JEDA WAKTU

JEDA WAKTU Tentang Kamu

Portugal memang termasuk salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026, tetapi mengatakan Portugal pasti juara masih t...
24/06/2026

Portugal memang termasuk salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026, tetapi mengatakan Portugal pasti juara masih terlalu dini.

Alasan mengapa Portugal layak diperhitungkan :

Memiliki skuad yang sangat dalam dengan pemain seperti Cristiano Ronaldo, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, dan Nuno Mendes.
Baru saja menang telak 5-0 atas Uzbekistan di fase grup dan menunjukkan kualitas serangan yang sangat baik.

Banyak bursa taruhan dan model prediksi menempatkan Portugal di kelompok unggulan, meskipun masih berada di bawah tim seperti Argentina, Prancis, Spanyol, dan Inggris.

Namun ada beberapa alasan mengapa mereka belum bisa dianggap favorit utama:
Portugal sempat ditahan imbang DR Kongo pada laga pembuka.

Mereka belum pernah mencapai final Piala Dunia; prestasi terbaiknya adalah peringkat ketiga pada 1966.

Tim-tim seperti Argentina national football team, France national football team, dan Spain national football team masih dianggap memiliki peluang juara yang setara atau bahkan lebih tinggi.

Jika saya membuat prediksi pribadi saat ini, Portugal masuk 5 besar kandidat juara, tetapi favorit utama masih berada di kelompok Argentina, Prancis, Spanyol, dan Portugal.

Jadi, **Portugal bisa saja menjadi juara Piala Dunia 2026, tetapi saat ini belum bisa dianggap sebagai pemenang yang paling pasti.**

Strategi Divide et Impera atau Politik Pecah Belah​Pemerintah kolonial Belanda (baik era VOC maupun Hindia Belanda) sang...
24/06/2026

Strategi Divide et Impera atau Politik Pecah Belah

​Pemerintah kolonial Belanda (baik era VOC maupun Hindia Belanda) sangat menyadari bahwa jumlah personel mereka jauh lebih sedikit dibandingkan total populasi pribumi.

Oleh karena itu, untuk menjaga stabilitas kekuasaan dan melindungi kepentingan ekonomi mereka, mereka menggunakan taktik adu domba ini.

​Berikut adalah beberapa cara bagaimana teknik ini diterapkan pada masa kolonial :

​1. Memanfaatkan dan Membentuk Kelompok Lokal

​Belanda sering kali mendekati atau membentuk kelompok-kelompok tertentu di kalangan pribumi.
Mereka merangkul para bangsawan (birokrasi pangeran/raja) melalui sistem Binnenlands Bestuur (pemerintahan kolonial) dan Inlands Bestuur (pemerintahan pribumi).
Para penguasa lokal yang mau bekerja sama diberi posisi, hak istimewa, dan persenjataan untuk memimpin kelompok atau pasukan lokal guna melindungi aset-aset Belanda.

​2. Memperalat Orang Lokal sebagai Tentara Kontra-Pemberontakan

​Untuk memadamkan perlawanan di suatu daerah, Belanda hampir selalu menggunakan tentara bayaran atau milisi yang direkrut dari daerah lain (orang lokal diadu sesama orang lokal).

Sebagai contoh:

​Dalam Perang Saparua, Perang Padri, atau Perang Diponegoro, Belanda merekrut prajurit dari wilayah lain yang belum bersatu secara nasional untuk melawan saudara sebangsanya sendiri.

​Dibentuknya pasukan tentara resmi seperti KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger), yang mayoritas anggotanya justru adalah orang pribumi dari berbagai suku.

​3. Mengadu Domba Internal Kesultanan / Kerajaan

​Jika ada kerajaan lokal yang terlalu kuat dan mengancam kepentingan Belanda, mereka akan mencari celah konflik internal (biasanya perebutan takhta).
Belanda akan mendukung salah satu kubu (biasanya kubu yang lebih lemah atau yang mau tunduk) untuk menggulingkan penguasa yang sah.

​Contoh Klasik :

Konflik di Kesultanan Banten antara Sultan Ageng Tirtayasa (anti-VOC) dan putranya, Sultan Haji (didukung VOC). Akibat adu domba ini, Banten akhirnya jatuh ke tangan VOC.

​4. Segmentasi Sosial dan Rasial

​Belanda membagi strata sosial masyarakat menjadi tiga golongan berdasarkan hukum (Regeeringsreglement 1854) :

​Golongan Eropa (Penjajah/Kasta Tertinggi)
​Golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab, India — sering kali ditaruh di posisi ekonomi strategis seperti penagih pajak, sehingga memicu kecemburuan sosial dari warga pribumi)
​Golongan Pribumi (Masyarakat lokal — kasta terendah)

​Dengan menciptakan sekat-sekat kelompok, organisasi, dan kelas sosial ini, masyarakat Indonesia saat itu disibukkan oleh konflik horizontal (antar sesama warga) sehingga energi mereka habis sebelum sempat bersatu untuk melawan penjajah (konflik vertikal).

Strategi ini dipakai lagi oleh penguasa, perusahaan2 dan sekelompok orang untuk menguasai kepentingan2 politik dan kepentingan pribadinya saat ini...

Source : Jeda Waktu

JEDA WAKTU

Address

Jalan Prof. M. Yamin No. 36
Kendari
93114

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JEDA WAKTU posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share