24/06/2026
Strategi Divide et Impera atau Politik Pecah Belah
Pemerintah kolonial Belanda (baik era VOC maupun Hindia Belanda) sangat menyadari bahwa jumlah personel mereka jauh lebih sedikit dibandingkan total populasi pribumi.
Oleh karena itu, untuk menjaga stabilitas kekuasaan dan melindungi kepentingan ekonomi mereka, mereka menggunakan taktik adu domba ini.
Berikut adalah beberapa cara bagaimana teknik ini diterapkan pada masa kolonial :
1. Memanfaatkan dan Membentuk Kelompok Lokal
Belanda sering kali mendekati atau membentuk kelompok-kelompok tertentu di kalangan pribumi.
Mereka merangkul para bangsawan (birokrasi pangeran/raja) melalui sistem Binnenlands Bestuur (pemerintahan kolonial) dan Inlands Bestuur (pemerintahan pribumi).
Para penguasa lokal yang mau bekerja sama diberi posisi, hak istimewa, dan persenjataan untuk memimpin kelompok atau pasukan lokal guna melindungi aset-aset Belanda.
2. Memperalat Orang Lokal sebagai Tentara Kontra-Pemberontakan
Untuk memadamkan perlawanan di suatu daerah, Belanda hampir selalu menggunakan tentara bayaran atau milisi yang direkrut dari daerah lain (orang lokal diadu sesama orang lokal).
Sebagai contoh:
Dalam Perang Saparua, Perang Padri, atau Perang Diponegoro, Belanda merekrut prajurit dari wilayah lain yang belum bersatu secara nasional untuk melawan saudara sebangsanya sendiri.
Dibentuknya pasukan tentara resmi seperti KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger), yang mayoritas anggotanya justru adalah orang pribumi dari berbagai suku.
3. Mengadu Domba Internal Kesultanan / Kerajaan
Jika ada kerajaan lokal yang terlalu kuat dan mengancam kepentingan Belanda, mereka akan mencari celah konflik internal (biasanya perebutan takhta).
Belanda akan mendukung salah satu kubu (biasanya kubu yang lebih lemah atau yang mau tunduk) untuk menggulingkan penguasa yang sah.
Contoh Klasik :
Konflik di Kesultanan Banten antara Sultan Ageng Tirtayasa (anti-VOC) dan putranya, Sultan Haji (didukung VOC). Akibat adu domba ini, Banten akhirnya jatuh ke tangan VOC.
4. Segmentasi Sosial dan Rasial
Belanda membagi strata sosial masyarakat menjadi tiga golongan berdasarkan hukum (Regeeringsreglement 1854) :
Golongan Eropa (Penjajah/Kasta Tertinggi)
Golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab, India — sering kali ditaruh di posisi ekonomi strategis seperti penagih pajak, sehingga memicu kecemburuan sosial dari warga pribumi)
Golongan Pribumi (Masyarakat lokal — kasta terendah)
Dengan menciptakan sekat-sekat kelompok, organisasi, dan kelas sosial ini, masyarakat Indonesia saat itu disibukkan oleh konflik horizontal (antar sesama warga) sehingga energi mereka habis sebelum sempat bersatu untuk melawan penjajah (konflik vertikal).
Strategi ini dipakai lagi oleh penguasa, perusahaan2 dan sekelompok orang untuk menguasai kepentingan2 politik dan kepentingan pribadinya saat ini...
Source : Jeda Waktu
JEDA WAKTU