saat mondok di Jombang, kedisiplinan beliau tertempa saat Resolusi Jihad NU dan meletus perang 10 November beliau ditugasi mbah Hasyim secara khusus mengamankan dan menyiapkan logistik para pejuang melawan pas**an NICA di bawah pimpinan Inggris... Sejarah kecil ini terlupakan oleh banyak orang..

Di sela cerita habib yg mengagumkan.. Habib melanjutkan ceritanya.. Mbah Dullah pada waktu lenggang mengajak "mayoran" santri santrinya.. Dan sebagai sebuah tradisi santri Balekambang saat itu.. Jika mbah Dullah ngajak mayoran maka para santri langsung berhamburan ngambil pancing untuk mancing ikan lele, bethik, kuthuk dan ikan apa saja di sungai belakang pondok Balekambang yg selanjutnya di masak bareng untuk mayoran santri santri...

Memasuki bulan Ramadhan banyak santri berdatangan untuk ikut ngaji posonan bersama mbah Dullah... Habib melanjutkan ceritanya saat bulan Romadhan yaitu ada peristiwa yang menyenangkan bagi diri Habib... Saat semua santri santri tidur di lantai... Habib Luthfi tidur di bawah kenthongan pondok... Sebagaimana kebiasaan pondok.. Saat subuh tiba santri menabuh kenthongan lebih lama bak musik enak renyah enjoy, dan habib luthfi kaget lalu bangun yg dikiranya ada musik secara reflek habib menari dan mbah Dullah tertawa lepas melihat habib luthfi reflek menari saat kenthongan di tabuh saat memanggil shalat subuh... Betapa bahagia senangnya habib luthfi memandang guru kinasihnya tertawa lepas.. Baru kali ini saya melihat guruku tertawa lepas yg biasanya kulihat selalu tersenyum kenang habib Luthfi....

Sungguh, cerita ini ibroh bagi kita untuk saling mengasihi, menyayangi dan menghormati satu sama lain lintas jabatan, lintas umur dan lintas gelar..
Diawali dengan membiasakan memanggil seseorang siapa pun dengan pilihan panggilan nama yang menyenangkan bukan panggilan yang "gapah" hanya menyebut nama atau justru dengan sebutan panggilan yang jelek.. Maka kekuatan persaudaraan akan terjalin indah sampai ahir hayat...

Semoga kita, dan anak cucu kita bisa meneladani ahlaqul karimah mbah Abdullah Hadziq... Amin

23/05/2018

Ta'dhimnya Mbah Abdullah Hadziq Balekambang

Part 1

Sungguh, sebuah cerita yg sangat mendalam dari Habib Muhammad Lurhfi bin Yahya Pekalongan tentang Mbah Abdulloh Hadziq Balekambang.

Habib bercerita bhw Mbah Dullah adl min ba'dhil auliya yg laku sehari harinya tdk menunjukkan seorang ulama besar.. Beliau mempunyai rutinitas setiap pagi ke pasar topinan laken celananan seperti warga biasa ke pasar utk belanja keperluan rumah dan santri santri pondok pesantren balekambang.. Padahal beliau sebenarnya Alim Allamah karena beliau belajar di makkah selama 12 tahun mengaji dengan Mbah Syech Nahrowi, Syech Dimyati, Syech Mahfudz at turmusy dan ulama ulama besar haramain.. Sanad keilmuan Mbah Dullah saat ngaji kitab Alfiyah dan umrity yg diberikan kepada Habib Luthfi adl dari Syech Mahfudz at turmusi dan syech Dimyaty yg secara langsung di ijazahkan kpd Habib Luthfi..

Dari cerita di atas, kita pahami bhw ulama ulama kita sangat primpen dlm mencari, menerima dan mengamalkan ilmu.. Seharusnya rasa ta'dhim ulama ulama terdahulu menjadi ibroh bagi kita semua utk tdk sekedar ribut hy krn namanya tdk di sebut dlm list ulama... Akhlaqul karimah memang pengendali hidup... Jauhnya sekolah akn selalu menjadi alasan utk meraih "ketenaran" jika tdk kita imbangi dg Akhlaqul Karimah dalam hidup dan kehidupan..

Semoga kita, anak cucu kita mampu meneladani Mbah Dullah dan mampu meneruskan perjuangan beliau.. Amin



13/05/2018

Berbahagia datangnya bulan Ramadhan

Tadi malam, setelah dari acara di dukuh penggung dan di pondok mbah yai Ali Masykur Tahunan.. Saya di teras rumah menikmati nyrutup kopi tempur sambil membaca buku jadulku yg ku beli di lowak an Pasar Johar Semarang yg harganya hy sepuluh ribu tp ternyata isinya luar biasa yaitu "Kontekstualisasi ; Makna, Metode dan Model karya David J Hesselgrave dan Edward Rommen

Buku ini cukup mengejutkan, di mana saya menjadi tahu tata letak pemikiran mbah Gus Dur ttg Pribumisasi Islam yg dalam buku ini di urai dg apik dan dg istilah lain "kepribumian" dan "pempribumian".. Mungkin perjumpaan pemikiran Mbah Gus Dur dg Para Pemikir Henri Venn dan Rufus Anderson perlu riset yg mendalam dlm rangka upaya mencerahkan terus menerus "memaknai" teks agama selalu "hidup" menyapa ummat manusia li zamanin wa makanin.. Sesuai dg zaman, waktu, periode dan tempat, wilayah, area, negara termasuk budayanya... Di sini lah makna "kintekstualisasi" di maksud...

Nah, dari keterangan diatas, saya terkagum dg cara tafsir "kontekstualisasi" para Wali Songo terhadap teks suci ketika membaca sebuah hadits ;

"Man Fariha bi dukhuli romadhona, Harromallahu jasadahu alanniron"

Teks hadit diatas ada kata "fariha" yg dimaknai sangat fenomenal oleh para Wali Songo yaitu "peristiwa dandangan, dokderan dan sejenisnya di seluruh nusantara yg mempribumikan teks suci menjadi sapaan tradisi dan budaya secara kolektif yg menjadikan masyarakat senang, bahagia, cerah ceria mendengar dan menyambut datangnya bulan ramadhan.. Yg tdk sekedar kesenangan dan kebahagian pribadi atau individual..

Peristiwa dandangan, dogderan dan sejenisnya di nusantara adl bukti sebuah tafsir yg cerdas di mana agama memberikan ruang pergumulan dg budaya bahkan menciptakan budaya baru utk mendapatkan identitas dan menguasai sejarah sendiri, dengan masih bersaling-ketergantungan yg mengikat masa lalu dan masa kini menuju kemungkinan kemungkinan masa depan di mana peristiwa dandanan, dogderan, dan sejenisnya di nusantara akn menjelma menjadi peristiwa pasar ekonomi, dan promosi budaya nasional tahunan jika dikelola dan dikembangkan secara baik dan profesional..

Kadang kita "terlalu cekak berfikir" tentang peristiwa peristiwa yg fenomenal ttg pergumulan "agama dan budaya" di nusantara sehingga kita dg gampang menyematkan lebel "bidengah" yg sebenarnya justru semua itu hy sebagai jalan utk "memahamkan" dg mudah, enak, renyah dan enjoy teks agama kepada masyarakat... Kita ini mungkin kurang rekreasi dan mampu dg jeli dan teliti memilah mana yg jalan dan mana yg tujuan atawa mana yg furu' dan mana yg ushul..

Ahirnya, selamat menyambut bulan romadhan yg penuh rahmat dg rasa gembira, bahagia dan s**a cita dg menggadeng anak cucu dan handai tolan mengunjungi dandangan, dogderan dan sejenisnya di nusantara ... Keyakinan ini menjadikan Gusti Allah SWT mengharamkan jasad kita dari panggang api neraka.. Amin

20/04/2018

Renungan hari kartini...

Bakda maghrib, aku melihat dek Nada menghafal nadhom aqidatul awam dengan makna pegonnya yg khas... Abdau bismillahi Warrohmani daimil ihsani dst... Mengingatkanku satu tahun yg lalu nge-share tentang RA. Kartini di hari Kartini yg aku rasakan masih up date tentang bagaimana RA. Kartini belajar agama kepada Mbah Sholeh Darat untuk selanjutnya diajarkan kepada masyarakat yg menarik utk kita renungkan bersama ;

RA. Kartini, Tafsir Al Qur'an dan KH. Saleh Darat

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi p**a, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"

"Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajarp Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca".

"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya".

"Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya".

"Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya".

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban".

"Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan".

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; "Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disun dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur'an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu p**a Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadz-Dzulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kump**an surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minadz-dzulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

RA. Kartini begitu tahu dan paham kebutuhan religiusitas rakyatnya, di mana agama harus dipahami secara benar untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari bukan hanya sekedar ritual seremony belaka..
Kita berdoa semoga kita mampu meneruskan perjuangan beliau membangun semangat memajukan bangsa Indonesia... Amin

"Selamat Hari Kartini"


Susi: Yang Keberatan dengan Penenggelaman Kapal, Silakan Usul ke Presiden
10/01/2018

Susi: Yang Keberatan dengan Penenggelaman Kapal, Silakan Usul ke Presiden

Sanksi penenggelaman kapal bukan kebijakan Susi, melainkan diatur dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Address

Jalan Bugel-Surodadi RT 03 RW 03 Jondang Kedung Jepara
Jepara
59463

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when DR Studio 21 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to DR Studio 21:

Share