BABRA KAMAL

BABRA KAMAL Kunjungi web kami : www.kritis.id

Buku ke 3 Kumpulan esai
16/05/2025

Buku ke 3 Kumpulan esai

Don't miss it. Po sampai akhir bulan ini.. Silahkan hubungi Nomor. yang tertera.
17/06/2023

Don't miss it. Po sampai akhir bulan ini.. Silahkan hubungi Nomor. yang tertera.

Kenangan Semua manusia agaknya berharap bisa mengabadikan dirinya, ingin dikenang dan mengenang “mungkin” adalah obsesi ...
12/12/2019

Kenangan

Semua manusia agaknya berharap bisa mengabadikan dirinya, ingin dikenang dan mengenang “mungkin” adalah obsesi terbesar manusia.

Cap tangan di dinding goa-goa purba, piramida, kuil, monumen dan lain lain, mungkin adalah sebagian usaha manusia agar memperoleh tempat dalam ingatan generasi berikutnya, juga tulisan, dan berbagai postingan di akun media sosial kita.

Iya, kita hanya ingin dikenang bahwa kita ada dan perjuangan sesungguhnya adalah melawan lupa, kita ingin senantiasa berada dalam ingatan orang-orang.

Untuk apa? agar berarti dan mengarti.

Sesederhana itu otak kita diperintah untuk menyimpan kenangan yang baik, dan berusaha menghilangkan memori yang buruk.

Apa dan seperti apa sistem dikepala kita yang merekam kenangan itu?

Otak kita bekerja sedemikian rupa sehingga kita hanya menyimpan sesuatu yang menurut kita baik, dan menghapus apa-apa yang buruk. Evolusi mungkin mendorong kita untuk selalu berlari atau pergi dari sesuatu yang membuat kita menderita.

Sepertinya sirkuit di otak kita dipersiapkan hanya untuk selalu mengecap kenikmatan-kenikmatan. Tetapi kenyataan hidup tidak selinear itu. Kenyataan luar selalu mengahantam kita dengan berbagai problema. Penyikapan kita yang berbeda-beda terhadap sesuatu yang diluar kuasa kita.

Hidup adalah penderitaan kata budhha, yang hanya kita perlu persiapkan adalah upaya kita untuk menghadapi penderitaan itu, segetir apapun itu.

Namun melupakan kenangan buruk bukan perkara mudah, hanya waktu yang kemungkinan bisa menyembuhkan luka. Sampai pada satu titik saya berfikir bahwa mungkin hal yang paling berharga dalam hidup ini adalah kenangan.

Melihat 'ketua Mao' Membela Petani di Film India “Dengan satu tangan kita membayar uang kepada pekerja pabrik dan mengam...
06/12/2019

Melihat 'ketua Mao' Membela Petani di Film India

“Dengan satu tangan kita membayar uang kepada pekerja pabrik dan mengambilnya kembali dari pusat perbelanjaan.” -Tuan Mandola

Adakah tuan tanah yang rela menyerahkan tanahnya kepada para petani secara cuma-cuma? bahkan sampai memprovokasi petani untuk melawan dan memberontak kepada dirinya sendiri? Yah, itu hanya ada dalam film India. Judulnya: Matru Ki Bijlee Ka Mandola. Bagi penggemar film India, film sutradara Vishal Bhardwajd ini sudah terbilang kadaluarsa. Sudah direlease sejak tahun 2013 lalu. Namun, keunikan film ini, dan terutama caranya menyampaikan pesan, membuatnya patut diulas.

Dikisahkan petani sebuah desa di India mencoba mempertahankan tanah mereka dari keserakahan tuan tanah bernama Tuan Mandola (Pankaj Kapur). Mereka kerap membicarakan masalahnya kepada seorang pemuda yang juga sopir tuan tanah itu sendiri, yakni Hukum Sing alias Matru (Imran Khan). Matru yang juga ternyata seorang mahasiswa hukum sekaligus aktivis kiri itu menaruh simpati kepada nasib petani dan berusaha mencari jalan agar petani bisa tetap menguasai tanahnya.

Perjuangan petani bertambah berat karena harus menghadapi Chaudari Devi (Shabana Azmi), seorang pejabat Menteri yang ingin menguasai tanah petani dengan cara bekerjasama dengan Mr.Mandola. Uniknya, cara yang dipakai cukup feodal, yaitu mengawinkan anaknya, Badaal, dengan putri Tuan Mandola, Bijlee (Anushka Sharma). Sayang, Bijlee yang cantik dan periang justru jatuh hati kepada Matru.

Agar pabrik mobil bisa berdiri di atas petani, cara jahat pun ditempuh: pupuk dan bibit hilang di pasar, pasokan listrik dikurangi hingga tinggal 1 jam, dan petani dijebak dengan utang. Dengan begitu, petani tidak punya pilihan selain menjual murah lahan pertanian mereka.

Kendati tertimpa ketidakadilan, dan musuhnya hanya seorang bernama Tuan Mandola, tetapi kenapa petani tidak bangkit melawan? Jawabannya: polisi, hukum, dan pemerintah berada di bawah kendali Mandola. Dengan kekuatan uangnya, Mandola bisa membeli polisi, hukum dan pemerintah, lalu menggunakannya untuk menindas kepentingan petani.

Dalam situasi sulit itu, petani punya kawan pejuang. Namanya: Mao Tse Tung. Tetapi bukan Mao Tse Tung yang memimpin revolusi di Tiongkok. Melainkan Matru yang menyamar sebagai Mao. Uniknya, Mao selalu muncul dengan pesan-pesannya yang ditulis di atas kain merah dan digantung di pohong.

Tuan Mandola sendiri sangat unik: manusia berkeprubadian ganda. Ketika di sadar, dia adalah tuan “Harry Mandola” yang sangat kejam. Namun, kalau dia sedang mabuk, dia merasa dirinya Bhagat Singh, komunis India yang menjadi martir di tiang gantungan karena melawan kolonialisme Inggris. Kalau sudah mabuk, Tuan Mandola berpihak kepada petani. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh Matru.

Satu lagi keunikan Tuan Mandola ini, entah lelucon biasa atau satire, bahwa dia dibuat takut bukan oleh pemberontakan petani, melainkan oleh Gulabi Bhains, seekor kerbau berwarna pink yang ada di label minuman beralkohol kesukaannya.

Suatu hari, karena desakan Chaudari Devi dan Tuan Mandola, Bank mengeluarkan surat peringatan. Isinya: memaksa seluruh petani segera melunasi utangnya. Dan tentu saja, petani tak sanggup melunasi utangnya. Dalam gelisah dan nyaris putus asa petani menuggu pertolongan Mao.

Dan titah Mao memang turun. Dia meminta petani tidak putus harapan. “Kami akan menyerang para penindas dengan palu dan memotong mereka dengan arit,” kata Mao dalam pesannya. Kendati pesannya heroik dan militan, jangan kira Mao ala India ini akan mengirim tentara merah untuk melibas tuan tanah. Yang dilakukan Mao membawa Mandola dalam pengaruh alkohol dan menakutinya dengan kerbau pink.

Usaha Mao berhasil. Pengadilan memberi toleransi 3 bulan kepada petani untuk melunasi utang. Dengan begitu, petani punya peluang melakukan panen dan membayar utang. Sayang, itupun tidak gampang. Ketika panen tiba, petani berhadapan dengan kesulitan baru: boikot para tengkulak.
Tetapi Mao tidak menyerah. Demi rakyat desa, dia berhasil melobi temannya untuk bisa menjual gandum ke Australia.

Lagi-lagi menemui kegagalan. Hujan badai menggagalkan hasil panen petani. Akhirnya, di bawah perasaan kalah, petani mau menyerahkan tanahnya ke Tuan Mandola.
Di ujung cerita, berkat Bijlee, sang anak kesayangan, Mandola benar-benar berubah baik. Bukan karena alkohol. Disokong oleh gerakan massa, dan Mandola yang tiba-tiba baik, rencana pembangunan pabrik gagal total.

***
Saya kira, film ini menarik sekaligus mengejek. Menariknya, film ini tidak phobia dengan simbol-simbol: bendera merah, palu-arit, Mao, gerakan Nexalite (gerilyawan maois) dan lain-lain. Poster Che Guevara juga beberapa kali muncul di sejumlah adegan. Bayangkan, kalau film semacam ini lahir dari sineas Indonesia.

Yang terkesan mengejek, Mao atau Maoisme disajikan dengan komedi. Perjuangan petani bukan dengan organisasi dan gerakan massa, melainkan dengan memanfaatkan kepribadian ganda di Tuan Tanah. Mao di film ini lebih mirip “Robin Hood” ketimbang seorang komunis tulen.

Tetapi film ini juga menyelinapkan banyak pesan. Pertama, bahwa film India tidak melulu romatisme, gebyar tarian, atau deru tangisan, tetapi juga bisa menghadirkan film-film berbau ideologis. Bahkan, lebih maju dari Indonesia, film India tidak phobia dengan palu-arit, bendera merah, Mao Tse Tung, dan lain-lain.

Kedua, film ini memperlihatkan bahwa persekongkolan tuan tanah, kapitalis birokrat, lintah darat/tengkulak, dan aparatus yang korup. Dulu di Indonesia, tahun 1960-an, populer istilah 7 setan desa: tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, bandit desa, pemungut zakat, dan kapitalis birokrat desa.

Ketiga, memperlihatkan bagaimana industrialisasi, yang kerap dianggap sebagai penanda kemajuan, seringkali menyingkirkan kehidupan petani di desa-desa.

Keempat, film ini juga mengeritik kapitalisme lewat mulut Tuan Mandola. “Setiap kali aku melihat tanaman mengering di gurun hijau, mimpiku ada di depan mataku. Mimpiku untuk raksasa penggerak bumi, buldozer, penghancur batu…ribuan pekerja pergi untuk bekerja keras. Asap pabrik yang dikeluarkan, tungku yang melolong, dan suara lantang dari cerobong asap. Di satu sisi, kita membangun perumahan untuk pekerja. Di sisi lain, kita membangun dua pusat perbelanjaan yang berkilauan tinggi. Dengan satu tangan kita membayar upah pekerja, lalu kita ambil kembali melalui pusat perbelanjaan.

Babra kamal

Matru Ki Bijlee Ka Mandola (2013) | durasi: 151 menit | Negara: India | Sutradara: Vishal Bhardwaj | Penulis: Vishal Bhardwaj | Pemeran: Pankaj Kapur, Imran Khan, Anushka Sharma, dan Shabana Azmi

Sebelumnya sudah tayang pada : Berdikarionline.com

Kecewa  Siapa sih orang yang tidah pernah kecewa, saya kira semua orang pernah merasakannya, dan kekecewaan itu ada saja...
30/11/2019

Kecewa

Siapa sih orang yang tidah pernah kecewa, saya kira semua orang pernah merasakannya, dan kekecewaan itu ada saja sebabnya, mulai dari hal yang penting misalnya calon Presiden yang kalah sampai kecewa karena hal sepele misalnya jaringan internet yang tiba-tiba mati.

Kecewa adalah peristiwa batin, dimana apa yang kita harapkan dan inginkan tidak terjadi. Ada-ada saja yang membuat kita kecewa?Macam-macam mulai dari kehilangan orang yang dicintai, kalah dalam pemilihan, tulisan tidak terbit-terbit dan banyak lagi yang lainnya.

Hampir sepanjang hidup kita mungkin akan mengalami hal tersebut, seberapa pandai pun kita mampu “memanage” hidup.

Dimasa awal hidup, mungkin waktu kanak-kanak, kita menganggap bahwa hal-hal diluar kita yang tidak bisa memenuhi keinginan kita, misalnya waktu kecil kadang ingin kita maksa dibelikan mainan oleh orang tua, tapi ternyata yang terjadi sebaliknya, kita menumpahkan kekecewaan kita dengan marah atau menangis.

Namun seiring perkembangan usia kita, kita mulai meyadari bahwa kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya hal-hal diluar kita, terkait kebutuhan dan keinginan kita, seorang filsuf pernah berkata, kebenaran adalah kesesuai antara ide dan realitas.

Dari situ kita mulai menyeimbangankan hal eksternal dan hal internal, kita mulai mengatur apa-apa saja yang kita inginkan dan apa saja kebutuhan itu sendiri, kita kemudian mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi mana kebutuhan dan yang mana hanya keinginan. Kita mulai mencocokan keduanya, tidak lagi berat sebelah.

Namun seiring waktu, dimana kedewasaan telah menapaki usia kita, sepertinya kita kembali mengubah pandangan kita.
Kita kemudian kembali ke hal yang ada dalam diri kita, kita mulai tidak berharap ke hal diluar kita, kita tak lagi mengandalkan orang lain, semua kembali ke internal, ke dalam diri kita.

Bahwa penentuanya di dalam diri kita, jika kita ingin bahagia bergantung dari kita, semua bergantung pada “manipulasi” dari dalam diri kita.

Kita kembali ke diri kita, semua yang datang dan pergi dalam hidup kita hanyalah melengkapi kita, pahit-manis, senang-getir, semua tergantung penyikapan kita.

Kalau kita bisa mengatasi kekecewaan yang berasal dari luar, nah hal yang paling menyedihkan adalah kekecewaan terhadap diri sendiri. Mungkin mengecewakan orang lain, membuat sedih dan merana orang yang di sekitar kita.
Tapi pernahkah kamu merasakan kecewa akan dirimu sendiri?

Bagaimana penyikapan kita terhadap kekecewaan atas diri kita sendiri? Hal ini menurut ku yang paling rumit yakni, memafkan diri sendiri

30/04/2018

"orang cenderung melihat kekerasan yang baru-baru ini dialami lebih penuh nafsu, lebih ekstensif, dan lebih berdarah dibanding peristiwa-peristiwa serupa atau yang lebih serius pada masa lalu."

-- Frans Husken & Huub de Jonge, dalam pengantar 'Orde Zonder Order' --

Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia
09/12/2017

Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia

News,Opini and Others

08/12/2017

News,Opini and Others

06/12/2017

News, Opini and Others

01/12/2017

News, Opini and Others

24/11/2017

###xx

Address

Desa Pude, Kec. Kajuara
Kajuara

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when BABRA KAMAL posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to BABRA KAMAL:

Share