Widya Mega Daily

Widya Mega Daily Hanya Konten Jangan Baper ! Quote, Kegiatan sehari-hari. Ambil baiknya buang buruknya. Semoga Bermanfaat 🫶🏻
Instagram : widyamegamurti

Hanya karena belum bisa bayar SPP, Siswa ini tidak boleh gabung perayaan kelulusan. Seorang anak terlihat duduk sendiria...
24/05/2025

Hanya karena belum bisa bayar SPP, Siswa ini tidak boleh gabung perayaan kelulusan.

Seorang anak terlihat duduk sendirian di pojok halaman saat teman-temannya merayakan kelulusan dengan penuh s**a cita.

Namun anak ini hanya memandangi dari jauh--tidak ikut bergabung, hanya diam dengan tatapan kosong.
Video ini kemudian viral di media sosial dan menyentuh hati banyak orang.

Ternyata, alasan ia tidak merayakan kelulusan bukan karena tidak lulus atau tak punya temen. Ia tidak diizinkan ikut acara kelulusan karena BELUM MELUNASI SPP.
Sekolah tidak memberi ijazah, dan ia pun merasa malu untuk bergabung.

Padahal di usia remaja seperti itu, momen kelulusan sangatlah berarti, simbol perjuangan, perpisahan dan awal langkah baru.

Tidak dijelaskan dimana dan di sekolah mana kejadian ini terjadi.
Namun video ini memicu perdebatan publik : apakah wajar pendidikan dan momen emosional seperti kelulusan diperlakukan sebagai HAK ISTIMEWA hanya karena persoalan administrasi.

Sc = arisvaraa

Rezeki nona baik ❤️
24/05/2025

Rezeki nona baik ❤️

Seorang netizen bagikan kisahnya setelah 9X menikah, dia merasa yang pertama lah yang lebih baik
20/05/2025

Seorang netizen bagikan kisahnya setelah 9X menikah, dia merasa yang pertama lah yang lebih baik

Siapa yg harus  disalahkan?Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Kota Sukabumi, Jawa Barat, nekat memb4k4r belasan r...
18/05/2025

Siapa yg harus disalahkan?
Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Kota Sukabumi, Jawa Barat, nekat memb4k4r belasan rumah warga setelah mengaku terinspirasi dari film yang ditontonnya di televisi.
Peristiwa mengejutkan ini terjadi di Desa Tipar, Kecamatan Citamiang pada Selasa (6/5/2025).

Kasatreskrim Polres Sukabumi Kota, AKP Tatang Mulyana, menyampaikan bahwa sang anak melakukan aksinya karena iseng dan terobsesi dengan tayangan film yang disaksikan.

Dengan menggunakan korek api gas, anak tersebut membakar area permukiman yang akhirnya menyebabkan 13 rumah warga hangus terbakar.

Pada tahun 2009, Jennifer Fitzgerald, seorang wanita asal Chicago, Amerika Serikat, menghadapi situasi yang tidak biasa....
16/05/2025

Pada tahun 2009, Jennifer Fitzgerald, seorang wanita asal Chicago, Amerika Serikat, menghadapi situasi yang tidak biasa. Mobil Chevrolet Monte Carlo tahun 1995 miliknya, yang berwarna ungu, ditinggalkan oleh mantan pacarnya, Brandon Preveau, di area parkir karyawan Bandara Internasional O'Hare. Mobil tersebut tetap berada di lokasi tersebut selama tiga tahun tanpa dipindahkan.

Akumulasi Denda

Selama periode tersebut, mobil Fitzgerald terus-menerus dikenai denda parkir. Selain itu, mobil tersebut mengalami kerusakan seperti jendela yang retak atau hilang, lampu yang rusak, dan surat-surat kendaraan yang kedaluwarsa. Karena Jennifer tidak pernah menghadiri sidang pengadilan terkait pelanggaran tersebut, denda terus bertambah hingga mencapai sekitar Rp 1,15 miliar.

Penyelesaian Masalah

Setelah negosiasi, kesepakatan dicapai untuk mengurangi jumlah denda yang harus dibayar. Jennifer Fitzgerald hanya perlu membayar sekitar Rp 49 juta, sementara Brandon Preveau diwajibkan membayar sekitar Rp 18 juta. Sisanya akan diangsur oleh Jennifer sebesar Rp 850 ribu setiap bulan selama tiga tahun ke depan.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Kisah ini menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab kepemilikan kendaraan. Meskipun kendaraan digunakan oleh orang lain, pemilik terdaftar tetap bertanggung jawab atas segala pelanggaran yang terjadi. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa kendaraan tidak disalahgunakan dan selalu mematuhi peraturan yang berlaku.

Miris! 3 Siswa Berprestasi Dipulangkan Paksa Gegara Tak Bisa Bayar SPP Rp42 jutaTiga siswa SD dari keluarga miskin terpa...
12/05/2025

Miris! 3 Siswa Berprestasi Dipulangkan Paksa Gegara Tak Bisa Bayar SPP Rp42 juta

Tiga siswa SD dari keluarga miskin terpaksa dipulangkan pihak sekolah karena tidak mampu membayar tunggakan SPP yang mencapai Rp42 juta. Padahal, Faeza (11), Farraz (10), dan Fathan (7), dikenal sebagai anak-anak berprestasi yang menunjukkan semangat tinggi dalam belajar.

Keputusan untuk memulangkan siswa tersebut diambil saat jam pelajaran masih berlangsung. Hal ini pun membuat kecewa, sakit hati dan duka mendalam.

Ketiga siswa tersebut, yang tinggal di Menes, Pandeglang, kembali ke rumah dengan wajah lesu dan hati yang hancur setelah dijemput oleh mobil sekolah. Tanpa melakukan kesalahan, mereka dipaksa meninggalkan sekolah hanya karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan.

Ironisnya, pihak sekolah yang seharusnya menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, justru tidak memberikan kesempatan kepada mereka, meskipun prestasi akademis mereka telah diakui dengan banyak sertifikat penghargaan.

Faeza, yang kini duduk di kelas 6 SD, mengungkapkan kebingungan dan ketakutannya.

“Kepala yayasan memarahi saya di depan teman-teman dan meminta saya untuk tidak belajar di sini karena tunggakan SPP yang sudah terlalu banyak,” ujarnya, sambil menundukkan kepala saat ditemui, Sabtu (26/10/2024).

Rasa malu dan tertekan menghimpit dirinya, seiring dengan ketidakpastian masa depan yang kini membayangi.

Sementara itu, Ibunda Faeza, Defi Fitriani, tak kuasa menahan air mata ketika menceritakan nasib anak-anaknya.

“Mereka adalah anak-anak berprestasi, terbukti dari banyaknya sertifikat penghargaan yang telah mereka terima. Namun kini, pendidikan mereka terancam terhenti hanya karena kami tidak mampu membayar uang sekolah,” suaranya bergetar.

Defi juga mengungkapkan bahwa selain masalah SPP, keluarga mereka tengah menghadapi kesulitan lain, termasuk menunggak kontrakan selama tiga bulan.

Ayah Faeza, Muhammad Fahat, seorang buruh harian, menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai kondisi pendidikan di Kabupaten Pandeglang.

“Anak-anak saya tidak bisa sekolah hanya karena kami miskin. Uang SPP sebesar Rp42 juta jelas di luar kemampuan kami. Bagaimana kami bisa membayar, sementara untuk makan sehari-hari saja sudah sulit?," ujarnya.

Kejadian ini memicu berbagai pertanyaan mengenai kebijakan sekolah. Sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa, tindakan memulangkan siswa karena ketidakmampuan ekonomi sangat tidak pantas. Terlebih lagi, sekolah tersebut telah menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah, yang seharusnya digunakan untuk membantu siswa kurang mampu.

Kasus ini menjadi perhatian serius bagi Menteri Pendidikan, serta Presiden Prabowo Subianto, yang memiliki program unggulan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Mereka diharapkan dapat memperbaiki sistem agar kejadian serupa tidak terulang, khususnya di sekolah-sekolah swasta yang sering mengambil langkah ekstrem dengan mengusir siswa hanya karena alasan ekonomi.

Hingga kini, pihak SDIT IC MA dan Yayasan Islami itu belum memberikan konfirmasi terkait pemulangan.

okezone

McDonald's memiliki kartu emas yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk mendapatkan makanan gratis di perusahaan mak...
11/05/2025

McDonald's memiliki kartu emas yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk mendapatkan makanan gratis di perusahaan makanan cepat saji tersebut seumur hidup.Bill Gates punya satu.

Baru M ya belum T 😆
10/05/2025

Baru M ya belum T 😆

Dua balita inisial ZK (1) dan NJ (2) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), ditemukan dalam keadaan tew*s terb*kar usai...
09/05/2025

Dua balita inisial ZK (1) dan NJ (2) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), ditemukan dalam keadaan tew*s terb*kar usai ibu korban berinisial SK (23) meninggalkan rumah untuk pergi bersama pacarnya, AD. Insiden itu juga membuat dua balita lainnya inisial SN (4) dan NW (2) mengalami luk* bak*r. "AD itu pacarnya ibunya korban. Mamanya korban ini bersama AD pergi membeli makanan untuk anak-anak ini," kata Kanit Reskrim Polsek Mandonga Ipda Andry Irwanto kepada detikcom, Rabu (7/5/2025).

Andry mengatakan ibu korban yang sudah bercerai dengan suaminya itu meninggalkan empat anaknya sendiri dalam rumah. Setelah membeli makan, ibu korban dan pacarnya juga sempat membeli bensin.

"SK bersama AD pulang ke rumah dan melihat rumah sudah banyak asap. Setelah itu SK masuk ke dalam rumah dan plafon rumah sudah terb4kar," ujarnya.

Insiden itu membuat balita berinisial ZK dan NJ tew4s di tempat. Sementara dua balita lainnya inisial SN dan NW berhasil diselamatkan warga setempat.

"Korban SN dan NW ini ditolong sama AD dengan dibantu warga. Mereka alami luk4 bak4r dan dirujuk ke RS Hermina," ungkap Andry.

Arta Grave Monica (35 tahun), seorang ibu dari AFY Cristy Nauly (11 tahun), terpaksa membeli meja baru seharga Rp400.000...
02/05/2025

Arta Grave Monica (35 tahun), seorang ibu dari AFY Cristy Nauly (11 tahun), terpaksa membeli meja baru seharga Rp400.000 untuk anaknya yang bersekolah di SDN 2 Pasir Tangkil, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. Kursi dan Meja itu dia pikul dari rumah ke sekolah sejauh 200 meter, Senin (28/4/2025).

Pada bagian atas meja itu, dia menuliskan pesan, meja ini dapat dibeli oleh orang tua karena disuruh mengganti meja yang rusak.

Arta menangis saat menceritakan, pihak sekolah memintanya mengganti kursi dan meja yang digunakan anaknya karena dianggap rusak.

Padahal, menurut anaknya, meja itu sudah rusak sejak lama dan bukan karena ulahnya. Kepala sekolah, kata dia tetap meminta meja tersebut diganti, sebagaimana disampaikan dalam grup WhatsApp kelas.

“Zaman susah seperti ini, Rp400.000 itu mahal, Pak. Bisa buat beli beras sekarung,” ujar Arta dengan suara yang penuh kesedihan.

Meski keberatan, dia tetap membeli meja baru karena merasa bertanggung jawab untuk memenuhi permintaan sekolah.

Arta juga mempertanyakan kebijakan ini.Dia menilai, baru kali ini ada sekolah yang meminta orang tua mengganti fasilitas yang rusak.

“Kenapa fasilitas sekolah harus diganti oleh orang tua siswa? Apakah ada aturannya seperti itu?” tanyanya.

Sementara itu, wali kelas IV SDN 2 Pasir Tangkil, Joharnesa, mengaku tidak tahu-menahu tentang keputusan kepala sekolah. Menurutnya, tidak ada pembicaraan langsung terkait permintaan mengganti meja tersebut.

Hingga berita ini ditulis, Kepala Sekolah belum memberikan penjelasan terkait kebijakan itu.

Address

Kelurahan Ceweng Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang
Jombang
61471

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Widya Mega Daily posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share