30/11/2013
:..merenung menelisik pekat nya embun pagi
tersirat sebuah ingatan
yang menenggelamkan penyesalan
itu kesudut terpeka,,,
penyesalan itu terasa begitu menggigit hati,
menghempaskan jiwa
bak perahu kecil ditengah ayunan ombak besar
ditengah lautan luas..
sedikit demi sedikit berhasil ku singkap
realita yang nyata terlihat tak tak lagi tertutup awan,
tak lagi terbungkus kabut
tak lagi tersimpan dlam manisnya gula
yang justru tersimpan kepahitan
dibalik manisnya yang tak terkira,
hal ini ibarat air kotor disisi badan jalan
yang dahulu biasa q injak
tanpa peduli kotornya air itu dapat meracuni kulit,
menggerogot dibalik aliran darah
yang menimbulkan luka berbekas
yang mengghitam tak mudah dihapus dari pandangan,,,
kini mataku terbuka dari semuanya
air disisi badan jalan tadi tak lagi ku injak
ternyata masih banyak jalan yang bisa kulewati
tanpa harus berkubang dalam kotornya air disisi badan jalan itu,,,,
baru kusadari semua nampak indah
kabut yang dahulu terasa enggan pergi
kini memilih pergi menyibak pemandangan dibaliknya
tersimpan awan biru, dan mentari yang tersenyum merekah menanti hari baru ku,,,
hazaana