Teman Surga Kendari

Teman Surga Kendari -seruanbareng , komunitas

RAMADHAN SEGERA BERAKHIRBuletin Teman Surga Edisi  #302 (Ramadhan 1447 / Maret 2026)Rasanya baru kemarin kita menyambut ...
16/03/2026

RAMADHAN SEGERA BERAKHIR

Buletin Teman Surga Edisi #302 (Ramadhan 1447 / Maret 2026)

Rasanya baru kemarin kita menyambut datangnya bulan suci. Sambutan Ahlan wa Sahlan Ya Ramadan meramaikan linimasa sosial media. Baru kemarin sahur pertama terasa begitu antusias dan penuh keseruan. Alarm berbunyi lebih awal dari biasanya, dapur mulai hidup, dan suasana subuh terasa berbeda.

Masjid ramai, suara tadarus terdengar di mana-mana, dan banyak orang memulai Ramadan dengan semangat baru. Banyak yang bikin target pribadi: ingin lebih rajin salat berjamaah, ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an, ingin memperbaiki diri selama satu bulan penuh.

Dan hasilnya, hari-hari awal Ramadan terasa spesial. Tarawih penuh. Saf salat sampai ke halaman masjid. Tadarus jadi kegiatan rutin. Suasana ibadah terasa hidup di mana-mana. Banyak orang merasa Ramadan adalah momen terbaik untuk memulai perubahan.

Namun Ramadan selalu punya satu sifat yang sama setiap tahun: ia datang dengan penuh harapan, lalu pergi meninggalkan banyak kenangan dan penyesalan.

Kini kita sudah berada di ujung Ramadan. Hari-harinya seperti berlari cepat. Tanpa kita sempat khatam baca Quran. Tiba-tiba saja kalender menunjukkan bahwa bulan mulia ini tinggal hitungan malam.

Ya. Beberapa malam lagi… Ramadan akan pergi.

# Ramadan di Ujung Waktu

Ada satu momen yang selalu terulang setiap tahun. Ketika Ramadan hampir selesai, suasana tiba-tiba berubah.

Di awal Ramadan, masjid penuh. Saf salat sampai ke halaman. Tadarus terdengar di mana-mana. Banyak orang pasang target: khatam Al-Qur’an, rajin tarawih, bangun malam, dan ingin jadi versi diri yang lebih baik.

Tapi begitu Ramadan masuk sepuluh hari terakhir, pemandangannya sering berubah.

Masjid mulai longgar. Sebaliknya… tempat lain justru makin ramai.

Timeline media sosial penuh dengan orang yang lagi war tiket mudik. Ada yang panik karena kursi kereta sudah habis, ada yang berburu promo tiket pesawat, ada juga yang begadang demi dapat kursi bus pulang kampung.

Di sisi lain, mall mulai penuh. Banyak orang sibuk berburu baju lebaran. Ada yang muter dari satu toko ke toko lain, ada yang scroll marketplace sampai tengah malam, takut kehabisan model yang lagi tren.

Lucunya, sebagian orang bahkan seperti melakukan “itikaf versi mall”. Berjam-jam di pusat perbelanjaan. Keliling lantai demi lantai. Fokusnya satu: mencari diskon terbesar.

Sementara masjid di dekat rumah… malah semakin sepi.

Belum lagi undangan buka bersama berdatangan dari mana-mana. Bukber teman sekolah. Bukber alumni. Bukber komunitas. Bukber teman nongkrong. Bahkan kadang jadwal bukber bisa lebih padat daripada jadwal kajian.

Tidak sedikit yang berbuka di restoran atau kafe sampai larut malam. Setelah itu pulang dalam keadaan kenyang dan capek. Tarawih lewat begitu saja.

Ironisnya, semua ini terjadi justru ketika Ramadan sedang berada di fase paling berharga, menjelang Ramadan berakhir.

# Saatnya Lebih Serius di Akhir Ramadan

Padahal, Rasulullah SAW justru menunjukkan kesungguhan yang lebih besar ketika Ramadan hampir selesai. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:

“Apabila sepuluh malam terakhir Ramadan tiba, Rasulullah ﷺ menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, ketika Ramadan memasuki fase akhir, Rasulullah SAW tidak santai. Beliau tidak menurunkan semangat ibadah. Justru sebaliknya, beliau semakin serius. Malam-malam dihidupkan dengan salat, doa, dan membaca Al-Qur’an. Bahkan keluarga beliau juga dibangunkan agar ikut merasakan suasana ibadah tersebut.

Para sahabat Nabi juga melakukan hal yang sama. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dikenal membangunkan keluarganya di malam-malam terakhir Ramadan agar mereka tidak melewatkan kesempatan beribadah. Mereka memahami bahwa malam-malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat berharga.

Suatu ketika Rasulullah pernah berkata, "Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW."

Kemudian seorang bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah SAW lalu menjawab, "Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan)." (Diriwayatkan dari Jabir).

Rasulullah SAW juga mengingatkan, "Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan." (HR Ibnu Abbas)

Semua itu menunjukkan satu hal: akhir Ramadan bukan waktu untuk santai. Justru inilah waktu untuk lebih serius berburu pahala.

# Ada Malam yang Nilainya Luar Biasa

Salah satu alasan mengapa sepuluh malam terakhir Ramadan begitu istimewa adalah karena di dalamnya ada Lailatul Qadar. Malam yang sangat mulia ini disebut langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam ibadah pada Lailatul Qadar memiliki nilai yang lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun.

Tidak heran jika Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencari malam tersebut pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena kita tidak tahu malam yang mana, para ulama menganjurkan agar seorang Muslim bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir. Dengan begitu peluang untuk mendapatkan Lailatul Qadar menjadi lebih besar.

Bayangkan jika seseorang bertemu dengan malam ini dalam keadaan beribadah. Satu malam saja bisa bernilai seperti ibadah selama puluhan tahun. Ini adalah kesempatan yang luar biasa yang mungkin tidak datang dua kali.

# Sebelum Ramadan Pergi

Ramadan memang segera berakhir. Bulan yang penuh keberkahan ini akan pergi seperti tamu yang meninggalkan rumah setelah memberikan banyak hadiah.

Yang menjadi pertanyaan bukanlah apakah Ramadan akan berakhir. Itu sudah pasti. Yang lebih penting adalah: apa yang kita lakukan sebelum Ramadan benar-benar pergi?

Masih ada beberapa malam tersisa. Masih ada kesempatan untuk membaca Al-Qur’an lebih banyak. Masih ada waktu untuk memperbanyak doa. Masih ada peluang untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Siapa tahu justru di salah satu malam terakhir itu Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik daripada puluhan tahun ibadah.

Karena itu jangan biarkan Ramadan pergi begitu saja. Bisa jadi satu malam yang kita hidupkan dengan ibadah di penghujung Ramadan akan menjadi malam yang mengubah hidup kita selamanya.

Manfaatkan sisa malam yang ada. Perbanyak ibadah. Perbanyak doa. Dekatkan diri kepada Allah dengan beritikaf. Gass poll! []

16/03/2026

RAMADHAN ANTI REBAHAN

Buletin Teman Surga Edisi #301 (Ramadhan 1447 / Maret 2026)

Saat Ramadan datang. Notifikasi grup keluarga rame. Timeline penuh ucapan “Marhaban ya Ramadan”. Minggu pertama? Semangatnya kayak mau lomba. Sahur bangun sebelum alarm teriak. Tarawih shaf makmum paling depan. Story Instagram: “Bismillah sebulan full power.”

Masuk minggu kedua. Mulai terasa. Kepala agak berat. Siang makin panjang. Tugas sekolah numpuk. Notifikasi game manggil. Scroll TikTok niatnya lima menit, tahu-tahu setengah jam hilang tanpa jejak. Siang jadi ajang tidur nasional. Sore jadi festival ngabuburit. Malam jadi panggung foto-foto tarawih yang estetik.

Vibes puasa Ramadannya dapat. Tapi produktifitasnya, kok malah mager ya. Banyak yang merasa wajar. Seolah puasa memang identik dengan lemes. Seolah Ramadan adalah bulan slow motion. Padahal kalau kita buka lembaran sejarah Islam, Ramadan justru bulan paling “amazing”. Bulan yang melahirkan keberanian, kemenangan, dan lonjakan ilmu. Nggak ada cerita puasa tak berdaya.

# Bukan Bulan Mati Gaya

Tanggal 17 Ramadan tahun 2 Hijriah (13 Maret 624). Padang pasir Badar jadi saksi peristiwa spektakuler dalam sejarah peradaban Islam. Pas**an kaum Muslimin yang dipimpin Rasulullah saw jumlahnya sekitar 313 orang berhadapan dengan pas**an Quraisy yang jumlahnya 3 kali lipat lebih banyak dan lebih lengkap persenjataannya.

Dan iya, mereka sedang puasa. Coba bayangin. Cuaca panas. Perut kosong. Haus. Jumlah pas**an minim. Secara logika dunia, ini misi bunuh diri. Tapi secara iman? Ini pembuktian.

Mereka nggak bilang, “Ya Rasulullah, kayaknya nunggu Syawal aja deh.” Mereka nggak bilang, “Puasa dulu, fokus ibadah aja.” Justru Ramadan jadi momentum menunjukkan kualitas iman.

Perang Badar bukan sekadar perang fisik. Itu deklarasi bahwa iman bukan teori. Iman itu aksi. Dan aksi itu butuh keberanian. Dan hasilnya, kemenangan besar diraih umat Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah. Maka bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur.” (TQS. Ali Imran: 123)

Beberapa tahun setelahnya, di bulan yang sama, terjadi peristiwa yang jauh lebih besar. 20 Ramadan tahun 8 Hijriah. Kota Makkah yang penduduknya dulu mengusir Nabi, memusuhi dakwah, bahkan ada yang merencanakan pembunuhan, akhirnya ditaklukkan tanpa balas dendam. Peristiwa itu dikenal sebagai Fathu Makkah.

Tidak ada pembantaian massal. Tidak ada dendam dibalas amarah membuncah. Yang ada justru pemaafan dan kemuliaan akhlak. Ramadan bukan cuma bulan nahan lapar. Ramadan adalah bulan kemenangan peradaban.

Sekarang bandingkan dengan kita. Baru jam 11 siang, mood udah turun. Baru haus sedikit, mulai cranky. Baru disuruh bantu orang tua, jawabnya, “Lagi puasa, capek.”

Padahal generasi sahabat berpuasa sambil menghadapi risiko kehilangan nyawa.

Mungkin masalah kita bukan energi. Tapi standar kenyamanan yang terlalu tinggi. Kita terlalu terbiasa hidup tanpa tekanan. Begitu sedikit nggak nyaman, langsung cari tempat untuk rebahan. Begitu sedikit lelah, langsung cari alasan.

Padahal Ramadan itu training camp. Kalau atlet punya masa karantina sebelum tanding, Ramadan adalah karantina ruhiyah sebelum kita menghadapi 11 bulan berikutnya. Bukan bulan mati gaya.

# Teladan Islam Nggak Pernah Libur Saat Ramadan

Kalau para sahabat produktif di medan perjuangan, para ulama dan ilmuwan nggak kalah produktifnya di medan ilmu.

Coba lihat sosok Imam Syafi'i. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau bisa mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali di bulan Ramadan. Bahkan ada yang menyebut sampai puluhan kali. Tapi itu bukan berarti beliau berhenti mengajar. Beliau tetap membina murid, tetap berdiskusi, tetap menyusun fondasi keilmuan yang sampai sekarang masih dipakai.

Al-Khawarizmi, yang dikenal sebagai bapak aljabar. Dari namanya lahir istilah “algorithm” yang sekarang jadi jantung dunia teknologi dan coding. Bayangin, tanpa konsep yang beliau kembangkan, mungkin kamu nggak akan kenal yang namanya aplikasi, AI, atau sistem komputer modern. Dan beliau tetap meneliti serta mengembangkan ilmu, termasuk di bulan Ramadan. Puasa nggak bikin otaknya ikut puasa.

Ramadan bagi mereka bukan alasan untuk slow. Justru jadi musim percepatan. Jadi Ramadan bukan tombol “pause”, tapi tombol “upgrade”.

Nggak heran kalo di masa Kekhalifahan Abbasiyah, budaya ilmu berkembang luar biasa. Tradisi membaca, menulis, meneliti, dan berdiskusi tumbuh subur. Spirit ibadah tidak membuat umat Islam tertinggal secara intelektual. Justru sebaliknya. Ruhiyah yang kuat melahirkan peradaban yang hebat.

Lantas, bagaimana dengan kita saat ini. Sekarang kita jujur saja. Target Ramadan kita apa? Khatam 30 juz? Atau khatam 30 episode?

Alarm sahur bunyi. Bangun buat makan? Bisa. Bangun buat tahajud? Beratnya kayak angkat galon. Tarawih? Bolong-bolong kayak jaring ikan.

Siang hari, niatnya mau baca Qur’an. Eh, malah kebawa scroll. Satu video. Lanjut. Lanjut. Lanjut. Tiba-tiba azan asar.

Masalahnya bukan kita nggak punya waktu. Karena kita punya 24 jam yang sama dengan generasi terbaik. Juga bukan kita nggak punya energi. Karena kita masih bisa main game berjam-jam kok. Masalahnya: kita bocor fokus.

Puasa itu harusnya bikin kita lebih sadar diri. Lebih terkontrol. Lebih fokus. Karena saat kita bisa menahan lapar dan haus, sebenarnya kita sedang melatih satu hal penting: pengendalian diri yang berbanding lurus dengan perang melawan rasa malas.

# Saatnya Naik Level

Ramadan Anti Rebahan bukan berarti anti istirahat. Islam nggak pernah menyuruh kita menyiksa diri. Tubuh tetap butuh jeda. Tapi beda antara istirahat dengan kemalasan yang dibungkus alasan.

Anti Rebahan itu artinya anti mental “nanti aja”. Nanti baca Qur’annya. Nanti bantu orang tuanya. Nanti tobatnya. Nanti berubahnya. Padahal kita nggak pernah tahu Ramadan mana yang terakhir kita jalani.

Coba ubah mindset. Ramadan itu bukan sekadar bertahan sampai magrib. Ramadan itu tentang perubahan diri sebelum takbiran idul fitri.

Praktisnya gimana? Mulai dari yang sederhana tapi konsisten. Pasang target tilawah harian yang realistis. Kurangi screen time, bukan cuma kuotanya tapi juga niat scroll tanpa arah. Ikut kajian atau mentoring biar iman nggak naik-turun sendirian. Bantu orang tua lebih aktif tanpa disuruh. Ajak teman tarawih, bukan cuma ajak mabar.

Generasi sahabat menjadikan Ramadan sebagai lonjakan sejarah. Ulama menjadikannya sebagai lonjakan ilmu.

Jangan sampai kita menjadikan Ramadan sebagai bulan mager. Karena jujur saja, dunia hari ini butuh generasi yang tahan godaan, tahan tekanan, dan arah hidup yang punya tujuan.

Ramadan Anti Rebahan bukan slogan biar kelihatan keren. Ini pilihan. Pilihan untuk nggak kalah sama rasa malas. Pilihan untuk nggak kalah sama scroll. Pilihan untuk menjadikan iman sebagai energi, bukan cuma identitas.

Karena pada akhirnya, yang kita rayakan di hari kemenangan bukan cuma baju baru. Tapi versi baru dari diri kita.

Kalau Ramadan ini berlalu dan kita masih sama seperti sebelumnya, berarti yang berubah cuma kalender. Receh.

Selagi Ramadan masih kita jalanin, ayo manfaatkan sebaik mungkin. Ingat nasihat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Jawaabul Kaafi karya imam Ibnul Qayim rahimahullahu, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”.

Mari jadikan Ramadan ini lebih disiplin, lebih peduli, lebih kuat nahan diri, dan lebih semangat ibadah, agar kita benar-benar jadi pemenang. Serta menjadi bagian dari generasi perubahan. Bukan remaja tukang rebahan. Gas! []

15/02/2026

Title: RAMADHAN TAJALLA Voc: Yusuf Al Lampungi - Miftah Faridl - Adzando Davema - Ahmad Widani Ex. Producer: Rizal LatiefMixing & Mastering: Abie RadheaArran...

14/02/2026
SMAN 12 KENDARI EVENT 👍Mohon tidak usah merayakan Valentine's day, Respectlah sama yang Jomblo 💔No Valentine's day Stop ...
14/02/2026

SMAN 12 KENDARI EVENT 👍

Mohon tidak usah merayakan Valentine's day,
Respectlah sama yang Jomblo 💔

No Valentine's day
Stop Valentine's day

Yuk hadir dan ramaikan..!!!Sahabat Gen'Z pada belum Nyadar juga soal fakta Valentines Day ....,Segera nyadar sebelum tel...
13/02/2026

Yuk hadir dan ramaikan..!!!

Sahabat Gen'Z pada belum Nyadar juga soal fakta Valentines Day ....,

Segera nyadar sebelum telat yaa guys....

*_Assala'amualaykum warahmatullahi wabarakaatuh...👋👋👋_*Sahabat Teman Surga Kendari *_Yuk Kita Belajar Mencintai Al-Qur’a...
05/02/2026

*_Assala'amualaykum warahmatullahi wabarakaatuh...👋👋👋_*

Sahabat Teman Surga Kendari *_Yuk Kita Belajar Mencintai Al-Qur’an_* dengan mempelajarinya, 💛📖

*_Tenang aja gak perlu malu belajar, meski dari dasar, karena disini Emang tempat buat belajar dari dasar sampai lancar baca Qur’an sobat_*

🕗 Setiap Jum'at (malam sabtu)
Jam 20.00_selesai

Masjid Al-Hijrah Jl. Kancil Kambu Kota Kendari
https://maps.app.goo.gl/p5sLkQWHK5PBNxf97

*RAMADHAN, COMING SOON!*_Buletin Teman Surga Edisi  #296 (Syaban 1447 / Januari 2026)_https://buletintemansurga.com/bule...
26/01/2026

*RAMADHAN, COMING SOON!*

_Buletin Teman Surga Edisi #296 (Syaban 1447 / Januari 2026)_

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-296-ramadhan-coming-soon/

Ramadhan itu selalu datang tiap tahun. Tapi jujur aja, nggak semua orang benar-benar siap. Banyak remaja yang tiap Ramadhan selalu bilang hal yang sama, “Kok cepet lemes ya?”, “Baru puasa udah emosi”, atau “Semangatnya cuma di awal doang.” Padahal Ramadhan bukan bulan dadakan. Datangnya bisa ditebak. Yang sering nggak siap itu justru kitanya.

Sekarang kita sudah masuk bulan Sya’ban. Bulan yang sering lewat gitu aja. Nggak serame Ramadhan, nggak seheboh Idul Fitri. Tapi justru di situlah masalahnya. Banyak yang nganggep Sya’ban itu bulan biasa. Padahal Sya’ban itu kayak alarm yang bunyinya pelan tapi penting. Ngasih tanda, “Eh, Ramadhan sebentar lagi.”

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana puasamu pada bulan Sya’ban.”

Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amat s**a saat amalanku dinaikkan aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Al Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Nggak heran kalo Rasulullah SAW justru banyak beribadah di bulan ini. Artinya jelas: sebelum Ramadhan datang, beliau sudah siap duluan. Bukan nunggu Ramadhan baru gas ibadah. Ini penting banget buat remaja yang hidupnya sekarang penuh distraksi. HP, scroll, tugas, drama, semua rebutan perhatian.

Sya’ban itu bukan bulan santai. Sya’ban itu waktu berbenah. Waktu buat ngerapiin diri sebelum Ramadhan datang. Karena Ramadhan itu tamu mulia. Masa iya kita sambut tamu spesial tapi rumah masih berantakan?

* # Ramadhan Aman Kalau Kamu Siap*

Banyak orang berharap Ramadhan bakal otomatis bikin hidupnya berubah. Jadi lebih rajin, lebih sabar, lebih islami. Tapi realitanya, Ramadhan nggak kerja kayak sulap. Ramadhan itu bisa jadi seperti cermin. Cuma “nampilin” kebiasaan kita selama ini.

Kalau sebelum Ramadhan kamu terbiasa nunda shalat, ya di Ramadhan godaannya bakal lebih berat. Kalau sebelumnya gampang emosi, pas puasa bakal lebih kerasa. Makanya banyak yang akhirnya “kaget”. Baru hari keberapa, udah capek mental.

Padahal masalahnya bukan Ramadhan yang berat. Tapi kita datang tanpa persiapan. Sama kayak ujian. Kalau belajar dari jauh hari, ujian terasa lebih ringan. Tapi kalau baru buka buku H-1, malamnya belajar pakai jurus SKS alias sistem kebut semalam, jangan heran kalau panik sendiri.

Sya’ban itu kesempatan buat nyicil kesiapan. Nggak perlu langsung berubah drastis. Cukup mulai sadar. Sadar kalau Ramadhan itu mahal. Sadar kalau perubahan nggak datang dari niat doang, tapi dari kebiasaan baik kecil yang dijagain.

Kalau hari ini kamu mulai latihan shalat tepat waktu, Ramadhan nanti nggak bakal terlalu kaget. Kalau hari ini kamu mulai jaga ucapan, puasa nanti nggak terasa menyiksa. Kalo selama bulan Sya’ban kamu biasakan puasa sunah, insya Allah puasa Ramadhan aman. Pelan-pelan, tapi jalan.

* # Utang Puasa: Jangan Dibawa ke Ramadhan Lagi*

Ngomongin persiapan Ramadhan, ada satu hal penting yang sering banget kelupaan: utang puasa. Banyak yang fokus nyusun target ibadah sunnah, tapi lupa kalau masih punya kewajiban yang belum beres.

Buat kamu yang akhwat, mungkin ada puasa yang tertinggal karena tamu bulanan. Itu hal yang wajar dan Allah Maha Tahu kondisi hamba-Nya. Tapi tetap aja, puasa yang tertinggal itu utang. Dan Sya’ban ini waktu yang pas banget buat mulai bayar, biar Ramadhan datang tanpa beban.

Buat kamu yang ikhwan, jujur aja, kadang ada juga puasa yang bolong karena lalai atau mokel. Nggak perlu pura-pura suci. Yang penting sekarang bukan nyari alasan, tapi berani beresin tanggung jawab. Allah nggak nunggu kita sempurna. Allah nunggu kita mau balik dan benerin.

Masuk Ramadhan tapi masih nyimpen utang itu rasanya kayak mau start lomba tapi tas masih penuh beban. Berat. Nggak nyaman. Padahal Ramadhan itu harusnya jadi momen terbaik.

Beresin utang puasa bukan cuma soal aturan. Tapi soal mental siap. Siap menyambut bulan rahmah dengan hati yang lebih lega.

* # Siap Itu Lebih Penting dari Heboh*

Ramadhan pasti datang. Dan cepat atau lambat, pasti pergi. Yang bikin beda tiap orang bukan berapa lama puasanya, tapi apa yang tersisa setelah Ramadhan berlalu. Ada yang selesai Ramadhan hatinya lebih hidup. Ada juga yang selesai Ramadhan, ya gitu-gitu aja. Rutinitas lewat, tapi perubahan nggak ikut.

Sya’ban ngasih kita jeda buat berhenti sebentar. Bukan buat panik, tapi buat jujur. Nengok ke diri sendiri. Nanya pelan-pelan, “Selama ini gue hidup ke mana sih arahnya?” Beresin yang ketunda. Benerin yang keliru. Bukan buat jadi sempurna, tapi buat jadi lebih siap.

Salah satu bentuk kesiapan yang sering diremehin adalah ngaji. Bukan sekadar baca Al-Qur’an, tapi belajar Islam lebih dalam. Karena jujur aja, Ramadhan tanpa ilmu itu seringnya cuma jadi rutinitas. Puasa jalan, tarawih jalan, tapi maknanya nggak nyampe ke hati. Datang dan pergi, tanpa benar-benar ninggalin bekas.

Ngaji bikin Ramadhan beda. Kamu jadi tahu kenapa puasa itu penting, bukan cuma apa yang harus ditahan. Kamu ngerti makna sabar, bukan cuma ngerasain lapar. Kamu paham arah hidup, bukan cuma ngejar vibes Ramadhan sesaat. Dan itu nggak bisa didapetin kalau kita cuma aktif sebulan doang.

Makanya persiapan Ramadhan itu bukan cuma soal jadwal ibadah, tapi juga soal ngisi kepala dan hati. Mulai ngaji dari sekarang, walau pelan. Biar pas Ramadhan datang, kamu nggak cuma ikut arus, tapi benar-benar sadar sedang ada di bulan istimewa.

Dan yang lebih penting, jangan berhenti di Ramadhan. Karena Islam bukan agama musiman. Ngaji sebelum Ramadhan bikin kita siap. Ngaji saat Ramadhan bikin ibadah lebih hidup. Ngaji setelah Ramadhan bikin perubahan tetap bertahan.

Semoga Ramadhan kali ini datang saat hati kita nggak lagi cuek. Saat kewajiban sudah diberesin. Saat niat sudah diluruskan. Dan saat kita benar-benar pengin dekat sama Allah, bukan cuma pas momen tertentu.

Karena Ramadhan bukan cuma bulan puasa. Ia adalah bulan rahmah. Dan rahmat Allah paling terasa buat mereka yang menyiapkan diri dengan ilmu, kesadaran, dan kemauan untuk terus belajar.

Ramadhan is coming soon. Yok kita siap-siap. Gas! []

26/01/2026

RAMADHAN, COMING SOON!

Buletin Teman Surga Edisi #296 (Syaban 1447 / Januari 2026)

Ramadhan itu selalu datang tiap tahun. Tapi jujur aja, nggak semua orang benar-benar siap. Banyak remaja yang tiap Ramadhan selalu bilang hal yang sama, “Kok cepet lemes ya?”, “Baru puasa udah emosi”, atau “Semangatnya cuma di awal doang.” Padahal Ramadhan bukan bulan dadakan. Datangnya bisa ditebak. Yang sering nggak siap itu justru kitanya.

Sekarang kita sudah masuk bulan Sya’ban. Bulan yang sering lewat gitu aja. Nggak serame Ramadhan, nggak seheboh Idul Fitri. Tapi justru di situlah masalahnya. Banyak yang nganggep Sya’ban itu bulan biasa. Padahal Sya’ban itu kayak alarm yang bunyinya pelan tapi penting. Ngasih tanda, “Eh, Ramadhan sebentar lagi.”

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana puasamu pada bulan Sya’ban.”

Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amat s**a saat amalanku dinaikkan aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Al Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Nggak heran kalo Rasulullah SAW justru banyak beribadah di bulan ini. Artinya jelas: sebelum Ramadhan datang, beliau sudah siap duluan. Bukan nunggu Ramadhan baru gas ibadah. Ini penting banget buat remaja yang hidupnya sekarang penuh distraksi. HP, scroll, tugas, drama, semua rebutan perhatian.

Sya’ban itu bukan bulan santai. Sya’ban itu waktu berbenah. Waktu buat ngerapiin diri sebelum Ramadhan datang. Karena Ramadhan itu tamu mulia. Masa iya kita sambut tamu spesial tapi rumah masih berantakan?

# Ramadhan Aman Kalau Kamu Siap

Banyak orang berharap Ramadhan bakal otomatis bikin hidupnya berubah. Jadi lebih rajin, lebih sabar, lebih islami. Tapi realitanya, Ramadhan nggak kerja kayak sulap. Ramadhan itu bisa jadi seperti cermin. Cuma “nampilin” kebiasaan kita selama ini.

Kalau sebelum Ramadhan kamu terbiasa nunda shalat, ya di Ramadhan godaannya bakal lebih berat. Kalau sebelumnya gampang emosi, pas puasa bakal lebih kerasa. Makanya banyak yang akhirnya “kaget”. Baru hari keberapa, udah capek mental.

Padahal masalahnya bukan Ramadhan yang berat. Tapi kita datang tanpa persiapan. Sama kayak ujian. Kalau belajar dari jauh hari, ujian terasa lebih ringan. Tapi kalau baru buka buku H-1, malamnya belajar pakai jurus SKS alias sistem kebut semalam, jangan heran kalau panik sendiri.

Sya’ban itu kesempatan buat nyicil kesiapan. Nggak perlu langsung berubah drastis. Cukup mulai sadar. Sadar kalau Ramadhan itu mahal. Sadar kalau perubahan nggak datang dari niat doang, tapi dari kebiasaan baik kecil yang dijagain.

Kalau hari ini kamu mulai latihan shalat tepat waktu, Ramadhan nanti nggak bakal terlalu kaget. Kalau hari ini kamu mulai jaga ucapan, puasa nanti nggak terasa menyiksa. Kalo selama bulan Sya’ban kamu biasakan puasa sunah, insya Allah puasa Ramadhan aman. Pelan-pelan, tapi jalan.

# Utang Puasa: Jangan Dibawa ke Ramadhan Lagi

Ngomongin persiapan Ramadhan, ada satu hal penting yang sering banget kelupaan: utang puasa. Banyak yang fokus nyusun target ibadah sunnah, tapi lupa kalau masih punya kewajiban yang belum beres.

Buat kamu yang akhwat, mungkin ada puasa yang tertinggal karena tamu bulanan. Itu hal yang wajar dan Allah Maha Tahu kondisi hamba-Nya. Tapi tetap aja, puasa yang tertinggal itu utang. Dan Sya’ban ini waktu yang pas banget buat mulai bayar, biar Ramadhan datang tanpa beban.

Buat kamu yang ikhwan, jujur aja, kadang ada juga puasa yang bolong karena lalai atau mokel. Nggak perlu pura-pura suci. Yang penting sekarang bukan nyari alasan, tapi berani beresin tanggung jawab. Allah nggak nunggu kita sempurna. Allah nunggu kita mau balik dan benerin.

Masuk Ramadhan tapi masih nyimpen utang itu rasanya kayak mau start lomba tapi tas masih penuh beban. Berat. Nggak nyaman. Padahal Ramadhan itu harusnya jadi momen terbaik.

Beresin utang puasa bukan cuma soal aturan. Tapi soal mental siap. Siap menyambut bulan rahmah dengan hati yang lebih lega.

# Siap Itu Lebih Penting dari Heboh

Ramadhan pasti datang. Dan cepat atau lambat, pasti pergi. Yang bikin beda tiap orang bukan berapa lama puasanya, tapi apa yang tersisa setelah Ramadhan berlalu. Ada yang selesai Ramadhan hatinya lebih hidup. Ada juga yang selesai Ramadhan, ya gitu-gitu aja. Rutinitas lewat, tapi perubahan nggak ikut.

Sya’ban ngasih kita jeda buat berhenti sebentar. Bukan buat panik, tapi buat jujur. Nengok ke diri sendiri. Nanya pelan-pelan, “Selama ini gue hidup ke mana sih arahnya?” Beresin yang ketunda. Benerin yang keliru. Bukan buat jadi sempurna, tapi buat jadi lebih siap.

Salah satu bentuk kesiapan yang sering diremehin adalah ngaji. Bukan sekadar baca Al-Qur’an, tapi belajar Islam lebih dalam. Karena jujur aja, Ramadhan tanpa ilmu itu seringnya cuma jadi rutinitas. Puasa jalan, tarawih jalan, tapi maknanya nggak nyampe ke hati. Datang dan pergi, tanpa benar-benar ninggalin bekas.

Ngaji bikin Ramadhan beda. Kamu jadi tahu kenapa puasa itu penting, bukan cuma apa yang harus ditahan. Kamu ngerti makna sabar, bukan cuma ngerasain lapar. Kamu paham arah hidup, bukan cuma ngejar vibes Ramadhan sesaat. Dan itu nggak bisa didapetin kalau kita cuma aktif sebulan doang.

Makanya persiapan Ramadhan itu bukan cuma soal jadwal ibadah, tapi juga soal ngisi kepala dan hati. Mulai ngaji dari sekarang, walau pelan. Biar pas Ramadhan datang, kamu nggak cuma ikut arus, tapi benar-benar sadar sedang ada di bulan istimewa.

Dan yang lebih penting, jangan berhenti di Ramadhan. Karena Islam bukan agama musiman. Ngaji sebelum Ramadhan bikin kita siap. Ngaji saat Ramadhan bikin ibadah lebih hidup. Ngaji setelah Ramadhan bikin perubahan tetap bertahan.

Semoga Ramadhan kali ini datang saat hati kita nggak lagi cuek. Saat kewajiban sudah diberesin. Saat niat sudah diluruskan. Dan saat kita benar-benar pengin dekat sama Allah, bukan cuma pas momen tertentu.

Karena Ramadhan bukan cuma bulan puasa. Ia adalah bulan rahmah. Dan rahmat Allah paling terasa buat mereka yang menyiapkan diri dengan ilmu, kesadaran, dan kemauan untuk terus belajar.

Ramadhan is coming soon. Yok kita siap-siap. Gas! []

22/01/2026

AMBIL KENDALI MASA DEPANMU

Buletin Teman Surga Edisi #295 (Rajab 1447 / Januari 2026)

Libur akhir tahun akhirnya resmi tamat. Alarm yang sempat kamu matiin berkali-kali sekarang bunyi lagi tanpa kompromi. Bangun pagi jadi perjuangan. Seragam yang kemarin cuma jadi pajangan lemari sekarang kembali dipakai. Jalanan pagi penuh wajah pelajar yang masih setengah sadar, setengah nyesel kenapa liburan harus berakhir.

Sekolah mulai lagi. Rutinitas balik lagi. Tapi jujur aja, yang sering kejadian itu cuma jadwal yang berubah, bukan cara hidup. Badan kamu udah duduk di kelas, tapi pikiran masih kebawa suasana liburan. Masih pengen santai. Masih pengen nunda. Masih mikir, “jalanin aja dulu.”

Padahal momen masuk sekolah setelah liburan itu bukan sekadar transisi waktu. Itu momen penting buat nentuin arah. Dan di titik ini, ada satu pertanyaan yang jarang banget ditanya remaja ke dirinya sendiri: siapa yang sebenernya lagi ngatur hidup gue sekarang?

# Liburan Boleh, Tapi Jangan Sampai Lepas Kendali

Liburan itu wajar. Istirahat itu perlu. Tapi yang sering kejadian, libur panjang malah bikin remaja kehilangan ritme hidup. Jam tidur acak-acakan. Waktu kebuang buat hal yang sebenernya gak ngasih nilai. Scroll lama, tapi kosong. Nongkrong sering, tapi gak tumbuh.

Awalnya santai. Lama-lama jadi kebiasaan. Dan pas sekolah mulai lagi, kebiasaan itu kebawa. Bangun males. Fokus gampang buyar. Ngerjain tugas nunggu mepet. Hidup dijalani sekadar “yang penting jalan.”

Padahal masa depan jarang hancur gara-gara satu kesalahan gede. Biasanya rusak pelan-pelan gara-gara hal kecil yang diulang terus: 1) nunda hari ini, 2) lalai besok, 3) nyaman lusa, 4) dan terus berulang

Sampai suatu hari sadar, waktu udah jauh jalan, tapi kamu gak kemana-mana.

Allah SWT sebenarnya udah ngasih peringatan keras tapi elegan. Bukan pakai nada marah, tapi pakai kalimat yang bikin kita mikir lama. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini kelihatannya simpel. Gak pakai istilah ribet. Gak panjang. Tapi justru di situ letak “tamparannya”. Karena ayat ini langsung motong satu kebiasaan remaja yang paling sering kita lakuin: nunggu hidup berubah dulu, baru kita mau berubah.

Banyak dari kita pengen nilai naik, tapi masih males belajar. Pengen hidup lebih terarah, tapi kebiasaan lama masih dipeluk erat. Pengen masa depan cerah, tapi hari ini masih santai tanpa arah. Kita sering nunggu kondisi ideal datang dulu, nunggu mood bagus, nunggu disemangatin, nunggu keadaan mendukung, padahal Allah justru bilang sebaliknya.

Hidup kamu gak akan otomatis berubah Kalau kebiasaan kamu masih sama, cara mikir kamu masih sama, pilihan kamu masih sama, maka hasilnya juga bakal sama. Mungkin kelihatan sibuk, tapi sebenarnya muter di tempat yang sama.

Ayat ini juga ngajarin satu hal penting yang sering kita hindari: tanggung jawab pribadi. Bahwa hidup kamu bukan sepenuhnya salah lingkungan. Bukan sepenuhnya salah keadaan. Bukan sepenuhnya salah orang lain. Ada bagian besar yang ada di tangan kamu sendiri.

Dan jujur aja, ini gak nyaman. Karena lebih enak nyalahin keadaan daripada ngaca ke diri sendiri. Tapi justru di situ letak kedewasaan. Di saat kamu berani bilang, “Oke, ini hidup gue. Kalau mau berubah, gue harus mulai dulu berubah.”

Karena pada akhirnya, Allah sudah janji: perubahan itu pasti datang. Tapi kuncinya ada di tangan kamu.

# Ambil Kendali Itu Bukan Soal Langsung Jadi Hebat

Kadang remaja gak mau mulai berubah karena mikirnya kejauhan. “Kalau ambil kendali, berarti harus langsung rajin, pinter, alim.” Akhirnya berat di awal, terus gak mulai sama sekali. Jalan di tempat.

Padahal ambil kendali itu bukan soal langsung kelihatan keren. Tapi soal berhenti nyerahin hidup ke keadaan.

Ambil kendali itu: 1) mulai mikir sebelum milih, 2) mulai sadar mana yang bikin maju, 3) mana yang bikin mandek, 3) mulai berani nolak hal yang kelihatannya seru tapi bikin jauh

Misalnya, kamu mulai ngatur waktu tidur biar gak kesiangan. Mulai ngurangin scroll yang gak jelas. Mulai milih temen yang ngajak berkembang, bukan cuma ketawa. Mulai jujur sama diri sendiri soal kebiasaan buruk.

Kelihatannya kecil. Tapi di situlah setir hidup kamu mulai balik ke tanganmu.

Allah SWT berfirman: “Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (TQS. Al-Muddatsir: 38)

Cepat atau lambat, hidup ini bakal dimintai pertanggungjawaban. Jadi mumpung masih di bangku sekolah, mumpung masih ada waktu, ambil alih dari sekarang.

Masuk sekolah setelah libur panjang itu kesempatan emas buat reset. Bukan cuma reset jadwal, tapi reset cara hidup. Jangan biarin tahun baru cuma ganti kalender, tapi kebiasaan lama masih dipelihara.

Kamu gak harus langsung jadi versi paling rapi dari dirimu. Gak harus langsung rajin maksimal, gak harus langsung ngerti semua jawaban hidup. Tapi ada satu hal yang gak bisa ditunda-tunda lagi: kamu harus mulai sadar. Karena jujur aja, masa depan itu gak peduli kamu siap atau belum. Dia jalan terus. Setiap hari. Setiap jam. Dan setiap hari yang kamu lewatin tanpa arah, itu satu langkah yang gak bisa diulang.

Makanya, pegang setir hidupmu. Walaupun tangan kamu masih gemetar, walaupun arahnya belum sepenuhnya jelas. Arahkan pelan-pelan. Jangan biarin hidup kamu cuma digerakkan dari luar, diseret jadwal, ditarik tren, dipaksa keadaan, atau dibelokin pergaulan. Karena hidup yang cuma reaktif itu capek, dan sering kali bikin nyesel di belakang.

Tapi ingat, megang kendali hidup itu gak cukup cuma dengan niat baik. Kamu perlu kompas. Kamu perlu arah yang benar. Dan di situlah Islam punya peran paling penting. Ngaji itu bukan sekadar kegiatan tambahan. Bukan cuma buat yang “pengen alim”. Ngaji adalah cara kamu belajar melihat hidup dengan benar. Cara kamu ngerti mana yang penting, mana yang cuma kelihatan penting. Cara kamu tahu ke mana hidup ini seharusnya dibawa.

Ketika kamu mulai konsisten ngaji (walaupun pelan, walaupun sedikit) sebenarnya kamu lagi belajar megang setir dengan benar. Kamu belajar mengenal Allah, mengenal tujuan hidup, dan mengenal batasan yang justru bikin hidupmu gak kebablasan. Dari situ, pilihan-pilihan kamu jadi lebih sadar. Bukan asal ikut. Bukan asal nyaman.

Karena masa depan yang gemilang (baik di dunia maupun di akhirat) gak lahir dari hidup yang dibiarkan mengalir. Ia lahir dari remaja yang mau belajar, mau ngerti Islam lebih dalam, dan mau menjadikan iman sebagai dasar setiap langkahnya. Dan semua itu selalu dimulai dari satu langkah sederhana: mulai ngaji, dan konsisten menjalaninya. Tanpa tapi, tanpa nanti, sampai mati. Yuk! []

Address

Kendari
Kendari

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Teman Surga Kendari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share