28/03/2026
Swasembada Pangan Bukan Sekadar Program, Ini Strategi Menghadapi Ancaman Perang
---
Langkah Prabowo Subianto mendorong swasembada pangan ternyata bukan sekadar program ekonomi atau janji kampanye. Kebijakan ini dinilai sebagai strategi antisipatif menghadapi potensi gejolak global, termasuk risiko konflik dan perang yang dapat mengganggu rantai pasok pangan dunia.
Dalam banyak konflik internasional, yang pertama terdampak bukan hanya militer, tetapi logistik dan pangan. Negara yang bergantung pada impor berisiko mengalami kelangkaan bahan makanan saat jalur distribusi global terganggu. Di sinilah urgensi swasembada menjadi sangat strategis.
Indonesia, dengan jumlah penduduk besar, memiliki kerentanan tinggi bila pasokan beras dan bahan pokok terganggu. Karena itu, kebijakan memperkuat produksi dalam negeri—mulai dari perluasan lahan tanam, distribusi pupuk, hingga penetapan harga gabah/padi yang menguntungkan petani—dipandang sebagai langkah perlindungan jangka panjang.
Dengan harga padi yang dipatok lebih layak, petani mendapatkan kepastian usaha. Mereka terdorong meningkatkan produksi karena ada jaminan bahwa hasil panen tidak akan jatuh di bawah biaya produksi. Dampaknya bukan hanya pada kesejahteraan petani, tetapi juga pada ketahanan pangan nasional.
Di tengah memanasnya berbagai konflik global dan ancaman disrupsi perdagangan, strategi ini terlihat semakin relevan. Swasembada pangan bukan lagi sekadar program pertanian, melainkan bagian dari pertahanan negara dalam bentuk paling mendasar: memastikan rakyat tetap bisa makan dalam situasi apa pun.
Jika dunia memasuki fase ketidakpastian akibat perang dan krisis, negara yang kuat bukan hanya yang punya senjata, tetapi yang lumbung pangannya aman.
“Saat negara lain panik soal impor beras, Indonesia sudah menyiapkan lumbungnya sejak lama.”
“Setuju swasembada pangan adalah benteng pertahanan negara? Tulis pendapatmu di komentar!”