13/07/2026
PAGAR MAHAL YANG MAKAN TANAMAN
Oleh: Rakyat yang Masih Waras
Setiap kebun membutuhkan pagar.
Bukan karena pagar itu indah.
Bukan p**a karena pagar memiliki nilai pada dirinya sendiri.
Pagar dibangun hanya untuk satu tujuan: menjaga tanaman.
Tanamanlah yang berharga.
Tanamanlah yang memberi kehidupan.
Tanamanlah alasan mengapa pagar itu didirikan.
Tanpa pagar, kebun bisa dimasuki hama, dirusak binatang, atau dijarah pencuri. Maka pemilik kebun rela mengeluarkan biaya untuk membangun pagar, dengan harapan tanaman dapat tumbuh, berbuah, dan memberi manfaat.
Begitu p**a sebuah negara.
Rakyat adalah tanaman.
Konstitusi adalah pagar.
Hukum adalah pagar.
Lembaga negara adalah pagar.
Pejabat publik adalah pagar.
Aparat penegak hukum adalah pagar.
Semuanya dibentuk untuk satu tujuan: melindungi rakyat dan menjaga kepentingan umum.
Menariknya, pagar di kebun tidak pernah meminta apa pun.
Ia tidak meminta gaji.
Tidak meminta rumah dinas.
Tidak meminta kendaraan dinas.
Tidak meminta tunjangan.
Tidak meminta perjalanan dinas.
Tidak meminta pengawalan.
Ia hanya berdiri menjalankan fungsinya.
Menjaga.
Sebaliknya, pagar dalam sebuah negara dibangun dengan biaya yang luar biasa besar.
Rakyat membayar pajak.
Dari pajak itu dibangun kantor-kantor megah.
Dibayar gaji.
Diberikan berbagai tunjangan.
Disediakan kendaraan dinas.
Rumah jabatan.
Fasilitas kesehatan.
Pengamanan.
Bahkan setelah tidak lagi menjabat, negara masih menyediakan berbagai hak.
Semua itu bukan hadiah.
Semua itu adalah investasi kepercayaan.
Rakyat rela membayar mahal karena percaya bahwa pagar yang kokoh akan melindungi kebun yang mereka miliki bersama.
Namun sejarah mengajarkan satu ironi yang pahit.
Ancaman terbesar sering kali bukan datang dari luar pagar.
Melainkan dari pagar itu sendiri.
Pepatah lama mengatakan, "pagar makan tanaman."
Betapa dahsyat makna kalimat sederhana itu.
Hama memang datang untuk merusak.
Pencuri memang datang untuk mengambil.
Mereka tidak pernah berjanji akan menjaga kebun.
Tetapi pagar dibangun justru untuk melindunginya.
Karena itu, ketika pagar mulai memakan tanaman, kerusakannya jauh lebih menyakitkan daripada serangan hama.
Yang dikhianati bukan hanya tanaman.
Yang dikhianati adalah kepercayaan.
Mungkin itulah sebabnya berita demi berita tentang korupsi selalu meninggalkan luka yang sama.
Program sosial dikorupsi.
Pengadaan dipermainkan.
Anggaran diselewengkan.
Suap menjadi kebiasaan.
Jabatan diperdagangkan.
Semuanya terjadi di dalam pagar.
Ironisnya, yang dirampas sering kali bukan uang milik pejabat.
Melainkan uang milik rakyat.
Uang yang berasal dari pajak.
Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari keringat jutaan orang.
Uang yang seharusnya kembali dalam bentuk pelayanan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Yang lebih menyedihkan, pagar-pagar itu dibangun semakin mahal setiap tahun.
Anggaran lembaga meningkat.
Fasilitas bertambah.
Teknologi diperbarui.
Gedung diperbesar.
Pelatihan integritas dilaksanakan.
Sumpah jabatan diucapkan dengan penuh khidmat.
Tetapi semua kemewahan itu menjadi kehilangan makna apabila fungsi paling sederhana justru dilupakan.
Menjaga.
Sebab nilai sebuah pagar tidak pernah ditentukan oleh mahalnya biaya pembuatannya.
Nilainya ditentukan oleh kemampuannya melindungi apa yang berada di belakangnya.
Negara tidak kekurangan hukum.
Tidak kekurangan lembaga.
Tidak kekurangan aturan.
Yang sering kali kurang adalah kesadaran bahwa kekuasaan bukanlah hak milik.
Ia adalah titipan.
Jabatan bukanlah hadiah.
Ia adalah amanah.
Fasilitas bukanlah kemewahan pribadi.
Ia adalah alat untuk melayani.
Ketika semua itu dibalik, pagar perlahan berubah menjadi pemangsa.
Sebagai rakyat, saya tidak pernah keberatan membayar pajak.
Saya tidak keberatan pejabat digaji dengan layak.
Saya tidak keberatan negara menyediakan fasilitas yang memadai.
Karena menjaga sebuah negara memang membutuhkan pagar yang kuat.
Tetapi saya keberatan jika pagar yang saya biayai justru ikut memakan tanaman yang seharusnya ia lindungi.
Sebab pagar yang mahal tetapi memakan tanaman bukan lagi pelindung.
Ia telah berubah menjadi bagian dari ancaman.
Dan sebuah negara tidak akan runtuh hanya karena kekurangan uang.
Sebuah negara mulai rapuh ketika rakyat kehilangan keyakinan bahwa pagar masih berdiri untuk menjaga, bukan untuk memangsa.
Mungkin karena itulah pepatah lama tidak pernah kehilangan maknanya.
"Pagar makan tanaman."
Kalimat itu lahir dari kebijaksanaan rakyat.
Dan selama kekuasaan masih lupa bahwa dirinya hanyalah pagar, pepatah itu akan terus hidup—sebagai peringatan, sebagai kritik, dan sebagai cermin bagi siapa pun yang diberi amanah untuk menjaga kebun bernama Indonesia....