09/05/2022
Istri Cerewet
"Kenapa sih kamu sekarang jadi cerewet banget, padahal sebelum menikah kamu itu lembut dan jarang bicara," ucap suamiku suatu hari.
"Aku capek banget, Mas, mengurus tiga anak kita, ditambah lagi mengerjakan pekerjaan rumah yang tak ada beresnya, sedangkan Ibu juga adikmu hanya tunjuk ini itu sambil ongkang-ongkang kaki tanpa membantu apapun," jawabku.
"Ngadu teruuuuuuus!" sahut adik ipar juga Ibu mertua yang tiba-tiba muncul.
"Aku cuma ngomong apa adanya, kalian semua memperlakukanku seperti pembantu gratis," ucapku.
"Tapi memang sudah seharusnya menantu itu mengabdikan hidupnya untuk suami juga keluarganya. Pekerjaan nyuci, masak, nyapu ngepel, nyetrika kan sudah kewajiban seorang perempuan," ucap Ibu mertua.
"Tapi kenapa harus semua aku yang kerjain, kan Bella bisa nyuci dan nyetrika bajunya sendiri," ucapku.
"Kalau mau sama Abangku ya harus sayang d**g sama adiknya," ucap Bella.
"Memangnya kalau sayang harus melayanimu seperti pembantu?" tanyaku.
"Berisik, kamu itu cerewet banget, perlakukan Bella seperti adikmu sendiri, jangan banyak omong!" bentak Ibu mertua.
"Kelak kamu akan merasakan bagaimana pedihnya jadi aku kalau kamu sudah menikah!" ucapku sambil menatap Bella dengan sorot tajam.
"Mas Ammar, lihat deh Mbak Naura nyumpahin aku," rengek Bella.
"Naura, kamu jangan gitu sama adikku," ucap Mas Ammar.
"Kamu itu beda banget dengan menantunya Bu Yanti, dia itu penurut dan pendiam. Padahal Bu Yanti itu cerewet dan galaknya minta ampun, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah plus melayani semua kebutuhan anak Bu Yanti yang berjumlah lima orang," ucap Ibu mertua.
"Iya bener banget, Adit beruntung banget punya istri yang pendiam dan gak banyak bicara. Waktu itu dia pernah cerita kalau istrinya tak pernah protes dengan uang nafkah yang diberikan Adit walaupun alakadarnya. Beda banget sama kamu yang selalu protes kalau diberi uang dapur."
Aku menarik napas dalam-dalam saat suami nyerocos seolah membela ucapan ibu juga adiknya, sebenarnya ada banyak kata yang bisa saja kuucapkan untuk menimpali mereka, tetapi aku sengaja menyimpan energiku untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang masih menumpuk.
Keesokan harinya, tiba-tiba daerah tempat tinggalku dihebohkan dengan kematian Bu Yanti. Karena penasaran aku, suami, Ibu mertua juga adik ipar segera berlari ke rumah Bu Yanti. Tampak para warga yang tengah berkerumun, sedangkan para polisi tampak keluar masuk rumah itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku pada salah satu warga yang tengah berkerumun.
"Si Mila ngeracun Bu Yanti juga si Adit, tapi sekarang dia kabur entah kemana," jawab Bu Isah.
Beberapa waktu kemudian kami pun pulang, kulihat wajah suami, ibu mertua juga adik ipar tampak syok setelah melihat kejadian tadi.
"Mas, masih mau punya istri pendiam kayak si Mila?" tanyaku didepan adik ipar juga ibu mertua.
"Gak usah, kamu cerewet aja gak apa-apa, biar aku tau dimana letak kesalahanku," ucap Mas Ammar.
"Mbak, mulai sekarang aku nyuci dan nyetrika pakaianku sendiri aja," ucap Bella sambil buru-buru ke kamar.
"Naura, kamu sekarang urus aja anak-anakmu, soal pekerjaan rumah nanti Ibu bantu sebagian," ucap Ibu mertua yang tiba-tiba menjadi pengertian.